CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Ibu Kos Yang Sudah Lama Tidak Merasakan Kontol - Kiosvideo

hi stats


Kiosvideo - Perkenalkan namaku Benu, kira kira hampir satu tahun aku ngekost di rumah bu Nita, tak sengaja juga aku bisa ngekost di rumah ibu Nita dimana awal ceritanya kita bertemu saat di pasar, saat itu Ibu Nita mendapat kejadian kecopetan saat Ibu Nita teriak hendak minta tolong, aku mendengar terikan tersebut pun langsung mengejar pencopet itu dan bisa menangkap copet tersebut dan mengembalikan dompetnya.

Semenjak kejadian itu aku sedikit bercerita ingin mancari tempat kost disitulah ibu Nita berbalik baik hati menawarkan untuk ngekost di tempatnya. Suatu hari sudah empat bulan aku ngekost di kostnya dan aku selalu telat bayar kost selama tiga bulan, mungkin juga karena ibu Nita masih teringat saat aku bantu mengembalikan dompetnya jadi beliau terlalu baik denganku sehingga tidak menagihnya secara buru-buru.

Tapi dalam hatiku tidak enak juga tapi mau gimana lagi duitku juga tidak punya jadi apabila bertemu ibu Nita aku lebih banyak menghindar unutk bertemu empat mata dengannya langsung. Sampai satu hari waktu itu masih sore jam 4.30.

Aku yang masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamar. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok tok.. tok.. tok.. lalu suara bu Nita yang sedang manggil,Ben.. Benn... kamu ada di dalem gak? Sontak aku langsung bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikirku.

Dengan cepat aku meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Nita pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Nita, Benu lagi tidur ya.. ? dan dari kamar mandi Benu menyahut sedikit teriak... lagi mandi bu.

Sesaat tidak ada sahutan darinya, tapi kemudian suara bu Nita jadi dekat, ya udah mandi aja dulu Ben, ibu tunggu kamu di sini yah.. eh ternyata masuk ke kamar, Aku tadi lupa untuk mengunci pintu. Busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie pikirku...

Sekitar sepuluh menit aku mandi di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Nita bosan menunggu, trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Nita sepertinya masih menunggu.

Akhirnya keluar juga aku dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru. Bu Nita yang tersenyum manis melihatku yang salah tingkah, lama juga kamu mandi ya Ben.. bu Nita membuka pembicaraan.

Pasti bersih banget mandinya yah... gurau bu Nita sambil sejenak melirik dadaku.. ah ...ibu bisa aja biasa aja kok bu... oia ada apa ya bu..? jawabku sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur.

Bu Nita mulai mendekat dan duduk di sampingku, eemm.... cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho... trus sama mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama kita gak ngobrol, kamu sih pergi entah kemana teruss... kata bu Nita.

Aku pun menjadi kikuk..., wahduh kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu...? Soalnya lagi seret niet jawabku dengan nada sedikit memohon. Bu Nita terlihat sedikit berpikir.... Hmmmm boleh deh, tapi jangan lama-lama ya emang uangmu di pakai untuk apa si...? terlihat bu Nita sedikit mengintrogasiku.

Hmmmm... pasti buat cewe mu ya... dia terlihat kurang senang. Ahh tidakk juga kok bu.. saya emang lagi ada keperluan..., jawabku dengan hati-hati melihat raut wajah bu Nita yang kurang senang. Laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, haha.. sama aja dengan suamiku. Keluh bu Nita dengan nada agak kesal.

Waduh nampaknya bu Nita lagi marahan nih sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula kepadaku. Dengan cepatku menjawab, tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok tiunggakannya.. shhhhh... bu Nita menghela nafas, sudahlah ben, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah ibu. Cumanya ibu lagi kesel aja sama suami ibu, dia cuma perhatiannya sama Wanita lain saja terus aku seperti gak dianggap lagi olehnya, mentang-mentang Surni sebelah jauh lebih muda dariku.



Sedikit penjelasan bahwa bu Nita ini merupakan istri pertama dari pak Mutu, sedangkan istri keduanya bernama bu Surni. Dan sekarang sepertinya pak Mutu lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi ketimbang bersama bu Nita dan tampaknya ibu Nita udah mulai kesepian... Wah kalo masalah keluarga sih.. aku kurang paham bu. Jawabku seadanya, gak kok apa-apa Ben, ibu hanya mau curhat aja sama kamu boleh kan ? suara bu Nita yang lemah.

Agak lama kami terdiam, terdengar tarikan nafas bu Nita terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nih, gawat dong pikirku. Sudah bu, Sudah bu... jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Mutu kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Surni,

Aku bermaksud menghiburnya...  Ben apakah emang ibu masih cantik menurutmu? bu Nita menatap sendu ke arahku, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya.

Uhh... ingin rasanyaku hapus air mata itu, pak Mutu emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin begitu saja, coba aku bisa berbuat sesuatu.. memaki dalam hati kenapa otak gwa tiba-tiba jadi kotor gini.

Dengan sedikit gugup aku menjawab, Iya kok bu..., ibu masih terlihat cantik, kalo Ibu masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda oleh kecantikan ibu.

Uupsss... Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa malah kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut gerutuku dalam hati. Aku pun langsung jadi panik, jangan-jangan bu Nita marah dengan ucapanku yang tadi. Tapi ternyata dugaanku salah, karena bu Nita tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi, ih kamu bisa aja kalo menghibur.

Iya juga si.., kalo masih gadis bisa aja kamu tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, abisnya aku sudah tua, wajah bu Nita berubah menjadi sedih lagi, kalo menurutmu Ben, apa ibu emang gak menarik lagi? sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatapku untuk meminta penilaian.

Jujur aja aku makin kikuk, wah aku mau ngomong apa ya bu? Takutnya nanti di bilang lancang lho tapi kalo mau jujur. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh. Bu Nita tampaknya senang dengan pujianku, hhmm.. kamu ada-ada aja saja ibu udah 42 lho.. emang kamu liat dari mananya bisa bilang begitu? Aku menjadi cengar cengir, itu penilaian laki-laki lho bu.., saya malu bilangin nya.

Bu Nita kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke tempatku sambil berkata, ah... kamu gak perlu malu..
Bilang ajah Nafasku terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Nita, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Aku segera mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Nita mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh aku sudah memperhatikan bahwa bu Nita memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya.

Hmmm ... kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandanganku beralih ke bagian depan. Ah.. terlihat belahan dada yang hmmm.. sepertinya buah dada itu lumayan besar sektiar 34b.

Sentuhan lembut tangan bu Nita di pahaku yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkanku.

Dengan penuh selidik bu Nita bertanya,lho kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an AKu yang sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Nita, hmmm eeemm.. ibu benar-benar masih cantik sihhh... makanya aku terbengong...

Kulitnya masih kencang masih sangat menggodat, tidak ada jawaban dari mulut bu Nita, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Nita makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah.

Aku pun seakan terbawa oleh suasana, dan tanpa komando lagi, aku langsung menyambut bibir merah bu Nita, desahan nafas mulai terasa berat hhhhhhhh... ciuman terus bertambah dahsyat, bu Nita menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulutku dengna penuh nafsu, dan dibalas dengan lilitan lidahku sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

Dengan naluri yang alami, tanganku merambat naik ke bahu bu Nita, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Aku meraba bahu bu Nita sampai ke lehernya.

Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut aku pun meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. shhhhhhhhht... nafas bu Nita mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak.

Jemari lentik bu Nita tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dadaku melingkari pinggang, mencari lipatan handuk, hendak membukanya Uupps... Aku tersentak dan sadar... upshhh... maaf bu maaf bu saya terbawa suasana.

Aku tertunduk tak berani menatap bu Nita sambil merapikan kembali handukku, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Nita. Terlihat bu Nita pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka.


Pemandangan yang menakjubkan... napa Ben kita sudah memulainya dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang sudah lama terpendam kamu harus menyelesaikannya Benu.. tatapan bu Nita terlihat semakin sendu hmmm.. apakah ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu...? bisa gawat dong pak Mutu juga bisa marah besar bu.. tanyaku dengan penasaran.

Tanpa menjawab bu Nita langsung bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Aku pun terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Nita.

Kemudian dengan tenang bu Nita melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangiku itu nampak gerakan bokong bu Nita sedang naik turun, dan perasaanku semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Nita segera berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur.

Aku tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Nita. Sampai bu Nita berdiri dekat di depanku dan berkata, kamarnya udah di kunci Ben, dan gak ada yang akan mengganggu kita lagi. Aku yang tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan.

Bu Nita kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Lalu aku segera mendekat dan duduk di samping bu Nita hmmm... nampak payudara itu masih montok dan juga sangat kenyal, inginku langsung melahap dengan mulut dan segera menjilatnya.

Bu Nita yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leheku, menarik wajah dan langsung melumat bibirku dengan penuh nafsu yang membara. Aku pun membalasnya dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Nita, tanganku dengan sigap meremas payudara montok milik bu Nita.

Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Nita mendorong lembut badanku, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang masih memburu.

AKu mendorong lembut tubuh bu Nita, lalu berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang.

Tanpa menunggu lagi aku langsung melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting.

Dengan gemas aku menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya agghhHH. Ahh..aahhh.... suara bu Nita mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Aku pun melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Nita yang menggelinjang kegelian.

AKu menghentikan sebentar penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Nita, dan segera melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Nita langsung mengangkat kedua kakinya ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata oleh bulu-bulu hitma yang rapi.



Aku tanpa ragu langsung mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Nita yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan putih tersebut, tanpa menunggu lama lagi aku langsung menyapu cairan putih itu dengan lidahku dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Nita dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Nita mengerang kenikmatan, Ahh...ghh.... HmmMMM.. hhh Ben.. Ugh... desahan birahi yang memuncak dari bu Nita membuatku semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

Setelah beberapa menit aku mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Nita sudah tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya  yang kesepian itu, Ben, ayo sayang masukkin punya kamu,... Ben hhhhmmmm... Suara bu Nita ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

Mendengar suara bu Nita dengan tenang Aku menyudahi penjelajahan lidah dan langsung bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap.

Melihat hal tersebut Bu Nita semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Aku tanpa ragu langsung naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Nita yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluanku dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

Dengan sekali dorongan penisku amblas sampai setengahnya. Aku menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Nita, Ah.... Ayyyooo.. Terrrusss.. Beenn....!

Kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Aku segera memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

Aku bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Nita mencengkam punggungku, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh.

AH.. Ahh.. Ah.. AGgh...  tak hentinya desahan meluncur dari bibirku. Sesaat aku menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Nita langsung memelukku dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya.

Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Nita kembali memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan.

Sesekali bu Nita memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakarku lebih dalam. Aku yang melihatnya tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Nita yang sudah tegang itu.

 



Suasana makin membara dengan keringat yang bercucuran, sampai saat bu Nita seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap aku membalikkan posisi, bu Nita kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan gerakan penisku meneruskan pertempuran.

BENN..! AghhH.. Ah.... Ahhgg.. AYoo.. terrrusss Ben... Ibuu.. Suddahh... Maauu.. Keelluaar... Beenn..!

Setelah teriakan tertahan bu Nita mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Aku merasakan vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.

Aku menikmatinya dengan memutar-mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Aku kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maniku di atas perut bu Nita.

Yang dengan cepat meraih penisku dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Nita mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Aku membaringkan tubuhnya disamping bu Nita.

Kami terdiam untuk beberapa saat. Bu Nita bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas tubuhku makasih ya sayang... ini merupakan rahasia kita berdua I love u.. Ben.. bisik mesra bu Nita di telingaku.

Hmmm.. baik bu.. belum sempat Aku menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Nita menempel di bibirnya, kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu.. dong.. ucap bu Nita dengan manja. Iya.. sayang... Balasku sambil mengecupnya, senyum manis merekah di bibir seksi bu Nita.

Setelah itu dengan cepat aku dan bu Nita merapikan pakaian kami, dan sebelum meninggalkan ruanganku, bu Nita berbisik mesra, Sayang entar malem suamiku gak ada di rumah loo... aku tunggu kamu di kamar ya berapa ronde pun dilakoni buat kamu sayang. Sambil berpelukan mesra, aku pun menyanggupi tantangan dari bu Nita.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Ibu Kos Yang Sudah Lama Tidak Merasakan Kontol


Kiosvideo - Perkenalkan namaku Benu, kira kira hampir satu tahun aku ngekost di rumah bu Nita, tak sengaja juga aku bisa ngekost di rumah ibu Nita dimana awal ceritanya kita bertemu saat di pasar, saat itu Ibu Nita mendapat kejadian kecopetan saat Ibu Nita teriak hendak minta tolong, aku mendengar terikan tersebut pun langsung mengejar pencopet itu dan bisa menangkap copet tersebut dan mengembalikan dompetnya.

Semenjak kejadian itu aku sedikit bercerita ingin mancari tempat kost disitulah ibu Nita berbalik baik hati menawarkan untuk ngekost di tempatnya. Suatu hari sudah empat bulan aku ngekost di kostnya dan aku selalu telat bayar kost selama tiga bulan, mungkin juga karena ibu Nita masih teringat saat aku bantu mengembalikan dompetnya jadi beliau terlalu baik denganku sehingga tidak menagihnya secara buru-buru.

Tapi dalam hatiku tidak enak juga tapi mau gimana lagi duitku juga tidak punya jadi apabila bertemu ibu Nita aku lebih banyak menghindar unutk bertemu empat mata dengannya langsung. Sampai satu hari waktu itu masih sore jam 4.30.

Aku yang masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamar. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok tok.. tok.. tok.. lalu suara bu Nita yang sedang manggil,Ben.. Benn... kamu ada di dalem gak? Sontak aku langsung bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikirku.

Dengan cepat aku meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Nita pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Nita, Benu lagi tidur ya.. ? dan dari kamar mandi Benu menyahut sedikit teriak... lagi mandi bu.

Sesaat tidak ada sahutan darinya, tapi kemudian suara bu Nita jadi dekat, ya udah mandi aja dulu Ben, ibu tunggu kamu di sini yah.. eh ternyata masuk ke kamar, Aku tadi lupa untuk mengunci pintu. Busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie pikirku...

Sekitar sepuluh menit aku mandi di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Nita bosan menunggu, trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Nita sepertinya masih menunggu.

Akhirnya keluar juga aku dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru. Bu Nita yang tersenyum manis melihatku yang salah tingkah, lama juga kamu mandi ya Ben.. bu Nita membuka pembicaraan.

Pasti bersih banget mandinya yah... gurau bu Nita sambil sejenak melirik dadaku.. ah ...ibu bisa aja biasa aja kok bu... oia ada apa ya bu..? jawabku sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur.

Bu Nita mulai mendekat dan duduk di sampingku, eemm.... cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho... trus sama mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama kita gak ngobrol, kamu sih pergi entah kemana teruss... kata bu Nita.

Aku pun menjadi kikuk..., wahduh kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu...? Soalnya lagi seret niet jawabku dengan nada sedikit memohon. Bu Nita terlihat sedikit berpikir.... Hmmmm boleh deh, tapi jangan lama-lama ya emang uangmu di pakai untuk apa si...? terlihat bu Nita sedikit mengintrogasiku.

Hmmmm... pasti buat cewe mu ya... dia terlihat kurang senang. Ahh tidakk juga kok bu.. saya emang lagi ada keperluan..., jawabku dengan hati-hati melihat raut wajah bu Nita yang kurang senang. Laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, haha.. sama aja dengan suamiku. Keluh bu Nita dengan nada agak kesal.

Waduh nampaknya bu Nita lagi marahan nih sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula kepadaku. Dengan cepatku menjawab, tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok tiunggakannya.. shhhhh... bu Nita menghela nafas, sudahlah ben, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah ibu. Cumanya ibu lagi kesel aja sama suami ibu, dia cuma perhatiannya sama Wanita lain saja terus aku seperti gak dianggap lagi olehnya, mentang-mentang Surni sebelah jauh lebih muda dariku.



Sedikit penjelasan bahwa bu Nita ini merupakan istri pertama dari pak Mutu, sedangkan istri keduanya bernama bu Surni. Dan sekarang sepertinya pak Mutu lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi ketimbang bersama bu Nita dan tampaknya ibu Nita udah mulai kesepian... Wah kalo masalah keluarga sih.. aku kurang paham bu. Jawabku seadanya, gak kok apa-apa Ben, ibu hanya mau curhat aja sama kamu boleh kan ? suara bu Nita yang lemah.

Agak lama kami terdiam, terdengar tarikan nafas bu Nita terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nih, gawat dong pikirku. Sudah bu, Sudah bu... jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Mutu kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Surni,

Aku bermaksud menghiburnya...  Ben apakah emang ibu masih cantik menurutmu? bu Nita menatap sendu ke arahku, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya.

Uhh... ingin rasanyaku hapus air mata itu, pak Mutu emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin begitu saja, coba aku bisa berbuat sesuatu.. memaki dalam hati kenapa otak gwa tiba-tiba jadi kotor gini.

Dengan sedikit gugup aku menjawab, Iya kok bu..., ibu masih terlihat cantik, kalo Ibu masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda oleh kecantikan ibu.

Uupsss... Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa malah kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut gerutuku dalam hati. Aku pun langsung jadi panik, jangan-jangan bu Nita marah dengan ucapanku yang tadi. Tapi ternyata dugaanku salah, karena bu Nita tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi, ih kamu bisa aja kalo menghibur.

Iya juga si.., kalo masih gadis bisa aja kamu tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, abisnya aku sudah tua, wajah bu Nita berubah menjadi sedih lagi, kalo menurutmu Ben, apa ibu emang gak menarik lagi? sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatapku untuk meminta penilaian.

Jujur aja aku makin kikuk, wah aku mau ngomong apa ya bu? Takutnya nanti di bilang lancang lho tapi kalo mau jujur. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh. Bu Nita tampaknya senang dengan pujianku, hhmm.. kamu ada-ada aja saja ibu udah 42 lho.. emang kamu liat dari mananya bisa bilang begitu? Aku menjadi cengar cengir, itu penilaian laki-laki lho bu.., saya malu bilangin nya.

Bu Nita kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke tempatku sambil berkata, ah... kamu gak perlu malu..
Bilang ajah Nafasku terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Nita, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Aku segera mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Nita mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh aku sudah memperhatikan bahwa bu Nita memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya.

Hmmm ... kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandanganku beralih ke bagian depan. Ah.. terlihat belahan dada yang hmmm.. sepertinya buah dada itu lumayan besar sektiar 34b.

Sentuhan lembut tangan bu Nita di pahaku yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkanku.

Dengan penuh selidik bu Nita bertanya,lho kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an AKu yang sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Nita, hmmm eeemm.. ibu benar-benar masih cantik sihhh... makanya aku terbengong...

Kulitnya masih kencang masih sangat menggodat, tidak ada jawaban dari mulut bu Nita, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Nita makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah.

Aku pun seakan terbawa oleh suasana, dan tanpa komando lagi, aku langsung menyambut bibir merah bu Nita, desahan nafas mulai terasa berat hhhhhhhh... ciuman terus bertambah dahsyat, bu Nita menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulutku dengna penuh nafsu, dan dibalas dengan lilitan lidahku sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

Dengan naluri yang alami, tanganku merambat naik ke bahu bu Nita, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Aku meraba bahu bu Nita sampai ke lehernya.

Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut aku pun meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. shhhhhhhhht... nafas bu Nita mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak.

Jemari lentik bu Nita tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dadaku melingkari pinggang, mencari lipatan handuk, hendak membukanya Uupps... Aku tersentak dan sadar... upshhh... maaf bu maaf bu saya terbawa suasana.

Aku tertunduk tak berani menatap bu Nita sambil merapikan kembali handukku, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Nita. Terlihat bu Nita pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka.


Pemandangan yang menakjubkan... napa Ben kita sudah memulainya dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang sudah lama terpendam kamu harus menyelesaikannya Benu.. tatapan bu Nita terlihat semakin sendu hmmm.. apakah ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu...? bisa gawat dong pak Mutu juga bisa marah besar bu.. tanyaku dengan penasaran.

Tanpa menjawab bu Nita langsung bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Aku pun terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Nita.

Kemudian dengan tenang bu Nita melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangiku itu nampak gerakan bokong bu Nita sedang naik turun, dan perasaanku semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Nita segera berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur.

Aku tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Nita. Sampai bu Nita berdiri dekat di depanku dan berkata, kamarnya udah di kunci Ben, dan gak ada yang akan mengganggu kita lagi. Aku yang tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan.

Bu Nita kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Lalu aku segera mendekat dan duduk di samping bu Nita hmmm... nampak payudara itu masih montok dan juga sangat kenyal, inginku langsung melahap dengan mulut dan segera menjilatnya.

Bu Nita yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leheku, menarik wajah dan langsung melumat bibirku dengan penuh nafsu yang membara. Aku pun membalasnya dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Nita, tanganku dengan sigap meremas payudara montok milik bu Nita.

Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Nita mendorong lembut badanku, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang masih memburu.

AKu mendorong lembut tubuh bu Nita, lalu berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang.

Tanpa menunggu lagi aku langsung melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting.

Dengan gemas aku menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya agghhHH. Ahh..aahhh.... suara bu Nita mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Aku pun melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Nita yang menggelinjang kegelian.

AKu menghentikan sebentar penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Nita, dan segera melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Nita langsung mengangkat kedua kakinya ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata oleh bulu-bulu hitma yang rapi.



Aku tanpa ragu langsung mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Nita yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan putih tersebut, tanpa menunggu lama lagi aku langsung menyapu cairan putih itu dengan lidahku dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Nita dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Nita mengerang kenikmatan, Ahh...ghh.... HmmMMM.. hhh Ben.. Ugh... desahan birahi yang memuncak dari bu Nita membuatku semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

Setelah beberapa menit aku mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Nita sudah tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya  yang kesepian itu, Ben, ayo sayang masukkin punya kamu,... Ben hhhhmmmm... Suara bu Nita ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

Mendengar suara bu Nita dengan tenang Aku menyudahi penjelajahan lidah dan langsung bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap.

Melihat hal tersebut Bu Nita semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Aku tanpa ragu langsung naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Nita yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluanku dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

Dengan sekali dorongan penisku amblas sampai setengahnya. Aku menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Nita, Ah.... Ayyyooo.. Terrrusss.. Beenn....!

Kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Aku segera memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

Aku bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Nita mencengkam punggungku, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh.

AH.. Ahh.. Ah.. AGgh...  tak hentinya desahan meluncur dari bibirku. Sesaat aku menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Nita langsung memelukku dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya.

Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Nita kembali memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan.

Sesekali bu Nita memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakarku lebih dalam. Aku yang melihatnya tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Nita yang sudah tegang itu.

 



Suasana makin membara dengan keringat yang bercucuran, sampai saat bu Nita seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap aku membalikkan posisi, bu Nita kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan gerakan penisku meneruskan pertempuran.

BENN..! AghhH.. Ah.... Ahhgg.. AYoo.. terrrusss Ben... Ibuu.. Suddahh... Maauu.. Keelluaar... Beenn..!

Setelah teriakan tertahan bu Nita mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Aku merasakan vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.

Aku menikmatinya dengan memutar-mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Aku kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maniku di atas perut bu Nita.

Yang dengan cepat meraih penisku dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Nita mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Aku membaringkan tubuhnya disamping bu Nita.

Kami terdiam untuk beberapa saat. Bu Nita bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas tubuhku makasih ya sayang... ini merupakan rahasia kita berdua I love u.. Ben.. bisik mesra bu Nita di telingaku.

Hmmm.. baik bu.. belum sempat Aku menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Nita menempel di bibirnya, kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu.. dong.. ucap bu Nita dengan manja. Iya.. sayang... Balasku sambil mengecupnya, senyum manis merekah di bibir seksi bu Nita.

Setelah itu dengan cepat aku dan bu Nita merapikan pakaian kami, dan sebelum meninggalkan ruanganku, bu Nita berbisik mesra, Sayang entar malem suamiku gak ada di rumah loo... aku tunggu kamu di kamar ya berapa ronde pun dilakoni buat kamu sayang. Sambil berpelukan mesra, aku pun menyanggupi tantangan dari bu Nita.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment