CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Namaku Leon, Dengan Tinggiku 173 cm membuatku jadi mudah untuk menggaet cewek yang ada di sekolahku, aku lahir di luar negeri saat aku umur 8 tahun karena papaku di tugasi di Surabaya jadinya aku ikut papa dari kecil ke Surabaya awalnya aku tidak tahu apa-apa dan bagiku Surabaya merupakan negara yang asing tapi seiring berjalannya waktu lama-kelamaan jadi terbiasa.

Awal mula kisah sexkuku ni dimulai saat sedang musim liburan, bokap dan nyokap aku balik ke kampung halaman untuk liburan tapi, aku memilih untuk ga ikut karena males banget kalo cuma sebentar doank liburan ke sana so.. aku lebih milih liburan di Surabaya.

Sebelum orang tuaku berangkat Mama bilang kepdaku, bawwa aku kalau nanti bosen di sini mendingan jalan – jalan ke Semarang aja sekalian jenguk kakek serta tante Irma (adik mamaku), dan seingatku Tante Irma sudah lama banget ga berkunjung ke Surabaya dan Mamaku dan Tante Irma hanya berhubungan via telphone doang.

Petualangan sexku dimulai ketika seminggu kemudian aku memutuskan untuk maen ke Semarang, hari pertama di Semarang aku habiskan melepas kangenku dengan kakek. hari kedua di Semarang aku minta di antar sama supir ke rumahnya tante Irma.

Rumahnya terletaknya di salah satu kompleks perumahan yg bisa dibilang cukup elit di Semarang, sebelumnya mama sudah menelfon dan memberitahukan kepadanya bahwa aku akan datang untuk main kerumahnya.

”Leon.. wahh.. ternyata kamu sudah besar sekali kamu sekarang yah.., sudah tidak malu lagi tante sama kamu sekarang. Hahaha” kira-kira begitulah katanya sewaktu pertama kali melihatku setlah sekian tahun kami tidak ketemu.Wajah tante Irma masih saja seperti yang dulu seakan tidak bertambah tua sedikitpun.

”Oh yah.. ya tuh supirnya disuruh pulang saja nanti Leon pulang pake aja mobil tante saja kalau mau pulang” aku pun segera mengiyakannya dan menyuruh supir untuk pulang. Hari itu kami banyak bercerita dan tak terasa tiba waktunya untuk makan malam.”

"Makan dulu yuk.. Leon, Tante laper nihh.. itu sudah disiapkan makanannya sama bibi" katanya sambil menunjuk pembantunya.
”Apakah kita tidak menunggu om dulu tante?” aku coba menanyakan suaminya. ”ga usah tadi om sudah nelfon ke tante dan om bilang ga bakal pulang malam ini” tante Irma menjelaskan, maklum suaminya tante Irma salah satu konglomerat di Semarang.

Rumah sebesar ini Cuma dihuni sendirian bersama dengan pembantunya karena walau sudah lama mereka menikah tapi tante yg satu ini masih belom dikaruniai seorang anak. Sambil makan kami bercerita panjang lebar. ”Kamu berani pulang sendiri semalam ini Leon?” katanya sambil melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 22.00.

”Ahh.. tenang saja tante... aku berani kok tante…” jawab aku. ”mendingan kamu tidur disini aja malem ini deh.. nanti biar tante saja yang telephone kakek, lagian diatas kan ada banyak kamar kosong”. Aku pun mengiyakan tawaran tante Irma dan dalam hati aku mengira dia menyuruhku menginap karena takut sendirian atau takut aku kenapa-kenapa, sumpah ga ada sama sekali pikiran negatif tentang tawarannya itu.

”Oh iya... kalau kamu mau mandi air panas pake aja kamar mandi di kamar tante. nanti kamu pakai aja bajunya om yang ada dilemari. Yuk sini ikut tante” ajak tante Irma menuju kekamarnya. Aku pun dengan polos mengangguk sambil mengikutinya ke kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya.

Lalu dia mengambil T-shirt dan celana pendek untuk aku pakai, dan aku langsung membawa pakaian itu ke kamar mandi, sehabis mandi aku kaget ngliat tante Irma. Dia tidur tengkurap dengan baju tidur yang sangat tipis, yang kelihatan jelas banget CD0-nya tapi aku ga ngeliat tali bra di punggungnya. Meliat pemandangan indah tersebut pun secara spontan membuatku terangsang juga ngliat pemandangan kaya gitu, kayaknya dia tertidur waktu nonton TV karena Tvnya masih menyala. Aku berjalan ke arah TV untuk matiin TV, melihat adegan panas yg berlangsung di layar kaca mendadak aku langsung diem sejenak dan ga jadi matiin, karena aku ikut melihatnya.


Aku liat kebelakang tante Irma yang masih tidur, sekedar iseng aku berdiri sambil nonton tuh adegan sebentar. Tiba-tiba terdengar teguran halus tante Irma diikuti tawa tertahannnya. Aku yang kaget karena malu banget sambil berbalik ke belakang dan mencoba senyum semanis mungkin.

Wuahaha....., waktu aku berbalik tante Irma sudah duduk tegak diatas kasur. ”kirain tante dah tidur” aku coba memecahkan kebuntuan otak sambil berjalan keluar kamar dan pura-pura tidak tahu.
”Leo.. kamu bisa tolong pijitin badan tante ga..?? Pegel banget nih semua badan tante..” terdengar suara helaan nafas panjang dan suara kain jatuh ke lantai. Pada saat aku berbalik hendah mau ngejawab tante Irma sudah tidur tengkurap but kali ini sudah tanpa baju tidurnya yang tipis itu,satu satunya yang masih dipakai cuma celana dalamnya yang berwarna merah.

Kayak kucing kalau dikasih ikan asin.. aku pun langsung jalan dengan pelan mendekati tante Irma. Agak sedikit canggung langsung aku letakkan tangan di bahunya.
”Om kapan pulang tante?” pura-pura nanya coz saya takut di gerebek sama suaminya.
”Hhhhmmm.. kalau om kamu itu tuh jarang pulang, kebanyakan meeting ke luar kota kayak sekarang ini” jawab tante Irma dengan nada manja.
”Fiiiuuuffffuuuh..” Legah aku mendenger kata luar kota... helaan nafas panjang terdengar dari mulut aku. ”kamu turun dikit donk Leon.. masa ci,a di bahu terus” pinta tante Irma dengan manja, aku pun langsung menurunkan pijitan ke daerah punggung.

Tak lama kemudian ”kamu duduk aja di atas pantat tante.. supaya lebih kuat pijitannya.." aku yang tadi duduk di sampingnya langsung mengambil posisi ke atas pantatnya.

”Uuungnnnghh.. kamu berat juga yaa..” dengus tante Irma.
”Heehehehe.. tapi tadi katanya disuruh duduk di sini..” jawab aku asal coz dah ga konsen gara-gara ngelihat pantatnya yang empuk banget.
Penisku pun udah tegang banget, sesekali aku tekan ke belahan pantatnya tante Irma.
”Sudah belom Leo...?? udah cape nih..!!” kata aku setelah tangan dah kerasa pegel.
”iyah.. kamu berdiri dulu deh.. tante mau balik..”, aku berdiri dan tante Irma sekarang berbalik posisi.

Sekarang aku bisa ngliat dengan leluasa wajahnya yg cantik serta payudaranya yang masih kenceng itu tepat di hadapan aku. Puting susunya yang agak merah kecoklatan terlihat begitu menantang, aku sampe bengong ngliat gituan.

”Hey.. Leon pijit bagian depan donk sekarang...” katanya.

Aku langsung duduk diatas pahanya, langsung aja aku remas dengan lembut kedua teteknya yang besar dan padat itu.
”Geli... hihihihi....” cekikikan dia. aku benar-benar sudah ga bisa ngendaliin nafsu aku lagi. Aku tarik CDnya dengan agak kasar, aku akui inilah pertama kalinya ngliat wanita telanjang secara nyata di depan mata.
Tante Irma sengaja membuka lebar kedua pahanya begitu CD-nya aku lepas dan langsung memeknya lengkap dengan sang klitoris yg dihiasi bulu halus yang dirawat dengan rapi membentuk segitiga indah.

”kamu sudah sering beginian ?”, tanyanya.
”Hahh... Ehhh.. tidak koq.. baru kali ini saja tante..” jawabku dengan nafas yang semakin memburu.. kata – kata pun sudah sulit tuk aku ucapkan dari mulutku. Nafas tante Irma juga sudah mulai menantang, keliatan dari dadanya yng sdah mulai naik turun ga teratur. ”Jilatin donk sayang...” katanya memelas dengan mata sayu yang sdah sangat meminta untuk aku puaskan nafsunya itu.

Awalnya aku ragu juga tapi aku dekatkan juga kepalaku ke arah memeknya. Ga ada bau sama sekali, pasti tante Irma rajin ngerawat Vaginanya sehinggah bisa sewangi ini. Aku kluarin lidah menjamah memeknya menjilati dari bawah menuju pusar.

Selan beberapa menit lidah aku bermain dengan memeknya tante Irma yang sudah mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Aku berdiri sebentar dan melepaskan semua pakaianku. Bengong dia ngeliat kontolku yg panjangnya 16 cm itu, aku cuma tersenyum dan melanjutkan permainan lidah aku di memeknya dia. Beberapa saat kemudian ia meronta menjepit kuat kepalaku dngan pahanya lalu menekan kepala aku dengan kedua tangannya supaya lebih menempel lagi dengan memeknya yang sudah basah.. Ngeliat dia kayak gitu, langsung saja aku kulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidah di dalam mulut, beberapa lama aku meraasakan ada cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari memeknya.

”Aaaarrrrgghhhh.... jilatan kamu enak banget Leon”, kata tante Irma waktu mencapai klimaks pertamanya.
”Benar-benar hebat lidah kamu Leon, tante sudah ga kuat lagi berdiri nih.. sudah lama tante ga puas 
kaya gini”, aku Cuma tersenyum kecil.. perlahan aku tarik kedua kakinya ke pinggir tempat tidur, aku buka pahanya selebar-lebarnya dan sekarang memeknya yang basah itu sudah terbuka dengan lebar.

Nampaknya dia masih nikmatin peristiwa tadi dan ga sadar apa yang sedang aku lakuin. Begitu dia sadar kontolku sudah menempel di bibir memeknya. Ia pun langsung menjerit tertahan, lalu ia pura-pura meronta nggak mau, aku juga ga tahu cara memasukkan kontol kek gimana, karena punya tante beda banget sama punya bule yang sering aku liat di DVD2 porno.

Lubangnya tante Irma terlihat sangat kecil banget mana bisa masuk nihh.. pikir aku. Tiba-tiba aku ngerasain tangan tante Irma yang memegang kontolku dan membimbing masuk ke lobang memeknya, 

”ayoo...tekan disini yach Leon tapi pelan–pelan, barang punya kamu gede banget” pelan ia membantu membimbing senjata aku masuk ke dalam memeknya yang masih sempit.

Belum sampai seperempat bagian yang masuk dia sudah kesakitan dengan tangan kirinya yang masih menggenggam kontolku menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras sementara tangan kanannya meremas kain sprei,kadang memukul tempat tidur.

Aku ngerasain kontolku kaya di urut-urut di dalam, aku berusaha menekan lebih dalam tapi tangan tante Irma menahannya. Langsung ja aku tarik tangannya and aku dorong masuk semua batangan aku yang sudah tegang banget, ”AHHH.......”, teriaknya sambil meluk badan aku kenceng banget.

Tante Irma mengerang dan meronta, aku suka banget sensasi mukanya yang binal itu. Ga sabar lagi langsung aku pegang pinggulnya supaya dia berhenti meronta. Langsung aku pompa tubuh tante seiring kontolku aku yg keluar masuk dalam memeknya, ”ayoo.. terusss Leonn.. puasin tante lagi sayang...”,  Bisik tante Irma di telinga aku sambil matanya merem melek dan kukunya mencakar seluruh punggung aku sambil menahan sakit dan kenikmatan.

 



Setelah agak lamaan sedikit tante Irma menggerakkan pinggulnya seiring dengan goyangan aku.
”tanteeee.. enak banget goyangannya..” aku mencoba ngeluari kata biar dia lebih bersemangat ngoyang pinggulnya. Tiba – tiba aku ngerasain memeknya menjepit kontolku dengan kuat, tubuh tante Irma mulai menggelinjang hebat dengan nafas yang ga karuan.

”Tante sudah mau keluar Leoonn.. kamu masih lama ga sayang, tante pengen kita klimaks bareng-bareng”, katanya dengan mata merem melek. Aku tak menjawab hanya mempercpat goyanganku, tante Irma yang menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.

Kurasakan aku juga sudah mau keluar, kusemprotkan saja seluruh spermaku di dalam vagianyanya yang dipenuh carian kami berdua.

”Argghhhh tante... ” kataku ketika cairanku membasahi vaginanya dan kulihat tante Irma hanya bisa mendesis nikmat panjang.. ”Kamu hebat banget.. sudah lama tante tidak pernah klimaks seperti ini. ayoo.. kita mandi lagi yuk.. lengket-lengket nih”, ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya. 

Kami mandi sambil berpelukan di bawah siraman shower air hangat. Dan kami pun terus melakukannya sampai sekarang secara diam-diam.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Tante Irma Yang Kesepian



KiosVideo Semua cerita ini bermula ketika aku sedang berkunjung ke rumah pamanku pada beberapa tahun yang lalu.

Cerita ini terjadi kira-kira 3 tahun yang lalu, tapi setiap kali aku membayangkannya dan memikirkannya, seolah-olah baru saja terjadi kemarin kejadian yang sangat indah ini.
Aku mempunyai seorang paman yang belum menikah, Pamanku ini bisa dibilang memiliki banyak istri. Hal ini disebabkan karena pamanku adalah seorang pengusaha kaya tapi ia terlalu cerewet soal memilih pendamping hidupnya. Sebenarnya ia juga telah banyak diperkenalkan dengan wanita-wanita muda dan cantik-cantik oleh keluargaku, tetapi tetap saja alasannya ya bilang inilah itulah, semuanya cocok di matanya, katanya.

Sampai pada suatu saat, ketika aku kebetulan sedang bertamu ke rumahnya, pamanku datang dengan seorang wanita yang sangat cantik dan Seksi, semampai, langsing, pokoknya cantik banget de kalau menurut saya.
Kemudian kami diperkenalkan dengannya, wanita itu bernama Nilla, ternyata namanya pas sekali dengan wajahnya yang memang Nilla itu. Ia baru saja berusia 25 tahun dan saat itu ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan teman pamanku. Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Nilla memang enak untuk diajak ngobrol. Dan aku melihat sepertinya pamanku tertarik sekali denganya, karena aku tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Nilla.

Tapi tidak demikian halnya dengan Nilla. Ia malah lebih sering memandangku, terutama ketika aku berbicara, tatapannya dalam sekali, seolah-olah dapat menembus pikiranku dan membaca pikiranku. Aku mulai berpikir jangan-jangan Nilla lebih menyukaiku daripada pamanku. Tapi aku tidak dapat berharap banyak, karena bukan aku yang hendak dijodohkan melainkan pamanku. Tapi aku tetap saja memandangnya ketika ia sedang berbicara, kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang seperti gadis di iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya juga putih mulus, tapi sepertinya dadanya agak rata, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Tidak terasa hari sudah mulai malam. Kemudian sebelum mereka pulang, pamanku mentraktir mereka makan di sebuah restoran restoran yang cukup terkenal di dekat rumahnya. Ketika sampai di restorant tersebut, aku langsung pergi ke WC dulu karena aku sudah kebelet sudah mau keluar. Sebelum aku menutup pintu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu toiletnya. Dan ternyata adalah Nilla.
“Eh, ada apa Nil..?”
“Enggak kok.., gua hanya pengen kasih kartu nama gua, dan besok jangan lupa telpon gua, ada yang mau gua omongin penting, oke?”
“Kenapa enggak sekarang aja ngomonginnya?”
“Jangan, ada paman lu, pokoknya besok jangan lupa telepon saja!”
Setelah acara makan malam itu, aku pun pulang ke rumah dengan seribu satu pertanyaan di otakku, apa yang mau diomongin sama Nilla sih. Tapi aku tidak mau pikir panjang lagi, lagipula nanti aku bisa-bisa susah tidurnya karena terlalu memikirkannya, soalnya kan besok aku harus masuk kerja.
Besoknya saat istirahat makan siang, aku tak lupa untuk meneleponnya dan bertanya langsung padanya.


“Eh..., apa sih yang mau elu omongin semalam, gua penasaran banget?”
“Haha.., penasaran banget ya, Har (Pangilanku)?” 
“Iya lah, ayo dong buruan penasaran nih..!”
“Eh, slow aja donk, napsu amet sih elu.”
“Baru tahu yah, napsu gua emang setinggi ini”
“Napsu yang mana nih?” Nilla sepertinya memancingku secara perlahan.
“Napsu makan dong, gua kan belum sempat makan siang gara-gara penasaran sama yang semalem..!” 
Aku sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aku ini orang yang sangat menghargai waktu, terutama saat jam makan siang, soalnya aku sambil makan dapat sekaligus main internet di tempat kerjaku, karena saat itu pasti bosku pergi makan keluar, jadi aku bebas surfing di internet, gratis lagi.
“Yah udah-udah, gua cuma mau bilang bisa enggak elu entar ke apartment gua sore ini seabis elu pulang kerja, soalnya gua pengen ngobrol banyak sama elu nanti pas di apartment gua.”
Aku tidak habis pikir, cuma mau ngomong ini doank nih orang kenapa tidak bilang kemarin saja biar gampang pikirku.
Lalu kataku, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”
“Karena gua mau kasih surprise buat elu.” katanya dengan nada manja.
“Alah..., gitu aja pake surprise segala, yahuda-dah entar gua ke tempat elu sehabis pulang kerja, kira-kira sudah mau jam 7an, alamat elu di mana?”
Lalu Nilla bilang, “Nih catet yah, apartment XX (senor), lantai XX (sensor), pintu no. XX (sensor), jangan lupa yah entar nyasar lagi..!”
”Oke deh, tunggu aja nanti sehabis kerja, bye..!”
“Bye-bye Har...”

Setelah telepon terputus, lalu aku mulai membayangkan sekaligus penasaran apa yang akan dibicarakan, lalu pikiran nakalku mulai bekerja. Apa kira-kira bisa aku menyentuhnya nanti, tetapi langsung aku berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti ketahuan, pasti tidak enak dengan pamanku. Lalu aku pun mulai tenggelam dalam kesibukan pekerjaanku yang sangat padat ini.
Tidak lama pun waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, sudah waktunya aku pulang nih, pikirku. Lalu aku pun mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Lumayan dekat dari tempat kerjaku. Sesampainya di sana, aku pun langsung menaiki lift ke lantai yang telah diberitahukan olehnya. Begitu sampai di lantai tersebut, aku pun langsung melihatnya sedang membuka pintu ruanganya.
Langsung saja kutepuk pundaknya dari belakang.
“Hai, baru sampe yah, Yuk...”
Nilla tersentak kaget, “Wah gua kira siapa, pake tepuk-tepuk segala.”
“Elu kan kasih surprise buat gua duluan, jadi gua juga mesti kasih surprise juga buat elu.”
Lalu ia mencubit lenganku, “Nakal elu yah, awas saja nanti..!”
Kujawab saja, “Siapa takut, emang gua pikirin..!”
“Ayo masuk..., santai aja, anggap aja rumah sendiri.” katanya setelah pintunya terbuka.
Ketika aku masuk, aku langsung terpana dgn apa yang ada di dalamnya, kulihat temboknya berbeda dengan tembok rumah orang-orang pada umumnya, temboknya dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia sepertinya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat juga kalau cuma kerja sebagai sekretaris mampu menyewa apartment. Jangan-jangan dia ini merupakan cewek simpanan, pikirku.

Sambil aku berkeliling, Dina berkata, “Mau minum apa Har?”
“Apa saja bolehlah, asal bukan racun saja yang elu berikan.” kataku sambil bercanda.
“Oh, kalau gitu nanti saya campurin obat tidur saja deh.” kata Nilla sambil tertawa nakal.
Sementara ia sedang membuat minuman, mataku secara tidak sengaja tertuju pada rak DVD-nya, ketika kulihat satu persatu, ternyata lebih banyak film yang berbau porno. Aku tidak sadar ketika ia sudah kembali, tahu-tahu ia sudah memelukku, “Har, kalo elu mau nontonn, setel aja langsung..gih..!”
Aku tersentak ketika ia ngomong seperti itu, lalu kubilang, “Apa gua enggak salah denger nih..?”
Lalu katanya, “Kalo elu merasa salah denger, yah gua saja yang setelin sekarang!”
Lalu ia pun mengambil sembarang film kemudian disetelnya. Wah, bener-bener gila juga nih cewek, pikirku, apa ia tidak tahu kalau aku ini laki-laki, dan dia baru kenal sehari saja, sudah seberani ini denganku.

“kamu Duduk sini Har, jangan bengong aja, khan udah gua bilang anggap aja rumah sendiri..!” kata Nilla sambil menepuk sofa menyuruhku duduk dekat dengannya.
Kemudian aku pun duduk menuruti dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam menyaksikan adegan film panas itu, sampai akhirnya aku pun buka mulut, “Eh Nil, tadi di telpon elu bilang mau ngomong sesuatu, apa sih yang mau elu ngomongin denganku aku penasaran nih..?”
Nilla tidak langsung ngomong, tapi ia kemudian perlahan menggenggam jemariku, aku tidak menyangka akan tindakannya itu, tapi aku pun tidak berusaha untuk melepaskannya karena ku kira dia hanya main-main.


Agak lama kemudian baru ia ngomong, pelan sekali, “Elu tau Har? sejak kemarin aku bertemu denganmu, kayaknya gua merasa pengen menatap elu terus, ngobrol terus denganmu. Har, gua suka banget sama elu..”
“Tapi kan kemarin elu dikenalkan ke Paman gua, apa elu enggak merasa kalo elu itu sedang dijodohin ke Paman gua, apa elu enggak lihat reaksi Paman gua ke elu.. pada waktu itu..?” tanyaku dengan penuh heran.
“Iya, tapi guanya enggak mau dijodohin sama Paman elu..., soalnya umurnya aja beda sangat jauh, setelah gua pikir-pikir, kenapa pada hari itu bukannya elu aja yang dijodohin ke gua..? makanya pada saat itu gua terus liatin elu dan ternyata elu juga membalas tatapan gua” kata Nilla sambil nada manja.
Aku pun menjawab, “Gua sebenarnya juga suka sama elu pada saat pertama kali liat elu, tapi gua enggak enak sama Paman gua, entar dikiranya gua kurang ajar sama sama orang yang lebih tua.”

Lalu Nilla diam saja, demikian juga aku, sementara itu film semakin bertambah panas, tapi Nilla tidak berencana untuk melepaskan genggamannya. Lalu secara tidak sadar otak nakalku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang kan tidak ada orang lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, lalu ia menoleh padaku, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berkata dengan pelan, “Nilla, gua cinta sama elu.”
Ia tidak menjawab, tapi memejamkan hanya matanya. Kupikir ini saatnya, lalu pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya. Nilla pun lalu membalasnya sambil memelukku erat-erat. Tanganku tidak tinggal diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Nilla menggeliat seperti cacing kepanasan, mendesah-desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.
Kemudian aku berusaha membuka satu persatu kancing bajunya, lalu kuremas-remas Dadanya yang masih terbungkus BRA itu.
“Aaahh, buka aja BH-nya HAR...! cepat.. oohh..!”
Kucari-cari pengaitnya di belakang, lalu kubuka. Wah, ternyata lumayan juga pas waktu dibuka, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya seperti anak bayi menyusui.
“Achh... ouwww.. aduhh.. Har.. nikmat sekali permainanmu teruss..!”
Setelah bosan dengan Dadanya, lalu kubuka seluruh pakaiannya sampai bugil total. Ia juga tidak mau kalah, lalu melepaskan semua yang kukenakan. Untuk sesaat kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia menarik tanganku menuju ke kamarnya, tapi aku melepaskan pegangannya lalu menggendongnya dengan kedua tanganku.
“Aouww Har, kamu romantis sekali..!” katanya sambil kedua tangannya manja melingkari leherku.
Kemudian kuletakkan Nilla pelan-pelan di atas ranjangnya, lalu aku menindih tubuhnya dari atas, untuk sesaat mulut kami saling pagut memagut dengan mesranya sambil berpelukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat dengan lembut, Nilla mendesah-desah nikmat. Tidak lama aku bermain di dadanya, mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Nilla mulai menggeliat kegelian.


“Aduh Har, elu ngerjain gua yah, awas elu nanti..!”
“Tapi elu suka kan? Geli-geli nikmat..!”
“Udah ah, jilati aja memek gua langsung Har..!”
“Oke boss.., dengan penuh semangat aku menuruti apa yang dia katakan!”
Langsung saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menunggu lagi langsung saja kujilat-jilat klitorisnya yang sudah basah itu. Nilla menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan liar seakan-akan tidak mau kalah dengan jilatan lidahku ini.
“Oouuuhh... uggh... aaouuw uuhh ayoo... teeruss.., lebih dalemm, oohh.. nikmat sekali..!”
Agak lama juga aku bermain di sekitar klitorisnya sampai-sampai terlihat banjir di sekitar vaginanya.
“Har, masukkin aja langsung titit elu ke lobang gua, gua udah enggak tahan lagi nih..!” 
dengan segera langsung kuposisikan diriku untuk menembus kemaluannya yang basah itu, tapi ketika kutekan ujung penisku, ternyata tidak mau masuk. Dan aku baru tahu ternyata dia masih perawan.
“Nilla, apa elu tidak menyesal perawan elu gua tembus..?” izinku.
“Har.., gua rela kalau elu yang ngambil perawan gua, bagi gua di dunia ini cuma ada kita berdua aja, karena gua juga cinta banget sama elu.”
Setelah mendapatkan izinya, tanpa ragu-ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kuat, rasanya seperti ada sesuatu yang robek, mungkin itu selaput perawannya, pikirku.
“Aduh.. sakit Har, tahan dulu.. sebentar!” katanya menahan sakit.
Aku pun diam sejenak, lalu kucium mulutnya untuk meredakan rasa sakitnya. Beberapa menit kemudian ia mulai terangsang lagi, lalu tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku sehingga batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya.
“Pelan-pelan dulu ya Har, masih sakit nih..!” katanya meringis menahan sakit.
Kugoyangkan pinggulku secara pelan-pelan, lama kelamaan kulihat dia mulai terangsang lagi. Lalu gerakanku mulai kupercepat sambil menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Nilla sudah mulai menikmati permainan ini.

 


Tidak lama kemudian ia mengejang, “Har.., achh.. akuu.. mau keluarr.., teruss.. terus.., Goyaaanngg teeerrusss,,, aahh..!”
Aku pun mulai merasakan hal yang sama, “Yu, aku juga suddahh mau keluar, di dalam atau di luar..?”
“Keluarin di dalem aja Sayang.. ohh.. aahh..!” katanya sambil kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.
Tiba-tiba dia menjerit histeris, “Oohh.. sshh.. sshh.. sshh..”
Ternyata dia sudah keluar, aku terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga menyentuh ke dasar liang vaginanya.
“Sshh.. aahh..” dan, “Aagghh.. croott.. Crott..!"
Kutekan pantatku hingga batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan keluarlah spermaku ke dalam liang vaginanya.
Saat terakhir air maniku keluar, aku pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas aku dapat melihat bagaimana kejantananku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu-bulu itu sambil sesekali menyentuh klitorisnya.
“Sshh.. aahh..!”
Setelah itu kami berdua sama-sama lemas terkapar. Kami saling berpelukan selama kira-kira hampir satu jam sambil meraba-raba teteknya.
Lalu ia berkata kepadaku, “Harr, mudah-mudahan kita bisa bersatu seperti ini Har, gua sangat sayang pada elu.”
Aku hanya diam sejenak, lalu kubilang begini, “Gua juga sayang banget sama elu, tapi elu mesti janji tidak boleh meladeni paman gua kalo dia nyari-nyari elu. Sambil gue cari cara supaya pama gua tidak jadi dijodohkan sama elu.”
“Siap boss, siap laksanakan perintah..!” katanya sambil memelukku lebih erat.

Semenjak kejadian itu, kami menjadi sangat lengket, tiap malam minggu selalu kami bertingkah seperti suami istri. Tidak hanya di apartmentnya, kadang aku datang ke tempat kerjanya dan melakukannya bersama bisa di WC, tentu saja setelah semua orang sudah pulang. Kadang ia juga ke tempat kerjaku untuk minta jatahnya, katanya pamanku sudah tidak pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Nilla ditelpon, yang menjawabnya adalah mesin penjawabnya, lalu tak pernah dibalas oleh Nilla , mungkin akhirnya pamanku jadi bosan sendiri dan menyerah untuk mencarinya.

Aku dan ia semakin sering jalan seperti ke Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dengan pamanku itu. Sampai saat ini aku masih jalan bersama, tapi ketika kutanya sampai kapan mau begini, ia tidak menjawabnya. Aku ingin sekali menikahinya, tapi sepertinya ia bukan tipe cewek yang ingin punya keluarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang penting aku dapat enaknya juga. Dia juga enak aku pun enak juga, tetapi aku pun memang sudah ingin berencana untuk melamarnya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Calon Istri Pamanku Yang Penuh Nafsu


KiosVideo - Disini gua akan menceritakan pengalaman sex saya, Nama gua Fajar gua adalah seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi di Jakarta, dan sekarang aku sudah sampai tingkat akhir. Untuk saat ini aku hanya fokus mengerjakan skripsi saja demi kelulusanku. Sebab itu gue sering bermain ke tempat kakakku di Tangerang.

Ada Suatu hari aku main ke Tangerang. Ketika gua sampai ke rumah kakakku, gua melihat ada tamu di depan rumah kakak gue, rupanya ia adalah teman baik abangku waktu abangku masih kuliah. Gue dikenalkan oleh kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat baik kepadaku. Usianya 42 tahun dan sebut saja namanya Andra(samaran). Ia pun mengundangku untuk bertamu ke rumahnya untuk dikenalkan kepada keluarganya. Istrinya Bernama Rena(samaran), 5 tahun lebih muda dari suaminya, dan putrinya Fitri(samaran), Rena yang duduk di kelas 3 SMP.

Kalau aku ke Tangerang aku jadi sering main ke rumahnya. Dan pada hari Rabu, aku ditugaskan oleh Andra untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Luar Kota, Pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit gak begitu parah dan dirawat selama 4 hari. oleh karena itu Andra meminta cuti dari kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak bisa ikut karena harus bersekolah.

Setelah 2 hari gue di rumahnya, sesekali gue pulang ke rumah kakakku, karena gue tidak ada kesibukan apapun dan gue pun pergi menuju rumah Andra. Sesampainya di rumah Andra Aku pun duduk untuk bersantai dan kemudian menyalakan DVD untuk mengusir kebosananku. Saat selesai satu film, Saat hendak menganti filim gue melihat sebuah  rak, di bagian bawahnya kulihat ada beberapa Filim porno. Karena memang sedang sendirian, aku pun tertarik untuk menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka. Gue pun tergesa-gesa mematikan televisi dan menaruh cover DVD pornonya di bawah karpet.

“Selamat Siang, Oom Fajar,,!!” Fitri yang pulang dari sekolah memberiku salam sambil tersenyum.
“Om.. tolong dong bayarin Angkutan gue donk.. uang fitri duapuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
Aku sambil tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan angkutan yang cuma tiga ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali ke dalam ruma.. alamak pucatlah wajahku! Fitri duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang tadi gue liat sedang setengah jalan. Fitri memandangku dan tertawa geli.
“Ih..! Oom Fajar..  Begitu, toh, caranya..? Fitri sering diceritain oleh temen-temen di sekolah, tapi belom pernah meliat secara langsung.”
Sambil gugup aku menjawab, “Fitri..! kamu nggak boleh nonton begituan..! Kamu belum cukup umur..! Ayo, cepat matiin.”
“Aahh.., Oom Fajar. Jangan begitu gitu, dong..! Tuh.. Oom.. liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Fitri  yang di sekolah lebih serem daripada yang ini.”

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau makin kularang Fitri justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur untuk membuat minum dan membiarkan Fitri melanjutkan menonton filimnya. Dari dapur gue duduk-duduk di kursi belakang sambil minum kopi dan membaca majalah.

Sekitar jam 7.30 malam, gue keluar untuk membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Fitri sedang tengkurap di sofa sambil mengerjakan PR, dan.. ohmygod! Ia hanya mengenakan daster yang pendek dan tipis entah dia sedang memancingku atau apa. Tubuh mudanya yang sudah mulai dewasa terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus halus serta pantatnya membulat indah. gue melihat sambil menelan ludah dan terus menghiraukannya dan masuk untuk masuk menyiapkan makanan yang tadi gue beli.

Setelah makanan siap, aku berteriak dari dapur memanggil Fitri..!!! Dan.. sekali lagi saya melihat pemandangan yang luar basa.. astaga pikirku,  jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menonjol di balik dasternya. Gue semakin merasa gelisah karena adik kecilku yang tadi tidur sekarang sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mulai memberontak di dalam celanaku, tapi aku mencoba menahan diri karena gue tidak boleh berpikir yang aneh-aneh.

Setelah selesai makan, saat kami mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, tampak jelas buah dadanya yang indah. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah-celah itu. Adikku mulai semakin gelisah, selesai mencuci piring, kami berdua kembali duduk di sofa di ruang tamu.

“Oom Fajar, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
"Gak tau tuh apa jawabannya. Pura-pura gak tau"
Fitri yang memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener tu Fitri lagi pakai seragam sekolah, yg kepanasan ..!”
“Aahh.. Oom Fajar ngeledek..!”
Fitri meloncat dari sofa  menuju ke arahku dan berusaha mencubitiku. Gue dengan cepat menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan dia pun tersandung!


Fitri jatuh tepat ke dalam pelukanku, membelakangiku. Sambil lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kejntananku yang sudah berdiri tegak! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Fitri mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya yang berada di balik dasternya.

Nafas Fitri makin terengah, dan tanganku pun mulai masuk ke antara dua pahanya. CDnya yang sudah basah, dan jariku mengelus belahan vaginanya yang tembem.
“Uuugghh.. mmhh..” Fitri menggelinjang nikmat.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkanku bahwa yang sedang kucumbu saat ini adalah seorang siswi SMP, tapi gariahku sudah sampai ke puncak dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Fitri menelentang di sofa dengan tubuh hampir telanjang!

Gue segera menghisap puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya tegang dan basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Fitri yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar ingin mencumbunya. Gue lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang tembem baru ditumbuhi rambut halus. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Fitri. Aku pun segera mulai mengarahkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

“Achh.. mmaahh..,” tangan Fitri meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium, dan kujilat.
Sesekali permainan lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan dadanya.
“Oooucchh.. aahh..,” Fitri mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat dan sempit.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya perlahan mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai rambut dan tubuh Fitri akan terlonjak dan nafas Fitri seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras tegak.


Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Fitri tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa-gesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak dari tadi, kubelai-belaikan di pipi Fitri.
“Mmmhh.. uhmmhh.. oohhmm..” ketika Fitri membuka bibirnya, kumasukan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menghisap. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap oleh jilatannya. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Fitri dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku masih ada di mulut Fitri dan aroma kemaluan Fitri di mulutku, bertukar saat lidah kami saling bersentuhan.

Dengan tangan, Sambil kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Fitri, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Fitri menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mmmaa... suk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. Acchhh....”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya yang sempit itu, dan Fitri semakin mendesah-desah kenikmatan. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran penisku adalah panjang 14 cm, lebarnya 4 cm sedangkan Fitri masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya  masih terlalu kecil dan sempit.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar ini tak menghilangkan niatku, gue pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Fitri menjerit kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Gue menekan lagi sambil perlahan, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Fitri terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya selama beberapa menit.

Beberapa menit kemudian kerutan di dahi Fitri menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Fitri menjerit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm.. laggiihhh...”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Fitri, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Fitri sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya yang masih kecil itu. Tanpa perlu diajarkan, Fitri segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan memainkan dadanya, dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

 




Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Fitri semakin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami saling berciuman. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Fitri melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Fitri tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Fitri lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas dadanya. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Fitri yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak selanjutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Fitri.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Fitri kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Fitri pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan DVD menyala, dengan film yang kemarin. Ah..! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari DVD itu.

Sekian dari cerita dewasaku.

Tamat

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam



Nikmatnya Tubuh Milik Fitri


KiosVideoMeskipun telah puluhan tahun sejak aku meninggalkan Surabaya keterikatanku kepada kota itu tidak begitu saja lepas seiring berjalannya waktu, terutama setelah kegagalan rumah tanggaku. Dalam setahun aku sempatkan 4-5 kali berkunjung ke Surabaya untuk bernostalgia bersama kawan-kawan yang tetap bertahan tinggal dan kerja disana.
Walaupun kesemrawutan kota Surabya agak mengurangi kenyamanan namun tetap tidak mengurangi keinginanku untuk berkunjung. Banyak perubahan terjadi, serta aku kangen dengan makanannya yang enak dan bervariasi dan juga wanitanya yang terkenal cantik. “Di Surabaya, beberapa kali kita melangkah akan selalu bertemu dengan wanita cantik” dan itu hampir sepenuhnya benar.

Maret 1999 dengan kereta yang kubawa pada siang itu, aku berangkat ke Surabaya, liburan “nostalgia” selalu aku lakukan saat weekday menghindari macet saat weekend. Setelah menaruh tas bawaanku, menghempaskan tubuh dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel kegemaranku. Belum lagi selesai membaca satu paragraph aku dikejutkan sapaan suara halus : “Maaf, apakah tidak keberatan kalau kita bertukar bangku?” aku menengadah, kaget dan terpana! begitu mengetahui si pemilik suara adalah suara wanita. ” Hmm..sure..ehh maaf..tidak, maksud saya tidak apa-apa” jawabku dengan gugup. 
Dia cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia lebih kurang 173an, putih, postur yang proporsional dengan rambut hitam lurus sebahu bak bintang iklan shampoo! Umurnya kira-kira sekitar akhir 22 tahun mengenakan baju biru muda ketat dan celana hitam yang juga ketat sehingga menonjolkan semua lekak-lekuk tubuhnya.. Saat aku berdiri bertukar bangku, semilir tercium aroma parfum yang sangat lembut, yang pasti pas sekali dengan penampilannya pada saat itu.


“Maaf mengganggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalam perjalanan, kalau dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala” Ia menjelaskan sambil meminta maaf.
“Ngga apa-apa kok” sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya gumamku dalam hati. Setelah selesai merapihkan bawaannya iapun langsung duduk dan membuka buku yang dibawanya. Kamipun tenggelam dengan bacaan masing-masing. Ingin rasanya aku menutup novelku dan memulai pembicaraan dengannya namun melihat Ia begitu asik dengan novelnya sendiri, niat itu pun aku urungkan. Kesempatan itu muncul saat pesanan makanan kami pesan tiba.

“Suka juga roti isi” tanyaku basa basi membuka pembicaraan
“Iya, entah kenapa aku suka sekali roti isi di kereta ini, padahal rasanya biasa-biasa aja” jawabnya
“Mungkin suasana kereta membuatnya enak” lanjutku sekenanya
“Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Kiki” sambil menjulurkan tangannya yang tampak halus itu
“Budi, ngga usa pake Mas” sahutku sambil menyambut tangannya
“Hihihi...” tawanya kecil “Kamu lucu juga, dalam rangka apa ke Surabaya nih?”
“Main-main aja kangen sama suasana Surabaya dan kawan-kawan” jawabku.
“Kiki sendiri ke Surabaya dalam rangka apa?” tanyaku kembali.
“Ada tugas dari kantor” jawabnya singkat tegas sepertinya enggan untuk menceritakan seperti apa pekerjaannya.

“Tinggal dimana Ki di Surabaya” Ia pun menyebutkan salah satu hotel.
“Lho kok sama denganku? aku juga di kamar 112” suatu kebetulan yg mengejutkan atau mungkin takdir yang mempertemukan kita
“Oh ya...?!! satu lantai pula kita” ujar Kiki yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selepas makan kami tidak lagi membuka bacaan masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dengan lancar diselingi dengan joke-joke nakal yang ternyata disukainya. Perbendaharaanku yang satu ini cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kami yang ada dikereta. Kiki bahkan tidak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit kecil lenganku ada joke yang “sangat” nakal. Tanpa terasa kami sudah tiba di stasiun Surabaya tepat jam 17.30, lalu kami naik mobil jemputan hotel sambil terus bercengkerama dengan lebih akrab lagi.

Di hotel kami pun berpisah, kamarku dikanan lift sementara Kiki dikiri. Dikamar aku langsung merebahkan diri membayangkan Kiki dan mengingat-ingat semua kejadian yang ada di kereta, di mobil dan di lift aku memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karenanya aku urungkan menghubungi kawan-kawanku, dan terlelap dengan senyum bahagia terukir di bibirku.

Jam 19.30 aku dikejutkan oleh dering telepon, belum lagi belum aku sampai ke 'alam mimpi' aku pun langsung mengangkat telepon
“Hallo” jawabku dengan suara ngantuk.
“Hi Bud sudah tidur ya? sorry ganggu nih” terdengar suara halus yang pernah aku dengar sebelumnya.
Kiki!! langsung aku bangkit dan tidak jadi mengantuk “Tak apa-apa, aku juga niatnya bangun jam segini kok tapi lupa pesan di front office tadi” jawabku. “Ada apa nih Ki?”
“Kamu jadi ngga ketemuan sama kawan-kawan kamu?”
“Hmm..aku belum sempat call mereka, aku tadi langsung ketiduran” padahal aku cuma alasan saja
“Gimana kalau malam ini datang sama aku, soalnya aku ngga jadi dinner meeting nih..”
“Sayangkan dandananku kalau harus dihapus begitu saja” lanjutnya dengan tawanya yang khasnya
Aku yang mendengarkan ajakan tersebut pun langsung shock sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa.
“Halloo.. Bud.. kamu masih disanaa..? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan.
“Ooohh maaf..kaget..soalnya surprise banget sih.. kaya ketiban bulan, diajak datang bidadari” jawabku. “Dasarr..kamu tuh..ketiban aku baru rasa, cepat mandi dong, tampil biasa aja ya” menutup pembicaraan.


Tidak usah disuruh pun aku langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ‘sudut’ tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat pintu terbuka aku hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yang ‘casual’, Kiki mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan. “Hii..kok kamu bengong lagi sih” tegur Kiki menyadarkan aku dari lamunanku dan kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap makanan kami, kami lanjutkan lagi menghabiskan malam disalah satu kafe, Kiki memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es sementara Kiki memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.
Waktu musik memainkan lagu yang disukainya Kiki langsung turun dari kursi, bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami ‘turun’ ditempat - lebih tepat disebut berpelukan dengan sedikit gerakan-buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada ‘turun’ yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan ”Ehh..” hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, setelah itu ia yang membalasnya dengan kecupan-kecupan kecil di bibirku..Malam ini merupakan malam yang indah. 

Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel kiki yang menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami perpandangan, bibirnya bergetar, Kiki memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spionnya. Lidah kamipun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak terasa taksi kami telah sampai di hotel.

Kamipun langsung bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan apa yang tadi sempat tertunda, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Buddii.. ah...hhh” desahnya. Keluar lift Kiki langsung menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Kiki langsung menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yang begitu kenyal. Kejantananku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Kiki sambil menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kami beradu-walaupun masih terbungkus-membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat kami menggesek-gesekannya. “Ahh..Budd..”desah Kiki kembali dan saat itu kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku melingkar-lingkar di leherku. “Eeehh..aahh..” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya.

Lidahnya semakin turun kedadaku sementara dengan jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan lidahnya berpindah keputing dadaku, berputar-putar, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil. “Terusin Ki.. desahku” suaraku bergetar meminta meneruskan kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Kiki semakin liar memainkan mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di pusar sambil tangannya membuka celanaku. Kiki meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus CD dan setelah itu Ia memasukan tangannya kedalam CD dan mengeluarkan milikku yang sudah membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang nikmat.. dan akhirnya..lidahnya berputar-putar disana.
“uhggghh..sshh..”desahku tak karuhan, lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan buah zakarku. “Enakk Ki.. aahh..kamu pintar sekalii.. hisap terruss.. cantiikk.. ” aku meracau tidak karuan memintanya melakukan lebih lagi.

Kiki yang mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala kejantananku dan dimasukannya.. hanya sebatas itu dan mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar serangan yang sangat luar biasa.. sunguh nikmatt sekali..!! Setelah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan semakin cepat Kiki menggerakan ritme kocokannya. “Nikmat Ki.. lagi.. lebih cepat.. ayoo.. oouuhh” pintaku diselah-selah erangan yang semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.

Kuangkat tubuhnya dan kupeluk dengan mesra. “Suka?”bisiknya bertanya. “Suka sekali.. kamu hebat banget..” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya. “Ooohh..” erang Kiki. Kubalas apa yang Ia lakukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan BHnya, dua bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya “Eeehh.. Budii..” lenguh Kiki dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya “Auuhh..ach...”erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. “Aaaghh.. Budd.. kamu sangat ganaas..”jeritnya.

Puas aku melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas roknya, tampaklah CD mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi CD-nya sehingga menyentuh dua bukit lembut basah.
“Budi..uugghh..”kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga dengan leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.



Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya. “Aaa..Buddii..” jerit Kiki tertahan sambil menjambak rambutku yang panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya. “Ssshh..eehh..” desah Kiki merasakan hisapanku yang kuat di lubang kenikmatannya. Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih dalam dalam lagi Kikipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga memudahkan aku “memakan” semua kewanitaannya.”Buddi.. stopp.. dulluu.. aku suddahh ngga tahann..”aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila “My godd..Budd..shhff..pleasee..stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya. 
Akupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan tubuhnya ditempat tidur dan kamipun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas bagian-bagian sensitif kami. “Sekarang Bud.. sekarang.. pleasee..”pintanya berbisiknya. Aku merayap naik ketubuhnya, Kiki membuka lebar kedua kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kejantananku memasuki mulut kewanitaannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar masuk dengan perlahan. “Ooohh yaa.. Budd.. enakk..” Kiki pun mulai mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku tidak henti-hentinya mengulum buah dadanya.”Aagghh..terusin Bud lebih dalamm.. aagghh..” pintanya, kutekan batang kemaluanku lebih dalam dan.. ”Ssshh..”desisku merasakan kenikmatan rongga kewanitaanya yang sempit meremas-remas sekujur batang kemaluanku. ”Aaaugghh..punya kamu enak Ki..” akupun semakin kencang memacu tubuhku membuat Kiki semakin mengebu-ngebu.

“Ahh.. oucchh.. nikmat Bud..”desahnya merasakan gesekan-gesekan batang kejantananku di dinding kemaluannya. Saat kami merasakan nikmatnya kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kami saling menghisap, memagut bahkan mengigit dengan liarnya.. dan “Ugghh.. Bud.. Come fuck me.. fuck me harder.. I’m comingg honey..” tubuh Kiki yang mengejang dan tangan serta kakinya memeluk tubuhku dengan kencang “Ouchh..oohh..aku keluar Budd.. aaghh..” Ia pun kejang sesaat kurasakan denyut-denyut di kewanitaannya dan tubuh Kiki pun lungai lemas.

“Maaf Bud aku duluan sudah ngga tahan, habis udah lama..” bisiknya, aku masih diatasnya dengan kemaluan yang masih terbenam didalam kewanitaannya. “Ngga apa-apa Ki cewekan multiple orgasm, masih ada yang kedua dan seterusnya kok..” jawabku menggoda. “Memangnya kuat..?” tantangnya. “Lihat aja nanti..”membalas tantangannya. “Ihh..itu sih doyan.. makanya kaut” seru Kiki dengan manja sambil mencubit pinggangku. Kubalas cubitannya dengan memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai berputar-putar perlahan.”..Mmhhff..”kupagut bibirnya, lidah kamipun saling bertaut, meliuk dengan panasnya. Birahi kamipun kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya dengan putaran pinggulnya membuatku melayang-layang. “Shhff.. agghh..” desahanpun tak tertahan keluar keluar dari mulutku. Dengan bahasa tubuh Kiki mengajak ganti posisi, Ia diatas memegang kendali.

Kiki menekan kewanitaanya dalam-dalam-sehingga kejantananku menyentuh ujung lorong kenikmatannya-dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju. Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aku menahan hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku.
“Ayo.. teruss Ki.. aahh.. yes... lagi Ki.. punya.. kamu enak..”rintihku. "Punya kamu juga Bud.. oucchh.. want me to fuck you more hardd..mmphh...” tidak perlu jawabanku, dengan di topang tangannya Kiki membungkuk tambah mempercepat ayunannya. Buah dadanya yang indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yang lainnya kulumat dengan rakus. “Ouchh.. Budd.. nikmatt.. lumat semua Budd” jerit Kiki sambil merendahkan tubuhnya memudahkan aku melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tidak terkendali, tidak berapa lama kemudian tubuhnya kembali mengejang, Kiki menekan dalam-dalam kewanitaannya menelan seluruh batang kenikmatanku. “Bud aku mauu keluarr lagi.. AAGGKKHH.. ” teriak Kiki, tubuhnya pun rubuh diatasku cairan kenikmatannya kurasakan membasahi kejantananku.

Kiki rebah diatasku tubuhnya dengan lemas, hanya desah napasnya menerpa dadaku. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian “Punya kamu masih keras Bud.. kamu belum keluar?”
“Aku tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir” bisikku sambil mengecup pipinya.
“Mmmhh..” Kiki bergumam “Aku juga..”bisiknya dengan mesara sambil mengigit leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa saat, gigitan dan kecupan mesra itu kembali menjadi pagutan birahi yang liar.

Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan kenikmatan dan desahan kenikmatan duniawi, kejantananku yang masih berada didalam kembali merasakan bagaimana nikmat yang diberikan oleh kewanitaannya. Aku bangun sambil mendorong tubuh Kiki sehingga kami berada dalam posisi duduk, satu tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah pantatnya yang bulat padat. Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rongga kenikmatannya seakan melumat seluruh batang kejantananku, “Agghh..sshh.. Bud..” rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dengan menggoyang-goyangkan pinggulku sambil kuhisap putingnya sekuat tenaga.”Budd.. aghh..” 

 


Kurasakan gerakan tubuh Kiki yang semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya semakin mengganas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku. Akupun tidak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan oleh Kiki, kurebahkan tubuhnya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di pinggulku dan kamipun kembali mendaki puncak kenikmatan. Batang kejantananku yang tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Kiki dengan liar, Ia tidak tinggal diam, diputar-putar pinggulnya seirama tikaman-tikamanku “Aghh.. uugghh.. Ki.. nikmat sekali.. gerakaann kamuu... putarr teruss” pintaku merintih-rintih kenikmatan. “Auugghh.. Ayoo budd.. tekan yang dalamm..” kami tenggelam dalam gelimang birahi yang memuncak.. dan sampai akhirnya ”Kiki.. akuu sudaah mau keluar..” kurasakan kejantanku bertambah besar. “Yess.. I’m coming too youu... kami berpelukan dengan kuatnya dan secara bersamaan mengejang. “AAKKGGHH.. punya kamu nikmatt sekalii Ki.” ucapku, kutekan dalam-dalam kejantananku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar membasahi relung-relung kewanitaannya, “Aauughh Budd punyaa kammuu.. nikmatt.. ssekallii.. AHHCCCHH..” Kami berdua pun terkapar lemas.

Setelah malam panjang yang indah itu kami tak henti-hentinya mengulangi lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua sudut dikamar hotel itu sudah kami jelajahi, bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi kami berdua. Surabaya kembali memberi coretan khusus dalam hidupku membuat keterikatanku semakin besar yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup dan kuakhiri ceritaku sampai disni.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam


Nikmatnya Bersetubuh Dengan Kiki


KiosVideo - Namaku Joko, umurku 17th, aku masih sekolah kelas dua di salah satu SMU standard di Bandung. Ibuku adalah dua bersaudara dengan tanteku yang bernama Ani, umur tanteku baru 24th, tidak terlalu jauh diatasku. Tante Ani sangat baik dan perhatian kepadaku, terutama dengan sekolahku, ia mengatakan jangan sampai aku gagal mencapai cita-citaku. Dia sering memberiku uang jajan dan membelikan barang-barang yang bagus untuku. Maklumlah dia bekerja di suatu tempat yang lumayan basah katanya dan kudengar dia juga berpacaran dengan seorang pejabat di salah satu instansi ternama di Bandung ini. Tanteku sangat hobi Shopping, suatu hari aku diajaknya jalan-jalan oleh tanteku ke sebuah Mall yang ada di bandung. Katanya kalau nyetir sendiri dia suka pusing sendiri, makanya dia memintaku menemaninya. “Andaikan aku bisa menyetir, tante Ani tidak perlu lagi pusing.. seperti sekarang ini.. biar aku bisa mengantarnya keman saja dia mau? pikirku dalam hati.


Dalam perjalanan seusai berbelanja Tante Ani menyapaku, Joko kamu sudah udah lapar ya..?” tutur tanteku.
“Iya nih tante, Joko daritadi udah lapar banget, tante..!” seruku padanya dengan manja. Akhirnya kamipun mampir untuk makan saat itu.

“Oh iya.., tante sebenernya pengen ajarin Joko menyetir.. kata tanteku ketika kami Disela-sela menyantap makan siang bersama.
“Emangnya... Joko sudah boleh nyetir tante..? kataku pura-pura tidak mengerti, kepadahal aku agak mengerti soal menyetir.

“Iya.. tentu boleh..dong…, biar besok-besok kalau Tante mau pergi-pergi, Kamu bisa nyetirin tante..!” kata tanteku menjelaskan.

Singkat cerita.., tanteku mengajariku nyetir dekat dengna arah pulang, dan kebetulan rute kami pulang ke arah sana.

“Capek juga ternyata belajar nyetir itu” pikirku. Akhirnya tanteku menyuruhku untuk istirahat sejenak, sambil meminggirkan mobilnya di tempat yang agak teduh biar adem.

Kamipun istirahat sambil memulai pembicaraan yang ringan tanpa turun dari dalam mobil, tanteku tiba-tiba mulai bertanya-tanya kepada aku.

“Joko apakah kamu udah pernah pacaran, belum..? belum jawabku dengan polos, kenyataannya memang belum karena aku disekolah juga kurang populer.
Joko udah gede, jadi udah boleh punya pacar.. donk....!” kata tanteku.
“Coba...deh.., tante mau liat barang punya Joko!” sambil dia mengarahkan tangannya ke bagian selangkanganku.

Aku yang sontak kaget sekali tiba-tiba tanteku berbuat seperti itu terhadapku, tapi aku tidak berani menolaknya karena dia sudah membantuku sangat banyak, aku hanya bisa diam saja saat itu dan mengikuti apa yang tanteku lakukan.

Perlahan tanteku membuka resleting celanaku, dan mulai mengelus-elus kontolku dari luar celana dalamku.

“"Aaaah....!"” aku merasakan geli bercampur nikmat karena sentuhan lembut dari tanteku itu, terus terang aku belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, tapi kenapa harus tanteku yang pertama kali yang mengelus-elus kontolku. Pikiranku berkecamuk antara rasa penasaran, malu tapi nikmat, semua bercampur membuat hati dan pikiranku dag dig dug detak jantungku hampir meledak saat itu.

"“Joko kamu jangan malu-malu sama tantenya sendiri.."” ujar tanteku.

Aku diam saja, karena bingung mesti menjawab apa kepada tanteku.
"“Tante ingin agar Joko tahu gimana rasanya.. menjadi dewasa kan Joko juga sudah gede.. nanti juga kamu akan merasakan hal seperti ini kalau kamu udah punya pacar...”" bujuk tanteku dengan lembut.
"Uhh.....ghh..!" tanpa kusadari aku merintih kenimatan karena merasakan nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Tanteku mulai memasukkan tangannya meraih batang kontolku yang sudah mulai tegang, saat itu aku malu bukan main, karena selama ini aku sangat hormat sekali padanya dan akhirnya sekarang malah dilihat olehnya.

Tangan tanteku memang sangat lihai, dia mulai meremas-remas dengan lembut kontolku, sampai akhirnya benar-benar tegang dan berhasil digenggam sepenuhnya.

Celana dalamku perlahan diturunkan olehnya, tampak kontolku mengacung keatas saking tegangnya.

Tanteku hanya tersenyum bangga melihat kontolku, sambil mulai mengocoknya dengan lembut.
“Aaaachh...nikmaaaaat sekali...rasanya.."” pikirku. Gimana ya, kalo tiap hari merasakan yang seperti ini, aku jadi mengkhayal yang lebih jauh, pasti pacar tanteku yang pejabat itu mendapat kenikmatan seperti ini setiap harinya. “Waaah.... pasti puas banget hidupnya kali ya hahaha... ?” semakin terbayang olehku jika aku jadi seperti dia.”

Sementara itu, tanteku yang masih terus mengocok-ngocok batang kontolku, sambil sesekali memberikan pijatan-pijatan pada bagian tertentu yang membuatku jadi kelojotan menahan denyut demi denyut rasa nikmat yang luar biasa.


Tampaknya tanteku sangat berpengalaman dalam bidang kocok mengkocok barang milik laki-laki, pantas kalo selama ini aku dengar dari ibuku, bahwa tanteku ini lagi diperebutkan banyak laki-laki yang ingin mengawininya.
“Wah... aku yang jadi keponakan yang paling beruntung dong kalau begitu, dibanding orang-orang yang berebut untuk mendapatkanya tadi...”?

Sambil merem melek menahan nikmatnya kocokan tanteku, tiba-tiba tanteku menundukan kepalanya ke arah kontolku, aku jadi heran apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Buset....!” dia masukan batang kontolku ke dalam mulutnya dan, rasanya “Aaaachhh.. ooooooouw..!” hangat sekali rasanya.
Aku tidak tahan lagi saat tanteku menghisap dan menjilati kontolku mulai dari bijinya sampai ke semua bagian tanpa terlewatkan sedikitpun.

 


"“Gimana rasanya.... Joko?"”tanya tanteku.
Aku hanya diam saja karena menahan malu..
"“Ya udah... Joko kamu keluarin aja….. jangan ditahan-tahan.. lagi ya..!"” ungkap tanteku.
Makin terasa pada batang kontolku seakan ada yang berdenyut dan hendak mendesak sepertinya ada sesuatu yang akan keluar, tiba-tiba..
“Aaaagghh.... Crroott...Crroootts....
Ttanteee.... Joko keluaaaar...!!”
Cukup dengan tujuh kali hisapan saja pada batang kontolku, air maniku muncrat tidak bisa dibendung lagi, dan berceceran membasahi celana dalamku yang sedang kupakai, tanteku yang puas melihatnya.

Itulah pengalaman pertama yang termanis yang aku terima dari Tante Aniku yang binal.
Semenjak itu aku menjadi ketagihan dikocok oleh Tanteku, sampai saat ini kocokan Tanteku ini masih kudapatkan, bahkan sekarang semakin meningkat, Tante Ani mengajarkan hal lain yang lebih seru dari sekedar mengocok kontol, dan hal tersebut kami lakukan bertiga bersama suaminya.
Kini atas permintaan Tante Ani dan suaminya, kami tinggal bersama satu rumah, dengan tanpa henti-hentinya kami menikmati permainan panas bertiga setiap saat sampai saat ini.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Menjadi Budak Sex Tante Ani Yang Binal