CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Memek Basah Rini Yang Bikin Mau Lagi - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Rini seorang gadis yang memiliki wajah yang manis, cantik, tinggi, mata yang indah, dan bibir yang mungil yang sangat sexy sangat cocok dengan wajahnya serta tubuhnya.

Rini memiliki rambut yang cokelat kemerahan menjadikannya lebih menarik, kulitnya kuning langsat, badannya yang baru mulai tumbuh dewasa begitu seksi. Rina yang tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada. Usianya baru 16 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan yang membuatnya tambah imut. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 160 cm, badannya yang ideal yang sesuai dengan tinggi badannya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus sedang-sedang saja.

Seminggu yang lalu Rini mulai rutin mengikuti les privat Matematika di kediamanku, Namaku Umar, umurku 27 tahun aku seorang duda. Aku mempunyai sebuah rumah sederhana dengan tiga buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang bersih terjaga dan harum. Kamar depan diperuntukkan ruang kerja sekaligus tempat menyimpan buku-buku, dan yang satunya lagi menjadi kamar favoritku yaitu tempat tidurku.

Aku termasuk orang yang menyukai seni, aku memajang sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang kuserasi dengan lukisanku. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula, dengan tempat tidur besar dengan suasana romantis. Ruang tamuku ditata sangat rapi sehingga terasa dan terlihat sangat nyaman.

Rumahku memang terkesan sangat nyaman dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta yang sangat suka kuputar, Rini yang sedang mengerjakan tugas yang baru kuberikan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja pulpennya jatuh tersenggol. Rini berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya (seperti yanga da difilim-filim). Rini yang kaget langsung melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Rini berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh pulpen itu kembali di telapak tangannya.

Aku termasuk sebagai orang yang telah cukup pek dan juga berpengalaman dapat merasakan getaran perasaan yang tersalur hamya melalui jari-jari gadis itu saat bersentuhan tadi, sambil tersenyum dikit aku berkata kepadanya, “Rin, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti tadi”. Gombalanku membuat gadis itu merasa sedikit tersanjung, dengan tidak sadar Rini tiba-tiba mencubit pahaku sambil tersenyum senang akibat ku puji.

“Sudah punya pacar Rin?”, tanyaku pura-pura bodoh sambil menatap matanya Rini.
“Belum punya, Kak!”, jawabnya sambil tersipu malu, wajahnya yang tampak sangat cantik ketika mukanya memerah.
“Kenapa,? kan temen-temen seusiamu sudah mulai punya pacar”.
“Habisnya mereka maunya cuma foya-foya kayak anak kecil.” komentarnya sambil melanjutkan mengerjakan tugasnya.
“Ohh....”, aku beranjak dari tempat duduk, mengambil minuman kaleng untuknya dari dalam kulkas. “Mau minum Coca Cola apa Sprite, Rin?”, lanjutku.

“Hmm... apa ya.. Sprite saja deh Kak..”, sahutnya sambil terus mengerjakan tugasnya.
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melirik dan mengintai tubuh Rini yang membelakangi, hmm.. ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang bagus cukup membuatku sangat bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri saat membelakanginya.

“Sudah Kak”, suara Rini mengagetkanku dari imajinasiku, kuhampiri dan kuberikan sekaleng Sprite kepada Rini. Kemudian aku pun memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata jawabannya benar semua.
“Ternyata selain cantik kamu juga pintar Rin “, lanjut memberikan pujian kepadanya dan membuat Rini tampak tersipu malu dan hatinya mulai berbunga-bunga.


Aku yang dengan sengaja duduk di sebelahnya, melanjutkan menerangkan sambil membantu memecahkan soal-soal lain, Bau wangi yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin menempel padaku.

Pujian yag tadi kulemparkan membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang kujelaskan, namun gagal. Aku yang dari tadi melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.

“Kamu bisa ngerti yang baru aku jelaskan Rin”, kataku sambil melihat wajah Rini. Rini spontan tersentak dari lamunannya dan menggeleng, “Belum, ulangi lagi dong Kak!”, sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut untuk memancing gairahnya.

Rini yang semakin tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajarannya, saat ia merasakan usapan lembut jari tangan yang kuberikan, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terbayangkan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati permainan tangan yang kuberikan dan bau parfumku yang sangat memikat.

Dia berusaha melirikku, tapi aku pura-pura cuek saja kepadahal aku tau dia diam-diam sedang melirikku, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Rini mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.

Selesai menerangkan aku menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akhirnya Rini mulai menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak didadanya.

“Kamu sakit Rin?”, tanyaku sambil berbasa basi. Rini menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Rini yang diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan perasaannya. Aku mulai berani genggam lembut jari tangan kirinya.

“ Rin kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa”, pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya mulai sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Rini ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, “Ahh..”, Rini mendesah kecil tanpa disadari.

Aku yang peka, mulai merasa gadis ini mulai menyukaiku, dan aku berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Rini merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian yang kuberikan.

“Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, kataku merayu. Udara yang hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah ia rasalam sebelumnya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua permainan itu.

“Ja.., jangan Kak”, pintanya untuk menolak. Tapi tubuhnya tidak berusaha untuk mengelak saat bibirku menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat mengulum bibirnya yang mungil merah. Aku yakin ia baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.

Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. “Uuhh..!”, hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman yang kuberikan.

 



“Aaahh..”, dia mendesah saat aku meremas lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya. “Dadamu sangat sexy Rin”, sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk asmara, bahkan tangannya kini mulai memegang tanganku, aku tidak melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya.

“Aaahh”, Rini mulai mendesah kembali dan pahanya yang mulai bergerak-gerak tak karuan dan tubuhnya bergetar menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang kuberikan kepadanya, hal itu membuat vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri untuknya. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk segera mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut teteknya.

Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya. “Jangan nanti dilihat orang”, pintanya, tapi kuhiraukan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna cream.

Seakan dia juga sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia sangat pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa leluasa memberikan cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.

“Aghhh”, bibirku yang mulai bergeser pelan mencium hangat di lehernya yang mulus. “Aaaahh”, dia makin mendesah keenakan dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.

Aku semakin bergairah dengan bau wangi di tubuhnya. “Tubuhmu wangi sekali Rin”, kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Rini sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibirku beralih mulai menelusuri kedua bukitnya yang montok.

“Ugghh.!”, tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari roknya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. “Auuuhh” membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama yang kuberikan.

Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan hisapan yang kuberikan, seperti caraku menghisap dan mencium bibirnya. “Ooohh”, terdengar desah Rini yang semakin liar dengan ciuman dan permainan jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat kulit mulusnya dan halus hanya tinggal tertutup bra cream lembut.


Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Rini dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Rini semakin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan mulai membuka kancing branya.

Tanganku mulai menyusup di bagian dada yang menonjol di bawah bra gadis itu, terasa sangat kenyal dan padat di tanganku.
“Aaahh.. Uuuhh. ooohh”, Rini menggelinjang gelinjang geli dan nikmat, jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang baru mulai berkembang besar lembut dan mulus. Rini pun merasa semakin nikmat, geli dan melambungkan angan-angannya.

Ujung jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan masih kemerahan itu dengan sangat hati-hati. “Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh”. Rini mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mulai terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku, agak susah, tapi dia berhasil. Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin memuncak. “Ngghh.. “, vaginanya yang basah semakin membuatnya nikmat, pikirku. Rini menurut ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan, lalu dilempar ke samping tempat tidur sampai-sampai telanjang bulat.

Sekarang tubuh bagian atasnya tidak tertutup sebenang apapun, dia tampak tertegun dan agak risih sejenak, saat mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain dia merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri. Sedangkan aku tertegun sejenak melihat pemandangan di depan mataku, birahiku bergejolak kembali, aku berusaha mengatur pernafasan, karena tidak ingin melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti perasaan gadis cantik yang tergolek pasrah di depanku ini.

Aku mulai menghisap pelan buah dadanya itu secara perlahan, terasa membusung lembut, dan kenyal. Diperlakukan seperti itu Rini mulai menggelinjang, “Ahh.. uuuhh.. aaahh”. Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya yang lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidahku diputing susunya yang masih kecil kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.

“Aaahh..!”, dia merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini terasa membanjir. Birahinya semakin memuncak. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. Uhh”, rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku yang bidang dan atletis.

Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa geli dan nikmat. Saat Rini akan membalas, telapak tangannya kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya. Aku mulai mencium dan menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari pangkal lengan, siku sampai ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya bertambah geli dan nikmat. “Geli.. ahh.. ohh!”
Perasaannya melambung kembali, ketika buah dadanya dihisap, dan dijilati “Uuuhh.!”, dia makin mendekapkan kepalaku, itu akan membuat vaginanya geli, membuat birahinya semakin memuncak.
“Kak.. ahh, terus kak.. ahh.. ssst.. uhh teru....ssiiiinn...”, dia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.

Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. aku melirik ke paha mulus, indah terlihat di antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku merasakan birahi Rini yang semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.
“Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”, terdengar gadis itu merintih panjang. Aku dengan pelan dan pasti mulai membuka kancing, lalu menurunkan retsleting rok itu, seakan Rini tidak peduli dengan apa yang kulakukan kepadanya. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya lupa diri.

“Jangan Kak.. aahh”, tapi aku tidak peduli, bahkan kemudian Rini malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan mengangkat pantatnya. Aku terdiam sejenak melihat tubuh mulus dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.

“Uuuhh”, ketika membalikkan badan, Rini melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia kaget, sambil malu, tapi ingin tahu penasaran. “Aaahh”. Rini mulai merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya. “Ahh..”, dia diam saja saat aku kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, dia kini memegang dan merasakan serdadu yang keras bulat dan panjang di balik celanaku, sejenak Rini mengelus-elus benda yang membuat hatinya penasaran, tapi kemudian dia kaget dan saat menarik tangannya.


“Aaahh”, Rini yang tak kuberikan kesempatan untuk berfikir panjang, ketika mulutku kembali memainkan puting susunya yang mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada. Vaginanya terasa makin membanjir, hal ini membuat birahinya makin memuncak. “Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh..”, sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya, karena nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.

“Teruuuss.. kak... aaahh.., karena geli dan nikmat Rini mulai membuka kakinya, jari-jariku yang nakal mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari bagian luar celana yang sudah basah, birahinya memuncak sampai kepala.

“Ahh.. terus.. ahh.. ohh”, gadis itu sempat kaget sejenak, kemudian kembali merintih rintih. Melihat Rini menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai mencoba menyusup di balik celana melalui pangkal pahanya dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang basah lembut dan hangat. Rini yang makin menggelinjang serta birahinya makin membara. “Ahh.. teruusss ooh”, Rini merintih rintih kenikmatan.

Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi, dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, Rini membiarkannya tanpa perlawanan, seakan sudah tidak peduli lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.

Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan mataku, tampak semakin indah dan sangat. Pangkal pahanya yang sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus. Vaginanya tampak kemerahan dan basah dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang sekarang berdiri tegak sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir. “Kak.. terus Kak.. ahh.. aghh”.

Vagina yang basah terasa geli, nikmat sampai ujung kepala. “Kak.. aahh”, Rini sudah tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang benda yang keras bulat dan panjang itu. Rini yang sudah tidak merasa malu lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.

Aku yang tersenyum melihat tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat Penisku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak kagum.

Sekarang kami tidak memakai apapun sama sekali. Rini yang kagum sampai mulutnya menganga melihat Penis yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, baru pertama kali dia melihat benda itu. Vaginanya pasti sudah sangat basah, dia tidak peduli lagi kalau masih perawan, Rini kemudian pengertian dengan telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.

Sejenak aku tertegun melihat vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu halus yang baru tumbuh, lubang vaginanya yang masih tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.

Rini yang hanya tertegun saat aku berada di atasnya dengan Penis yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting dada yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. “Kak.. ahh, ayo terus ssiinn  ts.. ahh.. uhh”, birahinya memuncak bisa-bisa sampai kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku. “Ahh” terasa hangat dan kencang.

“Kak.. ahh!”, dia tak dapat lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, dia mulai menginginkan Penis menyerang ke lubang vaginanya yang terasa sangat basah. “Uuuhh.. aaahh”, tapi aku malah memainkan ujung penisku sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya. “Ooohh Kak ayoo.. cepattt...ttt masukkan ahh”, gadis itu sampai merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh kenikmatan.

Aku dengan hati-hati dan pelan-pelan aku terus mempermainkan gadis itu dengan penisku yang keras, hangat tapi lembut itu menyusuri bibir vagina. “Ooohh Kak masukkan ceeeepaatttt... aaahh”, di sela rintihan nikmat gadis itu, setelah kulihat puting susunya tambah mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus selaput perawannya, Sreetts “Aduuhh.. aahh”, tangannya mencengkeram bahuku. Dengan begitu, Rini hanya merasa lubang vaginanya seperti digigit nyamuk, tidak begitu sakit, saat selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Penisku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan sampai setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati. “Ahh”, dia merintih kenikmatan.

Aku tidak mau terburu-buru, aku tidak ingin lubang vagina yang masih agak sempit itu menjadi sakit karena belum terbiasa dengan Penisku dan belum elastis. Penisku masuk lagi setengahnya dan perlahan.. Sreeets “Ohh..”, kali ini tidak ada rasa sakit, Rini yang hanya merasakan geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Rini menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.

“Kak.. ahh, ayoo kakk... terus Kak.. ohh.. achh..”, Penisku terus menghunjam semakin dalam. Ditarik maju mundur lagi, “Aaahh”, masuk lagi. “Ahh, terus… ahh.. uhh”, lubang vagina itu makin lama makin mengembang sirama dengan gesekanku, hingga Penisku itu bisa masuk sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Rini merasakan nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi. “Aaahh, ooohh, aaahh” vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat. Dia telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti dirinya.


Melihat Rini yang sudah mencapai orgasme, aku kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan sejak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina Rini, “Kak.. achhhh...”, Rini merintih dan merasakan nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.
“Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!”, kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan. Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa Penisku menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.

Aku mengeluarkan Penisku yang masih ada darah perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah Rini dan memeluknya supaya Rini merasa aman, dia tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan. “Bagaimana kalau Rini hamil Kak”, katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.

Sesaat kemudian aku dengan sabar menjelaskan bahwa Rini tidak mungkin hamil, karena tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.

Rini yang semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi bisa berlangsung karena merupakan keinginan dan kerelaannya juga. Diapun bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.

Bangun tidur, Rini membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi dia kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-sampai aku tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang berserakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian dia pamit pulang dan mencium bibirku yang masih berbaring di tempat tidur.

Tamat

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Memek Basah Rini Yang Bikin Mau Lagi


KiosVideo - Rini seorang gadis yang memiliki wajah yang manis, cantik, tinggi, mata yang indah, dan bibir yang mungil yang sangat sexy sangat cocok dengan wajahnya serta tubuhnya.

Rini memiliki rambut yang cokelat kemerahan menjadikannya lebih menarik, kulitnya kuning langsat, badannya yang baru mulai tumbuh dewasa begitu seksi. Rina yang tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada. Usianya baru 16 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan yang membuatnya tambah imut. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 160 cm, badannya yang ideal yang sesuai dengan tinggi badannya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus sedang-sedang saja.

Seminggu yang lalu Rini mulai rutin mengikuti les privat Matematika di kediamanku, Namaku Umar, umurku 27 tahun aku seorang duda. Aku mempunyai sebuah rumah sederhana dengan tiga buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang bersih terjaga dan harum. Kamar depan diperuntukkan ruang kerja sekaligus tempat menyimpan buku-buku, dan yang satunya lagi menjadi kamar favoritku yaitu tempat tidurku.

Aku termasuk orang yang menyukai seni, aku memajang sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang kuserasi dengan lukisanku. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula, dengan tempat tidur besar dengan suasana romantis. Ruang tamuku ditata sangat rapi sehingga terasa dan terlihat sangat nyaman.

Rumahku memang terkesan sangat nyaman dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta yang sangat suka kuputar, Rini yang sedang mengerjakan tugas yang baru kuberikan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja pulpennya jatuh tersenggol. Rini berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya (seperti yanga da difilim-filim). Rini yang kaget langsung melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Rini berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh pulpen itu kembali di telapak tangannya.

Aku termasuk sebagai orang yang telah cukup pek dan juga berpengalaman dapat merasakan getaran perasaan yang tersalur hamya melalui jari-jari gadis itu saat bersentuhan tadi, sambil tersenyum dikit aku berkata kepadanya, “Rin, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti tadi”. Gombalanku membuat gadis itu merasa sedikit tersanjung, dengan tidak sadar Rini tiba-tiba mencubit pahaku sambil tersenyum senang akibat ku puji.

“Sudah punya pacar Rin?”, tanyaku pura-pura bodoh sambil menatap matanya Rini.
“Belum punya, Kak!”, jawabnya sambil tersipu malu, wajahnya yang tampak sangat cantik ketika mukanya memerah.
“Kenapa,? kan temen-temen seusiamu sudah mulai punya pacar”.
“Habisnya mereka maunya cuma foya-foya kayak anak kecil.” komentarnya sambil melanjutkan mengerjakan tugasnya.
“Ohh....”, aku beranjak dari tempat duduk, mengambil minuman kaleng untuknya dari dalam kulkas. “Mau minum Coca Cola apa Sprite, Rin?”, lanjutku.

“Hmm... apa ya.. Sprite saja deh Kak..”, sahutnya sambil terus mengerjakan tugasnya.
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melirik dan mengintai tubuh Rini yang membelakangi, hmm.. ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang bagus cukup membuatku sangat bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri saat membelakanginya.

“Sudah Kak”, suara Rini mengagetkanku dari imajinasiku, kuhampiri dan kuberikan sekaleng Sprite kepada Rini. Kemudian aku pun memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata jawabannya benar semua.
“Ternyata selain cantik kamu juga pintar Rin “, lanjut memberikan pujian kepadanya dan membuat Rini tampak tersipu malu dan hatinya mulai berbunga-bunga.


Aku yang dengan sengaja duduk di sebelahnya, melanjutkan menerangkan sambil membantu memecahkan soal-soal lain, Bau wangi yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin menempel padaku.

Pujian yag tadi kulemparkan membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang kujelaskan, namun gagal. Aku yang dari tadi melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.

“Kamu bisa ngerti yang baru aku jelaskan Rin”, kataku sambil melihat wajah Rini. Rini spontan tersentak dari lamunannya dan menggeleng, “Belum, ulangi lagi dong Kak!”, sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut untuk memancing gairahnya.

Rini yang semakin tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajarannya, saat ia merasakan usapan lembut jari tangan yang kuberikan, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terbayangkan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati permainan tangan yang kuberikan dan bau parfumku yang sangat memikat.

Dia berusaha melirikku, tapi aku pura-pura cuek saja kepadahal aku tau dia diam-diam sedang melirikku, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Rini mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.

Selesai menerangkan aku menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akhirnya Rini mulai menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak didadanya.

“Kamu sakit Rin?”, tanyaku sambil berbasa basi. Rini menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Rini yang diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan perasaannya. Aku mulai berani genggam lembut jari tangan kirinya.

“ Rin kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa”, pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya mulai sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Rini ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, “Ahh..”, Rini mendesah kecil tanpa disadari.

Aku yang peka, mulai merasa gadis ini mulai menyukaiku, dan aku berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Rini merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian yang kuberikan.

“Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, kataku merayu. Udara yang hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah ia rasalam sebelumnya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua permainan itu.

“Ja.., jangan Kak”, pintanya untuk menolak. Tapi tubuhnya tidak berusaha untuk mengelak saat bibirku menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat mengulum bibirnya yang mungil merah. Aku yakin ia baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.

Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. “Uuhh..!”, hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman yang kuberikan.

 



“Aaahh..”, dia mendesah saat aku meremas lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya. “Dadamu sangat sexy Rin”, sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk asmara, bahkan tangannya kini mulai memegang tanganku, aku tidak melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya.

“Aaahh”, Rini mulai mendesah kembali dan pahanya yang mulai bergerak-gerak tak karuan dan tubuhnya bergetar menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang kuberikan kepadanya, hal itu membuat vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri untuknya. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk segera mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut teteknya.

Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya. “Jangan nanti dilihat orang”, pintanya, tapi kuhiraukan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna cream.

Seakan dia juga sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia sangat pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa leluasa memberikan cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.

“Aghhh”, bibirku yang mulai bergeser pelan mencium hangat di lehernya yang mulus. “Aaaahh”, dia makin mendesah keenakan dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.

Aku semakin bergairah dengan bau wangi di tubuhnya. “Tubuhmu wangi sekali Rin”, kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Rini sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibirku beralih mulai menelusuri kedua bukitnya yang montok.

“Ugghh.!”, tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari roknya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. “Auuuhh” membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama yang kuberikan.

Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan hisapan yang kuberikan, seperti caraku menghisap dan mencium bibirnya. “Ooohh”, terdengar desah Rini yang semakin liar dengan ciuman dan permainan jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat kulit mulusnya dan halus hanya tinggal tertutup bra cream lembut.


Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Rini dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Rini semakin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan mulai membuka kancing branya.

Tanganku mulai menyusup di bagian dada yang menonjol di bawah bra gadis itu, terasa sangat kenyal dan padat di tanganku.
“Aaahh.. Uuuhh. ooohh”, Rini menggelinjang gelinjang geli dan nikmat, jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang baru mulai berkembang besar lembut dan mulus. Rini pun merasa semakin nikmat, geli dan melambungkan angan-angannya.

Ujung jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan masih kemerahan itu dengan sangat hati-hati. “Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh”. Rini mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mulai terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku, agak susah, tapi dia berhasil. Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin memuncak. “Ngghh.. “, vaginanya yang basah semakin membuatnya nikmat, pikirku. Rini menurut ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan, lalu dilempar ke samping tempat tidur sampai-sampai telanjang bulat.

Sekarang tubuh bagian atasnya tidak tertutup sebenang apapun, dia tampak tertegun dan agak risih sejenak, saat mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain dia merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri. Sedangkan aku tertegun sejenak melihat pemandangan di depan mataku, birahiku bergejolak kembali, aku berusaha mengatur pernafasan, karena tidak ingin melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti perasaan gadis cantik yang tergolek pasrah di depanku ini.

Aku mulai menghisap pelan buah dadanya itu secara perlahan, terasa membusung lembut, dan kenyal. Diperlakukan seperti itu Rini mulai menggelinjang, “Ahh.. uuuhh.. aaahh”. Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya yang lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidahku diputing susunya yang masih kecil kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.

“Aaahh..!”, dia merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini terasa membanjir. Birahinya semakin memuncak. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. Uhh”, rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku yang bidang dan atletis.

Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa geli dan nikmat. Saat Rini akan membalas, telapak tangannya kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya. Aku mulai mencium dan menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari pangkal lengan, siku sampai ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya bertambah geli dan nikmat. “Geli.. ahh.. ohh!”
Perasaannya melambung kembali, ketika buah dadanya dihisap, dan dijilati “Uuuhh.!”, dia makin mendekapkan kepalaku, itu akan membuat vaginanya geli, membuat birahinya semakin memuncak.
“Kak.. ahh, terus kak.. ahh.. ssst.. uhh teru....ssiiiinn...”, dia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.

Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. aku melirik ke paha mulus, indah terlihat di antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku merasakan birahi Rini yang semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.
“Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”, terdengar gadis itu merintih panjang. Aku dengan pelan dan pasti mulai membuka kancing, lalu menurunkan retsleting rok itu, seakan Rini tidak peduli dengan apa yang kulakukan kepadanya. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya lupa diri.

“Jangan Kak.. aahh”, tapi aku tidak peduli, bahkan kemudian Rini malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan mengangkat pantatnya. Aku terdiam sejenak melihat tubuh mulus dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.

“Uuuhh”, ketika membalikkan badan, Rini melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia kaget, sambil malu, tapi ingin tahu penasaran. “Aaahh”. Rini mulai merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya. “Ahh..”, dia diam saja saat aku kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, dia kini memegang dan merasakan serdadu yang keras bulat dan panjang di balik celanaku, sejenak Rini mengelus-elus benda yang membuat hatinya penasaran, tapi kemudian dia kaget dan saat menarik tangannya.


“Aaahh”, Rini yang tak kuberikan kesempatan untuk berfikir panjang, ketika mulutku kembali memainkan puting susunya yang mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada. Vaginanya terasa makin membanjir, hal ini membuat birahinya makin memuncak. “Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh..”, sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya, karena nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.

“Teruuuss.. kak... aaahh.., karena geli dan nikmat Rini mulai membuka kakinya, jari-jariku yang nakal mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari bagian luar celana yang sudah basah, birahinya memuncak sampai kepala.

“Ahh.. terus.. ahh.. ohh”, gadis itu sempat kaget sejenak, kemudian kembali merintih rintih. Melihat Rini menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai mencoba menyusup di balik celana melalui pangkal pahanya dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang basah lembut dan hangat. Rini yang makin menggelinjang serta birahinya makin membara. “Ahh.. teruusss ooh”, Rini merintih rintih kenikmatan.

Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi, dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, Rini membiarkannya tanpa perlawanan, seakan sudah tidak peduli lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.

Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan mataku, tampak semakin indah dan sangat. Pangkal pahanya yang sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus. Vaginanya tampak kemerahan dan basah dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang sekarang berdiri tegak sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir. “Kak.. terus Kak.. ahh.. aghh”.

Vagina yang basah terasa geli, nikmat sampai ujung kepala. “Kak.. aahh”, Rini sudah tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang benda yang keras bulat dan panjang itu. Rini yang sudah tidak merasa malu lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.

Aku yang tersenyum melihat tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat Penisku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak kagum.

Sekarang kami tidak memakai apapun sama sekali. Rini yang kagum sampai mulutnya menganga melihat Penis yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, baru pertama kali dia melihat benda itu. Vaginanya pasti sudah sangat basah, dia tidak peduli lagi kalau masih perawan, Rini kemudian pengertian dengan telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.

Sejenak aku tertegun melihat vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu halus yang baru tumbuh, lubang vaginanya yang masih tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.

Rini yang hanya tertegun saat aku berada di atasnya dengan Penis yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting dada yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. “Kak.. ahh, ayo terus ssiinn  ts.. ahh.. uhh”, birahinya memuncak bisa-bisa sampai kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku. “Ahh” terasa hangat dan kencang.

“Kak.. ahh!”, dia tak dapat lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, dia mulai menginginkan Penis menyerang ke lubang vaginanya yang terasa sangat basah. “Uuuhh.. aaahh”, tapi aku malah memainkan ujung penisku sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya. “Ooohh Kak ayoo.. cepattt...ttt masukkan ahh”, gadis itu sampai merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh kenikmatan.

Aku dengan hati-hati dan pelan-pelan aku terus mempermainkan gadis itu dengan penisku yang keras, hangat tapi lembut itu menyusuri bibir vagina. “Ooohh Kak masukkan ceeeepaatttt... aaahh”, di sela rintihan nikmat gadis itu, setelah kulihat puting susunya tambah mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus selaput perawannya, Sreetts “Aduuhh.. aahh”, tangannya mencengkeram bahuku. Dengan begitu, Rini hanya merasa lubang vaginanya seperti digigit nyamuk, tidak begitu sakit, saat selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Penisku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan sampai setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati. “Ahh”, dia merintih kenikmatan.

Aku tidak mau terburu-buru, aku tidak ingin lubang vagina yang masih agak sempit itu menjadi sakit karena belum terbiasa dengan Penisku dan belum elastis. Penisku masuk lagi setengahnya dan perlahan.. Sreeets “Ohh..”, kali ini tidak ada rasa sakit, Rini yang hanya merasakan geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Rini menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.

“Kak.. ahh, ayoo kakk... terus Kak.. ohh.. achh..”, Penisku terus menghunjam semakin dalam. Ditarik maju mundur lagi, “Aaahh”, masuk lagi. “Ahh, terus… ahh.. uhh”, lubang vagina itu makin lama makin mengembang sirama dengan gesekanku, hingga Penisku itu bisa masuk sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Rini merasakan nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi. “Aaahh, ooohh, aaahh” vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat. Dia telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti dirinya.


Melihat Rini yang sudah mencapai orgasme, aku kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan sejak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina Rini, “Kak.. achhhh...”, Rini merintih dan merasakan nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.
“Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!”, kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan. Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa Penisku menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.

Aku mengeluarkan Penisku yang masih ada darah perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah Rini dan memeluknya supaya Rini merasa aman, dia tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan. “Bagaimana kalau Rini hamil Kak”, katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.

Sesaat kemudian aku dengan sabar menjelaskan bahwa Rini tidak mungkin hamil, karena tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.

Rini yang semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi bisa berlangsung karena merupakan keinginan dan kerelaannya juga. Diapun bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.

Bangun tidur, Rini membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi dia kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-sampai aku tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang berserakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian dia pamit pulang dan mencium bibirku yang masih berbaring di tempat tidur.

Tamat

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment