CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Nengtot Dengan Ayu Janda Muda Yang Penuh Nafsu - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Awal aku mengenalnya Ayu pada saat dia mengundang perusahaan tempatku sedang bekerja sambil untuk memberikan penjelasan yang lengkap mengenai produk yang akan dipesannya kepada perusahaan kami. Sebagai tim bagian marketing, pihak perusahaan telah mengutusku untuk segera menemuinya karena dia telah menunggu. Pada awal cuma pertemuan siang biasa, aku juga sama sekali tidak menduga bahwa Ibu Ayu yang akan kutemui saat ini ternyata seorang pemilik perusahaan.

Ibu Ayu memilik Wajah yang cantik, kulitnya putih mulus, serta tubuhnya tinggi langsing seperti model (Sekitar 177 cm) dengan paudara ukuran sedang yang menonjol dan tampak indah. Dan tak lupa pinggulnya yang dibalut dengan span yang ketat membuat bentuk pinggangnya nampak sangat ramping membuatnya kian mempesonas, sungguh pemandangan yang sangat indah pikirku.

Saat berbicara dengannya, sumpah konsentrasiku tidak ke soal pekerjaan, malahan melihat gaya bicaranya yang sexy gerakan bibirnya yang sensual saat sedang bicara, apalagi kalau sat dia sedang menunduk kedua bukitnya nampak jelas, entah dia sengaja atau tidak.

Kami duduk di sofa serta ruangannya yang mewah dan serba luxury, sampai akhir biacara kami akhirnya sepakat untuk mengikat kontrak kerja. Sambil menunggu sekretaris Ibu Ayu membuat kontrak kerja denganku, lalu kami mengobrol santai dari soal kerjaan. Bahkan sampai ke hal yang berbau mengarah ke soal pribadi.

Aku yang dengan mencoba berani bertanya kearah pribadi, karena Ibu Ayu sendiri yang memulai bertanya kepadaku terlebih dahulu. Dari pembicaraan itu, baru kuketahui bahwa usianya baru saja menginjak 27 tahun, dia terlalu muda untuk memegang jabatan direktur sekaligus pemilik perusahaan menggantikan almarhum suaminya yang meninggal karena kecelakaan mobil yang mengakibatkannya harus meneruskan jabatan milik suaminya.

“Pak Danu sendiri umurnya berapa?”, ia bicara ditelingaku dengan nada mesra dan halus
“Saya umur 29 tahun, Bu!” balasku dengan nada gugup
“Apakah kamu sudah berkeluarga?”, pertanyaannya semakin berani, aku sampai GR sendiri dibuatnya,
“Belum..., Bu!” Ucapku

Tanpa kutanya lebih lanjut, Ibu Ayu menceritakan kepadaku bahwa semenjak kematian suaminya beberapa tahun yang lalu, dia masih belum mendapatkan penggantinya, karena belum ada yang cocok.


“Menurutku Ibu cantik, dan usianya juga masih muda, saya rasa ribuan lelaki akan ada didunia ini berlomba mendapatkan hati Ibu Ayu”, aku sedikit memujinya karena kenyataannya seperti itu.
“Masa..? memang ada benarnya juga sih yang Bapak Danu ucapkan, tapi mereka rata-rata hanya mengincar kekayaan saya dan bukan diriku”, dengan nada sedikit melepas napas.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara ketukan di pintu, Ibu Ayu langsung bangkit dan membukakan pintu, ternyata sekretarisnya telah selesai membuat kontrak kerja samanya.

“Baiklah.. Kalau begitu, saya permisi mau pamit pulang ya Bu.. semoga kerjasama kita ini dapat bertahan dan saling menguntungkan satu sama lain”, aku segera pamit dan segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya sebagai tanda terima kasihku
“ Ya... Semoga saja”, tangannya menyambut uluran tanganku
“Terima kasih atas kunjungannya dan kerjasamanya, Pak Danu..”

Kami Cukup lama bersalaman, sambil aku merasakan kelembutan tangannya yang sangat halus bagaikan sutera, namun tersadar sebentar aku langsung segera menarik tanganku dari tangannya, takut dikira kurang ajar dan tidak sopan. Namun tampaknya naluri laki-lakiku bekerja, dengan halus aku mulai merancang rencana untuk lebih dekat dengannya.

“Oh ya.., Bu.. sebelum saya kelupaan, sebagai perkenalan dan mengawali kerjasama kita, bagaimana kalau Ibu Ayu saya undang untuk makan malam bersama”, aku mulai memasang umpan

“Terima kasih”, jawabnya dengan singkat
“Mungkin lain waktu, saya akan menhubungi Pak Danu, untuk menerima tawaran ini”
“Saya dengan senang hati menunggunya, Bu.. kalau begitu aku permisi”

Aku pun tak mau memkasanya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Ayu dengan banyak pikiran tentangnya dibenaku. Disepanjang perjalanan menuju kantorku, aku selalu terbayang dengan kecantikan wajahnya, postur tubuhnya yang sangat ideal. Kayaknya semua kriteria cewek idamanku semua teletak padanya.

Tak terasa hampir mau satu bulan sejak pertemuan kami, meskipun aku sering mampir dan sekedar menyapa ke kantor Ibu Ayu dalam kurun waktu tersebut, tapi tidak kutemukan tanda-tanda ajakanku untuk makan malam dengannya akan ditrimanya dengan cepat. Meskipun hari demi hari hubunganku dengannya menjadi semakin akrab.

Sudah mau menginjak bulan ke-3, akhirnya kesabaranku berbuah hasil, walapun aku bisa mengajaknya keluar untuk sekedar makan malam. Aku ingat sekali waktu itu pas banget malam Minggu, kami tampil bak sepasang kekasih, meskipun pada awalnya dia ngotot ingin menggunakan mobilnya yang mewah, akhirnya dia bersedia juga menggunakan mobil bututku yang bisa bikin mata mengalir untuk kalangan orang kaya seperti dirinya.

Semenjak kejadian itu, beberapa kali setiap malam Minggu kami selalu keluar bersama, sungguh aku jadi merasa bingung sendiri, aku hanya berani menggenggam jarinya saja dan tidak lebih, itupun aku sangat gemetaran, serta jantungku degup-degup dengan kencang. Padahal hubungan kami ini bisa dibilang sudah sangat dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, dan tidak seperti biasanya memanggil Pak atau Bu, layaknya pasangan kekasih.

Sampai pada malam Minggu yang kesekian kalinya, kuberanikan diri untuk memulai rencanaku, waktu itu kami sedang berapa didalam bioskop, didalam keremangan, aku mencoba menggenggam jarinya, lalu kuelus-elus dengan mesra, kelembutan jarinya mengantarkan sensasi aneh didalam tubuhku, kucoba lagi mencium tangannya secara pelan, tidak ada respon darinya, kulepas jemari tangannya dengan lembut. Kurapatkan tubuhku dengan tubuhnya, kupandangi wajahnya yang sedang serius menatap layar bioskop.

 

Dengan modal keberanian yang kupaksakan sambil mencoba keberuntunganku, saat kucium pipinya, Dia langsung mengrespon terkejut, sebentar memandangku aku berpikir pasti dia akan marah padaku dan aku sudah siap menerima konsekuensinya, tapi respon yang kuterima sungguh membuatku kaget dengan tiba-tiba dia langsung memelukku, dengan mulutnya yang mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya dengan penuh nafsu.

Sambil menciumnya aku terpana, tapi segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya makin ganas, lidah kami saling membelit mencoba menelusuri rongga mulut lawan. Sementara tangannya semakin kuat mencengkram bahuku, Aku pun mulai beraksi, tanganku bergerak merambat ke punggungnya, sambil kuusap lembut punggungnya, bibirku yang terlepas menjalar ke lehernya yang halus dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dengan lidahku agar nafsunya semakin naik lagi.

“Ayu, aku sangat sayang kamu”, kubisikkan dengan mesra di telinganya
“Dan, akupun juga sayang kamu”, suaranya sedikit mendesah menahan birahinya yang mulai bangkit, seolah tidak mempedulikan keadaan sekitar. 

Disaat tanganku mulai menyusup ke dalam blous yang dipakainya, desahannya semakin jelas terdengar. Aku merasakan kelembutan buah dadanya, kenyal. dan Kupilin halus putingnnya dibalik BHnya, sementara tanganku yang satunya menelusuri pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yang sangat sexy.

Segera kubuka kancing blous bagian depannya, suasana bioskop yang gelap sangat kontras sekali dengan buah dadanya yang putih Perlahan kukeluarkan langsung kedua buah dadanya dari branya, kini di depanku terpampang buah dadanya yang sangat indah dan juga montok, kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya sambil mencium-ciumnya, lidahku yang basah dan hangat terus menjilati sekelilingnya perlahan naik hingga sampai ke bagian putingnya.


Kuhisap pelan putingnya yang masih mungil, kugigit lembut, kudorong dengan lidahku, Ayu pun semakin mengigau. Tanganya yang menekan kuat kepalaku saat putingnya kuhisap agak kuat, sementara aku merasakan gerakan di celanaku semakin kuat, terrnyata penisku yang sudah menegang maksimal.

Tanganku yang satunya sudah mulai bergerak meraba ke pahanya, spannya kutarik ke atas hingga batang pahanya tampak terlihat jelas mulus, putih Kubelai, kupilin pahanya sementara mulutku terus mengisap terus puting secara bergantian kiri dan kanan. Dan saat jariku sampai di pangkal pahanya, aku menemukan CDnya perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya yang agak sempit itu, langsung kugeser ke kiri, akhirnya jari-jariku menemukan rambut kemaluannya yang sangat lebat dan halus.

Aku yang sudah tak sabar, kugosokkan jariku di daerah klitorisnya sementara mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yang semakin mencuat ke atas pertanda gairah nya sudah memuncak, meskipun jari-jariku sedikit terhalang celana dalamnya yang sempit tapi aku masih dapat menggesek-gesek klitorisnya, bahkan dengan cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yang dipenuhi dengan bulu lebat, dan jariku terasa agak basah saat aku berputar-putar di dalamnya, sampai kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam vaginanya, kutekan dengan lembut kekiri dan kekanan perlahan.

“Aghh.... Danu aku sudah nggak tahan Terussin Dan... ouhh... ” Suaranya makin keras, birahinya sudah mencapai puncaknya.

Tangannya dengna kuat menekan kepalaku ke buah dadanya sehingga aku sulit bernafas, sementara tangan yang satunya menekan tanganku yang masih di vaginanya ia menekan semakin dalam. Sampai akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat, kuhisap kuat puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam didalam vaginanya.

“Achh... Dann... aku... ke.. lu.. ar... ” Kurasakan jariku menjadi hangat dan basah akbiat cairan yang keluar “Makasih Dan, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan seperti ini semenjak suamiku meninggal” Aku yang hanya bisa diam agak melepas nafas, menahan tegangnya penisku yang masih belum terlampiaskan tapi rupanya Ayu juga sangat pengertian. Dia langsung dengan lincahnya dibukanya reitsleting celanaku, jari-jarinya mulai dengan cepat mencari penisku yang sudah sangat tenggang.

Aku pun membantunya dengan menggerakan sedikit tubuhku saat tangannya mendapatkan apa yang ingi dicarinya, sungguh reaksinya rupanya sangat hebat “Oh... besar sekali punya kamu Dan aku sangat suka dengan barang yang besar seperti ini” Ayu berbicara seperti anak kecil yang mendapatkan permen besar.

Penisku yang sudah tegang maksimal perlahan dikocoknya dengan kedua jarinya, aku merasakan kenikmatan atas perlakuannya itu, sementara tangannya asyik mengocok batang senjataku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yang basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Ayu menghisap putingku. Aliran darahku semakin panas, gairah ku makin terbakar, Aku merasakan spermaku sudah sampai mengumpul di ujung, sementara kepala senjataku semakin basah yang sebentar lagi akan keluar.


“Ayu.., aku sudah nggak tahan lagi..”
“Tunggu tahan dulu sebentar, Dan..”

Ayu langsung melepaskan jilatan lidahnya diputingku dan langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya, aku merasakan kuluman mulutnya yang hangat dan sempit Kulihat mulutnya yang mungil sampai sesak oleh penisku yang besar. Ayu semakin kuat mengocok batang penisku di dalam mulutnya.

Sampai kakiku sedikit mengejang untuk melepaskan spermaku “Awas Ayu.., aku sudah mau keluar ” kutarik rambutnya agar menjauh dari batang penisku, tapi Ayu malah tambah memasukkan penisku lebih ke dalam mulutnya, aku yang sudah tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku sebanyak 5 kali spermaku cukup memenuhi mulutnya yang mungil.

Ayu dengan lahap langsung menelannya dan membersihkan cairan yang tertinggal  di kepala penisku dengan lidahnya yang lincah. Aku menarik nafas panjang mengatur degup jantungku yang tadi sangat cepat tidak karuan.

Setelah lampu bioskop menyala kembali yang pertanda pertunjukan telah usai, kami sudah rapi kembali. Setelah kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 23:00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak banyak bicara, kami saling memikirkan kejadian yang baru saja kami alami bersama tadi didalam bioskop.

Aku sampai di rumahnya yang mewah, dan aku diajak untuk mampir kedalam rumahnya. Akupun langsung ditariknya menuju kamar pribadinya yang sangat megah dan luas “Dan, saya belum puas dengan yang tadi, ayo kita teruskan permainan yang tadi sempat tertunda ”Tangannya dengan tidak sabaran langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangkitkan gairah ku yang sempat tertunda tadi, sementara pikiranku semakin bingung dibuatnya, kenapa Ayu yang tadinya kalem-kalem saja saat dimobil bisa berubah senafsu begini?

Tapi pikiranku kalah dengan gairah yang mulai berkobar, terlebih saat tangannya dengan lihai mengusap dadaku, seluruh tubuhku diciumnya dan dijilatinya dengan penuh nafsu. Aku yang tak mau kalah nafsunya, aku angkat dia di ranjangnya yang empuk kami seperti sedang bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap dada satu sama lain.

Saat pakaian kami satu persatu mulai tertanggal dari tempatnya, kami saling melihat, aku melihat kesempurnaan tubuhnya yang sexy, apalagi di daerah selangkangannya yang sangat terawat putih bersih, sangat kontras dengan bulu kemaluannya yang sangat hitam dan juga lebat. Ayu juga dengna kagum memandangi penisku yang mengacung menunjuk keatas. Hanya butuh waktu sebentar kami berpandangan, aku pun tanpa basa basi langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang.

Kuletakkan hati-hati tubuhnya yang gempal dan lembut, aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher sampai ke jari-jari kakinya Kuhisap puting buah dadanya yang kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra. Sementara tanganku yang lain meremas-remas dengan cepat pinggul dan pantatnya yang sangat montok itu.

Permainan kami semakin menggila, kini posisi kami berbalikan seperti posisi 69, kami saling menghisap satu sama lain aku yang menghisap puting dadanya, saat itu juga aku memainkan puting dadanya yang sudah mencuat tegang, lidahnya menjilati juga putingku. Aku turun menjilati perutnya, kurasakan juga perutku dijilati dan akhirnya lidah kami saling menghisap kemaluan. Ayu menghispa penisku sementara aku menjilati vaginanya yang sudah basah.

