CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Ngentot Dengan Guru Yang Nafsunya Gede - Kiosvideo

hi stats



KiosVideo - Halo.. pembaca setia, perkenalkan namaku Tio. Aku tinggal di Surabaya.. Aku memiliki 

tinggiku sekitar 155 cm tidak terlalu tinggi, bentuk wajahku juga tidak terlalu ganteng 

dan tidak jelek alias pas-pasan, agak imut-imut kalau teman-temanku bilang.

Tidak mau menunggu lama, langsung saja aku mulai menceritakan pengalaman pertamaku 

melakukan ‘make love’ (ML) atau bisa disebut dengan bercinta dengan seorang wanita. 

Kejadiannya pas waktu aku masih kelas tiga smp. Saat itu sedang musim-musim ujian, 

Sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain agar tidak memihak. Kebetulan 

yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu 

Lina, umurnya bisa dibilang masih cukup muda, yakni sekitar 27 tahun keatas perkiraanku 

saja.

Ibu Lina memiliki tinggi badan sekitar 160 cm tidak jauh beda denganku hanya dia lebih 

tinggi sedikit. Kulitnya putih, memiliki hidung yang mancung, bentuk wajahnya yang 

membentuk oval dengan rambut hitam lurus yang di potong pendek, sehingga memperlihatkan 

lehernya yang putih terawat.

Yang membuatku sangat tertarik dengan dirinya adalah tonjolan dua bukit payudaranya  

indahnya yang cukup besar, memiliki pantat yang sexy dan agak bergoyang pada saat dia 

sedang berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang sangat 

tajam, aku melirik ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah dia tau atau tidak bahwa 

aku mencuri pandang dengan meliriknya, tiba-tiba dia balas menatapku sambil 

memperliatkan senyuman kecil. Hal itu membuatku menjadi tambah Geer.


Bahkan dikesempatan lainnya, sambil ia menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan 

sengaja menyilangkan kedua kakinya, sehingga tampaklah paha dan betisnya yang mulus yang 

putih itu. Di waktu yang lain dia bahkan dengan sengaja menarik roknya yang sudah pendek 

(di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa 

melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya karena takut ketahuan atau dimarahi. Aku 

melihat gundukan kecil di tengahnya, dan terlihat jelas dia memakai celana dalam 

berbahan katun berwarna putih, entah sengaja atau tidak dia memakai celana dalama yang 

bentuknya terang agar aku dapat melihatnya dengan jelas.

Saat aku melihatnya, aku pun agak terkejut dan sedikit melotot dengan pertunjukan yang 

sedang dilakukannya apakah dia sengaja memperlihatkannya kepadaku atau siapa. Aku pun 

langsung memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga 

melihat pertunjukan yang dilakukannya tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk 

mengerjakan soal-soal ujian dengan serius dan hanya aku saja yang tidak konsentrasi 

mengerjakan ujian.


Aku kembali fokus untuk memandang ke arah Ibu Lina, dia juga masih memandangku sambil 

tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya dengan sambil mengedipkan satu mataku, 

kemudian sambil kuteruskan mengerjakan soal-soal ujian yang ada di mejaku. Tentu saja 

mataku tak lepas dari pengasawanku, sambil melihat ke arah meja Ibu Lina yang masih 

setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali ketika sedang aku lirik, sedemikian 

rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas bentuk selangkangannya yang indah itu.

Sekitar 20 menit sebelum bel waktu ujian berakhir, aku sudah selesai mengisi lembaran 

jawabnku langsung bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas ujianku kepada 

Ibu Lina.

“Kamu sudah selasai?” katanya sambil tersenyum nakal.

“Sudah, bu...” jawabku sambil membalas senyumnya.

“Apakah kamu suka dengan pemandangan yang kamu lihat tadi?” dia bertanya yang sontak 

mengagetkanku, saya pikir dia menampakknya untuk orang lain ternyata dia sengaja 

memperlihatkannya untukku.

Aku tanpta ragu menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan nada 

pelan-pelan.

“Bu.. Apakah saya boleh melihatnya lagi nanti?” kataku mencoba memberanikan diri, masih 

dengan berbisik ditelinganya.

“Boleh.. kita akan ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?” 

katanya sambil tersenyum nakal kepadaku.

Senyummannya itu pun langsung menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin. 

Siang itu aku menunggu di depan gerbang sekolah, telhiat Bu Lia sambil menenteng tasnya, 

bu Lia langsung mendekati tempatku berdiri dan berkata..

“Tio.., kamu ikuti saya dari belakang ya..”

Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai goyang-

goyang kayak lengkong. Aku melihat keadaan sekitar, Bu Lia membawa aku sudah jauh dari 

lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia 

berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Disaat itu kami berjalan beriringan.

“Tio apakah kamu benar-benar ingin melihat lagi?” tanyanya di tengah kesunyian.

“Lihat apa bu...?” jawabku berpura-pura bego, padahal itu permintaanku sendiri sewaktu 

di kelas tadi pagi.

“Ah..., kamu nih.., suka pura-pura.. padahall kamu inget kan...” Katanya sambil mencubit 

pinggangku pelan.

Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku langsung pegang telapak tangannya 

yang halus dan meremasnya dengan sedikit gemas. bu Lina rupanya balas meremas tanganku, 

sambil memandangiku dekat-dekat.

Kami berjalan sampai akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, yang berada agak jauh 

dari rumah-rumah lain. Rumah ini tampak seperti rumah kontrakan, karena tidak terlihat 

tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut alias Polos. Bu Lina membuka tasnya dan 

mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu.

“Tio..., sini cepat masuk... Lepaskan sepatumu di dalam... segera tutup dan kunci 

kembali pintunya..!” Perintahnya dengan cepat, aku pun bingung antara dia ingin 

terburu-buru atau tidak ingin ada yang tau bahwa ada laki-laki yang masuk kedalam 

rumahnya.

Aku pun tanpa basa-basi langsung kuturuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu 

aku masuk ke dalam rumahnya, bu Lia langsun menaruh tasnya di sebuah kursi, dan langsung 

masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku ppun hanya bisa melihat, ketika dengan 

santainya dia melepaskan kancing bajunya secara perlahan, sehingga memperlihatkan BH-nya 

yang juga terbuat dari bahan katun berwarna cream, tampaklah buah dadanya yang putih dan 

agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BHjya, itu membuatnya 

semakin sexy, kemudian dia langsung memanggilku dari dalam kamar.

“Tio, tolong dong, kamu lepasin pengaitnya..” katanya sambil membelakangiku.

Aku pun datang mulai membuka pengait tali BH-nya, dengan wajah memerah dan hati 

berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-

shirt berwarna merah, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt 

tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi. Kemudian dia kembali 

meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya.

Aku pun kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa 

dibagian selangkanganku basah dengan sendirinya. Penisku mulai  berontak dari dalam CDku 

yang cukup ketat. Saat dia membelakangiku, dengan cepat aku langsung memperbaiki posisi 

penisku dari luar celana agar tidak terjepit sempit. Kemudian aku lanjutkan membuka 

risleting rok yang tampak ketat itu.

Secara perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku 

memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan 

celana dalam putihnya, tanganku dengan sendirinya meraba pantat bu Lia dan sedikit 

meremasnya.

 


“Wah.. Tio.. Kamu sudah nggak sabaran ya?” Kata bu Lia.

“Maaf aku bu.. habis bokong ibu sexy banget, jadi pengen cepet-cept saya remas..”

“Kalo sudah di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘mbak’ aja ya?”

“Iya bu, eehh.. salah mbak Lia”

Konsentrasiku perlahan mulai buyar melihat pemandangan yang sangat indah di hadapanku 

saat ini, bu Lia dengan kaos T-shirt merah yang ketat, tanpa mengenakan BH, sehingga 

terlihat puting susunya mencuat dari balik kaos merahnya, pusarnya yang sexy tidak 

tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, CDnya yang tadi pagi aku lihat 

dari jauh sekarang aku bisa leluasa melihatnya dengan jelas, gundukan di selangkangannya 

membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa 

hari ini adalah mimpi.

“Gimana Tio? suka nggak kamu?” Katanya sambil bergoyang sexy dengan pinggulnya.

“Lho.. Kok kamu jadi bengong, Tio?” Lanjutnya sambil menghampiriku.

Aku terdiam karena aku sangat terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan 

mencium bibirku, pada awalnya aku kaget karena tiba-tiba datang dan tidak menunjukan 

reaksi, tapi lamunan itu hanya sebentar saja. Kemudian aku mulai segera membalas 

ciuman-ciumannya, dia dengan lahap melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya 

dengan rakus juga tidak mau kalah.

“Mphhmmmmmhhhhmmmmm....” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami.

Tidak lama kemudian tangan kanannya mengangkat tangan kiriku dan menuntun tanganku ke 

arah teteknya yang sekitar 34B, aku dengan cepat langsung menanggapi apa yang ia mau, 

langsung kuremas-remas dengan lembut teteknya dan sedikit kupilin-pilin putingnya yang 

mulai mengeras itu.

“Mpphh...mmhhhhmmm.....” Suaranya kali ini dia merintih nikmat.

Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-

shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu 

kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah 

dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar CD yang dipakainya. Ternyata 

CDnya sudah sangat basah saat aku mulai menghampirinya dengan jariku.

Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing secara 

bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan ganas, tangannya yang 

lain melepas kancing bajuku satu per satu. Aku melepas hisapanku pada bibirnya dan 

membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan 

celanaku dan CD hitamku sekaligus sampai benar-benar telanjang bulat.

Bu Lia pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya 

yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, 

sehingga sekarang kami sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat 

menggiurkan.

Secara bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku 

menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat 

tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang didalam 

video-video, tetapi baru kali ini aku melihatnya secara langsung dan berhadap-hapan baru 

kali itu aku mengalaminya.



Payudaranya yang saat ini sudah sepenuhnya mengeras, ukurannya melebihi telapak 

tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah 

berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya yang ramping tidak tampak ada 

bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. 

Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu hitam yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh 

sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap akbiat cairan vaginanya.

Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, atau hanya 

di video porno atau paling nyata tubuh Anak tetanggaku yang aku sering intip kamarnya, 

sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan olehnya. 

Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka 

mengintip hanya sekedar penasaran saja.

Sementara bu Lia memandang dengan tajam penisku yang sudah sangat tegang, yang 

pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang 

kemaluanku. Yah.. menurutku kurannya penisku cukup besar dan panjangnya belasan centi 

sebagai murid.

“Tio, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya” katanya 

sambil memujiku dan langsung menghampiriku.

Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih penisku, sambil 

berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan 

berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti 

itu, karena baru pertama kali penisku dihisap oleh orang lain.

“Oooohhhhh.... enak mbakk...” rintihku pelan.

Mendengar hal tersebut, dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya 

pada penisku, sementara aku semakin mendesah gak karuhan akibat perbuatannya itu. Kadang 

dimasukkannya penisku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, 

sehingga penisku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus dan penuh 

nafsu. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya... jebol juga pertahananku. Air Maniku 

menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia telan dengan rakus, sehingga tidak ada 

satu tetespun yang menetes ke lantai, hisapannya memberikanku sensasi yang luar biasa. 

Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi sendiri.

“Aaaaccchhhh... ooooouuhhhhhh.... Mbakk....!” Teriakku yang sudah tak tertahankan lagi.

“Gimana? enak gak Tio?” Tanyanya setelah dia sedot habis tetesan terakhir dari penisku.

“Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas.

“Gantian dong mbak... saya pengen ngerasain punya teteh..” seruku sambil sedikit 

memohon.

“Boleh.. donk” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di 

atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai.

Aku langsung berlutut di depannya, aku mulai dari kuciumi selangkangannya dengan 

bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan 

puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan 

perlahan. Sementara mulutku menghisap, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin 

becek. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku dengan 

cepat.

“Aaaaaahhhhh.. ooooohhhhhh... Yeahh.... aku sudah tidak tahan lagiii niihh... 

aaaaauuuuuhhhhhh...”

Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang 

mendengar rintihan-rintihan nikmatnya tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, 

sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan 

tubuhnya mulai mengejang, kemudian aku merasakan ada semburan cairan hangat di mulutku, 

aku pun langsung menghisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus 

carirannya, tetes demi tetes yang keluar.

Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan 

ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di 

selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua 

payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.

“Tio.. kamu sangat hebat deh.. kamu bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar 

darimana kamu?” Tanyanya dengan genit.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum nakal. Aku memang banyak membaca tentang hubungan 

sexual, dari majalah-majalah yang kubaca, dan internet. Sementara itu penisku sudah 

sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Lia. 

Akupun berdiri, mulai memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih 

berkedut yang masih basah serta licin habis organisme.

“Aku masukin ya mbak..?” Izinku, dan tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat 

bibirnya dengan batang penisku yang merekah menanti kedatangan bibirku.

“Oooohhhhh.....” rintihnya,

“Uhhgh....” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika penisku mulai menembus 

masuk ke dalam vaginanya, hilanglah sudah keperjakaanku yang selama ini kujaga.

Kenikmatan tiada tara ini aku rasakan saat ini, ketika batang penisku perlahan masuk 

keseluruh vaginanya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. 

Bu Lia merintih semakin kencang ketika bulu penisku yang tumbuh di batang penisku 

menggesek bibir vagina dan clitorisnya, kulihat matanya setengah terpejam mulutnya 

mendesah nikmat, nafasnya yang mulai tersenggal-senggal perlahan.

“Ahh...acchh..ahh...auuuu..” Desahnya.

 


Kutarik lagi pelan penisku, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, 

sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang 

kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin 

cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya 

kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menjadi-jadi, kepalanya dia tolehkan kekiri 

dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi 

melumat bibirnya yang sexy itu karena kepalanya yang lasak.

Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan penisku ke dalam 

vaginanya yang kini sudah sangat basah akibat carian vaginanya, sampai akhirnya,

“Tioo... aku suddaah... mau keluar lagiiiiii.....oooohhh...” desahan semakin kacau.

Aku memperhatikan dengan puas tubuhnya, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, 

vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja 

mengontrol diriku untuk tidak cepat orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, 

walaupun aku belum pernah melakukan hubungan seperti ini sebelumnya. Bu Lia sendiri 

heran dengan kemampuan mengontrol orgasme miliku. Setelah dia melambung ke dunia yang 

lain dengan orgasme-orgasmenya yang berlanjut, lalu aku cabut penisku yang masih saja 

keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk istirahat dan mengatur nafasnya.

Kemudian aku memintanya untuk menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali 

kami tenggelam dalam permainan yang penuh kenikmatan ini. Sekali lagi aku membuatnya 

mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah 

cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. 

Sampai akhirnya aku sudah mencapai batasnya aku langsung menyemburlah spermaku kedalam 

vaginanya, yang sejak tadi aku tahan, aku langsung mencabutnya dan saking lemasnya dia 

pun dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di 

sebelahnya.

Semenjak kejadian hari itu, kami hampir setiap hari melakukannya ketika kami sedang 

menginginkannya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Ngentot Dengan Guru Yang Nafsunya Gede



KiosVideo - Halo.. pembaca setia, perkenalkan namaku Tio. Aku tinggal di Surabaya.. Aku memiliki 

tinggiku sekitar 155 cm tidak terlalu tinggi, bentuk wajahku juga tidak terlalu ganteng 

dan tidak jelek alias pas-pasan, agak imut-imut kalau teman-temanku bilang.

Tidak mau menunggu lama, langsung saja aku mulai menceritakan pengalaman pertamaku 

melakukan ‘make love’ (ML) atau bisa disebut dengan bercinta dengan seorang wanita. 

Kejadiannya pas waktu aku masih kelas tiga smp. Saat itu sedang musim-musim ujian, 

Sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain agar tidak memihak. Kebetulan 

yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu 

Lina, umurnya bisa dibilang masih cukup muda, yakni sekitar 27 tahun keatas perkiraanku 

saja.

Ibu Lina memiliki tinggi badan sekitar 160 cm tidak jauh beda denganku hanya dia lebih 

tinggi sedikit. Kulitnya putih, memiliki hidung yang mancung, bentuk wajahnya yang 

membentuk oval dengan rambut hitam lurus yang di potong pendek, sehingga memperlihatkan 

lehernya yang putih terawat.

Yang membuatku sangat tertarik dengan dirinya adalah tonjolan dua bukit payudaranya  

indahnya yang cukup besar, memiliki pantat yang sexy dan agak bergoyang pada saat dia 

sedang berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang sangat 

tajam, aku melirik ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah dia tau atau tidak bahwa 

aku mencuri pandang dengan meliriknya, tiba-tiba dia balas menatapku sambil 

memperliatkan senyuman kecil. Hal itu membuatku menjadi tambah Geer.


Bahkan dikesempatan lainnya, sambil ia menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan 

sengaja menyilangkan kedua kakinya, sehingga tampaklah paha dan betisnya yang mulus yang 

putih itu. Di waktu yang lain dia bahkan dengan sengaja menarik roknya yang sudah pendek 

(di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa 

melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya karena takut ketahuan atau dimarahi. Aku 

melihat gundukan kecil di tengahnya, dan terlihat jelas dia memakai celana dalam 

berbahan katun berwarna putih, entah sengaja atau tidak dia memakai celana dalama yang 

bentuknya terang agar aku dapat melihatnya dengan jelas.

Saat aku melihatnya, aku pun agak terkejut dan sedikit melotot dengan pertunjukan yang 

sedang dilakukannya apakah dia sengaja memperlihatkannya kepadaku atau siapa. Aku pun 

langsung memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga 

melihat pertunjukan yang dilakukannya tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk 

mengerjakan soal-soal ujian dengan serius dan hanya aku saja yang tidak konsentrasi 

mengerjakan ujian.


Aku kembali fokus untuk memandang ke arah Ibu Lina, dia juga masih memandangku sambil 

tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya dengan sambil mengedipkan satu mataku, 

kemudian sambil kuteruskan mengerjakan soal-soal ujian yang ada di mejaku. Tentu saja 

mataku tak lepas dari pengasawanku, sambil melihat ke arah meja Ibu Lina yang masih 

setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali ketika sedang aku lirik, sedemikian 

rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas bentuk selangkangannya yang indah itu.

Sekitar 20 menit sebelum bel waktu ujian berakhir, aku sudah selesai mengisi lembaran 

jawabnku langsung bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas ujianku kepada 

Ibu Lina.

“Kamu sudah selasai?” katanya sambil tersenyum nakal.

“Sudah, bu...” jawabku sambil membalas senyumnya.

“Apakah kamu suka dengan pemandangan yang kamu lihat tadi?” dia bertanya yang sontak 

mengagetkanku, saya pikir dia menampakknya untuk orang lain ternyata dia sengaja 

memperlihatkannya untukku.

Aku tanpta ragu menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan nada 

pelan-pelan.

“Bu.. Apakah saya boleh melihatnya lagi nanti?” kataku mencoba memberanikan diri, masih 

dengan berbisik ditelinganya.

“Boleh.. kita akan ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?” 

katanya sambil tersenyum nakal kepadaku.

Senyummannya itu pun langsung menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin. 

Siang itu aku menunggu di depan gerbang sekolah, telhiat Bu Lia sambil menenteng tasnya, 

bu Lia langsung mendekati tempatku berdiri dan berkata..

“Tio.., kamu ikuti saya dari belakang ya..”

Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai goyang-

goyang kayak lengkong. Aku melihat keadaan sekitar, Bu Lia membawa aku sudah jauh dari 

lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia 

berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Disaat itu kami berjalan beriringan.

“Tio apakah kamu benar-benar ingin melihat lagi?” tanyanya di tengah kesunyian.

“Lihat apa bu...?” jawabku berpura-pura bego, padahal itu permintaanku sendiri sewaktu 

di kelas tadi pagi.

“Ah..., kamu nih.., suka pura-pura.. padahall kamu inget kan...” Katanya sambil mencubit 

pinggangku pelan.

Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku langsung pegang telapak tangannya 

yang halus dan meremasnya dengan sedikit gemas. bu Lina rupanya balas meremas tanganku, 

sambil memandangiku dekat-dekat.

Kami berjalan sampai akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, yang berada agak jauh 

dari rumah-rumah lain. Rumah ini tampak seperti rumah kontrakan, karena tidak terlihat 

tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut alias Polos. Bu Lina membuka tasnya dan 

mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu.

“Tio..., sini cepat masuk... Lepaskan sepatumu di dalam... segera tutup dan kunci 

kembali pintunya..!” Perintahnya dengan cepat, aku pun bingung antara dia ingin 

terburu-buru atau tidak ingin ada yang tau bahwa ada laki-laki yang masuk kedalam 

rumahnya.

Aku pun tanpa basa-basi langsung kuturuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu 

aku masuk ke dalam rumahnya, bu Lia langsun menaruh tasnya di sebuah kursi, dan langsung 

masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku ppun hanya bisa melihat, ketika dengan 

santainya dia melepaskan kancing bajunya secara perlahan, sehingga memperlihatkan BH-nya 

yang juga terbuat dari bahan katun berwarna cream, tampaklah buah dadanya yang putih dan 

agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BHjya, itu membuatnya 

semakin sexy, kemudian dia langsung memanggilku dari dalam kamar.

“Tio, tolong dong, kamu lepasin pengaitnya..” katanya sambil membelakangiku.

Aku pun datang mulai membuka pengait tali BH-nya, dengan wajah memerah dan hati 

berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-

shirt berwarna merah, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt 

tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi. Kemudian dia kembali 

meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya.

Aku pun kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa 

dibagian selangkanganku basah dengan sendirinya. Penisku mulai  berontak dari dalam CDku 

yang cukup ketat. Saat dia membelakangiku, dengan cepat aku langsung memperbaiki posisi 

penisku dari luar celana agar tidak terjepit sempit. Kemudian aku lanjutkan membuka 

risleting rok yang tampak ketat itu.

Secara perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku 

memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan 

celana dalam putihnya, tanganku dengan sendirinya meraba pantat bu Lia dan sedikit 

meremasnya.

 


“Wah.. Tio.. Kamu sudah nggak sabaran ya?” Kata bu Lia.

“Maaf aku bu.. habis bokong ibu sexy banget, jadi pengen cepet-cept saya remas..”

“Kalo sudah di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘mbak’ aja ya?”

“Iya bu, eehh.. salah mbak Lia”

Konsentrasiku perlahan mulai buyar melihat pemandangan yang sangat indah di hadapanku 

saat ini, bu Lia dengan kaos T-shirt merah yang ketat, tanpa mengenakan BH, sehingga 

terlihat puting susunya mencuat dari balik kaos merahnya, pusarnya yang sexy tidak 

tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, CDnya yang tadi pagi aku lihat 

dari jauh sekarang aku bisa leluasa melihatnya dengan jelas, gundukan di selangkangannya 

membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa 

hari ini adalah mimpi.

“Gimana Tio? suka nggak kamu?” Katanya sambil bergoyang sexy dengan pinggulnya.

“Lho.. Kok kamu jadi bengong, Tio?” Lanjutnya sambil menghampiriku.

Aku terdiam karena aku sangat terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan 

mencium bibirku, pada awalnya aku kaget karena tiba-tiba datang dan tidak menunjukan 

reaksi, tapi lamunan itu hanya sebentar saja. Kemudian aku mulai segera membalas 

ciuman-ciumannya, dia dengan lahap melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya 

dengan rakus juga tidak mau kalah.

“Mphhmmmmmhhhhmmmmm....” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami.

Tidak lama kemudian tangan kanannya mengangkat tangan kiriku dan menuntun tanganku ke 

arah teteknya yang sekitar 34B, aku dengan cepat langsung menanggapi apa yang ia mau, 

langsung kuremas-remas dengan lembut teteknya dan sedikit kupilin-pilin putingnya yang 

mulai mengeras itu.

“Mpphh...mmhhhhmmm.....” Suaranya kali ini dia merintih nikmat.

Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-

shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu 

kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah 

dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar CD yang dipakainya. Ternyata 

CDnya sudah sangat basah saat aku mulai menghampirinya dengan jariku.

Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing secara 

bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan ganas, tangannya yang 

lain melepas kancing bajuku satu per satu. Aku melepas hisapanku pada bibirnya dan 

membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan 

celanaku dan CD hitamku sekaligus sampai benar-benar telanjang bulat.

Bu Lia pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya 

yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, 

sehingga sekarang kami sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat 

menggiurkan.

Secara bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku 

menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat 

tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang didalam 

video-video, tetapi baru kali ini aku melihatnya secara langsung dan berhadap-hapan baru 

kali itu aku mengalaminya.



Payudaranya yang saat ini sudah sepenuhnya mengeras, ukurannya melebihi telapak 

tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah 

berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya yang ramping tidak tampak ada 

bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. 

Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu hitam yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh 

sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap akbiat cairan vaginanya.

Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, atau hanya 

di video porno atau paling nyata tubuh Anak tetanggaku yang aku sering intip kamarnya, 

sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan olehnya. 

Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka 

mengintip hanya sekedar penasaran saja.

Sementara bu Lia memandang dengan tajam penisku yang sudah sangat tegang, yang 

pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang 

kemaluanku. Yah.. menurutku kurannya penisku cukup besar dan panjangnya belasan centi 

sebagai murid.

“Tio, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya” katanya 

sambil memujiku dan langsung menghampiriku.

Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih penisku, sambil 

berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan 

berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti 

itu, karena baru pertama kali penisku dihisap oleh orang lain.

“Oooohhhhh.... enak mbakk...” rintihku pelan.

Mendengar hal tersebut, dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya 

pada penisku, sementara aku semakin mendesah gak karuhan akibat perbuatannya itu. Kadang 

dimasukkannya penisku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, 

sehingga penisku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus dan penuh 

nafsu. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya... jebol juga pertahananku. Air Maniku 

menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia telan dengan rakus, sehingga tidak ada 

satu tetespun yang menetes ke lantai, hisapannya memberikanku sensasi yang luar biasa. 

Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi sendiri.

“Aaaaccchhhh... ooooouuhhhhhh.... Mbakk....!” Teriakku yang sudah tak tertahankan lagi.

“Gimana? enak gak Tio?” Tanyanya setelah dia sedot habis tetesan terakhir dari penisku.

“Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas.

“Gantian dong mbak... saya pengen ngerasain punya teteh..” seruku sambil sedikit 

memohon.

“Boleh.. donk” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di 

atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai.

Aku langsung berlutut di depannya, aku mulai dari kuciumi selangkangannya dengan 

bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan 

puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan 

perlahan. Sementara mulutku menghisap, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin 

becek. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku dengan 

cepat.

“Aaaaaahhhhh.. ooooohhhhhh... Yeahh.... aku sudah tidak tahan lagiii niihh... 

aaaaauuuuuhhhhhh...”

Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang 

mendengar rintihan-rintihan nikmatnya tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, 

sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan 

tubuhnya mulai mengejang, kemudian aku merasakan ada semburan cairan hangat di mulutku, 

aku pun langsung menghisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus 

carirannya, tetes demi tetes yang keluar.

Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan 

ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di 

selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua 

payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.

“Tio.. kamu sangat hebat deh.. kamu bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar 

darimana kamu?” Tanyanya dengan genit.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum nakal. Aku memang banyak membaca tentang hubungan 

sexual, dari majalah-majalah yang kubaca, dan internet. Sementara itu penisku sudah 

sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Lia. 

Akupun berdiri, mulai memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih 

berkedut yang masih basah serta licin habis organisme.

“Aku masukin ya mbak..?” Izinku, dan tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat 

bibirnya dengan batang penisku yang merekah menanti kedatangan bibirku.

“Oooohhhhh.....” rintihnya,

“Uhhgh....” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika penisku mulai menembus 

masuk ke dalam vaginanya, hilanglah sudah keperjakaanku yang selama ini kujaga.

Kenikmatan tiada tara ini aku rasakan saat ini, ketika batang penisku perlahan masuk 

keseluruh vaginanya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. 

Bu Lia merintih semakin kencang ketika bulu penisku yang tumbuh di batang penisku 

menggesek bibir vagina dan clitorisnya, kulihat matanya setengah terpejam mulutnya 

mendesah nikmat, nafasnya yang mulai tersenggal-senggal perlahan.

“Ahh...acchh..ahh...auuuu..” Desahnya.

 


Kutarik lagi pelan penisku, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, 

sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang 

kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin 

cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya 

kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menjadi-jadi, kepalanya dia tolehkan kekiri 

dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi 

melumat bibirnya yang sexy itu karena kepalanya yang lasak.

Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan penisku ke dalam 

vaginanya yang kini sudah sangat basah akibat carian vaginanya, sampai akhirnya,

“Tioo... aku suddaah... mau keluar lagiiiiii.....oooohhh...” desahan semakin kacau.

Aku memperhatikan dengan puas tubuhnya, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, 

vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja 

mengontrol diriku untuk tidak cepat orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, 

walaupun aku belum pernah melakukan hubungan seperti ini sebelumnya. Bu Lia sendiri 

heran dengan kemampuan mengontrol orgasme miliku. Setelah dia melambung ke dunia yang 

lain dengan orgasme-orgasmenya yang berlanjut, lalu aku cabut penisku yang masih saja 

keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk istirahat dan mengatur nafasnya.

Kemudian aku memintanya untuk menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali 

kami tenggelam dalam permainan yang penuh kenikmatan ini. Sekali lagi aku membuatnya 

mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah 

cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. 

Sampai akhirnya aku sudah mencapai batasnya aku langsung menyemburlah spermaku kedalam 

vaginanya, yang sejak tadi aku tahan, aku langsung mencabutnya dan saking lemasnya dia 

pun dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di 

sebelahnya.

Semenjak kejadian hari itu, kami hampir setiap hari melakukannya ketika kami sedang 

menginginkannya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment