CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Calon Istri Pamanku Yang Penuh Nafsu - Kiosvideo

hi stats



KiosVideo Semua cerita ini bermula ketika aku sedang berkunjung ke rumah pamanku pada beberapa tahun yang lalu.

Cerita ini terjadi kira-kira 3 tahun yang lalu, tapi setiap kali aku membayangkannya dan memikirkannya, seolah-olah baru saja terjadi kemarin kejadian yang sangat indah ini.
Aku mempunyai seorang paman yang belum menikah, Pamanku ini bisa dibilang memiliki banyak istri. Hal ini disebabkan karena pamanku adalah seorang pengusaha kaya tapi ia terlalu cerewet soal memilih pendamping hidupnya. Sebenarnya ia juga telah banyak diperkenalkan dengan wanita-wanita muda dan cantik-cantik oleh keluargaku, tetapi tetap saja alasannya ya bilang inilah itulah, semuanya cocok di matanya, katanya.

Sampai pada suatu saat, ketika aku kebetulan sedang bertamu ke rumahnya, pamanku datang dengan seorang wanita yang sangat cantik dan Seksi, semampai, langsing, pokoknya cantik banget de kalau menurut saya.
Kemudian kami diperkenalkan dengannya, wanita itu bernama Nilla, ternyata namanya pas sekali dengan wajahnya yang memang Nilla itu. Ia baru saja berusia 25 tahun dan saat itu ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan teman pamanku. Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Nilla memang enak untuk diajak ngobrol. Dan aku melihat sepertinya pamanku tertarik sekali denganya, karena aku tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Nilla.

Tapi tidak demikian halnya dengan Nilla. Ia malah lebih sering memandangku, terutama ketika aku berbicara, tatapannya dalam sekali, seolah-olah dapat menembus pikiranku dan membaca pikiranku. Aku mulai berpikir jangan-jangan Nilla lebih menyukaiku daripada pamanku. Tapi aku tidak dapat berharap banyak, karena bukan aku yang hendak dijodohkan melainkan pamanku. Tapi aku tetap saja memandangnya ketika ia sedang berbicara, kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang seperti gadis di iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya juga putih mulus, tapi sepertinya dadanya agak rata, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Tidak terasa hari sudah mulai malam. Kemudian sebelum mereka pulang, pamanku mentraktir mereka makan di sebuah restoran restoran yang cukup terkenal di dekat rumahnya. Ketika sampai di restorant tersebut, aku langsung pergi ke WC dulu karena aku sudah kebelet sudah mau keluar. Sebelum aku menutup pintu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu toiletnya. Dan ternyata adalah Nilla.
“Eh, ada apa Nil..?”
“Enggak kok.., gua hanya pengen kasih kartu nama gua, dan besok jangan lupa telpon gua, ada yang mau gua omongin penting, oke?”
“Kenapa enggak sekarang aja ngomonginnya?”
“Jangan, ada paman lu, pokoknya besok jangan lupa telepon saja!”
Setelah acara makan malam itu, aku pun pulang ke rumah dengan seribu satu pertanyaan di otakku, apa yang mau diomongin sama Nilla sih. Tapi aku tidak mau pikir panjang lagi, lagipula nanti aku bisa-bisa susah tidurnya karena terlalu memikirkannya, soalnya kan besok aku harus masuk kerja.
Besoknya saat istirahat makan siang, aku tak lupa untuk meneleponnya dan bertanya langsung padanya.


“Eh..., apa sih yang mau elu omongin semalam, gua penasaran banget?”
“Haha.., penasaran banget ya, Har (Pangilanku)?” 
“Iya lah, ayo dong buruan penasaran nih..!”
“Eh, slow aja donk, napsu amet sih elu.”
“Baru tahu yah, napsu gua emang setinggi ini”
“Napsu yang mana nih?” Nilla sepertinya memancingku secara perlahan.
“Napsu makan dong, gua kan belum sempat makan siang gara-gara penasaran sama yang semalem..!” 
Aku sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aku ini orang yang sangat menghargai waktu, terutama saat jam makan siang, soalnya aku sambil makan dapat sekaligus main internet di tempat kerjaku, karena saat itu pasti bosku pergi makan keluar, jadi aku bebas surfing di internet, gratis lagi.
“Yah udah-udah, gua cuma mau bilang bisa enggak elu entar ke apartment gua sore ini seabis elu pulang kerja, soalnya gua pengen ngobrol banyak sama elu nanti pas di apartment gua.”
Aku tidak habis pikir, cuma mau ngomong ini doank nih orang kenapa tidak bilang kemarin saja biar gampang pikirku.
Lalu kataku, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”
“Karena gua mau kasih surprise buat elu.” katanya dengan nada manja.
“Alah..., gitu aja pake surprise segala, yahuda-dah entar gua ke tempat elu sehabis pulang kerja, kira-kira sudah mau jam 7an, alamat elu di mana?”
Lalu Nilla bilang, “Nih catet yah, apartment XX (senor), lantai XX (sensor), pintu no. XX (sensor), jangan lupa yah entar nyasar lagi..!”
”Oke deh, tunggu aja nanti sehabis kerja, bye..!”
“Bye-bye Har...”

Setelah telepon terputus, lalu aku mulai membayangkan sekaligus penasaran apa yang akan dibicarakan, lalu pikiran nakalku mulai bekerja. Apa kira-kira bisa aku menyentuhnya nanti, tetapi langsung aku berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti ketahuan, pasti tidak enak dengan pamanku. Lalu aku pun mulai tenggelam dalam kesibukan pekerjaanku yang sangat padat ini.
Tidak lama pun waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, sudah waktunya aku pulang nih, pikirku. Lalu aku pun mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Lumayan dekat dari tempat kerjaku. Sesampainya di sana, aku pun langsung menaiki lift ke lantai yang telah diberitahukan olehnya. Begitu sampai di lantai tersebut, aku pun langsung melihatnya sedang membuka pintu ruanganya.
Langsung saja kutepuk pundaknya dari belakang.
“Hai, baru sampe yah, Yuk...”
Nilla tersentak kaget, “Wah gua kira siapa, pake tepuk-tepuk segala.”
“Elu kan kasih surprise buat gua duluan, jadi gua juga mesti kasih surprise juga buat elu.”
Lalu ia mencubit lenganku, “Nakal elu yah, awas saja nanti..!”
Kujawab saja, “Siapa takut, emang gua pikirin..!”
“Ayo masuk..., santai aja, anggap aja rumah sendiri.” katanya setelah pintunya terbuka.
Ketika aku masuk, aku langsung terpana dgn apa yang ada di dalamnya, kulihat temboknya berbeda dengan tembok rumah orang-orang pada umumnya, temboknya dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia sepertinya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat juga kalau cuma kerja sebagai sekretaris mampu menyewa apartment. Jangan-jangan dia ini merupakan cewek simpanan, pikirku.

Sambil aku berkeliling, Dina berkata, “Mau minum apa Har?”
“Apa saja bolehlah, asal bukan racun saja yang elu berikan.” kataku sambil bercanda.
“Oh, kalau gitu nanti saya campurin obat tidur saja deh.” kata Nilla sambil tertawa nakal.
Sementara ia sedang membuat minuman, mataku secara tidak sengaja tertuju pada rak DVD-nya, ketika kulihat satu persatu, ternyata lebih banyak film yang berbau porno. Aku tidak sadar ketika ia sudah kembali, tahu-tahu ia sudah memelukku, “Har, kalo elu mau nontonn, setel aja langsung..gih..!”
Aku tersentak ketika ia ngomong seperti itu, lalu kubilang, “Apa gua enggak salah denger nih..?”
Lalu katanya, “Kalo elu merasa salah denger, yah gua saja yang setelin sekarang!”
Lalu ia pun mengambil sembarang film kemudian disetelnya. Wah, bener-bener gila juga nih cewek, pikirku, apa ia tidak tahu kalau aku ini laki-laki, dan dia baru kenal sehari saja, sudah seberani ini denganku.

“kamu Duduk sini Har, jangan bengong aja, khan udah gua bilang anggap aja rumah sendiri..!” kata Nilla sambil menepuk sofa menyuruhku duduk dekat dengannya.
Kemudian aku pun duduk menuruti dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam menyaksikan adegan film panas itu, sampai akhirnya aku pun buka mulut, “Eh Nil, tadi di telpon elu bilang mau ngomong sesuatu, apa sih yang mau elu ngomongin denganku aku penasaran nih..?”
Nilla tidak langsung ngomong, tapi ia kemudian perlahan menggenggam jemariku, aku tidak menyangka akan tindakannya itu, tapi aku pun tidak berusaha untuk melepaskannya karena ku kira dia hanya main-main.


Agak lama kemudian baru ia ngomong, pelan sekali, “Elu tau Har? sejak kemarin aku bertemu denganmu, kayaknya gua merasa pengen menatap elu terus, ngobrol terus denganmu. Har, gua suka banget sama elu..”
“Tapi kan kemarin elu dikenalkan ke Paman gua, apa elu enggak merasa kalo elu itu sedang dijodohin ke Paman gua, apa elu enggak lihat reaksi Paman gua ke elu.. pada waktu itu..?” tanyaku dengan penuh heran.
“Iya, tapi guanya enggak mau dijodohin sama Paman elu..., soalnya umurnya aja beda sangat jauh, setelah gua pikir-pikir, kenapa pada hari itu bukannya elu aja yang dijodohin ke gua..? makanya pada saat itu gua terus liatin elu dan ternyata elu juga membalas tatapan gua” kata Nilla sambil nada manja.
Aku pun menjawab, “Gua sebenarnya juga suka sama elu pada saat pertama kali liat elu, tapi gua enggak enak sama Paman gua, entar dikiranya gua kurang ajar sama sama orang yang lebih tua.”

Lalu Nilla diam saja, demikian juga aku, sementara itu film semakin bertambah panas, tapi Nilla tidak berencana untuk melepaskan genggamannya. Lalu secara tidak sadar otak nakalku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang kan tidak ada orang lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, lalu ia menoleh padaku, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berkata dengan pelan, “Nilla, gua cinta sama elu.”
Ia tidak menjawab, tapi memejamkan hanya matanya. Kupikir ini saatnya, lalu pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya. Nilla pun lalu membalasnya sambil memelukku erat-erat. Tanganku tidak tinggal diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Nilla menggeliat seperti cacing kepanasan, mendesah-desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.
Kemudian aku berusaha membuka satu persatu kancing bajunya, lalu kuremas-remas Dadanya yang masih terbungkus BRA itu.
“Aaahh, buka aja BH-nya HAR...! cepat.. oohh..!”
Kucari-cari pengaitnya di belakang, lalu kubuka. Wah, ternyata lumayan juga pas waktu dibuka, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya seperti anak bayi menyusui.
“Achh... ouwww.. aduhh.. Har.. nikmat sekali permainanmu teruss..!”
Setelah bosan dengan Dadanya, lalu kubuka seluruh pakaiannya sampai bugil total. Ia juga tidak mau kalah, lalu melepaskan semua yang kukenakan. Untuk sesaat kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia menarik tanganku menuju ke kamarnya, tapi aku melepaskan pegangannya lalu menggendongnya dengan kedua tanganku.
“Aouww Har, kamu romantis sekali..!” katanya sambil kedua tangannya manja melingkari leherku.
Kemudian kuletakkan Nilla pelan-pelan di atas ranjangnya, lalu aku menindih tubuhnya dari atas, untuk sesaat mulut kami saling pagut memagut dengan mesranya sambil berpelukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat dengan lembut, Nilla mendesah-desah nikmat. Tidak lama aku bermain di dadanya, mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Nilla mulai menggeliat kegelian.


“Aduh Har, elu ngerjain gua yah, awas elu nanti..!”
“Tapi elu suka kan? Geli-geli nikmat..!”
“Udah ah, jilati aja memek gua langsung Har..!”
“Oke boss.., dengan penuh semangat aku menuruti apa yang dia katakan!”
Langsung saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menunggu lagi langsung saja kujilat-jilat klitorisnya yang sudah basah itu. Nilla menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan liar seakan-akan tidak mau kalah dengan jilatan lidahku ini.
“Oouuuhh... uggh... aaouuw uuhh ayoo... teeruss.., lebih dalemm, oohh.. nikmat sekali..!”
Agak lama juga aku bermain di sekitar klitorisnya sampai-sampai terlihat banjir di sekitar vaginanya.
“Har, masukkin aja langsung titit elu ke lobang gua, gua udah enggak tahan lagi nih..!” 
dengan segera langsung kuposisikan diriku untuk menembus kemaluannya yang basah itu, tapi ketika kutekan ujung penisku, ternyata tidak mau masuk. Dan aku baru tahu ternyata dia masih perawan.
“Nilla, apa elu tidak menyesal perawan elu gua tembus..?” izinku.
“Har.., gua rela kalau elu yang ngambil perawan gua, bagi gua di dunia ini cuma ada kita berdua aja, karena gua juga cinta banget sama elu.”
Setelah mendapatkan izinya, tanpa ragu-ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kuat, rasanya seperti ada sesuatu yang robek, mungkin itu selaput perawannya, pikirku.
“Aduh.. sakit Har, tahan dulu.. sebentar!” katanya menahan sakit.
Aku pun diam sejenak, lalu kucium mulutnya untuk meredakan rasa sakitnya. Beberapa menit kemudian ia mulai terangsang lagi, lalu tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku sehingga batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya.
“Pelan-pelan dulu ya Har, masih sakit nih..!” katanya meringis menahan sakit.
Kugoyangkan pinggulku secara pelan-pelan, lama kelamaan kulihat dia mulai terangsang lagi. Lalu gerakanku mulai kupercepat sambil menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Nilla sudah mulai menikmati permainan ini.

 


Tidak lama kemudian ia mengejang, “Har.., achh.. akuu.. mau keluarr.., teruss.. terus.., Goyaaanngg teeerrusss,,, aahh..!”
Aku pun mulai merasakan hal yang sama, “Yu, aku juga suddahh mau keluar, di dalam atau di luar..?”
“Keluarin di dalem aja Sayang.. ohh.. aahh..!” katanya sambil kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.
Tiba-tiba dia menjerit histeris, “Oohh.. sshh.. sshh.. sshh..”
Ternyata dia sudah keluar, aku terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga menyentuh ke dasar liang vaginanya.
“Sshh.. aahh..” dan, “Aagghh.. croott.. Crott..!"
Kutekan pantatku hingga batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan keluarlah spermaku ke dalam liang vaginanya.
Saat terakhir air maniku keluar, aku pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas aku dapat melihat bagaimana kejantananku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu-bulu itu sambil sesekali menyentuh klitorisnya.
“Sshh.. aahh..!”
Setelah itu kami berdua sama-sama lemas terkapar. Kami saling berpelukan selama kira-kira hampir satu jam sambil meraba-raba teteknya.
Lalu ia berkata kepadaku, “Harr, mudah-mudahan kita bisa bersatu seperti ini Har, gua sangat sayang pada elu.”
Aku hanya diam sejenak, lalu kubilang begini, “Gua juga sayang banget sama elu, tapi elu mesti janji tidak boleh meladeni paman gua kalo dia nyari-nyari elu. Sambil gue cari cara supaya pama gua tidak jadi dijodohkan sama elu.”
“Siap boss, siap laksanakan perintah..!” katanya sambil memelukku lebih erat.

Semenjak kejadian itu, kami menjadi sangat lengket, tiap malam minggu selalu kami bertingkah seperti suami istri. Tidak hanya di apartmentnya, kadang aku datang ke tempat kerjanya dan melakukannya bersama bisa di WC, tentu saja setelah semua orang sudah pulang. Kadang ia juga ke tempat kerjaku untuk minta jatahnya, katanya pamanku sudah tidak pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Nilla ditelpon, yang menjawabnya adalah mesin penjawabnya, lalu tak pernah dibalas oleh Nilla , mungkin akhirnya pamanku jadi bosan sendiri dan menyerah untuk mencarinya.

Aku dan ia semakin sering jalan seperti ke Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dengan pamanku itu. Sampai saat ini aku masih jalan bersama, tapi ketika kutanya sampai kapan mau begini, ia tidak menjawabnya. Aku ingin sekali menikahinya, tapi sepertinya ia bukan tipe cewek yang ingin punya keluarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang penting aku dapat enaknya juga. Dia juga enak aku pun enak juga, tetapi aku pun memang sudah ingin berencana untuk melamarnya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Calon Istri Pamanku Yang Penuh Nafsu



KiosVideo Semua cerita ini bermula ketika aku sedang berkunjung ke rumah pamanku pada beberapa tahun yang lalu.

Cerita ini terjadi kira-kira 3 tahun yang lalu, tapi setiap kali aku membayangkannya dan memikirkannya, seolah-olah baru saja terjadi kemarin kejadian yang sangat indah ini.
Aku mempunyai seorang paman yang belum menikah, Pamanku ini bisa dibilang memiliki banyak istri. Hal ini disebabkan karena pamanku adalah seorang pengusaha kaya tapi ia terlalu cerewet soal memilih pendamping hidupnya. Sebenarnya ia juga telah banyak diperkenalkan dengan wanita-wanita muda dan cantik-cantik oleh keluargaku, tetapi tetap saja alasannya ya bilang inilah itulah, semuanya cocok di matanya, katanya.

Sampai pada suatu saat, ketika aku kebetulan sedang bertamu ke rumahnya, pamanku datang dengan seorang wanita yang sangat cantik dan Seksi, semampai, langsing, pokoknya cantik banget de kalau menurut saya.
Kemudian kami diperkenalkan dengannya, wanita itu bernama Nilla, ternyata namanya pas sekali dengan wajahnya yang memang Nilla itu. Ia baru saja berusia 25 tahun dan saat itu ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan teman pamanku. Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Nilla memang enak untuk diajak ngobrol. Dan aku melihat sepertinya pamanku tertarik sekali denganya, karena aku tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Nilla.

Tapi tidak demikian halnya dengan Nilla. Ia malah lebih sering memandangku, terutama ketika aku berbicara, tatapannya dalam sekali, seolah-olah dapat menembus pikiranku dan membaca pikiranku. Aku mulai berpikir jangan-jangan Nilla lebih menyukaiku daripada pamanku. Tapi aku tidak dapat berharap banyak, karena bukan aku yang hendak dijodohkan melainkan pamanku. Tapi aku tetap saja memandangnya ketika ia sedang berbicara, kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang seperti gadis di iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya juga putih mulus, tapi sepertinya dadanya agak rata, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Tidak terasa hari sudah mulai malam. Kemudian sebelum mereka pulang, pamanku mentraktir mereka makan di sebuah restoran restoran yang cukup terkenal di dekat rumahnya. Ketika sampai di restorant tersebut, aku langsung pergi ke WC dulu karena aku sudah kebelet sudah mau keluar. Sebelum aku menutup pintu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu toiletnya. Dan ternyata adalah Nilla.
“Eh, ada apa Nil..?”
“Enggak kok.., gua hanya pengen kasih kartu nama gua, dan besok jangan lupa telpon gua, ada yang mau gua omongin penting, oke?”
“Kenapa enggak sekarang aja ngomonginnya?”
“Jangan, ada paman lu, pokoknya besok jangan lupa telepon saja!”
Setelah acara makan malam itu, aku pun pulang ke rumah dengan seribu satu pertanyaan di otakku, apa yang mau diomongin sama Nilla sih. Tapi aku tidak mau pikir panjang lagi, lagipula nanti aku bisa-bisa susah tidurnya karena terlalu memikirkannya, soalnya kan besok aku harus masuk kerja.
Besoknya saat istirahat makan siang, aku tak lupa untuk meneleponnya dan bertanya langsung padanya.


“Eh..., apa sih yang mau elu omongin semalam, gua penasaran banget?”
“Haha.., penasaran banget ya, Har (Pangilanku)?” 
“Iya lah, ayo dong buruan penasaran nih..!”
“Eh, slow aja donk, napsu amet sih elu.”
“Baru tahu yah, napsu gua emang setinggi ini”
“Napsu yang mana nih?” Nilla sepertinya memancingku secara perlahan.
“Napsu makan dong, gua kan belum sempat makan siang gara-gara penasaran sama yang semalem..!” 
Aku sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aku ini orang yang sangat menghargai waktu, terutama saat jam makan siang, soalnya aku sambil makan dapat sekaligus main internet di tempat kerjaku, karena saat itu pasti bosku pergi makan keluar, jadi aku bebas surfing di internet, gratis lagi.
“Yah udah-udah, gua cuma mau bilang bisa enggak elu entar ke apartment gua sore ini seabis elu pulang kerja, soalnya gua pengen ngobrol banyak sama elu nanti pas di apartment gua.”
Aku tidak habis pikir, cuma mau ngomong ini doank nih orang kenapa tidak bilang kemarin saja biar gampang pikirku.
Lalu kataku, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”
“Karena gua mau kasih surprise buat elu.” katanya dengan nada manja.
“Alah..., gitu aja pake surprise segala, yahuda-dah entar gua ke tempat elu sehabis pulang kerja, kira-kira sudah mau jam 7an, alamat elu di mana?”
Lalu Nilla bilang, “Nih catet yah, apartment XX (senor), lantai XX (sensor), pintu no. XX (sensor), jangan lupa yah entar nyasar lagi..!”
”Oke deh, tunggu aja nanti sehabis kerja, bye..!”
“Bye-bye Har...”

Setelah telepon terputus, lalu aku mulai membayangkan sekaligus penasaran apa yang akan dibicarakan, lalu pikiran nakalku mulai bekerja. Apa kira-kira bisa aku menyentuhnya nanti, tetapi langsung aku berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti ketahuan, pasti tidak enak dengan pamanku. Lalu aku pun mulai tenggelam dalam kesibukan pekerjaanku yang sangat padat ini.
Tidak lama pun waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, sudah waktunya aku pulang nih, pikirku. Lalu aku pun mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Lumayan dekat dari tempat kerjaku. Sesampainya di sana, aku pun langsung menaiki lift ke lantai yang telah diberitahukan olehnya. Begitu sampai di lantai tersebut, aku pun langsung melihatnya sedang membuka pintu ruanganya.
Langsung saja kutepuk pundaknya dari belakang.
“Hai, baru sampe yah, Yuk...”
Nilla tersentak kaget, “Wah gua kira siapa, pake tepuk-tepuk segala.”
“Elu kan kasih surprise buat gua duluan, jadi gua juga mesti kasih surprise juga buat elu.”
Lalu ia mencubit lenganku, “Nakal elu yah, awas saja nanti..!”
Kujawab saja, “Siapa takut, emang gua pikirin..!”
“Ayo masuk..., santai aja, anggap aja rumah sendiri.” katanya setelah pintunya terbuka.
Ketika aku masuk, aku langsung terpana dgn apa yang ada di dalamnya, kulihat temboknya berbeda dengan tembok rumah orang-orang pada umumnya, temboknya dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia sepertinya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat juga kalau cuma kerja sebagai sekretaris mampu menyewa apartment. Jangan-jangan dia ini merupakan cewek simpanan, pikirku.

Sambil aku berkeliling, Dina berkata, “Mau minum apa Har?”
“Apa saja bolehlah, asal bukan racun saja yang elu berikan.” kataku sambil bercanda.
“Oh, kalau gitu nanti saya campurin obat tidur saja deh.” kata Nilla sambil tertawa nakal.
Sementara ia sedang membuat minuman, mataku secara tidak sengaja tertuju pada rak DVD-nya, ketika kulihat satu persatu, ternyata lebih banyak film yang berbau porno. Aku tidak sadar ketika ia sudah kembali, tahu-tahu ia sudah memelukku, “Har, kalo elu mau nontonn, setel aja langsung..gih..!”
Aku tersentak ketika ia ngomong seperti itu, lalu kubilang, “Apa gua enggak salah denger nih..?”
Lalu katanya, “Kalo elu merasa salah denger, yah gua saja yang setelin sekarang!”
Lalu ia pun mengambil sembarang film kemudian disetelnya. Wah, bener-bener gila juga nih cewek, pikirku, apa ia tidak tahu kalau aku ini laki-laki, dan dia baru kenal sehari saja, sudah seberani ini denganku.

“kamu Duduk sini Har, jangan bengong aja, khan udah gua bilang anggap aja rumah sendiri..!” kata Nilla sambil menepuk sofa menyuruhku duduk dekat dengannya.
Kemudian aku pun duduk menuruti dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam menyaksikan adegan film panas itu, sampai akhirnya aku pun buka mulut, “Eh Nil, tadi di telpon elu bilang mau ngomong sesuatu, apa sih yang mau elu ngomongin denganku aku penasaran nih..?”
Nilla tidak langsung ngomong, tapi ia kemudian perlahan menggenggam jemariku, aku tidak menyangka akan tindakannya itu, tapi aku pun tidak berusaha untuk melepaskannya karena ku kira dia hanya main-main.


Agak lama kemudian baru ia ngomong, pelan sekali, “Elu tau Har? sejak kemarin aku bertemu denganmu, kayaknya gua merasa pengen menatap elu terus, ngobrol terus denganmu. Har, gua suka banget sama elu..”
“Tapi kan kemarin elu dikenalkan ke Paman gua, apa elu enggak merasa kalo elu itu sedang dijodohin ke Paman gua, apa elu enggak lihat reaksi Paman gua ke elu.. pada waktu itu..?” tanyaku dengan penuh heran.
“Iya, tapi guanya enggak mau dijodohin sama Paman elu..., soalnya umurnya aja beda sangat jauh, setelah gua pikir-pikir, kenapa pada hari itu bukannya elu aja yang dijodohin ke gua..? makanya pada saat itu gua terus liatin elu dan ternyata elu juga membalas tatapan gua” kata Nilla sambil nada manja.
Aku pun menjawab, “Gua sebenarnya juga suka sama elu pada saat pertama kali liat elu, tapi gua enggak enak sama Paman gua, entar dikiranya gua kurang ajar sama sama orang yang lebih tua.”

Lalu Nilla diam saja, demikian juga aku, sementara itu film semakin bertambah panas, tapi Nilla tidak berencana untuk melepaskan genggamannya. Lalu secara tidak sadar otak nakalku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang kan tidak ada orang lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, lalu ia menoleh padaku, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berkata dengan pelan, “Nilla, gua cinta sama elu.”
Ia tidak menjawab, tapi memejamkan hanya matanya. Kupikir ini saatnya, lalu pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya. Nilla pun lalu membalasnya sambil memelukku erat-erat. Tanganku tidak tinggal diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Nilla menggeliat seperti cacing kepanasan, mendesah-desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.
Kemudian aku berusaha membuka satu persatu kancing bajunya, lalu kuremas-remas Dadanya yang masih terbungkus BRA itu.
“Aaahh, buka aja BH-nya HAR...! cepat.. oohh..!”
Kucari-cari pengaitnya di belakang, lalu kubuka. Wah, ternyata lumayan juga pas waktu dibuka, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya seperti anak bayi menyusui.
“Achh... ouwww.. aduhh.. Har.. nikmat sekali permainanmu teruss..!”
Setelah bosan dengan Dadanya, lalu kubuka seluruh pakaiannya sampai bugil total. Ia juga tidak mau kalah, lalu melepaskan semua yang kukenakan. Untuk sesaat kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia menarik tanganku menuju ke kamarnya, tapi aku melepaskan pegangannya lalu menggendongnya dengan kedua tanganku.
“Aouww Har, kamu romantis sekali..!” katanya sambil kedua tangannya manja melingkari leherku.
Kemudian kuletakkan Nilla pelan-pelan di atas ranjangnya, lalu aku menindih tubuhnya dari atas, untuk sesaat mulut kami saling pagut memagut dengan mesranya sambil berpelukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat dengan lembut, Nilla mendesah-desah nikmat. Tidak lama aku bermain di dadanya, mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Nilla mulai menggeliat kegelian.


“Aduh Har, elu ngerjain gua yah, awas elu nanti..!”
“Tapi elu suka kan? Geli-geli nikmat..!”
“Udah ah, jilati aja memek gua langsung Har..!”
“Oke boss.., dengan penuh semangat aku menuruti apa yang dia katakan!”
Langsung saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menunggu lagi langsung saja kujilat-jilat klitorisnya yang sudah basah itu. Nilla menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan liar seakan-akan tidak mau kalah dengan jilatan lidahku ini.
“Oouuuhh... uggh... aaouuw uuhh ayoo... teeruss.., lebih dalemm, oohh.. nikmat sekali..!”
Agak lama juga aku bermain di sekitar klitorisnya sampai-sampai terlihat banjir di sekitar vaginanya.
“Har, masukkin aja langsung titit elu ke lobang gua, gua udah enggak tahan lagi nih..!” 
dengan segera langsung kuposisikan diriku untuk menembus kemaluannya yang basah itu, tapi ketika kutekan ujung penisku, ternyata tidak mau masuk. Dan aku baru tahu ternyata dia masih perawan.
“Nilla, apa elu tidak menyesal perawan elu gua tembus..?” izinku.
“Har.., gua rela kalau elu yang ngambil perawan gua, bagi gua di dunia ini cuma ada kita berdua aja, karena gua juga cinta banget sama elu.”
Setelah mendapatkan izinya, tanpa ragu-ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kuat, rasanya seperti ada sesuatu yang robek, mungkin itu selaput perawannya, pikirku.
“Aduh.. sakit Har, tahan dulu.. sebentar!” katanya menahan sakit.
Aku pun diam sejenak, lalu kucium mulutnya untuk meredakan rasa sakitnya. Beberapa menit kemudian ia mulai terangsang lagi, lalu tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku sehingga batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya.
“Pelan-pelan dulu ya Har, masih sakit nih..!” katanya meringis menahan sakit.
Kugoyangkan pinggulku secara pelan-pelan, lama kelamaan kulihat dia mulai terangsang lagi. Lalu gerakanku mulai kupercepat sambil menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Nilla sudah mulai menikmati permainan ini.

 


Tidak lama kemudian ia mengejang, “Har.., achh.. akuu.. mau keluarr.., teruss.. terus.., Goyaaanngg teeerrusss,,, aahh..!”
Aku pun mulai merasakan hal yang sama, “Yu, aku juga suddahh mau keluar, di dalam atau di luar..?”
“Keluarin di dalem aja Sayang.. ohh.. aahh..!” katanya sambil kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.
Tiba-tiba dia menjerit histeris, “Oohh.. sshh.. sshh.. sshh..”
Ternyata dia sudah keluar, aku terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga menyentuh ke dasar liang vaginanya.
“Sshh.. aahh..” dan, “Aagghh.. croott.. Crott..!"
Kutekan pantatku hingga batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan keluarlah spermaku ke dalam liang vaginanya.
Saat terakhir air maniku keluar, aku pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas aku dapat melihat bagaimana kejantananku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu-bulu itu sambil sesekali menyentuh klitorisnya.
“Sshh.. aahh..!”
Setelah itu kami berdua sama-sama lemas terkapar. Kami saling berpelukan selama kira-kira hampir satu jam sambil meraba-raba teteknya.
Lalu ia berkata kepadaku, “Harr, mudah-mudahan kita bisa bersatu seperti ini Har, gua sangat sayang pada elu.”
Aku hanya diam sejenak, lalu kubilang begini, “Gua juga sayang banget sama elu, tapi elu mesti janji tidak boleh meladeni paman gua kalo dia nyari-nyari elu. Sambil gue cari cara supaya pama gua tidak jadi dijodohkan sama elu.”
“Siap boss, siap laksanakan perintah..!” katanya sambil memelukku lebih erat.

Semenjak kejadian itu, kami menjadi sangat lengket, tiap malam minggu selalu kami bertingkah seperti suami istri. Tidak hanya di apartmentnya, kadang aku datang ke tempat kerjanya dan melakukannya bersama bisa di WC, tentu saja setelah semua orang sudah pulang. Kadang ia juga ke tempat kerjaku untuk minta jatahnya, katanya pamanku sudah tidak pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Nilla ditelpon, yang menjawabnya adalah mesin penjawabnya, lalu tak pernah dibalas oleh Nilla , mungkin akhirnya pamanku jadi bosan sendiri dan menyerah untuk mencarinya.

Aku dan ia semakin sering jalan seperti ke Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dengan pamanku itu. Sampai saat ini aku masih jalan bersama, tapi ketika kutanya sampai kapan mau begini, ia tidak menjawabnya. Aku ingin sekali menikahinya, tapi sepertinya ia bukan tipe cewek yang ingin punya keluarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang penting aku dapat enaknya juga. Dia juga enak aku pun enak juga, tetapi aku pun memang sudah ingin berencana untuk melamarnya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment