CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Aku memang termasuk pria yang agak aneh. Napsuku hanya pada wanita-wanita STW yang suka mengenakan kebaya dan berkonde. Kadang-kadang waktuku habis ke pesta-pesta pernikahan hanya untuk melihat wanita-wanita yang mengenakan pakaian tersebut. Kalaupun tidak ada pesta penikahan aku pergi ke tempat-tempat hiburan tradisional (ronggeng) dimana para penari dan penyayinya mengenakan kebaya dan berkonde.

Pernah pada suatu hari aku pergi ke daerah X untuk mencari hiburan ronggeng dan aku sangat menikamati sekali meskipun harus melihat dandanan yang menor. Kehidupan seperti ini membuatku kadang-kadang tersiksa, tapi itulah kenyataan hidup yang harus aku jalani dan aku nikmati. Seperti kata orang keinginan seperti yang aku alami itu merupakan hal wajar dan sulit untuk diperdebatkan apalagi menyangkut selera. Sebagai manusia normal dan sampai dengan usiaku memasuki kepala 4 aku tetap berusaha untuk mendapatkan seorang wanita yang siap menemaniku dan berpakaian serta berdandan sesuai keinginanku.

Aku pernah mencoba untuk memasang iklan melalui iklan baris melalui internet, setelah hampir setahun aku menerima pesan email pertama dari seorang wanita berusia 41 tahun yang menyatakan bahwa dia sangat terharu setelah membaca iklanku dan bersedia untuk menjadi teman saya sekalipun harus mengenakan pakaian dan berdandan sesuai keinginanku, dia juga meninggalkan nomor telepon dan kami berjanji untuk bertemu seminggu kemudian. Berhubung saya sudah beristri dan Ibu Rita (nama samaran) pun telah bersuami saya janji akan menjemputnya di salon di daerah X.


Hari itu adalah hari Sabtu jam 11:30 siang saya sudah standby ada di depan salon sesuai janji di telpon dan menunggu bidadariku keluar dari salon. Tepat jam 12 Ibu Rita keluar dari salon dan telah berdandan rapih kondenya gede dan licin (konde jawa) dan berkebaya, terlihat sangat anggun dan femimin. Saya mengajak Ibu Rita untuk pergi ke suatu motel daerah Jakarta Selatan agar lebih privacy ngobrolnya dan juga saya bisa sepuasnya memandang sang bidadari.

Sesampai di motel kami mengobrol panjang lebar mengenai kehidupan keluarga masing-masing dan juga kehidupan pribadi kami. Saya menceritakan ke Ibu Rita mengenai keinginan saya dan berterimakasih kepadanya atas kesediaannya untuk menemani saya. Sesudah ngobrol panjang lebar saya meminta Ibu Rita agar saya diperbolehkan untuk mencium keningnya.

Saat saya mencium kenig ternyata tangan saya ditarik untuk memegang susunya yang ternyata mulai mengeras, namun belum sempat membuka kebaya. Saya katakan kepada Ibu Rita bahwa saya sebenarnya hanya mengagumi wanita yang berdandan seperti ini, dan sebatas memandang dan mencium tanda sayang, namun Ibu Rita katakan bahwa justru dia lebih suka dengan pria yang jujur dan tidak grasa grusu dalam masalah sex serta memperlakukan dia dengan lembut.

Suatu hal lagi yang dia sukai juga dari saya adalah badanku yang tinggi 178, berat 74 proporsional dan berambut pendek dan berkulit sawomatang, sementara Ibu Rita dengan tinggi badan kira-kira 165 berat 52 bra 36 B pantatnya gede dan kulit putih. Ibu Rita merasa terlindungi disamping itu karena kami berdua sudah berkeluarga jadi risikonya cukup kecil karena ada suatu komitment antara kami bahwa urusan keluarga masing masing yang harus didahulukan apabila ada keinginan dari salah satu pihak untuk bertemu. Ibu Rita merasa terlindungi ketika dalam perjalanan dari salon menuju motel.

Ibu Rita kemudian bertanya apakah saya bisa memijitnya, saya katakan bisa, tapi nggak bisa keras. Kebetulan Ibu ada body lotion yang lembut tolong kamu pijitin Ibu. Kemudian Ibu Rita mengangkat kebayanya hingga lutut selonjor ditempat tidur sambil saya pijitin kakinya, makin lama makin ke atas pahanya, sambil sekali-kali mencium keningnya. Kata Ibu Rita bisa nggak Ibu buka aja kebaya dan kainnya agar lebih mudah memijitnya, saya katakan silahkan aja, kalau menurut Ibu itu lebih mudah.

Kemudian Ibu Rita sudah hanya mengenakan CD dan bra transparan namun rambutnya masih rapih dengan konde, saya sampai merasa seperti mimpi melihat keindahan tubuh wanita yang meskipun gemuk (padat berisi) namun karena masih mengenakan konde jadi masih terpancar aura kewanitaannya, dan membuat saya begitu horny.

Ibu Rita menawarkan saya kalau mau buka aja celana panjang dan bajumu biar nggak kusut, dan saya turuti permintaannya. Sayapun mulai memijat lagi dari paha kemudian perlahan lahan mulai ke pangkal paha, Ibu Rita mulai menggelinjang kegelian, namun saya masih bisa menguasai diri untuk berkonsentrasi pada mijit.

Namun mungkin karena terus dibuat geli Ibu Rita kemudian menarik tangan kiriku untuk mulai menyentuh susunya yang berukuran kira-kira 36B, proporsional dengan tinggi dan beratnya. Setelah 30 menit mijit Ibu Rita minta untuk ke kamar mandi (pipis) sementara saya berusaha menetralisir pikiran saya dengan menonton acara film komedi di TV. Menghadapi wanita semacam Ibu Rita saya harus mampu mengendalikan diri dan membuat dia penasaran, karena seorang wanita apalagi STW memang membutuhkan foreplay yang panjang dan harus berkesan.

Setelah selesai dari kamar mandi Ibu Rita minta untuk diteruskan pijitnya yaitu belakangnya. Sambil memijit belakangnya saya mulai mencium leher dan kadang menjilat kupingnya yang ternyata membuat dia begitu geli dan napasnyapun mulai tidak keruan, dia meminta saya untuk membuka kaitan BH nya dan sekarang hanya mengenakan celana dalam. Bau wangi tubuh dan bau kewanitaan begitu membangkitkan gairahku namun aku masih tetap mengontrol diriku agar dalam permainan sex nanti Ibu Rita benar-benar memperoleh servis yang memuaskan, ini penting untuk hubungan jangka panjang.

Tangan kanan saya tetap memijit pundak, sambil sekali-kali menjilat leher, sementara tangan kiri saya mulai mengelus putingnya yang sebesar kelereng, dan membuat Ibu Rita makin meronta karena geli, kemudian dia bisikan ke saya bahwa baru sekali ini dia merasakan nikmatnya permainan awal (foreplay) yang luar biasa. Kadang-kadang Ibu Rita menggigit kecil bibirku dan kedang mengulumnya dengan napsu, sambil tangan kanannya mengelus-ngelus batangku yang juga sudah mulai tegang.

Karena sudah nggak tahan dia minta saya pindah duduk berhadapan dengannya dan sambil mencium bibir dan mengelus puting jari kanan saya mulai mengelus vegynya yang ternyata mulai mengeluarkan lendir. Setelah itu Ibu Rita pindah ke pinggiran tempat tidur dan membuka pahanya lebar lebar, saya sambil jongkok dan mulai menjilat vegynya dimulai dari klitorisnya yang sebesar biji kacang tanah, dan membuat Ibu Rita duduk tapi terus menggerakkan pantatnya karena geli dan napsu. Sambil menjilat klitoris tangan saya memainkan puting susunya yang keras sambil sekali-kali meremasnya. Gerakan tubuh Ibu Rita sudah mulai tak beraturan karena disamping menahan geli juga napsu sex yang mulai meningkat.


Agar tidak merusak dandanan rambutnya saya minta Ibu Rita mengganti posisi yaitu nungging diatas tempat tidur dan saya telentang agar bisa menjilat klitorisnya yang sudah mulai basah. Pantatnya mulai digoyangkan kekanan kekiri dan jari kanan saya dengan sedikit lotion mengelus celah pantatnya dan menurut Ibu Rita sangat nikmat rasanya. Celoteh Ibu Rita mulai nggak keruan..

“Mas.. Papa.. Teruss.. Achh nikmatnya..”

Mulut sayapun terus menjilat klitorisnya dan jari saya terus mengelus diantara bongkahan pantatnya dan lebih masuk lagi.

“Achh.. Mmmhh.. Teruss.. Mas.. Ayoo... Duh sudah nggak tahan nih..”

Akhirnya saya tetap telentang dan Ibu Rita minta agar masukan sikecil saya ke dalam vegynya.. Saya katakana bahwa silahkan aja kalau Ibu sudah nggak tahan dan saya minta agar Ibu masukin tapi membelakangi saya itu terasa lebih nikmat.. Dan.. Ternyata setelah masuk bless.. Bu Rita mulai.. Merintih sambil bergerak maju mundur..

“Mmmhh.. Ohh.. Enakk.. Bangeet.... Mass.. Bareng aja keluarnya..”

Saya katakan bahwa pelan-pelan aja bu.. Biar nikmat.. Sambil saya menjilat belakang nya.. Dan tangan ku meremas dan sekali memilin puting susunya..

“Aohh.. Nikmatt.. Mmmhh terus.. Tahan.. Biar keluar bareng.”

Karena posisi Ibu Rita diatas.. membuat dia cepat nyampenya.. Dan ketika dia sudah nyampe cepat-cepat dibalikkan badannya jadi posisi sekarang berhadapan dimana saya masih telentang.. Dan ini membuat saya lebih mudah menjilat susu dan sekali-kali menggigit kecil putingnya..

Kemudian kami berdua tidur karena capek sambil berpelukan. Dalam kepenatan tersebut saya masih sempat mencium keningnya, bibirnya dan kadang-kadang puting susunya saya jilatin karena sex bagi seorang wanita stw bukan hanya pada saat puncak namun juga sesudah menikmati orgasme, karena disitulah letak kepuasan seorang wanita.




Ibu Rita kemudian menawarkan kepada saya untuk pertemuan berikutnya dia akan membawa baju tidur transparan untuk membuatku lebih bernapsu lagi, karena menurut Ibu Rita laki-laki biasanya suka dengan hal hal yang membuat dia penasaran dan saya katakan bahwa Ibu sangat baik terhadap saya. Dan siang itu Ibu Rita mengalami orgasme hingga 3 kali. 2 kali di tempat tidur dan sekali di kamar mandi sambil berendam.

Di kamar mandi kami lakukan foreplay dengan posisi duduk di dalam bathtub sambil berpagutan, saling mengelus menjilat dan kadang-kadang saling meremas, setelah foreplay permainan sex dilakukan dengan posisi duduk dan kadang berdiri dimana sebelah kaki Ibu Rita diangkat. Posisi berdiri ini ternyata membuat Ibu Rita sangat senang karena mulut saya lebih leluasa menjilat dari kening hingga ke puting susunya dan membuat Ibu Rita pun melakukan hal yang sama terhadapku.

Setelah puas dengan permainan sex yang nikmat karena dimulai dengan foreplay yang asyik.. akhirnya Ibu Rita minta untuk membuka konde dan kebaya kemudian mengganti dengan baju biasa yang sudah disiapkan dari rumah, sayapun mengantar Ibu Rita ke Blok X untuk kembali ke rumahnya dengan taxi.. Saya benar-benar puas karena keinginan saya yang selama ini hanya memandang wanita-wanita berkebaya dan berkonde, namun kali ini bukan hanya memandang namun sampai ke permainan sex yang memuaskan kedua belah pihak.

Memperlakukan seorang wanita yang anggun dengan lembut dan pelan tapi pasti akan membuat kenangan indah baginya, dan ini terbukti setelah 2 minggu berlalu Ibu Rita menelponku untuk kembali bertemu dan sesuai janjinya dia juga akan membawa baju tidur transparan agar bisa lebih memuaskan aku. Terimakasih Ibu Rita atas kebaikanmu mau meluangkan waktu untuk bercinta denganku.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam




Nafsuku Terhadap Ibu Rita


KiosVideo - Saya adalah seorang pria yang kesepian, sekaligus merupakan mahasiswa yang bertempat di salah satu kota yang masih sekarang ini blom lulus-lulus juga dengan usia yang sekarang sudah beranjak 25 tahun. Memang dari bidang akedemik saya termasuk orang yang gagal namun untuk masalah wanita untuk memikat hatinya saya termasuk orang yang sukses, meskipun ya sering saja dengan status yang masih kesepian.

Awal cerita saya ini bermula saat saya mendapatkan tempat kossan yang baru. Dari kemarin-kemarin saya muter-muter untuk mencari tempat yang pas, dan pada akhirnya saya dapet juga tuh tempat kossan yang buat saya tempatin. Dengan tempat yang masuk ke dalam-dalam perkampungan dan ada satu satu hal, yang buat tertarik saya untuk tinggal di kossan itu.

Karena di tempat kos sinilah, ada anak dari ibu kos yang cantiknya bukan maen bak kembang desa.
Gadis itu bernama Silvi, dia merupakan mahasiswi dari kampus XXX. Saat saya melihat dia, seketika kontol saya begitu ngaceng dan tegang karena Silvi sangat cantik dan juga badannya yang seksi. Sebelumnya saya bertanya untuk mencari kossan, saat itulah yang menyapa dan menjawab si Silvi dan berkata:
“Iya , masih ada satu kamar kok Kak”.
Dengan jawaban seperti itu, saya langsung tak pikir lama-lama dengan suara yang lembut dan halus menjadikan kontol saya semakin menegang. Dengan pemilik Ibu kos yang juga begitu ramah juga, tapi kadang –kadang Ibu kos yang dengan profesi berdagang juga jarang untuk pulang ke rumahnya.

Silvi juga mengatakan kalo Bapak dan Ibu juga jarang ada di rumah. Dan pada akhirnya di kemudian hari, saya langsung untuk mengambil kamar kossan yang kebetulan bersebelahan dengan pemilk rumahnya. Dengan tepat kos yang lumayan terpencil dan jauh saya dari temen-temen gak jadi masalah lah buat saya. Yang penting saya bisa dapetin hati Si Silvi anak dari pemilik yang punya kossan yang sangat cantik ini.
Dan kemudian saya sudah siap untuk menempati kamar kossan yang baru. Saat saya duduk kan di luar, saya melihat Silvi sedang telpon-telponan ntah dari siapa dengan duduk di teras rumahnya.
“wow. . .kesempatan bagus buat saya nih... ?
Begitu nungguin Silvi telpon-telponan selesai, langsung saya samperin dia.
“Hay... Silvi lagi ngapaian nih.. ? basa basi.

Dengan muka sambil tersenyum.
“Iya ,Kak sedang santaian aja nih kok Kak..”ucap Silvi dengan suara lembutnya.
Dengan membalas dengan senyum simpul..
“Sedang telponan sama si pacar ya.. ?” Goda saya.
“Pacar Kak ... ?”jawab Silvi.
Terasa hati ini remuk medengar ucapan Si Silvi. Ternyata Dia sudah punya pacar... Apes nih..!!
Tapi pembicaraan masih tetap berjalan.., walau Silvi sudah punya gebetan. Saya berkeinginan untuk akrab dengan Silvi, ya... siapa taukalo Silvi bosen atau Bete dengan pacarnya. Sapa tau... aku dapat kesempatan?
Ku Jajah Anak Ibu Kos yang Perawan ini. Saya perhatikan dengan wajah cantik nya Si Silvi, Sumpaaaah....!! bener-bener cantik banget. Dengan kulit yang eksotik dan dengan paras yang beda dari lingkungannya.



“Kok.., Liatin Silvi seperti itu sih Kak....?”tanya Silvi
Saya yang bengong kemudian tersadar.
“Eh, iya.. ternyata Silvi ada tai lalat nya juga ya.. ?”jawab saya mencari alasan.
“Kalau orang punya ciri-ciri seperti itu, orang nya sering beruntung lho...?” ucap saya.
“Lha memangnya ada apa ikh Kak...?” Tanyanya lagi
“Ya iyalah beruntung...! untung aja tai lalat, kalo tai kambing gimana..?” dengan bercanda.
Silvi seketika langsung tertawa.. Manis banget senyumnya ngeliat dia tertawa, pada akhirnya pada malam itu saya berhasil ngobrol begitu laama dan tertawa bersamanya. Bahkan setelah cerita tentang tai lalat itu, Silvi bahkan nunjukin kalau dia punya tanda lahir di bagian pundaknya.

“Mana mungkin itu tanda lahir .. !
kayaknya tatto deh!” dengan menuduh.
“Beneran kok Kak ini tanda lahir saya!” balasnya.
“Gak percaya ah..."
Pasti kamu orangnya suka tato kan...
Harus dicek nih...!” mencoba melancarkan rencana saya.
Dia malah tertawa ngekek... Saya begitu senang.. Dan paginya, saya sempetin dulu joging pagi.
Dengan lari di tempat dan push up ringan sudah jadi rutinitas pagi buat saya. Punya badan tegap dan berotot memang inilah saya.
Walaaah... tiba-tiba saya denger suara cebar-cebur dari kamar mandi. Saya usut dari mana asal suara tersebut, ternyata persis bersebelahan dengan dinding disebelah kamar yang saya tempati.

Ternyata disebelahnya kamar mandi tho... baru tau saya..
Saya coba mendengar suara gemercik air tersebut. Ternyata suara kemudian adalah suara nyanyian seorang gadis.
Tidak salah lagi..., itu suara Silvi..
Saya begitu seksama dan menikmati suara nyanyiannya. Merdu dan apik banget..
Akhirnya timbul pikiran kotor saya untuk mengintipnya, dengan dinding tembok yang sebenarnya tidak terlalu tinggi itu bisa saya panjat dengan mudah..
Akhirnya dengan cepat, otak saya berfikir untuk berbuat mesum.
Bagaimana caranya untuk memanjat dinding yang tingginya seperti ini.. Setelah yakin orang tua Silvi sudah berangkat pergi berdagang dan Silvi pasti sedang sendirian di rumah, saya nekat untuk ngintipinnya mandi.
Dengan panjatan kursi, akhirnya saya bisa mencapai ujung tembok paling atas. Pelan-pelan saya angkat kepala untuk melihat pemandangan di dalam kamar mandi yang indah.

Dan memang benar. . ! Silvi sedang mandi sambil bernyanyi. Silvi dengan wajah khasnya itu ternyata punya tubuh yang sangat seksi. Dari ujung rambut hingga ujung kakinya dapat saya liat secara jelas.
Dengan tetek yang montok bergelantungan. Kulitnya putihnya yang sebagian tertutup dengan busa-busa sabun. Hingga rambut-rambut halus yang tumbuh didaerah memeknya dapat terlihat sanagat jelas. Tanpa sadar sudah membuat batang kontol saya langsung mengeras.
Silvi masih asyik menggosok-gosok bagian tubuhnya dengan sabun.
Yang membuat saya tak tahan dengaan kondisi tangannya yang meremas teteknya sendiri. Terpaan busa sabun dari teteknya yang putih licin oleh sabun membuat saya serasa mau horny. Kemudian, Silvi membilas sabunnya dengan mengguyurkan air.

Kulitnya makin terlihat putih bercahaya dan pada berikutnya bagian selangkangannya yang dicuci dengan air. Diluar dugaan saya, ternyata Silvi menjamaahi dan mengelus-elus bagian memeknya. Saya berfikir Silvi melakukan pembersihan di daerah memeknya.
Ternyata, Silvi begitu nikmat dengan mengelus-elus daerah yang berbulu tersebut. Saya liat matanya sudah merem-merem keenakan.
“Ohh Yessss... hari ini aku beruntung, ternyata Silvi sedang masturbasi... ”
Baru kali ini saya melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri ada seorang cewek yang masturbasi. Secara jelas saya menonton Silvi yang tengah keasyikan memainkan jarinya di bibir memeknya. Secara tak sadar saya jadi lupa diri kalau sebenarnya posisi saya sangat terlihat. Bisa bahaya kalau sampai ketahuan oleh Silvi.

Malu deh jadinya kalo ketahuan, lagi satu hari ngekos ditempat orang sudah berlaku mesum seperti ini. Ternyata dingklik yang menjadi pijakan saya untuk mengganjal kursi tak sanggup lagi menahan pijakan saya. Akhirnya dingklik tersebut meleset.
Dan Silvi sempat jadi kaget dan menghentikan adegan masturbasinya segera.
“Mampuss deh.. kalo Silvi sampai tau ada yang mengintipnya!” batin dengan rasa cemas.
Saya langsung menghentikan tontonan sebentar. Saya segera turun dari dinding yang saya panjat buru- buru. Ternyata Silvi menyadari dirinya diintip. Silvi segera mengenakan handuk dan pakainnya lalu buru-buru keluar kamar mandi.
Saya segera menuju pintu kamar mandi untuk menghalangi dan menenangkan Silvi, kalau-kalau Silvi bisa berteriak. Bisa mati saya kalau dia nanti akan mengadu ke Bapak Ibunya setelah pulang dari berdagangnya. Saya yang buru-buru melintasi pintu kamar mandi langsung bertumbukan dengan Silvi yang baru saja keluar kamar mandi.

Kemudian handuk Silvi tak sengaja langsung lepas, dan Lia terjatuh.
“Sorii..Sorii... “
Dengan kata kata itu yang bisa terucap dari mulut saya sambil membantu Silvi untuk berdiri. Saya langsung mengambil handuknya. Dan nampaknya Silvi kelabakan ketika handuknya hampir saja copot. Silvi ternyata tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang membuat teteknya menyembul kelihatan.
“Kakak, barusa ngintipin Silvi yah?” tanyanya...
Dengan menundukkan kepalanya, Silvi menunduk mungkin karena dia malu. Karena baru saja dia melakukan masturbasi. Saya jadi ngerasa berdosa karena telah mengintipnya.
“Kakak minta maaf ya.. Kakak menyesal banget”
saya ucapin itu dengan nada memelas. Silvi cuma mengangguk tapi masih menunduk. Tangannya masih memegang handuknya erat-erat. Tak lama setelah itu dia berjalan pelan kedalam rumahnya sambil menahan malu. Matanya berkaca-kaca. Saya jadi tambah merasa bersalah kepadanya.

“Selama ini belum ada lho yang ngeliat Silvi begituan...”
“Tapi kok kakak berani sih..?” suaranya lirih..
Akhirnya saya anterin Silvi ke kamarnya. Saya bimbing dia menuju kamarnya, dibenak saya semuanya campur aduk. Perasaan bersalah udah membuat dia ketakutan. Mungkin saja bagi cewek hal seperti itu bisa membuatnya trauma atau tidak suka.
Setelah sampai dikamar Silvi, saya malah memeluknya. Terlintas dipikiran saya, kalau cewek sedang sedih begitu cara untuk menenangkannya hanyalah dengan di peluk, menurut teori saya yang pernah saya lakukan kepada cewe lainnya.
“Silvi...,Kakak minta maaf ya karena sudah ngintipin kamu..."





saya bisikin itu ke telinganya. Sekali lagi Silvi hanya mengangguk. Dari pelukan, saya beralih mendekap Silvi.
Saya langsung saja cium pipinya kemudian bibirnya. Kemudian dengan naluri saya, tangan saya juga ikut memainkan perannya meremas dada Silvi dari luar handuknya.
“Kakak...! Sedang ngapaain nih..!” ucap Silvi kaget.
Dalam teori saya, kepalang becek, basah aja sekalian...!
Tanggung ketahuan ngintipin Silvi mandi, kenapa gak saya tidurin aja sekalian?
Mumpung ada kesempatan..
Saya kemudian mendorong Silvi ke tempat tidurnya. Pintu kamarnya segera saya kunci. Dan kemudian handuknya dengan mudah saya lepas. Bibir Silvi langsung saya lumat dan beradu dengan lidah. Tangan saya menjamah teteknya yang semok itu. Silvi hanya sedikit berontak dan kakinya berulah gak karuan.

“Kakaaaakk..” Silvi berteriak.
Saya mulai cemas akibat jeritannya... Nanti kalau ada warga yang dengar gimana?
Saya bisa dihajar masa aku... Akhirnya saya menghentikan aksi birahi saya. Saya mutusin untuk membujuk Silvi secara pelan-pelan. Sambil mengelus-elus pundaknya dan membelai rambutnya saya ngomong pelan-pelan.
“Sil, tenang aja yaa.. kakak gak bermaksud ngapa-ngapain kamu”
“Kakak gak mungkin menyakiti Silvi karena kakak sayang banget sama kamu”.ucap saya dengan nada merayu.
Lalu saya cium leher Silvi, tangan saya mulai lagi main-main mengelus teteknya, meremas dan mengelus kemudian turun ke daerah memeknya.
“Kakak, Silvi mohon jangan ya kak..." Silvi merasa ketakutan.
“Silvi pokoknya santai aja yaa.. Kakak gak akan nyakitin Silvi... Kakak Sayang sama kamu...”
Tangannya terus mendorong-dorong saya.. Silvi yang tampak sangat ketakutan setengah mati. Saya terus memberikan rangsangan secara perlahan dengan terus menciumi lehernya. Kemudian turun dan menjilati puting teteknya yang mempesona.

Dan tangan kanan saya mengelus-elus daerah bagian memeknya. Jari tengah mulai saya masukkan ke selakangan memeknya. Saya terus mainkan itu pelan-pelan.
“Kakak.. Silvi mohon, Silvi belom pernah begituan kak...”
“Silvi takut...” memohon dengan lemas.
Tangannya terus menahana tangan kanan saya yang menjamah didaerah bibir memeknya. Saya cuma jawab permohonan Silvi dengan ciuman dan kuluman dibibirnya. Saya terus lumat bibir Silvi dan bibir memeknya dilumat jari tengah saya. Perlahan saya masukan jari tengah saya dengan pelan-pelan tapi pasti.


Terasa daerah memeknya Silvi ternyata sudah basah. Mengetahui daerah memeknya nya sudah basah dan licin, saya jadi yakin kalau sebenarnya Silvi juga pingin menikmati permainan saya. Kayaknya Silvi juga sudah tidak menunjukkan perlawanan yang kuat seperti yang tadi.
“Sil...“.
“Kakak masukin jari kakak pelan-pelan ya....”
“Kagak sakit kok..”
“Kamu tenang aja yaa..”
Belum lagi Silvi memberikan persetujuannya, jari tengah saya terus saja masuk ke memeknya.
Akhirnya jawaban Silvi Cuma erangan dan desahan. Saya terus mainkan dengan memasukkan jari tengah saya kedalam memeknya sedikit demi sedikit. Akhirnya bisa masuk jari saya.. dengan penuh..
“Kakak.. Silvi takut kak..” Silvi terus ngomong tetapi tidak melakukan perlawanan.
Tapi kakinya malah membuka lebar dan sesekali nafasnya agak berat. Saya yakin Silvi sebenarnya mungkin saja sering bermasturbasi.
Cewek-cewek seperti Silvi mungkin saja cewek hyperseks yang sering memuaskan dirinya dengan masturbasi sendiri.

Seperti yang saya liat barusan di kamar mandi. Saya makin sibuk dengan tangan kiri saya membelai rambutnya, mulut saya sesekali mengisap dan menjilati putingnya, dan tangan kanan saya memasukkan jari kedalam liang memek Silvi yang makin banjir dengan cairan dan licin.
Akhirnya saya gak tahan lagi. Dengan sekejap segera saya lepaskan semua pakaian saya hingga kami berdua sudah benar-benar telanjang bulat. Segera saya tindih tubuh Silvi yang tergeletak.
“Silvi, kita coba masukin yuk.. !!”
“Kamu tahan sedikit ya.. “
“Mungkin sedikit nyeri.. tapi lama kelamaan enak kok...”
Silvi dengan lugunya mengangguk.
Tampaknya Silvi sudah diliputi gejolak birahi yang gak bisa di kontrol. Saya makin birahi dan bersemangat. Perlahan saya sempret-sempretkan kontol saya yang udah tegang dari tadi ke bibir memeknya. Silvi yang makin terangsang gak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

Jiwa raganya sudah diliputi hasrat seks yang kuat. Setelah kontol saya licin dengan cairan Silvi, perlahan saya tancapkan kontol saya ke dalam liang memeknya. Walaupun pekerjaan saya halus dan pelan, tetap saja Silvi merintih kesakitan. Sekarang kontol saya tercampur dengan cairan licin dari Silvi dan darah perawannya. Kemudian Silvi menangis, Namun bibirnya terus mengeluarkan suara
“Arrhhh.. ahhhh.. kakak..”

Saya gak mau ambil pusing... Saya yang sedang sibuk dengan mengobrak abrik memeknya yang sangat sempit agar batang kontol saya bisa masuk lebih dalam lagi. Dibantu dengan cairan pelicin Silvi yang sudah banjir, kontol saya bisa masuk semuanya.
Saya terus menggenjot dengan maju mundur batang kontol saya. Sesekali saya cium dan jilatin leher Silvi hingga ke teteknya. Kemudian putting nya saya emut dan sedot sekuat-kuatnya. Akhirnya saya meliat tanda-tanda Silvi akan birahi kembali. Segera saya atur dengan kecepatan goyangan saya.

Saya pun pengen keluar dan klimaks. Akhirnya Silvi lebih dahulu mencapai klimaks dan berteriak
“Kakakk...!!!”
Berurutan setelah itu saya juga keluar menyemprotkan cairan pejuh saya didalam memeknya.
“Aaaaahhh... Ahhhh.. Silvi...”
Saya ngecrooot....
“Croooott... Croott... Criiiit.... “
Beberapa kali semburan dengan menekan kontol saya sedalam-dalamnya kedalam liang memeknya. Silvi pun menjepitkan pahanya. Akhirnya untuk beberapa saat kita menikmati dan merasakan nikmatnya bagaimana orgasme yang sebenarnya. Beberapa saat setelah itu terasa kedut- kedut dan denyutan dari memeknya.

Kontol saya yang masih menancap dan belum saya cabut. Batang kontol saya itu saya biarin sampai lemas didalam memeknya. Saya terus perhatikan wajah menawan Silvi yang lemas sayu setelah saya renggut bunga keperawanannya.
Sesaat saya jadi tak tega dan kasihan telah melakukan ini semua kepada Silvi. Kembali saya elus-elus dan benerin rambutnya yang berantakan. Saya tatap matanya dalam-dalam sambil berkata pelan
"Silvi..., maukah kamu jadi pacar kakak...?” Silvihanya diam.
Saya tau dia udah punya pacar. Tapi saya sama sekali gak tau apa yang mau saya katakan selain itu kepadanya.
Saya pasang kembali celana dan keluar dari kamar Silvi. Dia masih terdiam lemas dan sayu diranjangnya dan belum memakai pakaiannya. Saya udah siap dengan segala resiko dari perbuatan saya barusan. Setelah itu saya langsung berkemas di dalam kamar kos saya.

“Mungkin setelah ini Silvi akan mengadukan semua itu ke orang tuanya dan saya bakal di pidana kan” pikir saya.
Siang harinya, saya sudah selesai beres-beres barang-barang. Saya pengen cabut duluan sebelum saya di usir sama orang tuanya atau mungkin saja hal yang lebih buruk bakal terjadi ke saya.
Ternyata pintu kamar kos saya diketuk.
Setelah saya buka ternyata Silvi, saya persilahkan Silvi masuk. Ia pun masuk kedalam kamar saya, Silvi melihat saya sudah berkemas dengan barang-barang siap-siap mau kabur.
“Kakak mau kemana?” tanya Silvi... Saya cuma bisa diam.
“Kakak gak boleh pergi...!”
Silvi.. takut.. !
“Gimana coba kalau Silvi sampai hamil..?”
“Kakak harus bertanggungjawab untuk semua ini...!” kata Silvi lirih.

“Baiklah kakak tak akan pergi... Kakak akan tanggungjawab kalau terjadi apa-apa”.
“Tapi kakak mohon jangan mengadu sama orang tua Sivi ya..” permintaan saya.
Silvi hanya mengangguk, dan dengan matanya masih sembab karena menangis.
Saya jadi kasihan, akhirnya Silvi saya peluk lagi. Seminggu setelah itu, saya dan Silvi Cuma diam-diam dan tak ada tegur sapa. Tapi akhirnya saya mencoba beranikan diri lagi untuk menegurnya dan mengajaknya bercanda lagi.
Akhirnya, saya bisa ngajakin Silvi untuk berhubungan badan lagi. Ya.. Kadang dikamar kos saya, kadang dikamar dia. Bahkan dia sempat tidur di kamar saya, padahal orang tuanya ada dirumah. Ternyata Silvi selalu diliputi sex dan gairah. Permainan birahi ini kami semakin hari semakin variasi. Dalam waktu tak kurang dari seminggu, Silvi sudah berani menelan habis sperma yang saya semburin didalam mulutnya.
Permainan seks lagi dan lagi.. kami berdua sama-sama diliputi gairah birahi yang liar. Walaupun status hubungan saya belum jelas hingga saat ini, saya tetap menjalani ini sama Silvi. Dan Silvi masih berhubungan dengan pacarnya.
Tapi kalo soal ranjang Silvi lari ke saya dan hampir setiap malam Silvi mampir ke kamar saya buat adegan gituan... itung-itung pengahantar tidur malamnya. Kadang setelah gituan dia balik ke kamarnya, kadang tidur di kamar saya. Sejak saat itulah, Silvi ternyata diam-diam juga main sama pacarnya. Saya pernah nanya ke Silvi, apa dia pernah melakukan hubungan badan dengan cowoknya? Awalnya silvi bilang belum.
Tapi setelah saya selidiki sms dari cowoknya, ternyata mereka juga udah ngelakuin hal begituan.
Setelah perawannya saya renggut, Silvi malah jadi hyperseks dan binal yang pengen ngelakuin hal itu terus.
Pada saat itu, pembicaraan saya sama Silvi sampai ke sesuatu yang bahkan gak saya duga. Silvi berkata sedandainya kalau dia membayangkan di setubuhi dengan dua orang, yaitu saya dan pacarnya.
Hehehee... Tak habis pikir saya membayangkannya mengapa cewek yang dulu nya pemalu dan cupu ini bisa jadi binal seperti ini ya, pada akhirnya hubungan kita habis sampai saya tamat kuliah, dan memutuskan untuk kembali kekampung halaman saya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam


Silvi Anak Ibu Kos Yang Hyper Sex


KiosVideo –  Pengalamanku ini terjadi pada tahun 2000. Cerita yang akan kuceritakan ini merupakan cerita nyataku, Pada saat aku masih kuliah di semester 3, ibuku sedang sakit dan dirawat di kota x. Oh, iya aku tinggal di kota x, tempatnya cukup jauh sih dari kota x. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak buatku dan menunggu dagangan, soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang berada di kota lain menginap di tempatku. Dan ide itu pun disetujui, maka datanglah sepupuku tadi ke rumahku.
Sepupuku, Betti (Nama Samaran) orangnya sih memang tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 158 cm, dadanya masih terlihat kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku, aku dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
Nah, kejadiannya itu waktu aku lagi sedang liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Betti. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Tetapi semua berubah pada suatu malam, saat kami (aku, Betti, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV tengah malam sekaligus aku juga masih belum ngantuk, aku memilih tidur di depan TV.
Nah..., ketika sedang asyik menonton TV, Betti datang dan ikut nonton bersamaku, rupanya Betti belum tidur juga.
Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan.
Eh..., Betti itu merespon dan bicara padaku, “Wah.. temenku sih biasa kalo yang begituan (ciuman).”
Terus aku jawab, “Eh.. kok tau.. soal gituan?” tanyaku kaget.
Rupanya teman Betti yang pacaran itu suka cerita ke Betti kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai ‘anu’ teman Betti itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk sekaligus.



Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Betti nih ingin juga kali. Terus aku iseng bertanya padanya, “Eh..., kamu mau juga nggak.. kaya begituan?”
Tanpa kuduga, ternyata dia mau... Wah kebetulan nih...
Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?”
Ya kujawab saja, “Ya nggak tau lah, wong juga aku belum pernah... Gimana.., mau nggak..?”
Betti berkata, “Iya deh, tapi pelan-pelan saja ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit.”
“Iya deh..!” jawabku dengan penuh semangat.
Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya ( langsung to the point ). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus memeqnya dengan lembutnya. Respon Betti tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak 5 hari lalu dia sedang menstruasi.
Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh ‘anunya’, dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.
Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar 5 menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.
“Auw..,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Ahch...” desisnya.
Lalu kutanya, “Gimana..? Sakit.. ndakk..?”
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.
Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Betti juga tampak meram serta mendesis-desis menikmati permainan yang sedang kuberikan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku sudah berontak daritadi, tapi aku belum berani untuk meminta Betti memegang adik kecilku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 15 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.


Hari berikutnya, aku dan Betti siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Betti di warung. Semenjak kejadian kemarin Betti jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
“Nggak pa-pa Mas.., kan lagi sepi.” katanya dengan santai seakan mengerti yang kupikirkan dan tidak melihat tempat.
“Lha... kalo ada pembeli gimana nanti..?” tanyaku juga takut.
“Ya udahan dulu..., baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?” jawabnya dengan santai.
Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Betti mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.
“Lho Mas..., anunya Mas kok tiba-tiba ngaceng..?” katanya.
Ternyata dia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya aku masih normal...”
Aku terus melanjutkan pekerjaanku.. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, “Ehh... ada orang tuh..! Cepet stop dulu..?”
Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nantinya walapun anak-anak pasti bakal dibilang ke orang juga. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang sempat terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.
Malam harinya kami melakukan lagi, aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.
“Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan.” kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat adikku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih rasanya.
“Ughh..hhh.. eehhsst...ss... Ouw..hh...., eehhsstt.. eehhsstt...” begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
“Kocokkannya lebih pelan dong..!” kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku. Dan akhirnya, “Oh.., oohh.. oohh.. AHhh....” rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.

Lalu kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Betti. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dan ternyata dia mau, aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap dihadapannya. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah 8 menit, akhirnya aku mencapai klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.
Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi diwarung. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Betti datang dengan sendirinya, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia yang tanpa basa basi langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
“Eh.., kamu udah selesai mens-nya..?” tanyaku.
“Iya, tadi sore kan aku udah kramas, masa nggak tau..?” katanya menggoda.
Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan hal yang lebih jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich pikirku. Kuraba-raba CD-nya.. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut.

Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah kebiasaan kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.
“Uhh.. Ahghhh... Accchh.... Ouhhhgghh...” begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya, Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat secara langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat bagaimana. Paling-paling dari film porno saja yang pernah kutonton.
Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Betti, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.
Tapi, “Auw... diapaain Mas..? uuhh..” desisannya tambah mengeras.
“Sorry.., sakit ya.. Bet? Aku mo lihat bentuk anumu gimana nih, wah bagus juga yach..!” sambil terus kukocokkan jariku didalamnya.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
“Wah..., jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?” pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
“Eh..., sebenarnya yang enak ini mananya sich..?” tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.
“Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu.”
“Mana.., mana.., oh ini ya..?” kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.




“Ahh. auu.. enakk Maass.. ahh... ayooo... truuss Mass, terusiinn.. ohh..!”
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, “Uhh.. uhh.. uuhh.. ahh.. aahh..” dia mencapai klimaks.
Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini...? Kutunjuk bagian lobang memeknya Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!”
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan secara perlahan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.
Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.
Kutekan lagi lebih dalam dan, “Auuwww.. ehhssaakkiitt.. Mas...!”
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas sambil membenamkan penisku kedalam memeknya. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
“Gimana, sakit ya.., mo diterusin atau nggak..?” tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.
Karena dia tetap diam, maka kulanjutkan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara.. seperti menahan sesuatu.. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, “Wah aku memperawaninya....”
“Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?” tanyaku.
“Uhh.. tadi sakiitt sich.. sekarrang jaddii.. geelii..” begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.
Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Betti tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya yang masih sempit ini.

Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan mulutku.
Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 15 menitan, kaki Betti berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah mencapai orgasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, “Crot.. crot.. crot..” air maniku tumpah di dalam vaginanya.
Serasa aku puas dan juga letih, lalu kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.
Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menurutku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
Sebelum tidur aku sempat berfikir, “Wah, aku telah memperawani sepupukuku sendiri nich..!”
Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi bersamaku. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo terus begini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
“Wah, bisa hamil nich anak..!” pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula. Semenjak saat itu juga kami berhenti melakukan yang seperti itu, karena kalau dilanjutkan akan bahaya aku lebih memilih menahan nafsuku sebelum nasib sial menjemputku.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Betti Sepupuku Yang Suka Horny


KiosVideo - Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar enam belas tahun lalu itu saya sering tertawa sendiri. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya ngekos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya lakukan. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan dengan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang tak akan terlupakan.

Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Tiara, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh yang molek dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih sangat menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Tiara. Perempuan yang kalau sedang di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Tiara sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Bima yang kuliah di teknik sipil.
“Aku tahu. Suaminya katanya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Kris, anak teknik mesin dengan tangkas.
“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.
“Bego! Ya penisnya dong”, kata Kris.
“Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi.
“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Tiara sering membentak-bentak suaminya?” tutur Kris.
“Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Bima.
“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.
Bima tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung gitu. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita”
“Ah kamu saja yang Ke-GRan. Mungkin Mbak Tiara nggak bermaksud begitu”, sergah Benu yang sejak tadi diam.
“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti”

Diam-diam ucapan Bima itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Tiara? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk ke dalam perangkapnya?

Selama bertahun-tahun di kos diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang indah tanpa tersadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36b, pinggulnya yang besar sering membuatku sangat terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke bagian selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Tiara. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.
“Wah.. maaf, Mbak... Nggak sengaja..” kataku sambil tersipu malu.
“Sengaja juga nggak apa-apa kok...”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.
Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Bima mendekati kebenaran. Mbak Tiara memang berusaha memancing birahi kami, mungkin ia tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya yang letoy.


Makin lama aku semakin bertambah berani, beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh.. dia malah cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan menjadi yang lebi extreme, bukan hanya menyenggol lagi tetapi mencoba meremas. Sialan, reaksinya rupanya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak, seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome kepadaku. Cuma aku masih takut untuk menyetubuhinya. Siapa tahu dia punya kelainan jiwa, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya sudah tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya sambil mengesek-gesek bagian selangkangannya.

Suatu hari ketika saat rumah sedang sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Tiara dinas ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa-biasa saja. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet ke arah yang enga-engak.

“Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Tiara lo”, kataku.
“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.”
“Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?”
“Coba apa..”
“Itunya mbak...”
“Mana..?”
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.
“Ah.. kamu ini bisa saja...”

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mulai mendekat, mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Tiara hanya diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih, dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih pikirku. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah remasanku terus kulanjutkan.

“Mamet.. malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah malu.
“Kalau begitu bagaimana kalo kita ke kamar?”
“Kamu ini nakal yha....”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.
“Mbak..”
“Hmm..”
“Bolehkah mm.., bolehkah kalau saya..”
“Apa ahh..”
“Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu?”
“Hmm..” Dia mendesah ketika kujilat telinganya.
Tanpa menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu yang tanpa mengenakan BRA. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan kiri dan kanan.

“Met, tolong tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Tiara. Kini aku jongkok di depannya, menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya, Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Tiara mulai menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
“Mbak belum pernah dioral sex ya?”
“Ha...? Apa itu..?” tanya dia dengan polos
“Vagina Mbak akan kujilati.”
“Loh itu kan tempat yang kotor..”
“Siapa bilang...?” sambil mulai menjilat
“Ooo.. oh.. oh ..”, desis Mbak Tiara keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih hanya dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan, kini celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Tiara kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
“Aahh.. Kau pintar sekali mamet... Belajar dari mana hh..”
“mm.. darii.. film porno dan cerita porno kan banyak agh...” jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk... Wah berabe nih... Aksi liarku pun terhenti mendadak.
“Ss..ttt... ada tamu Mbak”, bisikku.
“Cepat kau sembunyi ke dalam...”, kata Mbak Tiara sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.
Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Tiara. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku yang sudah tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Tiara bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Tiara menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.


“Siapa Mbak..?”
“Tukang Listrik menagih rekening.”
“Wah mengganggu saja itu orang. Baru mau nikmat-nikmatnya...”
“Sudahlah...”, katanya sambil mendekati aku.
Tanpa sungkan-sungkan Mbak Tiara mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Tiara seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.
“Agh.... kamu sangat pengalaman sekali ya... Sama siapa kamu mempratekkannya? Pacarmu....?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.
Aku tak menjawab... Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

“Nggak adil... Kamu juga harus telanjang.” Mbak Tiara pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.
“Mbak mau saya oral lagi...?” tanyaku.
Mbak Tiara hanya tersenyum malu, lalu aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Tiara mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir sepuluh menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.
“Gantian dong, Mbak..”
“Apa muat segede itu penis kamu...?”
Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil itu. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Tiara agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Sorry ya Mbak...”
“Ah kau ini mainnya aneh-aneh saja...”
“Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya.
“Ah malu... Kami main konvensional saja kok.”
“Langsung tusuk begitu maksudnya..”
“Nakal kau ini...”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.
“Suami Mbak mainnya lama nggak?”
“Ah..” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.
“Pasti Mbak tak pernah puas ya?”
Mbak Tiara tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Tiara agak gemetar.
“Ohh..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot Mbak Tiara menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.
“Ooo.. ahh.. ugh... sshh.. ahhh...” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
“Enak gak Mbak?” tanyaku.
“Emmhh..”
“Apakah Mbak Puas?”
“Ahh..” desahnya.
“Sekarang Mbak berbalik. Menungging.”
Aku mengatur badannya dan Mbak Tiara menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Gaya apa lagi ini?” tanyanya.
“Ini gaya anjing.... Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah pakai gaya ini.”

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Tiara kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek...?” tanyaku.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.”
“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
“Kita lanjutkan nanti malam saja ya.”
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.




Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Tiara spontan tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Tiara kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.
“Oh Mbak.. aku mau keluar nih ahh..”
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Tiara kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

“Vaginamu sangat nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
“Penismu juga nikmat, Met.. gede dan tahan lama..”
“Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.”
“Ah Mbak... memang kalah pintar dibanding kamu.”
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

“Mbak kalau pingin bilang aja ya.”
“Kamu juga... Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst.. kalau pas aman saja lo.”
“Mbak mau nggak main ramai-ramai?”
“Maksudmu gimana?”
“Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga gimana? Dua lawan satu.. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.”
“Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah..”
“Tapi mau mencoba kan?”
Mbak Tiara tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali lagi. Sampai akhirnya kami capek dan tidur bersama.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Bercumbu Dengan Mbak Tiara Yang Sexy