Aku merasakan ada cairan hangat di kepala penisku saat lidahku menari-nari menelusuri celah kemaluannya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah vaginanya yang telah basah daritadi, kuhisap klitorisnya dengan kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat dan ia mendesah hebat.

Sekitar dua puluh menit sudah kami saling menghisap, nafsuku yang sudah naik diubun-ubun menuntut penyelesaian. Segera aku membalikkan tubuhku kini posisi kami kembali saling melumat bibir, sementara penisku yang sudah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya namun sulit sekali tubuh kami sudah bersimbah cairan.

Sampai akhirnya Ayu sudah tak sabar langsung tangan Ayu memandu penisku sampai di dua belahan kemaluannya, segera kutekan agak kuat, Ayu membuka pahanya lebar-lebar dan penisku berusaha menerobos ke dalam vaginanya. Kepala penisku yang sudah masuk di dalam celahnya, hangat dan menggigit. Lalu kutahan pantatku, aku pun menikmati remasan kemaluannya di penisku. Perlahan kutekan pantatku, senjataku sampai amblas sedalam-dalamnya, gigi Ayu yang runcing menggigit kuat di lenganku saat aku mulai menggoyangkan pantatku dengan gerakan teratur naik dan turun.

Hisapan, serta pijitan liang vagianya di seluruh batang penisku sungguh terasa sangat nikmat. Kubalikan tubuhnya, kini tubuh Ayu menghadap ke samping penisku kutanam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya ke pundakku sampai batang penisku bisa masuk sampai mentok di mulut rahimnya. Puas aku memainkan penisku dari samping, tanpa mencabut penisku, langsung kuangkat tubuhnya, dengan gerakan baru lagi kini aku menghajarnya dari belakang. Dan ayu pun mendesah kenikmatan, "Dann... Yang ceeppaattt..." ucapnya sambil mendesah kenikmatan.

Tanganku sambil meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara penisku yang daritadi keluar masuk semakin cepat. Sesuai dengan erangan dan rintihan yang tak jelas terdengar, membuat semangatku semakin bertambah. Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari penisku, segera kucabut senjataku dari vaginanya “Pllop... ” terdengar suara saat penisku kucabut, mungkin karena ketatnya lubang vagina milik Ayu mencengkram diPenisku “Aghhhh..., kenapa Dan.. aku sedikit lagi nihh.. sudah mau kelluarr..”, protes Ayu yang sudah ditengah nafsunya.

Dia tanpa basa basi langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah, dengan sigap Ayu langsung meraih penisku kembali dan memasukkannya ke dalam lubang vaginanya sambil berjongkok, kini dia yang naik turun memainkan penisku.

Kini Ayu dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sementara aku di bawah sudah tak sanggup lagi menahan rasa nikmat yang kuterima dari gerakan Ayu yang sangat cepat, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin untuk tidak keluar terlebih dahlu.



Tidak terasa sudah dua jam sudah berlalu, kulihat Ayu semakin liar, dengan cepat hingga akhirnya aku merasakan ada semburan hangat di penisku. Disaat tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang “Oh aku sangat puas sekali Dan, sangat puas... ” tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, namun penisku yang sudah berdenyut-denyut belum tercabut dari vaginanya. Kurasakan buah dadanya yang montok menekan tubuhku seirama dengan tarikan nafasnya yang sudah terengah-engah.

Setelah beberapa saat, aku sudah merasakan air maniku tidak jadi keluar akbiat genjotan yang diberikannya, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dengan gaya yang lainnya aku mencoba meraih puncak kenikmatan yang sempat tertahan, kemaluannya yang agak basah tidak mengurangi kenikmatan permainanku.

Aku dengan cepat terus menggerakkan tubuhku secara perlahan gairah nya pun kembali bangkit, terlebih saat batang penisku didalam lubang vaginanya, kadang sedikit kuangkat pantatku agar G-spotnya tersentuh. Kini pinggul Ayu yang seksi mulai bergoyang mengikuti irama dengan gerakan pantatku, sambil jari-jarinya yang lentik mengusap dadaku, putingku dipilin-pilinnya, hingga sensasi yang kurasakan tambah gila.

Satu jam sudah aku bertahan dengan gaya ini, perlahan aku mulai merasakan cairanku sudah ingin kembali ke ujung kepala penisku. Saat gerakanku sudah tak beraturan lagi, berbarengan dengan hisapan Ayu pada putingku dan pitingan kakinya yang sangat kuat di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam kemaluannya yang sudah basah itu.

Semejak kejadian itu, kami sering melakukannya lagi hampir setiap saat. Aku baru tahu bahwa nafsunya sangat tinggi, selama ini dia bersikap alim didepanku, karena tidak mau sembarangan main dengan cowok lain. Dia mau denganku karena aku sabar, baik dan tidak mengejar kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa Penisku dua kali lipat almarhum suaminya, sampai akhirnya aku dan dia memutuskan untuk menikah, dan hidup kami pun berakhir bahagia.

TAMAT


KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Nengtot Dengan Ayu Janda Muda Yang Penuh Nafsu


KiosVideo - Awal aku mengenalnya Ayu pada saat dia mengundang perusahaan tempatku sedang bekerja sambil untuk memberikan penjelasan yang lengkap mengenai produk yang akan dipesannya kepada perusahaan kami. Sebagai tim bagian marketing, pihak perusahaan telah mengutusku untuk segera menemuinya karena dia telah menunggu. Pada awal cuma pertemuan siang biasa, aku juga sama sekali tidak menduga bahwa Ibu Ayu yang akan kutemui saat ini ternyata seorang pemilik perusahaan.

Ibu Ayu memilik Wajah yang cantik, kulitnya putih mulus, serta tubuhnya tinggi langsing seperti model (Sekitar 177 cm) dengan paudara ukuran sedang yang menonjol dan tampak indah. Dan tak lupa pinggulnya yang dibalut dengan span yang ketat membuat bentuk pinggangnya nampak sangat ramping membuatnya kian mempesonas, sungguh pemandangan yang sangat indah pikirku.

Saat berbicara dengannya, sumpah konsentrasiku tidak ke soal pekerjaan, malahan melihat gaya bicaranya yang sexy gerakan bibirnya yang sensual saat sedang bicara, apalagi kalau sat dia sedang menunduk kedua bukitnya nampak jelas, entah dia sengaja atau tidak.

Kami duduk di sofa serta ruangannya yang mewah dan serba luxury, sampai akhir biacara kami akhirnya sepakat untuk mengikat kontrak kerja. Sambil menunggu sekretaris Ibu Ayu membuat kontrak kerja denganku, lalu kami mengobrol santai dari soal kerjaan. Bahkan sampai ke hal yang berbau mengarah ke soal pribadi.

Aku yang dengan mencoba berani bertanya kearah pribadi, karena Ibu Ayu sendiri yang memulai bertanya kepadaku terlebih dahulu. Dari pembicaraan itu, baru kuketahui bahwa usianya baru saja menginjak 27 tahun, dia terlalu muda untuk memegang jabatan direktur sekaligus pemilik perusahaan menggantikan almarhum suaminya yang meninggal karena kecelakaan mobil yang mengakibatkannya harus meneruskan jabatan milik suaminya.

“Pak Danu sendiri umurnya berapa?”, ia bicara ditelingaku dengan nada mesra dan halus
“Saya umur 29 tahun, Bu!” balasku dengan nada gugup
“Apakah kamu sudah berkeluarga?”, pertanyaannya semakin berani, aku sampai GR sendiri dibuatnya,
“Belum..., Bu!” Ucapku

Tanpa kutanya lebih lanjut, Ibu Ayu menceritakan kepadaku bahwa semenjak kematian suaminya beberapa tahun yang lalu, dia masih belum mendapatkan penggantinya, karena belum ada yang cocok.


“Menurutku Ibu cantik, dan usianya juga masih muda, saya rasa ribuan lelaki akan ada didunia ini berlomba mendapatkan hati Ibu Ayu”, aku sedikit memujinya karena kenyataannya seperti itu.
“Masa..? memang ada benarnya juga sih yang Bapak Danu ucapkan, tapi mereka rata-rata hanya mengincar kekayaan saya dan bukan diriku”, dengan nada sedikit melepas napas.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara ketukan di pintu, Ibu Ayu langsung bangkit dan membukakan pintu, ternyata sekretarisnya telah selesai membuat kontrak kerja samanya.

“Baiklah.. Kalau begitu, saya permisi mau pamit pulang ya Bu.. semoga kerjasama kita ini dapat bertahan dan saling menguntungkan satu sama lain”, aku segera pamit dan segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya sebagai tanda terima kasihku
“ Ya... Semoga saja”, tangannya menyambut uluran tanganku
“Terima kasih atas kunjungannya dan kerjasamanya, Pak Danu..”

Kami Cukup lama bersalaman, sambil aku merasakan kelembutan tangannya yang sangat halus bagaikan sutera, namun tersadar sebentar aku langsung segera menarik tanganku dari tangannya, takut dikira kurang ajar dan tidak sopan. Namun tampaknya naluri laki-lakiku bekerja, dengan halus aku mulai merancang rencana untuk lebih dekat dengannya.

“Oh ya.., Bu.. sebelum saya kelupaan, sebagai perkenalan dan mengawali kerjasama kita, bagaimana kalau Ibu Ayu saya undang untuk makan malam bersama”, aku mulai memasang umpan

“Terima kasih”, jawabnya dengan singkat
“Mungkin lain waktu, saya akan menhubungi Pak Danu, untuk menerima tawaran ini”
“Saya dengan senang hati menunggunya, Bu.. kalau begitu aku permisi”

Aku pun tak mau memkasanya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Ayu dengan banyak pikiran tentangnya dibenaku. Disepanjang perjalanan menuju kantorku, aku selalu terbayang dengan kecantikan wajahnya, postur tubuhnya yang sangat ideal. Kayaknya semua kriteria cewek idamanku semua teletak padanya.

Tak terasa hampir mau satu bulan sejak pertemuan kami, meskipun aku sering mampir dan sekedar menyapa ke kantor Ibu Ayu dalam kurun waktu tersebut, tapi tidak kutemukan tanda-tanda ajakanku untuk makan malam dengannya akan ditrimanya dengan cepat. Meskipun hari demi hari hubunganku dengannya menjadi semakin akrab.

Sudah mau menginjak bulan ke-3, akhirnya kesabaranku berbuah hasil, walapun aku bisa mengajaknya keluar untuk sekedar makan malam. Aku ingat sekali waktu itu pas banget malam Minggu, kami tampil bak sepasang kekasih, meskipun pada awalnya dia ngotot ingin menggunakan mobilnya yang mewah, akhirnya dia bersedia juga menggunakan mobil bututku yang bisa bikin mata mengalir untuk kalangan orang kaya seperti dirinya.

Semenjak kejadian itu, beberapa kali setiap malam Minggu kami selalu keluar bersama, sungguh aku jadi merasa bingung sendiri, aku hanya berani menggenggam jarinya saja dan tidak lebih, itupun aku sangat gemetaran, serta jantungku degup-degup dengan kencang. Padahal hubungan kami ini bisa dibilang sudah sangat dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, dan tidak seperti biasanya memanggil Pak atau Bu, layaknya pasangan kekasih.

Sampai pada malam Minggu yang kesekian kalinya, kuberanikan diri untuk memulai rencanaku, waktu itu kami sedang berapa didalam bioskop, didalam keremangan, aku mencoba menggenggam jarinya, lalu kuelus-elus dengan mesra, kelembutan jarinya mengantarkan sensasi aneh didalam tubuhku, kucoba lagi mencium tangannya secara pelan, tidak ada respon darinya, kulepas jemari tangannya dengan lembut. Kurapatkan tubuhku dengan tubuhnya, kupandangi wajahnya yang sedang serius menatap layar bioskop.

 

Dengan modal keberanian yang kupaksakan sambil mencoba keberuntunganku, saat kucium pipinya, Dia langsung mengrespon terkejut, sebentar memandangku aku berpikir pasti dia akan marah padaku dan aku sudah siap menerima konsekuensinya, tapi respon yang kuterima sungguh membuatku kaget dengan tiba-tiba dia langsung memelukku, dengan mulutnya yang mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya dengan penuh nafsu.

Sambil menciumnya aku terpana, tapi segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya makin ganas, lidah kami saling membelit mencoba menelusuri rongga mulut lawan. Sementara tangannya semakin kuat mencengkram bahuku, Aku pun mulai beraksi, tanganku bergerak merambat ke punggungnya, sambil kuusap lembut punggungnya, bibirku yang terlepas menjalar ke lehernya yang halus dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dengan lidahku agar nafsunya semakin naik lagi.

“Ayu, aku sangat sayang kamu”, kubisikkan dengan mesra di telinganya
“Dan, akupun juga sayang kamu”, suaranya sedikit mendesah menahan birahinya yang mulai bangkit, seolah tidak mempedulikan keadaan sekitar. 

Disaat tanganku mulai menyusup ke dalam blous yang dipakainya, desahannya semakin jelas terdengar. Aku merasakan kelembutan buah dadanya, kenyal. dan Kupilin halus putingnnya dibalik BHnya, sementara tanganku yang satunya menelusuri pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yang sangat sexy.

Segera kubuka kancing blous bagian depannya, suasana bioskop yang gelap sangat kontras sekali dengan buah dadanya yang putih Perlahan kukeluarkan langsung kedua buah dadanya dari branya, kini di depanku terpampang buah dadanya yang sangat indah dan juga montok, kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya sambil mencium-ciumnya, lidahku yang basah dan hangat terus menjilati sekelilingnya perlahan naik hingga sampai ke bagian putingnya.


Kuhisap pelan putingnya yang masih mungil, kugigit lembut, kudorong dengan lidahku, Ayu pun semakin mengigau. Tanganya yang menekan kuat kepalaku saat putingnya kuhisap agak kuat, sementara aku merasakan gerakan di celanaku semakin kuat, terrnyata penisku yang sudah menegang maksimal.

Tanganku yang satunya sudah mulai bergerak meraba ke pahanya, spannya kutarik ke atas hingga batang pahanya tampak terlihat jelas mulus, putih Kubelai, kupilin pahanya sementara mulutku terus mengisap terus puting secara bergantian kiri dan kanan. Dan saat jariku sampai di pangkal pahanya, aku menemukan CDnya perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya yang agak sempit itu, langsung kugeser ke kiri, akhirnya jari-jariku menemukan rambut kemaluannya yang sangat lebat dan halus.

Aku yang sudah tak sabar, kugosokkan jariku di daerah klitorisnya sementara mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yang semakin mencuat ke atas pertanda gairah nya sudah memuncak, meskipun jari-jariku sedikit terhalang celana dalamnya yang sempit tapi aku masih dapat menggesek-gesek klitorisnya, bahkan dengan cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yang dipenuhi dengan bulu lebat, dan jariku terasa agak basah saat aku berputar-putar di dalamnya, sampai kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam vaginanya, kutekan dengan lembut kekiri dan kekanan perlahan.

“Aghh.... Danu aku sudah nggak tahan Terussin Dan... ouhh... ” Suaranya makin keras, birahinya sudah mencapai puncaknya.

Tangannya dengna kuat menekan kepalaku ke buah dadanya sehingga aku sulit bernafas, sementara tangan yang satunya menekan tanganku yang masih di vaginanya ia menekan semakin dalam. Sampai akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat, kuhisap kuat puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam didalam vaginanya.

“Achh... Dann... aku... ke.. lu.. ar... ” Kurasakan jariku menjadi hangat dan basah akbiat cairan yang keluar “Makasih Dan, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan seperti ini semenjak suamiku meninggal” Aku yang hanya bisa diam agak melepas nafas, menahan tegangnya penisku yang masih belum terlampiaskan tapi rupanya Ayu juga sangat pengertian. Dia langsung dengan lincahnya dibukanya reitsleting celanaku, jari-jarinya mulai dengan cepat mencari penisku yang sudah sangat tenggang.

Aku pun membantunya dengan menggerakan sedikit tubuhku saat tangannya mendapatkan apa yang ingi dicarinya, sungguh reaksinya rupanya sangat hebat “Oh... besar sekali punya kamu Dan aku sangat suka dengan barang yang besar seperti ini” Ayu berbicara seperti anak kecil yang mendapatkan permen besar.

Penisku yang sudah tegang maksimal perlahan dikocoknya dengan kedua jarinya, aku merasakan kenikmatan atas perlakuannya itu, sementara tangannya asyik mengocok batang senjataku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yang basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Ayu menghisap putingku. Aliran darahku semakin panas, gairah ku makin terbakar, Aku merasakan spermaku sudah sampai mengumpul di ujung, sementara kepala senjataku semakin basah yang sebentar lagi akan keluar.


“Ayu.., aku sudah nggak tahan lagi..”
“Tunggu tahan dulu sebentar, Dan..”

Ayu langsung melepaskan jilatan lidahnya diputingku dan langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya, aku merasakan kuluman mulutnya yang hangat dan sempit Kulihat mulutnya yang mungil sampai sesak oleh penisku yang besar. Ayu semakin kuat mengocok batang penisku di dalam mulutnya.

Sampai kakiku sedikit mengejang untuk melepaskan spermaku “Awas Ayu.., aku sudah mau keluar ” kutarik rambutnya agar menjauh dari batang penisku, tapi Ayu malah tambah memasukkan penisku lebih ke dalam mulutnya, aku yang sudah tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku sebanyak 5 kali spermaku cukup memenuhi mulutnya yang mungil.

Ayu dengan lahap langsung menelannya dan membersihkan cairan yang tertinggal  di kepala penisku dengan lidahnya yang lincah. Aku menarik nafas panjang mengatur degup jantungku yang tadi sangat cepat tidak karuan.

Setelah lampu bioskop menyala kembali yang pertanda pertunjukan telah usai, kami sudah rapi kembali. Setelah kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 23:00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak banyak bicara, kami saling memikirkan kejadian yang baru saja kami alami bersama tadi didalam bioskop.

Aku sampai di rumahnya yang mewah, dan aku diajak untuk mampir kedalam rumahnya. Akupun langsung ditariknya menuju kamar pribadinya yang sangat megah dan luas “Dan, saya belum puas dengan yang tadi, ayo kita teruskan permainan yang tadi sempat tertunda ”Tangannya dengan tidak sabaran langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangkitkan gairah ku yang sempat tertunda tadi, sementara pikiranku semakin bingung dibuatnya, kenapa Ayu yang tadinya kalem-kalem saja saat dimobil bisa berubah senafsu begini?

Tapi pikiranku kalah dengan gairah yang mulai berkobar, terlebih saat tangannya dengan lihai mengusap dadaku, seluruh tubuhku diciumnya dan dijilatinya dengan penuh nafsu. Aku yang tak mau kalah nafsunya, aku angkat dia di ranjangnya yang empuk kami seperti sedang bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap dada satu sama lain.

Saat pakaian kami satu persatu mulai tertanggal dari tempatnya, kami saling melihat, aku melihat kesempurnaan tubuhnya yang sexy, apalagi di daerah selangkangannya yang sangat terawat putih bersih, sangat kontras dengan bulu kemaluannya yang sangat hitam dan juga lebat. Ayu juga dengna kagum memandangi penisku yang mengacung menunjuk keatas. Hanya butuh waktu sebentar kami berpandangan, aku pun tanpa basa basi langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang.

Kuletakkan hati-hati tubuhnya yang gempal dan lembut, aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher sampai ke jari-jari kakinya Kuhisap puting buah dadanya yang kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra. Sementara tanganku yang lain meremas-remas dengan cepat pinggul dan pantatnya yang sangat montok itu.

Permainan kami semakin menggila, kini posisi kami berbalikan seperti posisi 69, kami saling menghisap satu sama lain aku yang menghisap puting dadanya, saat itu juga aku memainkan puting dadanya yang sudah mencuat tegang, lidahnya menjilati juga putingku. Aku turun menjilati perutnya, kurasakan juga perutku dijilati dan akhirnya lidah kami saling menghisap kemaluan. Ayu menghispa penisku sementara aku menjilati vaginanya yang sudah basah.

Aku merasakan ada cairan hangat di kepala penisku saat lidahku menari-nari menelusuri celah kemaluannya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah vaginanya yang telah basah daritadi, kuhisap klitorisnya dengan kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat dan ia mendesah hebat.

Sekitar dua puluh menit sudah kami saling menghisap, nafsuku yang sudah naik diubun-ubun menuntut penyelesaian. Segera aku membalikkan tubuhku kini posisi kami kembali saling melumat bibir, sementara penisku yang sudah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya namun sulit sekali tubuh kami sudah bersimbah cairan.

Sampai akhirnya Ayu sudah tak sabar langsung tangan Ayu memandu penisku sampai di dua belahan kemaluannya, segera kutekan agak kuat, Ayu membuka pahanya lebar-lebar dan penisku berusaha menerobos ke dalam vaginanya. Kepala penisku yang sudah masuk di dalam celahnya, hangat dan menggigit. Lalu kutahan pantatku, aku pun menikmati remasan kemaluannya di penisku. Perlahan kutekan pantatku, senjataku sampai amblas sedalam-dalamnya, gigi Ayu yang runcing menggigit kuat di lenganku saat aku mulai menggoyangkan pantatku dengan gerakan teratur naik dan turun.

Hisapan, serta pijitan liang vagianya di seluruh batang penisku sungguh terasa sangat nikmat. Kubalikan tubuhnya, kini tubuh Ayu menghadap ke samping penisku kutanam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya ke pundakku sampai batang penisku bisa masuk sampai mentok di mulut rahimnya. Puas aku memainkan penisku dari samping, tanpa mencabut penisku, langsung kuangkat tubuhnya, dengan gerakan baru lagi kini aku menghajarnya dari belakang. Dan ayu pun mendesah kenikmatan, "Dann... Yang ceeppaattt..." ucapnya sambil mendesah kenikmatan.

Tanganku sambil meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara penisku yang daritadi keluar masuk semakin cepat. Sesuai dengan erangan dan rintihan yang tak jelas terdengar, membuat semangatku semakin bertambah. Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari penisku, segera kucabut senjataku dari vaginanya “Pllop... ” terdengar suara saat penisku kucabut, mungkin karena ketatnya lubang vagina milik Ayu mencengkram diPenisku “Aghhhh..., kenapa Dan.. aku sedikit lagi nihh.. sudah mau kelluarr..”, protes Ayu yang sudah ditengah nafsunya.

Dia tanpa basa basi langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah, dengan sigap Ayu langsung meraih penisku kembali dan memasukkannya ke dalam lubang vaginanya sambil berjongkok, kini dia yang naik turun memainkan penisku.

Kini Ayu dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sementara aku di bawah sudah tak sanggup lagi menahan rasa nikmat yang kuterima dari gerakan Ayu yang sangat cepat, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin untuk tidak keluar terlebih dahlu.



Tidak terasa sudah dua jam sudah berlalu, kulihat Ayu semakin liar, dengan cepat hingga akhirnya aku merasakan ada semburan hangat di penisku. Disaat tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang “Oh aku sangat puas sekali Dan, sangat puas... ” tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, namun penisku yang sudah berdenyut-denyut belum tercabut dari vaginanya. Kurasakan buah dadanya yang montok menekan tubuhku seirama dengan tarikan nafasnya yang sudah terengah-engah.

Setelah beberapa saat, aku sudah merasakan air maniku tidak jadi keluar akbiat genjotan yang diberikannya, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dengan gaya yang lainnya aku mencoba meraih puncak kenikmatan yang sempat tertahan, kemaluannya yang agak basah tidak mengurangi kenikmatan permainanku.

Aku dengan cepat terus menggerakkan tubuhku secara perlahan gairah nya pun kembali bangkit, terlebih saat batang penisku didalam lubang vaginanya, kadang sedikit kuangkat pantatku agar G-spotnya tersentuh. Kini pinggul Ayu yang seksi mulai bergoyang mengikuti irama dengan gerakan pantatku, sambil jari-jarinya yang lentik mengusap dadaku, putingku dipilin-pilinnya, hingga sensasi yang kurasakan tambah gila.

Satu jam sudah aku bertahan dengan gaya ini, perlahan aku mulai merasakan cairanku sudah ingin kembali ke ujung kepala penisku. Saat gerakanku sudah tak beraturan lagi, berbarengan dengan hisapan Ayu pada putingku dan pitingan kakinya yang sangat kuat di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam kemaluannya yang sudah basah itu.

Semejak kejadian itu, kami sering melakukannya lagi hampir setiap saat. Aku baru tahu bahwa nafsunya sangat tinggi, selama ini dia bersikap alim didepanku, karena tidak mau sembarangan main dengan cowok lain. Dia mau denganku karena aku sabar, baik dan tidak mengejar kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa Penisku dua kali lipat almarhum suaminya, sampai akhirnya aku dan dia memutuskan untuk menikah, dan hidup kami pun berakhir bahagia.

TAMAT


KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment