CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Nafsu ABG Yang Gila Ngentot - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Perkenalakan Namaku Budi, aku seorang siswa Kelas 2 di SMU yang cukup top di kota Bandung. Pada hari itu aku ingin mengambil tugas dari sekolah di rumah salah satu teman cewekku, sebut saja Silvi. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat Silvi. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Dinda, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya seperti anak Kulihaan, kepadahal dia baru kelas 2 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih agak besar untuk dipandang. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu yang tampak sangat sempit.

Kami saling pandang, yang aku fokus hanya mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu aduhai. Wah serasa seperti di surga kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi aku rasa cewek ini juga menanam perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Silvi, aku pun langsung berpamitan kepada Silvi tetapi dia menahanku dan memintaku mengantarkan Dinda pulang karena rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa mobil milik bapakku.

Akhirnya setelah aku berpikir-pikir aku pun langsung menyetujuinya hitung-hitung ini langkah pertama sekaligus kesempatan untuk mendekati Dinda. Setelah beberapa lama terdiam aku mengawali pembicaraan dengan menanyakan, “Apa tidak ada yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu marah lagi..?” pancingku. Dia hanya tertawa kecil dan berkata, “Aku belum punya pacar kok kak...” Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia nurut langsung memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai menjelajahi pahanya, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari pahanya, “Awas Budi...!! liat-liat jalan dong..! entar kecelakan lagi..” dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, “Oh iya sorry, habis enak sih, hehehe...” candaku, lalu dia tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan langit sudah mulai malam, “Loh kok ke sini sih?” protes Dinda. Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,
“Boleh tidak aku cium bibir kamu... Dinda?”
Dengan nada malu dia menjawab,
“Ahh tidak tau ahh kak.., aku belum pernah gituan.”
“Ah tenang aja, nanti aku ajari,” seraya langsung melumat bibir mungilnya.




Dia pun mulai menikmatinya secara perlahan, setelah hampir lima menit kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk Dinda sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah mulai agak besar, dia pun mendesah kenikmatan, “Ahh.., pelan-pelan ya kak.. sakit nih..” Kelamaan dia pun mulai menyukai cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP serta BHnya.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan “BH” yang berwarna putih itu langsung menambah gairahku dan langsung memindahkan mulutku ke dadanya.
“Lepas dulu dong... BH-nya, nanti basah gimana?” desahnya kecil.
“Ah tidak papa kok, entar lagi,” sambil mulai membuka pengait BH-nya, dan mulai melumat puting payudara Dinda yang sekarang sudah tegang. Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih yang masih bergambar. Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Dinda hanya menutup mata dan mengulum bibirnya merasakan kenikmatan yang baru dia rasakan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus tipis. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan rasa nyeri. Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya, “Gantian dong... masa aku saja..” kataku. Dia hanya menurut dan sekarang aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celanaku dan melorotkannya. Lalu aku menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi sudah tegang.


Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang kemaluanku.
“Kalau digini’in enak tidak kakk?” tanyanya dengan polos.
“Oh iya enak, enak banget malah, tapi kamu mau nggak yang lebih enak?” tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. “Hisap aja.. Din enak kok kayak hisap eskrim,” dia pun menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar aku menyuruhnya berhenti, dan Dinda pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati “oral seks”. Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Dinda yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Dinda yang sudah agak basah oleh carirannya, lalu Dinda bertanya, “Mau dimasukin tuh Budi??, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?” tanyanya benar-benar polos. “Ah tenang aja, pasti bisa deh lama-kelamaan kamu tahan saja ya....,” sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet akibat batang kemaluanku yang gede.

Secara perlahan dan hati-hati aku pun mulai memasukan batang kemaluanku, “Aahhh.. ahhh.. enak Kak..,” desahnya dan aku berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, “Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Kak.. agakk ceepett....” Setelah 20 menit memompa akhirnya air maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia agak sedikit tersentak ketika aku tiba-tiba mengeluarkan batang kemaluanku dari memeknya.
“Kok dikeluarin, Kak?” tanyanya polos.
“Kan belum keluar?” tanyanya lagi.
“Entar kamu hamilkan Din.. bahaya, udah nih ada permainan baru,” hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
“Ngapain sih Kak?” tanya Dinda.
“Udah kamu tunggu aja!” jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku menusuk pantat yang montok itu.
“Aahh.. ahh.. sakit Kakk... apaan sih itu..?”
“Ah, tidak kok, entar juga enak lama-lama.”
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Dinda kali ini lebih besar sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

“Sabar yah Sayang.... entar juga enak!” hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok itu. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas belahan pantatnya. Dinda mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. “Ahh terus.. Kak.. Sekarang.. udah enakkan kok..” ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku sudah mau keluar lagi. “Keluarin di dalam aja yah Dinda?” tanyaku. Lalu dia menjawab, “Ah tidak usah biar aku isep aja kak, habis enak sih,” jawabnya. Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan langsung dilumat oleh Dinda langsung dihisapnya dengan rakus, “Crot.. Crooott...” maniku keluar di dalam mulut Dinda dan dalam sekejap dia langsung menelannya. Gila bener perasaanku seperti sudah terbang ke surga kenikmatan.
“Gimana rasanya?” tanyaku.
“Ahh.. asin tapi enak juga sih,” sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya yang mungil itu.

 


Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam mobilku sudah pukul 20:00. Tidak terasa kami bersetubuh selama 3 jam. Lalu aku mengantarkan Dinda ke rumahnya. Dinda tidak turun tepat di depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak aku belai dulu sebelum dia turun. “Kapan-kapan main lagi yach Kakk..!” ucapnya sebelum turun dari mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melakukan hal itu kapan saja dimana saja, karena tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Dinda pernah melakukan masturbasi dengan terong di toilet sekolah. Untungnya pada saat itu aku melihat dia sedang masturbasi sehingga aku dapat memberinya “jatah terong asli kepadanya” saat di toilet, sampai akhirnya kami menikah dan memiliki seorang anak.

TAMAT
KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Nafsu ABG Yang Gila Ngentot


KiosVideo - Perkenalakan Namaku Budi, aku seorang siswa Kelas 2 di SMU yang cukup top di kota Bandung. Pada hari itu aku ingin mengambil tugas dari sekolah di rumah salah satu teman cewekku, sebut saja Silvi. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat Silvi. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Dinda, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya seperti anak Kulihaan, kepadahal dia baru kelas 2 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih agak besar untuk dipandang. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu yang tampak sangat sempit.

Kami saling pandang, yang aku fokus hanya mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu aduhai. Wah serasa seperti di surga kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi aku rasa cewek ini juga menanam perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Silvi, aku pun langsung berpamitan kepada Silvi tetapi dia menahanku dan memintaku mengantarkan Dinda pulang karena rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa mobil milik bapakku.

Akhirnya setelah aku berpikir-pikir aku pun langsung menyetujuinya hitung-hitung ini langkah pertama sekaligus kesempatan untuk mendekati Dinda. Setelah beberapa lama terdiam aku mengawali pembicaraan dengan menanyakan, “Apa tidak ada yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu marah lagi..?” pancingku. Dia hanya tertawa kecil dan berkata, “Aku belum punya pacar kok kak...” Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia nurut langsung memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai menjelajahi pahanya, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari pahanya, “Awas Budi...!! liat-liat jalan dong..! entar kecelakan lagi..” dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, “Oh iya sorry, habis enak sih, hehehe...” candaku, lalu dia tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan langit sudah mulai malam, “Loh kok ke sini sih?” protes Dinda. Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,
“Boleh tidak aku cium bibir kamu... Dinda?”
Dengan nada malu dia menjawab,
“Ahh tidak tau ahh kak.., aku belum pernah gituan.”
“Ah tenang aja, nanti aku ajari,” seraya langsung melumat bibir mungilnya.




Dia pun mulai menikmatinya secara perlahan, setelah hampir lima menit kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk Dinda sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah mulai agak besar, dia pun mendesah kenikmatan, “Ahh.., pelan-pelan ya kak.. sakit nih..” Kelamaan dia pun mulai menyukai cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP serta BHnya.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan “BH” yang berwarna putih itu langsung menambah gairahku dan langsung memindahkan mulutku ke dadanya.
“Lepas dulu dong... BH-nya, nanti basah gimana?” desahnya kecil.
“Ah tidak papa kok, entar lagi,” sambil mulai membuka pengait BH-nya, dan mulai melumat puting payudara Dinda yang sekarang sudah tegang. Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih yang masih bergambar. Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Dinda hanya menutup mata dan mengulum bibirnya merasakan kenikmatan yang baru dia rasakan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus tipis. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan rasa nyeri. Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya, “Gantian dong... masa aku saja..” kataku. Dia hanya menurut dan sekarang aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celanaku dan melorotkannya. Lalu aku menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi sudah tegang.


Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang kemaluanku.
“Kalau digini’in enak tidak kakk?” tanyanya dengan polos.
“Oh iya enak, enak banget malah, tapi kamu mau nggak yang lebih enak?” tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. “Hisap aja.. Din enak kok kayak hisap eskrim,” dia pun menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar aku menyuruhnya berhenti, dan Dinda pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati “oral seks”. Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Dinda yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Dinda yang sudah agak basah oleh carirannya, lalu Dinda bertanya, “Mau dimasukin tuh Budi??, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?” tanyanya benar-benar polos. “Ah tenang aja, pasti bisa deh lama-kelamaan kamu tahan saja ya....,” sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet akibat batang kemaluanku yang gede.

Secara perlahan dan hati-hati aku pun mulai memasukan batang kemaluanku, “Aahhh.. ahhh.. enak Kak..,” desahnya dan aku berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, “Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Kak.. agakk ceepett....” Setelah 20 menit memompa akhirnya air maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia agak sedikit tersentak ketika aku tiba-tiba mengeluarkan batang kemaluanku dari memeknya.
“Kok dikeluarin, Kak?” tanyanya polos.
“Kan belum keluar?” tanyanya lagi.
“Entar kamu hamilkan Din.. bahaya, udah nih ada permainan baru,” hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
“Ngapain sih Kak?” tanya Dinda.
“Udah kamu tunggu aja!” jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku menusuk pantat yang montok itu.
“Aahh.. ahh.. sakit Kakk... apaan sih itu..?”
“Ah, tidak kok, entar juga enak lama-lama.”
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Dinda kali ini lebih besar sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

“Sabar yah Sayang.... entar juga enak!” hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok itu. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas belahan pantatnya. Dinda mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. “Ahh terus.. Kak.. Sekarang.. udah enakkan kok..” ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku sudah mau keluar lagi. “Keluarin di dalam aja yah Dinda?” tanyaku. Lalu dia menjawab, “Ah tidak usah biar aku isep aja kak, habis enak sih,” jawabnya. Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan langsung dilumat oleh Dinda langsung dihisapnya dengan rakus, “Crot.. Crooott...” maniku keluar di dalam mulut Dinda dan dalam sekejap dia langsung menelannya. Gila bener perasaanku seperti sudah terbang ke surga kenikmatan.
“Gimana rasanya?” tanyaku.
“Ahh.. asin tapi enak juga sih,” sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya yang mungil itu.

 


Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam mobilku sudah pukul 20:00. Tidak terasa kami bersetubuh selama 3 jam. Lalu aku mengantarkan Dinda ke rumahnya. Dinda tidak turun tepat di depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak aku belai dulu sebelum dia turun. “Kapan-kapan main lagi yach Kakk..!” ucapnya sebelum turun dari mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melakukan hal itu kapan saja dimana saja, karena tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Dinda pernah melakukan masturbasi dengan terong di toilet sekolah. Untungnya pada saat itu aku melihat dia sedang masturbasi sehingga aku dapat memberinya “jatah terong asli kepadanya” saat di toilet, sampai akhirnya kami menikah dan memiliki seorang anak.

TAMAT
KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment