CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Dua Janda Yang Kesepian - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Perkenalkan nama saya Danu, umur saya 16 tahun kali ini saya ingin menceritakan tentang kehidupanku menjadi seorang PRIA dewasa.

Dalam usia itu saya sekolah di sebuah desa yang berada di pelosok sangat sulit untuk ditemukan, letaknya jauh dari keramaian dan kehidupan modern seperti sekarang ini. Rumah saya hanya terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai tanah dan letaknya sangat terpencil.

Kami juga merupakan keluarga miskin, aku yang tinggal bersama mamaku yang aku panggil emak dan nenekku yang aku panggil nek. Kami tinggal memang hanya bertiga. Emakku cerai dari Bapakku sejak aku baru lulus SD. Aku tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya, tetapi yang jelas, Bapakku pergi meninggalkan rumah dan sampai sekarang tidak tahu keadaannya dan tidak pernah kembali. Nenekku sudah menjanda sudah sekitar 6 tahun karena kakek sudah meninggal.

Aku ingat Kakek meninggal tepat waktu aku masih SD. Jadi hanya aku lah laki-laki dikeluarga kecil itu, yang harus mengerjakan semua pekerjaan laki-laki. Sementara mamaku mencari nafkah dengan menjadi petani bersama nenekku, Keduanya masih energik dan lihai dengan pekerjaannya.

Ketika umurku 16 tahun Emakku masih umur 30 tahun dan nenekku baru 43 tahun. Umur segitu kalau di kota-kota besar mah.. masih tergolong belum tua, tapi di kampung kami sudah termasuk tua. Namun mereka  berdua dikaruniai badan yang langsing dan menurut istilah sexy. Emakku yang mewarisi ibunya berbadan langsing.. Meski kedua mereka sudah memasuki usia tua menurut ukuran orang kampung, tetapi tubuh mereka tidak bergelambir lemak, alias sangat mulus dan langsing.

Wajah mereka terlihat biasa-biasa saja tidak terlalu cantik, tetapi juga tidak jelek. Biasa saja lah orang bagi orang kampung, Cumanya wajahnya bersih dari noda bekas jerawat atau apapun. Sepengetahuanku mereka juga tidak terlalu repot menjaga tubuh dan wajah mereka, karena makanan kami hanya seadanya dan mandi juga biasa tidak pernah dilulur atau ada perawatan khusus lainnnya alias natural.

Baik emak maupun nenek, dari ujung kakinya paling kecil sampai betisnya sangat langsing. Ini menjadi perhatianku setelah aku beranjak memasuki usia dewasa dan mengenal ciri-ciri wanita yang pandai memuaskan suami. Kebiasaan di desa kami adalah setiap rumah mempunyai kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terdapat tempat buang hajat yang lumayan besar. Sumur dan wc nayris tidak ada dinding penghalang. Yang ada hanya bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan sekitar 1-2 meter, lalu hanya terdapat tonggak-tonggak kayu untuk menggantung pakaian dan handuk.

Di sekitar sumur dan wc ditumbuhi oleh tanaman rumput liar yang rimbun sehingga agak terlindung. Aku sebagai laki-laki selalu bertugas menimba dan mengisi air ke ember-ember dipakai untuk mandi, cuci piring dan cuci baju dan sebagainya. Ritual mandi biasanya dilakukan pada pagi hari ketika mata hari mulai agak terang sekitar pukul 5 pagi.

Sudah sejak kecil aku terbiasa mandi bersama orang tuaku. Tanpa ada rasa malu sedikitpun, sehingga kalau kami mandi tidak memakai basahan, atau sarung. Kami mandi dengan telanjang bulat. Mungkin bedanya kalau orang kota mandinya berdiri di bawah shower atau bergayung ria sambil nyanyi atau tiduran di bath tub yang mewah. Kalau kami orang desa mandi biasanya jongkok, hanya beberapa saat saja berdiri untuk membilas semua tubuh setelah memakai shampoo dan sabun.

Di usiaku 16 aku baru-baru mulai tertarik dengan bagaimana bentuk badan lawan jenis dan mulai penasaran. Yang bisa aku lihat hanya punya emakku dan nenekku saja. Emakku badannya langsing dan kulitnya masih kencang, payudaranya tidak terlalu besar, kakinya juga langsing. Di usianya yang hampir memasuki kepala tiga, teteknya masih saja kencang membusung. Mungkin karena ukurannya tidak besar jadi buah dadanya tidak mudah untuk mengelendot turun. Aku melihat jembutnya cukup lebat, rambutnya sebahu yang selalu diikat kesamping.

Nenekku badannya yang tidak jauh dari emakku, dan tingginya juga sama sekitar 159 cm, Cuma teteknya sedikit agak turun karena faktor usia, tapi bagiku masih kelihatan indah. Jembutnya juga ditumbuhi bulu tebal. Badannya meski kelihatan lembut, tetapi perkasa karena mungkin pengaruh warna kulit yang tergolong yang sawo matang. Tetek nenek kayaknya sedikit lebih besar dari punya emakku, perutnya agak banyak tertutup berlemak, sehingga tidak serata perut emakku, yah aku pikir emang gara-gara pengaruh usia juga.

Aku yang sudah biasa melihatnya sangat kenal betul seluk-beluk kedua badan mereka karena setiap hari pagi dan sore kami selalu mandi bersama, telanjang bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika pagi hari selain mandi emakku dan nenekku mencuci pakaian dan peralatan makan semalam yang belum dicuci. Berhubung tugasku hanya menimba air maka aku tetap berada di posku sampai seluruh pekerjaan mereka selesai. Jika sore mandinya lebih cepat karena acara lain-lainnya hanya cuci piring.

Karena sekolah kami di desa memundurkan waktu masuk menjadi jam 08:30 dengan pertimbangan murid-murid umumnya memerlukan waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga di pagi hari dan memberi kesempatan kepada murid yang tinggalnya sekitar sejam jalan kaki dari sekolah.

Seingatku sejak aku sunat di umur 13 tahun, atau selepasnya lulus SD sering kali aku malu karena penisku sering berdiri kalau pagi-pagi ketika kami mandi bersama. Sebetulnya penisku sudah berdiri sejak aku bangun pagi, sampai mandi kenapa dia tidak surut-surut. Emakku sih cuek-cuek aja lihatnya, tetapi nenekku sering mengolok-oloknya, bahkan kadang-kadang menamparnya dengan pelan penisku dengan arti menyuruhnya untuk “tidur”.
Mulanya aku tidak malu, tapi sejalan bertambah umurku, penisku makin besar dan di sekitarnya mulai ditumbuhi bulu halus. Anehnya neneku yang selalu memberi perhatian lalu mengatakannya kepada emakku. Emakku lalu menimpali, “ cucumu sudah mulai gede Ma..,” katanya.

Aku yang masih sulit mengendalikan penisku, kalau sudah berdiri, dia sulit di layukan kembali entah kenapa, meski aku sirami air dingin atau menurunkannya kebawah. Yang bikin makin menegangkan, ketika nenekku kadang-kadang memegang-megang penisku seolah-olah mengukur perkembangannnya seberapa besar penisku, Emakku juga disuruh Neneku untuk merasakan perkembangan penisku. Meskipun kedua mereka adalah orang tua ku kandung, tetapi namanya dipegang tangan perempuan, ya pasti naluri kelaki-lakianku segera bangkit, yang ada malah penisku jadi makin mengeras saat dipegang-pegang.

Kadang-kadang aku berusaha mencoba untuk menghindar karena malu, tetapi selalu dicegah oleh neneku dan menyuruh aku agar tetap diam saja. Dibandingkan emak ku, nenekku lebih agresif dan liar. Di usiaku yang baru 16 tahun aku sudah memiliki tubuh seperti pria dewasa pada umumnya. Tinggiku lebih dari 160 cm dan penisku sudah kelihatan gemuk dan keras serta agak panjang sekitar 16 cm itu perkiraanku saja.

Sebenarnya di umurku yang sudah sebesar itu sudah tidak pantas bersama emak dan nenekku mandi telanjang bersama-sama. Tapi karena sudah terbiasa sejak kecil, aku tetap saja dianggap masih anak-anak dimata mereka.
Entah pantas disebut bagaimana, sialnya atau untungnya, nenekku makin lama semakin suka mempermainkan penisku hampir setiap hari dimainkannya. Kadang-kadang tangannya dilumuri sabun lalu dikocoknya penisku agak lama lalu dilanjutkan dengan menyabuniku. Emak juga kadang-kadang ikut-ikutan neneku, meski penisku sudah berlumuran sabun, dia ikut mengocok dan merabai kantong zakarku. Rasanya saat itu birahiku langsung terpacu dan rasanya nikmatnya luar biasa. Makanya aksi mereka itu aku biarkan, dan bahkan jika mandi tanpa ritual itu, aku yang selalu memintanya kepada nenekku.

Tapi yang aku heran seingatku meski sudah dikocok-kocok agak lama kok aku waktu itu tidak ejakulasi. Aku sendiri belum mengetahui cara melakukan onani, maklum anak desa, yang akses informasi ke dunia luar masih sangat terbatas sehingga aku terheran.

Entah gimana awalnya tetapi setelah seringnya aku dikocok-kocok kami jadi sering mandi saling menyabuni, aku menyabuni seluruh tubuh emakku dan nenekku. Dalam mengusap sabun tentu saja aku leluasa menjamah seluruh tubuh mereka berdua. Aku sangat senang mencengkram tetek dan memelintir pentil susu, juga senang mengusap-usap jembut dan menjepitkan jari tengahku ke sela-sela memek. Mungkin itu naluri yang menuntun semua gerakan. Sumpah, aku tidak tahu harus bagaimana memperlakukan perempuan pada waktu itu jadi aku hanya mengikuti apa yang aku rasa menyenangkan bagiku.

Namun kesannya mereka berdua senang saat aku melakukan itu, bahkan badan mereka sering dirapatkan dan memelukku, sehingga penisku yang menjulang tegang kedepan selalu menerjang bagian pantat atau bagian atas memek mereka. Nenekku  kadang-kadang menundukkan penisku agar masuk ke sela-sela pahanya sambil memelukku dengan erat. Posisi itu paling aku suka sehingga kepada emakku juga aku lakukan begitu. Mereka kelihatan tidak keberatan alias oke-oke saja dengan apa yang aku lakukan. Saya pun tidak tahu pada waktu itu bahwa berhubungan badan itu memasukkan penis ke dalam lubang memek yang kutahu hanyalah pada saat itu aku merasakan nikmat yang luar biasa.

Aku sering dipuji oleh nenekku dan itu dikatakan kepada emakku. “ anak mu ini hebat lho..., kayaknya dia kuat..”

Terus terang aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kuat. Kala itu kupikir yang dimaksud kuat adalah kemampuanku menimba air, membelah kayu bakar dan mengangkat beban-beban berat dan mengerjakan pekerjaan laki-laki seperti biasa.
nenekku dan emakku tidak kawin lagi setelah mereka berpisah dengan suaminya. Aku tidak pernah menanyakan lebih lanjut kenapa alasannya, karena aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari pada harus menerima kehadiran orang luar yang masih asing. Padahal yang naksir nenekku sangat banyak, apalagi emakku lumayan banyak menerima pinangan.

Pada suatu hari kemudian aku dipanggil emakku setelah mereka emakku dan nenekku berbicara berbisik-bisik di kamar Aku waktu itu sedang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di teras rumah. Emakku duduk di sampingku.
“Danuu.., kamu nanti malam tidur dikamar bersama nenek yaa...” kata mak.
“Ah.. gak mau makk.., kan tempat tidurnya kan sempit, kalau ditiduri bertiga,” kataku.


Tempat tidur mereka sebenarnya hanya dua kasur kapuk yang dihampar diatas plastic dan tikar di lantai. Masih ada ruang untuk menggelar tikar tambahan di sisi kiri atau kanannya. Sehingga jika ditambah satu bantal, bisalah untuk tidur bertiga, dengan catatan seorang diantaranya tidur di tikar atau bersempit-sempit.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah yang adem dan nyaman. Di desaku disebut amben bambu, tidak ada masalah tidur di amben meski tanpa kasur. Aku tidur hanya cukup dengan beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.

Aku heran serta bertanya-tanya, tetapi tidak dijawab mak atau nenek, kenapa malam itu aku harus tidur seranjang dengan mereka. “Udahlah kamu turuti saja, jadi anak yang penurut.., jangan suka terlalu banyak tanya,” nasihat nenekku.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan penuh sesak. Aku paling tidak senang jika tidur bersinggungan dengan orang lain karena panas dan susah untuk tidur. Tidak terlintas sedikitpun pikiran yang negatif.

Biasanya aku tidur sekitar jam 10 malam, tapi pada malam itu jam 8an malam aku sudah diseret masuk ke kamar mereka. Aku tidur di kasur bersama nenekku, disebelah yang lain emakku ku tidur ditikar.
Mulanya hanya tidur telentang, Tidak lama kemudian nenek tidur langsung memelukku. Terus terang aku merasa sangat risih ketika aku dipeluk. Tapi mau protes tidak berani, jadi aku hanya bisa diam saja. Nenekku mengusap-usap wajahku, lalu menuju kedadaku. Aku mengenakan kaos singlet yang  usang yang di beberapa tempat sudah ada yang bolong. Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang apa yang sedang nenekku lakukan. Aku tidak tahu kemana tujuan mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang nenekku tidur memelukku dan sambil mengusap-usap dadaku. Sejujurnya aku sangat risih, tetapi apa daya tidak berani protes karena takut kena marah. Jika diberi peluang aku akan memilih kembali tidur di luar di amben yang nyaman dan juga adem.

Tangan kanan nenekku yang tadi mengusap dadaku mulai kembali pelan-pelan merambat ke bawah ke arah sarungku. Aku terbiasa tidur dengan sarung dan di dalamnya tidak pakai celana dalam ataupun satu helaipun, karena selain untuk menghemat pemakaian juga rasanya lebih enak leluasa bergerak. Terpeganglah gundukan kemaluanku dri luar sarung, tangan nenekku langsung meremas-remas, mengakibatkan penisku langsung menjadi tegang. Bukan hanya penis yang menegang, tetapi perasaanku juga tegang, dan kaget karena khawatir terhadap kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya. Aku mulanya hanya diam saja, selain jantungku berdebar-debar, penisku jadi mengembang saat di remas-remas oleh nenekku.
Langsung ditariknya sarung keatas sehingga nampaklah bagian kemaluanku. Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Jadi pemandanganku hanya remang-remang karena gelap.

Diraihnya kemaluanku lalu digenggamnya penisku yang sudah mengeras sempurna. Nikmatnya luar biasa, tapi juga aku merasa takut, sehingga debaran jantungku makin keras. Penisku di kocok-kocoknya, sampai akhirnya aku terbuai dan rasa takutku sudah terlupakan. Tanpa sadar aku melenguh nikmat...
Entah kapan nenekku membuka bagian depan bajunya sehingga ketika kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya. Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya. Perintah itu aku turuti dan naluriku juga menuntunnya, sedap pisan rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang sedang mengeras.

Meski tidak ada rasa, tetapi memainkan puting susu lebih nikmat rasanya dari pada mengunyah permen kapas. Setelah bergantian kiri dan kanan aku diminta nenek untuk menaiki tubuhnya. Sarungku sudah dilepasnya sehingga bagian bawahku sudah telanjang bulat. Aku turuti saja perintah dari nenekku, aku merasakan bagian bawahnya juga sudah terbuka entah sejak kapan. Aku berasa gesekan jembut lebatnya yang menggerus diperutku, sambil aku menindih nikmat nenekku penisku dipegang nenekku dan diarahkan ke lubang vaginanya. Aku diminta mengangkat badanku sedikit dan ketika ujung peler sudah di depan lubang aku diminta menurunkan badanku secara pelan-pelan.

 


"Blupp..." Tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan kenikmatan dan sensasi yang kudapatkan ini. Jiwaku terasa melayang di awang-awang, aku tidak ingat dan peduli siapa yang ada di bawah tubuhku. Yang kurasakan adalah ada seorang wanita menggairahkan yang sedang kesepian. Sensasi masuknya penisku perlahan-lahan ke vagina nenekku terasa sangat nikmat. Terasa vaginanya yang licin tapi juga tidak mudah untuk memasukkan penisku. Setelah seluruh batang penisku tengggelam dilahap memeknya terasa hangatnya lubang vaginanya. Kami berdiam sebentar sambil menanam penisku dan aku mematung merasakan sensasi kenikmatan luar biasa yang belum pernah akur rasakan selama hidupku.

Sesaat kemudian nenekku agak mendorong tubuhku dan menariknya kembali. Nenekku mengendalikan gerakanku dengan memegangi melalui kedua tangannya di bongkahan pantatku. Aku tidak menyangka bisa mendapatkan kenikmatan luar biasa ini, Nenekku terdengar mendesis dan terkadan mengerang kennikmaan. Goayangankku pun makin cepat melakukan gerakan seiring dengan makin nikmatnya rasa yang menjalari mulai dari kemaluanku sampai ke seluruh tubuhku.

Seingatku aku tidak terlalu lama bergerak begitu, karena selanjutnya ada gelombang nikmat yang menjalar ditubuhku dan berujung pada kontraksi di penis dan seluruh otot di bawah. Aku merasa ingin mengeluarkan sesuatu dari lubang kencingku. Tanpa diberi komando selama proses pelepasan itu aku membenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memeknya yang agak sempit itu.

Saat keluar terasa lega setelah semua spermaku tumpah didalam vaginanya. Nenekku lalu mendorong tubuhku untuk berbaring lagi di sebelahnya dan seluruh sendi tubuhku terasa lemas sehabis melakukan orgasme. Nenekku langsung bangkit dan mengambil lap yang lembab membersihkan seluruh kemaluanku yang penuh berselemak dengan cairan sperma dan cairan dari vagina.

Penisku mulai layu secara perlahan-lahan sampai selesai proses pembersihan itu. Nenekku kulihat juga membersihkan bagian memeknya dengan lap lain. Setelah kami berdua bersih-berish, nenekku beralih pindah ke tikar lainnya, sementara ku lihat emak tidur di sebelahku.
Dia terlihat seperti nenekku pas tadi tidur memelukku dan tangannya meremas-remas penisku yang loyo. Remasan emak membuat penisku berkembang per lahan-lahan sampai akhirnya tegang mengeras kembali akibat remasannya itu. Tetapi rasanya tidak sensitif tadi yang ini beda.

Mengetahui penisku sudah menegang sempurna, emak menyuruhku menindih tubuhnya seperti yang dilakukan nenekku tadi . Tangannya menuntun penisku untuk memasuki lubang vaginanya. Aku yang sudah paham dan aku segera langsung menekan batang penisku ketika terasa penisku sudah mulai memasuki lubang hangat dan mengigit ini. “pelan-pelan.. ya, sakit,” kata emakku.
Aku pun turuti perintahnya dan pelan-pelan kutekan penisku memasuki lubang memeknya yang juga terasa basah dan sangat menjepit. Setelah semuanya masuk aku mulai menggenjot dengan pelan keatas dan kebawah. Nikmatnya yang luar biasa dan aku sampai lupa pada keadaan sekelilingku. Perhatianku hanya tertuju kepada kenikmatan yang sekarang sedang menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku terus memompa emakku sampai dia berteriak-teriak seperti orang yang kesakitan. Tapi ketika aku tanya dia mengkomandoiku agar jangan berhenti dan terus memompanya. Emakku sudah seperti orang hilang ingatan dan bukan seperti baisanya. Badannya kelojotan dan bergerak tidak karuan sampai beberapa kali penisku lepas dari memeknya. Dia dengan buru-buru penuh nafsu meraih penisku untuk dimaskukkan kembali ke lubang memeknya. Tiba-tiba dia mendesah. “ Achh....aaaah aduhhh.... aaaaah aduh..... “ kedua tangannya menarik pantatku agar semua batang penisku tenggelam sampai paling dalam. Aku pun turuti kemauannya dan penisku merasa seperti berkali-kali dipijit oleh memeknya. Aku berdiam sampai agak lama, sampai tidak ada lagi kurasakan kedutan di lubang memeknya.

Sepertinya emakku sudah siuman... ketika dia kutanya dengan penuh keheranan, apakah dia kesakitan. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum ditariknya wajahku ke wajahnya dan langsung diciuminya seluruh wajahku. Dengan posisi penisku masih tertancap dalam memeknya. Naluriku mendorong aku melakukan kembali gerakan naik turun seperti tadi, emak kembali mendesah-desah kenikmatan dan menjerit kecil. Aku pun makin semangat memompa dan birahiku makin terangsang mendengar erangan itu. Sepertinya aku akan kembali merasakan spermaku akan keluar, gerakanku makin kupercepat dan mak makin keras mengerang, sampai kuingat nenekku yang mengusap-usap rambut emakku. Aku tidak perduli apapun kecuali segera mencapai puncak kenikmatan.


Ketika puncak kenikmatan muncul kubenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mak dan ku tembakkan spermaku berkali-kali. Mak ku menarik tubuhku rapat rapat dan kurasakan penisku dijepit-jepit. Luar biasa sensasi kenikmatan yang kurasakan kali ini.
Aku berdiam sebentar sampai akhirnya penisku keluar dengan sendirinya dari lubang memek karena menyusut. Aku tergolek di samping emakku dan rasa lemas dan ngantuk yang luar biasa. Kulihat makku sudah tertidur dan mendengkur halus. Nenekku melakukan tugasnya membasuh penisku dan memek makku. Selanjutnya aku tidak ingat lagi apa yang terjadi karena aku sudah sangat lemas.

Aku terbangun karena desakan ingin kencing. Di sisi dapur rumah kami memang ada semacam wc kecil khusus untuk buang air kecil. Penisku menegang menahan desakan ingin kencing, tetapi setelah air seni dilepas, penisku masih tetap gemuk. Dia makin keras ketika aku mengingat kejadian yang baru aku alami.

Ketika aku masuk aku melihat mak dan nenekku tidur tanpa penutup di bagian bawahnya. Makku sudah terkapar, tetapi nenek ku masih manyapaku untuk tidur di sebelahnya. Aku turuti dan aku langsung tidur memeluk nenekku, tanganku langsung meremas kedua bongkahan payudara nenek yang terasa masih kenyal. Puting susunya aku pelintir-pelintir dan kadang-kadang aku usap. Nenek merintih–rintih ikmat saat aku perlakukan begitu. Dia kemudian memintaku untuk menindihnya lagi. Aku sudah semakin paham dan kuarahkan penisku ke lubang vaginanya di bagian bawah badannya. Pelan-pelan aku tekan sehingga melesak lah seluruh penisku ke dalam memeknya.

Awalnya aku menggenjot perlahan-lahan, tetapi seiring dengan erangan nenek aku jadi makin bersemangat menggenjot lebih cepat. Nenek sama seperti emakku, dia menjerit jerit nikmat dan kemudian kedua kakinya merangkul pinggangku erat sekali sampai aku tidak bisa bergerak. Kurasakan memeknya berkedut-kedut. Aku tidak bergerak sampai nenek melonggarkan kuncian kakinya. Aku kembali mengenjot nenek dengan gerakan lamabat dan cepat. Tidak lama kemudian nenek kembali mengunci tubuhku dan aku kembali merasakan penisku dijepit-jepit oleh memeknya Seingatku pada waktu itu mbah berkali-kali begitu sampai akhirnya dia memintaku berhenti, karena katanya dia sudah tidak kuat dan badannya sudah lemas.

Aku masih penasaran karena belum mencapai puncak, Kulihat emakku yang masih tergeletak mengangkang. Aku beralih menindih mak. Dia terbangun hanya dengan membuka matanya, sementara itu penisku sudah masuk kedalam memeknya. Aku tidak perduli apakah makku sudah bangun atau masih setengah tidur. Aku terus menggenjot sampai kemudian mak juga merintih-rintih. Mak tak lama kemudian juga mengunci tubuhku dengan lilitan kedua kakinya sehingga aku tidak bisa bergerak. Padahal aku merasa sudah hampir mencapai puncak kenikmatan, terasa memek makku menjepit ketat sekali berkali-kali. Ketika kuncian kakinya agak longgar aku memaksa menggenjot lagi sampai menjelang aku puncak makku kembali melilitkan kakinya dan aku dengan paksa masih menggenjot meski gerakkannya pendek. Tapi itu sudah bisa menghantar puncak knikmatanku. Aku mengejang-ngejang menyemprotkan mani ke dalam memeknya dan dia mengunci tubuhku ketat sekali dan kedua tangannya juga memelukku dengan erat sekali.

Aku tertidur sebentar dan terbangun karena terasa geli di penisku. Kulirik ke bawah ternyata nenekku tengah duduk dan mempermainkan penisku. Keadaan masih gelap. Aku mungkin baru tertidur satu jam, tetapi penisku sudah berdiri lagi. Malam itu aku bermain berkali-kali sampai hari agak terang mungkin aku sudah melepas spermaku sebanyak 6 kali.

 


Paginya kami seperti biasa mandi bersama dan saling menyabuni. Aku tidak berani bertanya banyak, karena mereka sama sekali tidak menyinggung peristiwa tadi malam. Mak ku hanya mengingatkanku agar menjaga rahasia rumah tangga. Hari itu aku tidak sekolah karena apa aku lupa, apakah karena hari minggu atau hari libur sekolah. Mak dan Nenekku setelah selesai membereskan urusan rumah tangga mereka membuat masakan sederhana, lalu kami sarapan pagi. Hari itu seingatku mak dan nenekku tidak ke sawah, tapi malah masuk kamar tidur-tiduran.

Aku yang merasa badanku lelah juga tertarik untuk gabung tidur dengan mereka. Kelanjutannya aku kembali ngembat mak dan nenekku sampai aku keluar 4 kali. Kami sempat tidur sebentar sebelum bangun karena lapar di siang hari.

Mak dan nenekku hanya mengenakan kemben sarung menyiapkan makan siang, Kami makan siang di amben tempat tidurku. Perutku terasa kenyang dan mata kembali mengantuk.
Aku memilih tidur di kasur empuk tempatnya emak dan nenekku biasa tidur. Entah berapa lama aku tertidur lalu terbangun karena terasa ada yang menggelitik di kemaluanku. Ternyata emak dan nenekku lagi-lagi memainkan penisku. Mereka berdua menimang-nimang penisku. Akhirnya sampai waktu petang aku sempat menyemprotkan dua kali spermaku.

Malamnya aku masih sempat menyemprotkan sperma setelah bergantian menindih mak dan nenekku. Selanjutnya hampir tiap malam aku harus melayani nafsu kedua orang tuaku sampai aku dewasa. Kami menyimpan rahasia itu serapat mungkin. Herannya mak dan nenekku tidak sampai hamil oleh hubungan kami. Mereka memiliki resep rahasia untuk melakukan KB.
Meskipun keluarga kami miskin, tetapi kehidupan kami sangat bahagia. Aku meneruskan sekolah sampai akhirnya bisa meraih S-1. Sejak aku kuliah aku jarang bertemu mereka, karena kau harus pindah ke kota - ke kota. Tapi setiap bulan aku mengunjungi mereka dan menghabiskan waktu akhir pekan dengan melampiaskan nafsu.

Sejak aku kuliah aku sempat merasakan beberapa memek cewek yang sebaya dan lebih muda dari ku. Harus diakui bahwa memek cewek-cewek ku masih kalah nikmat dibanding memek mak dan nenekku.
Nenekku meski usianya kemudian sudah memasuki 51 tahun dan sudah menopause, tetapi kelegitan memeknya masih luar biasa. Makku memeknya juga masih legit banget. Mungkin karena tubuh kedua orang tuaku yang kencang dan tidak gemuk, maka berpengaruh pada jepitan memeknya. Selain itu jika kuperhatikan cairan memek mereka agak kental dan lengket, berbeda dengan cewek-cewek lainnya yang lebih cair dan licin.

Sejak aku kuliah aku membawa berbagai teknik baru dalam berhubungan dengan mereka seperti mengoral dan melakukan persetubuhan dengan berbagai posisi. Mulanya mak dan Nenek risih ketika kujilati memeknya, tetapi lama-lama karena nikmat mereka jadi ketagihan untuk melakukannya sampai seterusnya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Dua Janda Yang Kesepian


KiosVideo - Perkenalkan nama saya Danu, umur saya 16 tahun kali ini saya ingin menceritakan tentang kehidupanku menjadi seorang PRIA dewasa.

Dalam usia itu saya sekolah di sebuah desa yang berada di pelosok sangat sulit untuk ditemukan, letaknya jauh dari keramaian dan kehidupan modern seperti sekarang ini. Rumah saya hanya terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai tanah dan letaknya sangat terpencil.

Kami juga merupakan keluarga miskin, aku yang tinggal bersama mamaku yang aku panggil emak dan nenekku yang aku panggil nek. Kami tinggal memang hanya bertiga. Emakku cerai dari Bapakku sejak aku baru lulus SD. Aku tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya, tetapi yang jelas, Bapakku pergi meninggalkan rumah dan sampai sekarang tidak tahu keadaannya dan tidak pernah kembali. Nenekku sudah menjanda sudah sekitar 6 tahun karena kakek sudah meninggal.

Aku ingat Kakek meninggal tepat waktu aku masih SD. Jadi hanya aku lah laki-laki dikeluarga kecil itu, yang harus mengerjakan semua pekerjaan laki-laki. Sementara mamaku mencari nafkah dengan menjadi petani bersama nenekku, Keduanya masih energik dan lihai dengan pekerjaannya.

Ketika umurku 16 tahun Emakku masih umur 30 tahun dan nenekku baru 43 tahun. Umur segitu kalau di kota-kota besar mah.. masih tergolong belum tua, tapi di kampung kami sudah termasuk tua. Namun mereka  berdua dikaruniai badan yang langsing dan menurut istilah sexy. Emakku yang mewarisi ibunya berbadan langsing.. Meski kedua mereka sudah memasuki usia tua menurut ukuran orang kampung, tetapi tubuh mereka tidak bergelambir lemak, alias sangat mulus dan langsing.

Wajah mereka terlihat biasa-biasa saja tidak terlalu cantik, tetapi juga tidak jelek. Biasa saja lah orang bagi orang kampung, Cumanya wajahnya bersih dari noda bekas jerawat atau apapun. Sepengetahuanku mereka juga tidak terlalu repot menjaga tubuh dan wajah mereka, karena makanan kami hanya seadanya dan mandi juga biasa tidak pernah dilulur atau ada perawatan khusus lainnnya alias natural.

Baik emak maupun nenek, dari ujung kakinya paling kecil sampai betisnya sangat langsing. Ini menjadi perhatianku setelah aku beranjak memasuki usia dewasa dan mengenal ciri-ciri wanita yang pandai memuaskan suami. Kebiasaan di desa kami adalah setiap rumah mempunyai kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terdapat tempat buang hajat yang lumayan besar. Sumur dan wc nayris tidak ada dinding penghalang. Yang ada hanya bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan sekitar 1-2 meter, lalu hanya terdapat tonggak-tonggak kayu untuk menggantung pakaian dan handuk.

Di sekitar sumur dan wc ditumbuhi oleh tanaman rumput liar yang rimbun sehingga agak terlindung. Aku sebagai laki-laki selalu bertugas menimba dan mengisi air ke ember-ember dipakai untuk mandi, cuci piring dan cuci baju dan sebagainya. Ritual mandi biasanya dilakukan pada pagi hari ketika mata hari mulai agak terang sekitar pukul 5 pagi.

Sudah sejak kecil aku terbiasa mandi bersama orang tuaku. Tanpa ada rasa malu sedikitpun, sehingga kalau kami mandi tidak memakai basahan, atau sarung. Kami mandi dengan telanjang bulat. Mungkin bedanya kalau orang kota mandinya berdiri di bawah shower atau bergayung ria sambil nyanyi atau tiduran di bath tub yang mewah. Kalau kami orang desa mandi biasanya jongkok, hanya beberapa saat saja berdiri untuk membilas semua tubuh setelah memakai shampoo dan sabun.

Di usiaku 16 aku baru-baru mulai tertarik dengan bagaimana bentuk badan lawan jenis dan mulai penasaran. Yang bisa aku lihat hanya punya emakku dan nenekku saja. Emakku badannya langsing dan kulitnya masih kencang, payudaranya tidak terlalu besar, kakinya juga langsing. Di usianya yang hampir memasuki kepala tiga, teteknya masih saja kencang membusung. Mungkin karena ukurannya tidak besar jadi buah dadanya tidak mudah untuk mengelendot turun. Aku melihat jembutnya cukup lebat, rambutnya sebahu yang selalu diikat kesamping.

Nenekku badannya yang tidak jauh dari emakku, dan tingginya juga sama sekitar 159 cm, Cuma teteknya sedikit agak turun karena faktor usia, tapi bagiku masih kelihatan indah. Jembutnya juga ditumbuhi bulu tebal. Badannya meski kelihatan lembut, tetapi perkasa karena mungkin pengaruh warna kulit yang tergolong yang sawo matang. Tetek nenek kayaknya sedikit lebih besar dari punya emakku, perutnya agak banyak tertutup berlemak, sehingga tidak serata perut emakku, yah aku pikir emang gara-gara pengaruh usia juga.

Aku yang sudah biasa melihatnya sangat kenal betul seluk-beluk kedua badan mereka karena setiap hari pagi dan sore kami selalu mandi bersama, telanjang bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika pagi hari selain mandi emakku dan nenekku mencuci pakaian dan peralatan makan semalam yang belum dicuci. Berhubung tugasku hanya menimba air maka aku tetap berada di posku sampai seluruh pekerjaan mereka selesai. Jika sore mandinya lebih cepat karena acara lain-lainnya hanya cuci piring.

Karena sekolah kami di desa memundurkan waktu masuk menjadi jam 08:30 dengan pertimbangan murid-murid umumnya memerlukan waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga di pagi hari dan memberi kesempatan kepada murid yang tinggalnya sekitar sejam jalan kaki dari sekolah.

Seingatku sejak aku sunat di umur 13 tahun, atau selepasnya lulus SD sering kali aku malu karena penisku sering berdiri kalau pagi-pagi ketika kami mandi bersama. Sebetulnya penisku sudah berdiri sejak aku bangun pagi, sampai mandi kenapa dia tidak surut-surut. Emakku sih cuek-cuek aja lihatnya, tetapi nenekku sering mengolok-oloknya, bahkan kadang-kadang menamparnya dengan pelan penisku dengan arti menyuruhnya untuk “tidur”.
Mulanya aku tidak malu, tapi sejalan bertambah umurku, penisku makin besar dan di sekitarnya mulai ditumbuhi bulu halus. Anehnya neneku yang selalu memberi perhatian lalu mengatakannya kepada emakku. Emakku lalu menimpali, “ cucumu sudah mulai gede Ma..,” katanya.

Aku yang masih sulit mengendalikan penisku, kalau sudah berdiri, dia sulit di layukan kembali entah kenapa, meski aku sirami air dingin atau menurunkannya kebawah. Yang bikin makin menegangkan, ketika nenekku kadang-kadang memegang-megang penisku seolah-olah mengukur perkembangannnya seberapa besar penisku, Emakku juga disuruh Neneku untuk merasakan perkembangan penisku. Meskipun kedua mereka adalah orang tua ku kandung, tetapi namanya dipegang tangan perempuan, ya pasti naluri kelaki-lakianku segera bangkit, yang ada malah penisku jadi makin mengeras saat dipegang-pegang.

Kadang-kadang aku berusaha mencoba untuk menghindar karena malu, tetapi selalu dicegah oleh neneku dan menyuruh aku agar tetap diam saja. Dibandingkan emak ku, nenekku lebih agresif dan liar. Di usiaku yang baru 16 tahun aku sudah memiliki tubuh seperti pria dewasa pada umumnya. Tinggiku lebih dari 160 cm dan penisku sudah kelihatan gemuk dan keras serta agak panjang sekitar 16 cm itu perkiraanku saja.

Sebenarnya di umurku yang sudah sebesar itu sudah tidak pantas bersama emak dan nenekku mandi telanjang bersama-sama. Tapi karena sudah terbiasa sejak kecil, aku tetap saja dianggap masih anak-anak dimata mereka.
Entah pantas disebut bagaimana, sialnya atau untungnya, nenekku makin lama semakin suka mempermainkan penisku hampir setiap hari dimainkannya. Kadang-kadang tangannya dilumuri sabun lalu dikocoknya penisku agak lama lalu dilanjutkan dengan menyabuniku. Emak juga kadang-kadang ikut-ikutan neneku, meski penisku sudah berlumuran sabun, dia ikut mengocok dan merabai kantong zakarku. Rasanya saat itu birahiku langsung terpacu dan rasanya nikmatnya luar biasa. Makanya aksi mereka itu aku biarkan, dan bahkan jika mandi tanpa ritual itu, aku yang selalu memintanya kepada nenekku.

Tapi yang aku heran seingatku meski sudah dikocok-kocok agak lama kok aku waktu itu tidak ejakulasi. Aku sendiri belum mengetahui cara melakukan onani, maklum anak desa, yang akses informasi ke dunia luar masih sangat terbatas sehingga aku terheran.

Entah gimana awalnya tetapi setelah seringnya aku dikocok-kocok kami jadi sering mandi saling menyabuni, aku menyabuni seluruh tubuh emakku dan nenekku. Dalam mengusap sabun tentu saja aku leluasa menjamah seluruh tubuh mereka berdua. Aku sangat senang mencengkram tetek dan memelintir pentil susu, juga senang mengusap-usap jembut dan menjepitkan jari tengahku ke sela-sela memek. Mungkin itu naluri yang menuntun semua gerakan. Sumpah, aku tidak tahu harus bagaimana memperlakukan perempuan pada waktu itu jadi aku hanya mengikuti apa yang aku rasa menyenangkan bagiku.

Namun kesannya mereka berdua senang saat aku melakukan itu, bahkan badan mereka sering dirapatkan dan memelukku, sehingga penisku yang menjulang tegang kedepan selalu menerjang bagian pantat atau bagian atas memek mereka. Nenekku  kadang-kadang menundukkan penisku agar masuk ke sela-sela pahanya sambil memelukku dengan erat. Posisi itu paling aku suka sehingga kepada emakku juga aku lakukan begitu. Mereka kelihatan tidak keberatan alias oke-oke saja dengan apa yang aku lakukan. Saya pun tidak tahu pada waktu itu bahwa berhubungan badan itu memasukkan penis ke dalam lubang memek yang kutahu hanyalah pada saat itu aku merasakan nikmat yang luar biasa.

Aku sering dipuji oleh nenekku dan itu dikatakan kepada emakku. “ anak mu ini hebat lho..., kayaknya dia kuat..”

Terus terang aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kuat. Kala itu kupikir yang dimaksud kuat adalah kemampuanku menimba air, membelah kayu bakar dan mengangkat beban-beban berat dan mengerjakan pekerjaan laki-laki seperti biasa.
nenekku dan emakku tidak kawin lagi setelah mereka berpisah dengan suaminya. Aku tidak pernah menanyakan lebih lanjut kenapa alasannya, karena aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari pada harus menerima kehadiran orang luar yang masih asing. Padahal yang naksir nenekku sangat banyak, apalagi emakku lumayan banyak menerima pinangan.

Pada suatu hari kemudian aku dipanggil emakku setelah mereka emakku dan nenekku berbicara berbisik-bisik di kamar Aku waktu itu sedang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di teras rumah. Emakku duduk di sampingku.
“Danuu.., kamu nanti malam tidur dikamar bersama nenek yaa...” kata mak.
“Ah.. gak mau makk.., kan tempat tidurnya kan sempit, kalau ditiduri bertiga,” kataku.


Tempat tidur mereka sebenarnya hanya dua kasur kapuk yang dihampar diatas plastic dan tikar di lantai. Masih ada ruang untuk menggelar tikar tambahan di sisi kiri atau kanannya. Sehingga jika ditambah satu bantal, bisalah untuk tidur bertiga, dengan catatan seorang diantaranya tidur di tikar atau bersempit-sempit.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah yang adem dan nyaman. Di desaku disebut amben bambu, tidak ada masalah tidur di amben meski tanpa kasur. Aku tidur hanya cukup dengan beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.

Aku heran serta bertanya-tanya, tetapi tidak dijawab mak atau nenek, kenapa malam itu aku harus tidur seranjang dengan mereka. “Udahlah kamu turuti saja, jadi anak yang penurut.., jangan suka terlalu banyak tanya,” nasihat nenekku.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan penuh sesak. Aku paling tidak senang jika tidur bersinggungan dengan orang lain karena panas dan susah untuk tidur. Tidak terlintas sedikitpun pikiran yang negatif.

Biasanya aku tidur sekitar jam 10 malam, tapi pada malam itu jam 8an malam aku sudah diseret masuk ke kamar mereka. Aku tidur di kasur bersama nenekku, disebelah yang lain emakku ku tidur ditikar.
Mulanya hanya tidur telentang, Tidak lama kemudian nenek tidur langsung memelukku. Terus terang aku merasa sangat risih ketika aku dipeluk. Tapi mau protes tidak berani, jadi aku hanya bisa diam saja. Nenekku mengusap-usap wajahku, lalu menuju kedadaku. Aku mengenakan kaos singlet yang  usang yang di beberapa tempat sudah ada yang bolong. Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang apa yang sedang nenekku lakukan. Aku tidak tahu kemana tujuan mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang nenekku tidur memelukku dan sambil mengusap-usap dadaku. Sejujurnya aku sangat risih, tetapi apa daya tidak berani protes karena takut kena marah. Jika diberi peluang aku akan memilih kembali tidur di luar di amben yang nyaman dan juga adem.

Tangan kanan nenekku yang tadi mengusap dadaku mulai kembali pelan-pelan merambat ke bawah ke arah sarungku. Aku terbiasa tidur dengan sarung dan di dalamnya tidak pakai celana dalam ataupun satu helaipun, karena selain untuk menghemat pemakaian juga rasanya lebih enak leluasa bergerak. Terpeganglah gundukan kemaluanku dri luar sarung, tangan nenekku langsung meremas-remas, mengakibatkan penisku langsung menjadi tegang. Bukan hanya penis yang menegang, tetapi perasaanku juga tegang, dan kaget karena khawatir terhadap kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya. Aku mulanya hanya diam saja, selain jantungku berdebar-debar, penisku jadi mengembang saat di remas-remas oleh nenekku.
Langsung ditariknya sarung keatas sehingga nampaklah bagian kemaluanku. Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Jadi pemandanganku hanya remang-remang karena gelap.

Diraihnya kemaluanku lalu digenggamnya penisku yang sudah mengeras sempurna. Nikmatnya luar biasa, tapi juga aku merasa takut, sehingga debaran jantungku makin keras. Penisku di kocok-kocoknya, sampai akhirnya aku terbuai dan rasa takutku sudah terlupakan. Tanpa sadar aku melenguh nikmat...
Entah kapan nenekku membuka bagian depan bajunya sehingga ketika kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya. Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya. Perintah itu aku turuti dan naluriku juga menuntunnya, sedap pisan rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang sedang mengeras.

Meski tidak ada rasa, tetapi memainkan puting susu lebih nikmat rasanya dari pada mengunyah permen kapas. Setelah bergantian kiri dan kanan aku diminta nenek untuk menaiki tubuhnya. Sarungku sudah dilepasnya sehingga bagian bawahku sudah telanjang bulat. Aku turuti saja perintah dari nenekku, aku merasakan bagian bawahnya juga sudah terbuka entah sejak kapan. Aku berasa gesekan jembut lebatnya yang menggerus diperutku, sambil aku menindih nikmat nenekku penisku dipegang nenekku dan diarahkan ke lubang vaginanya. Aku diminta mengangkat badanku sedikit dan ketika ujung peler sudah di depan lubang aku diminta menurunkan badanku secara pelan-pelan.

 


"Blupp..." Tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan kenikmatan dan sensasi yang kudapatkan ini. Jiwaku terasa melayang di awang-awang, aku tidak ingat dan peduli siapa yang ada di bawah tubuhku. Yang kurasakan adalah ada seorang wanita menggairahkan yang sedang kesepian. Sensasi masuknya penisku perlahan-lahan ke vagina nenekku terasa sangat nikmat. Terasa vaginanya yang licin tapi juga tidak mudah untuk memasukkan penisku. Setelah seluruh batang penisku tengggelam dilahap memeknya terasa hangatnya lubang vaginanya. Kami berdiam sebentar sambil menanam penisku dan aku mematung merasakan sensasi kenikmatan luar biasa yang belum pernah akur rasakan selama hidupku.

Sesaat kemudian nenekku agak mendorong tubuhku dan menariknya kembali. Nenekku mengendalikan gerakanku dengan memegangi melalui kedua tangannya di bongkahan pantatku. Aku tidak menyangka bisa mendapatkan kenikmatan luar biasa ini, Nenekku terdengar mendesis dan terkadan mengerang kennikmaan. Goayangankku pun makin cepat melakukan gerakan seiring dengan makin nikmatnya rasa yang menjalari mulai dari kemaluanku sampai ke seluruh tubuhku.

Seingatku aku tidak terlalu lama bergerak begitu, karena selanjutnya ada gelombang nikmat yang menjalar ditubuhku dan berujung pada kontraksi di penis dan seluruh otot di bawah. Aku merasa ingin mengeluarkan sesuatu dari lubang kencingku. Tanpa diberi komando selama proses pelepasan itu aku membenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memeknya yang agak sempit itu.

Saat keluar terasa lega setelah semua spermaku tumpah didalam vaginanya. Nenekku lalu mendorong tubuhku untuk berbaring lagi di sebelahnya dan seluruh sendi tubuhku terasa lemas sehabis melakukan orgasme. Nenekku langsung bangkit dan mengambil lap yang lembab membersihkan seluruh kemaluanku yang penuh berselemak dengan cairan sperma dan cairan dari vagina.

Penisku mulai layu secara perlahan-lahan sampai selesai proses pembersihan itu. Nenekku kulihat juga membersihkan bagian memeknya dengan lap lain. Setelah kami berdua bersih-berish, nenekku beralih pindah ke tikar lainnya, sementara ku lihat emak tidur di sebelahku.
Dia terlihat seperti nenekku pas tadi tidur memelukku dan tangannya meremas-remas penisku yang loyo. Remasan emak membuat penisku berkembang per lahan-lahan sampai akhirnya tegang mengeras kembali akibat remasannya itu. Tetapi rasanya tidak sensitif tadi yang ini beda.

Mengetahui penisku sudah menegang sempurna, emak menyuruhku menindih tubuhnya seperti yang dilakukan nenekku tadi . Tangannya menuntun penisku untuk memasuki lubang vaginanya. Aku yang sudah paham dan aku segera langsung menekan batang penisku ketika terasa penisku sudah mulai memasuki lubang hangat dan mengigit ini. “pelan-pelan.. ya, sakit,” kata emakku.
Aku pun turuti perintahnya dan pelan-pelan kutekan penisku memasuki lubang memeknya yang juga terasa basah dan sangat menjepit. Setelah semuanya masuk aku mulai menggenjot dengan pelan keatas dan kebawah. Nikmatnya yang luar biasa dan aku sampai lupa pada keadaan sekelilingku. Perhatianku hanya tertuju kepada kenikmatan yang sekarang sedang menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku terus memompa emakku sampai dia berteriak-teriak seperti orang yang kesakitan. Tapi ketika aku tanya dia mengkomandoiku agar jangan berhenti dan terus memompanya. Emakku sudah seperti orang hilang ingatan dan bukan seperti baisanya. Badannya kelojotan dan bergerak tidak karuan sampai beberapa kali penisku lepas dari memeknya. Dia dengan buru-buru penuh nafsu meraih penisku untuk dimaskukkan kembali ke lubang memeknya. Tiba-tiba dia mendesah. “ Achh....aaaah aduhhh.... aaaaah aduh..... “ kedua tangannya menarik pantatku agar semua batang penisku tenggelam sampai paling dalam. Aku pun turuti kemauannya dan penisku merasa seperti berkali-kali dipijit oleh memeknya. Aku berdiam sampai agak lama, sampai tidak ada lagi kurasakan kedutan di lubang memeknya.

Sepertinya emakku sudah siuman... ketika dia kutanya dengan penuh keheranan, apakah dia kesakitan. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum ditariknya wajahku ke wajahnya dan langsung diciuminya seluruh wajahku. Dengan posisi penisku masih tertancap dalam memeknya. Naluriku mendorong aku melakukan kembali gerakan naik turun seperti tadi, emak kembali mendesah-desah kenikmatan dan menjerit kecil. Aku pun makin semangat memompa dan birahiku makin terangsang mendengar erangan itu. Sepertinya aku akan kembali merasakan spermaku akan keluar, gerakanku makin kupercepat dan mak makin keras mengerang, sampai kuingat nenekku yang mengusap-usap rambut emakku. Aku tidak perduli apapun kecuali segera mencapai puncak kenikmatan.


Ketika puncak kenikmatan muncul kubenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mak dan ku tembakkan spermaku berkali-kali. Mak ku menarik tubuhku rapat rapat dan kurasakan penisku dijepit-jepit. Luar biasa sensasi kenikmatan yang kurasakan kali ini.
Aku berdiam sebentar sampai akhirnya penisku keluar dengan sendirinya dari lubang memek karena menyusut. Aku tergolek di samping emakku dan rasa lemas dan ngantuk yang luar biasa. Kulihat makku sudah tertidur dan mendengkur halus. Nenekku melakukan tugasnya membasuh penisku dan memek makku. Selanjutnya aku tidak ingat lagi apa yang terjadi karena aku sudah sangat lemas.

Aku terbangun karena desakan ingin kencing. Di sisi dapur rumah kami memang ada semacam wc kecil khusus untuk buang air kecil. Penisku menegang menahan desakan ingin kencing, tetapi setelah air seni dilepas, penisku masih tetap gemuk. Dia makin keras ketika aku mengingat kejadian yang baru aku alami.

Ketika aku masuk aku melihat mak dan nenekku tidur tanpa penutup di bagian bawahnya. Makku sudah terkapar, tetapi nenek ku masih manyapaku untuk tidur di sebelahnya. Aku turuti dan aku langsung tidur memeluk nenekku, tanganku langsung meremas kedua bongkahan payudara nenek yang terasa masih kenyal. Puting susunya aku pelintir-pelintir dan kadang-kadang aku usap. Nenek merintih–rintih ikmat saat aku perlakukan begitu. Dia kemudian memintaku untuk menindihnya lagi. Aku sudah semakin paham dan kuarahkan penisku ke lubang vaginanya di bagian bawah badannya. Pelan-pelan aku tekan sehingga melesak lah seluruh penisku ke dalam memeknya.

Awalnya aku menggenjot perlahan-lahan, tetapi seiring dengan erangan nenek aku jadi makin bersemangat menggenjot lebih cepat. Nenek sama seperti emakku, dia menjerit jerit nikmat dan kemudian kedua kakinya merangkul pinggangku erat sekali sampai aku tidak bisa bergerak. Kurasakan memeknya berkedut-kedut. Aku tidak bergerak sampai nenek melonggarkan kuncian kakinya. Aku kembali mengenjot nenek dengan gerakan lamabat dan cepat. Tidak lama kemudian nenek kembali mengunci tubuhku dan aku kembali merasakan penisku dijepit-jepit oleh memeknya Seingatku pada waktu itu mbah berkali-kali begitu sampai akhirnya dia memintaku berhenti, karena katanya dia sudah tidak kuat dan badannya sudah lemas.

Aku masih penasaran karena belum mencapai puncak, Kulihat emakku yang masih tergeletak mengangkang. Aku beralih menindih mak. Dia terbangun hanya dengan membuka matanya, sementara itu penisku sudah masuk kedalam memeknya. Aku tidak perduli apakah makku sudah bangun atau masih setengah tidur. Aku terus menggenjot sampai kemudian mak juga merintih-rintih. Mak tak lama kemudian juga mengunci tubuhku dengan lilitan kedua kakinya sehingga aku tidak bisa bergerak. Padahal aku merasa sudah hampir mencapai puncak kenikmatan, terasa memek makku menjepit ketat sekali berkali-kali. Ketika kuncian kakinya agak longgar aku memaksa menggenjot lagi sampai menjelang aku puncak makku kembali melilitkan kakinya dan aku dengan paksa masih menggenjot meski gerakkannya pendek. Tapi itu sudah bisa menghantar puncak knikmatanku. Aku mengejang-ngejang menyemprotkan mani ke dalam memeknya dan dia mengunci tubuhku ketat sekali dan kedua tangannya juga memelukku dengan erat sekali.

Aku tertidur sebentar dan terbangun karena terasa geli di penisku. Kulirik ke bawah ternyata nenekku tengah duduk dan mempermainkan penisku. Keadaan masih gelap. Aku mungkin baru tertidur satu jam, tetapi penisku sudah berdiri lagi. Malam itu aku bermain berkali-kali sampai hari agak terang mungkin aku sudah melepas spermaku sebanyak 6 kali.

 


Paginya kami seperti biasa mandi bersama dan saling menyabuni. Aku tidak berani bertanya banyak, karena mereka sama sekali tidak menyinggung peristiwa tadi malam. Mak ku hanya mengingatkanku agar menjaga rahasia rumah tangga. Hari itu aku tidak sekolah karena apa aku lupa, apakah karena hari minggu atau hari libur sekolah. Mak dan Nenekku setelah selesai membereskan urusan rumah tangga mereka membuat masakan sederhana, lalu kami sarapan pagi. Hari itu seingatku mak dan nenekku tidak ke sawah, tapi malah masuk kamar tidur-tiduran.

Aku yang merasa badanku lelah juga tertarik untuk gabung tidur dengan mereka. Kelanjutannya aku kembali ngembat mak dan nenekku sampai aku keluar 4 kali. Kami sempat tidur sebentar sebelum bangun karena lapar di siang hari.

Mak dan nenekku hanya mengenakan kemben sarung menyiapkan makan siang, Kami makan siang di amben tempat tidurku. Perutku terasa kenyang dan mata kembali mengantuk.
Aku memilih tidur di kasur empuk tempatnya emak dan nenekku biasa tidur. Entah berapa lama aku tertidur lalu terbangun karena terasa ada yang menggelitik di kemaluanku. Ternyata emak dan nenekku lagi-lagi memainkan penisku. Mereka berdua menimang-nimang penisku. Akhirnya sampai waktu petang aku sempat menyemprotkan dua kali spermaku.

Malamnya aku masih sempat menyemprotkan sperma setelah bergantian menindih mak dan nenekku. Selanjutnya hampir tiap malam aku harus melayani nafsu kedua orang tuaku sampai aku dewasa. Kami menyimpan rahasia itu serapat mungkin. Herannya mak dan nenekku tidak sampai hamil oleh hubungan kami. Mereka memiliki resep rahasia untuk melakukan KB.
Meskipun keluarga kami miskin, tetapi kehidupan kami sangat bahagia. Aku meneruskan sekolah sampai akhirnya bisa meraih S-1. Sejak aku kuliah aku jarang bertemu mereka, karena kau harus pindah ke kota - ke kota. Tapi setiap bulan aku mengunjungi mereka dan menghabiskan waktu akhir pekan dengan melampiaskan nafsu.

Sejak aku kuliah aku sempat merasakan beberapa memek cewek yang sebaya dan lebih muda dari ku. Harus diakui bahwa memek cewek-cewek ku masih kalah nikmat dibanding memek mak dan nenekku.
Nenekku meski usianya kemudian sudah memasuki 51 tahun dan sudah menopause, tetapi kelegitan memeknya masih luar biasa. Makku memeknya juga masih legit banget. Mungkin karena tubuh kedua orang tuaku yang kencang dan tidak gemuk, maka berpengaruh pada jepitan memeknya. Selain itu jika kuperhatikan cairan memek mereka agak kental dan lengket, berbeda dengan cewek-cewek lainnya yang lebih cair dan licin.

Sejak aku kuliah aku membawa berbagai teknik baru dalam berhubungan dengan mereka seperti mengoral dan melakukan persetubuhan dengan berbagai posisi. Mulanya mak dan Nenek risih ketika kujilati memeknya, tetapi lama-lama karena nikmat mereka jadi ketagihan untuk melakukannya sampai seterusnya.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment