CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Ngentod Dengan Mertua - Kiosvideo

hi stats



KiosVideo Menjelang kelahiran anak pertama saya, secara mendadak ayah mertua meninggal, Keluarga besar istri saya sangat terpukul mendengar kabar tersebut. Terutama ibu mertua dan Indah. Kedua perempuan ini memang yang paling dekat dengan almarhum. Rumah ini terasa sangat murung selama berhari-hari lamanya. Tetapi segalanya berangsur pulih setelah selamatan dilaksanakan. Semua angota keluarga kami sudah bisa menerima kenyataan, bahwa semua pada akhirnya harus kembali. Apalagi semenjak anak saya lahir, empat bulan setelah kematian almarhum ayah mertua saya.

Pada akhirnya rumah ini menemukan kembali kehangatannya. Seisi rumah dipersatukan kembali kedalam kegembiraan. Bayi yang lucu menjadi pusat pelampiaskan kasih sayang. Hari demi hari saya juga semakin mencintai istri saya. Tapi dalam urusan tempat tidur tidak ada yang berubah sama sekali. Seringkali saya tergoda untuk mencari pelampiasan nafsu bejadku dengan wanita PSK terutama jika sedang bersama teman-teman sekantor mengajak. Namun saya tak pernah bisa melakukannya, pernah sekali waktu saya diajak kawan ke sebuah salon esek-esek. Saya pikir tidak ada salahnya untuk sekedar tahu bagaimana rasanya. Salon itu terletak di sebuah kompleks pasar yang sangat sulit dicari jika kita tidak pernah mampir kemari. Kapsternya sekitar 12 orang. Mereka masih muda-muda, cantik, dan seksi dengan celana pendek dan tank top mini di tubuhnya. Para pengunjung seluruhnya pasti laki-laki hidung belang, walaupun di papan nama tertulis salon untuk melayani pria dan wanita.

Di salon itu para pria minta layanan lulur, dan konon, di dalam ruang lulur itulah percintaan dilakukan. Sungguh aneh tapi nyata, saya tidak birahi. Benak saya dipenuhi pikiran bahwa perempuan-perempuan itu telah dimasukan oleh puluhan penis laki-laki. Mungkin ketika seorang pria menyetubuhinya, saat itu masih ada sisa-sisa bekas sperma milik pria-pria lain yang masih tertinggal. Inilah yang membuat saya jijik dan tak pernah bisa menerima diri saya bersetubuh dengan perempuan PSK. Jadi bukan alasan moral, saya lebih memilih untuk onani sendiri sambil membayangkan perempuan-perempuan lain.

Ketika anak saya beranjak menuju empat bulan, istri saya sudah mulai masuk kerja dan memulai kegiatan luar kotanya tetap dijalankan seperti biasa. Dia sudah dipromosikan dalam jabatan supervisor diperusahaannya. Istri saya tampak senang dengan jabatan barunya, dan makin giat bekerja.

Setiap kali istriku ke luar kota, anak saya diasuh oleh tante-tantenya. Tante Indah atau Tante Mulan atau kadang-kadang Mak Opi. Hanya jika makan (bubur bayi) saja tante-tantenya tidak sabaran. Karena mereka tak sanggup menyuapi bayi. Saya sendiri geli melihat bayi makan. Bubur itu sepertinya tidak pernah mau masuk ke dalam perut mereka. Hanya keluar masuk dari bibirnya. Ibu mertua saya yang paling telaten, kadang-kadang satu mangkuk kecil masih ingin nambah jika ibu yang menyuapi anakku.
Jika siang saya biasa sering tidur dengan anak saya. Saya senang sekali menatap wajah mungilnya yang imut, Saya juga mulai pintar mengganti popok dan memberinya susu. Hanya kalau malam anak saya tidur dengan ibu mertua. Soalnya kalau tidur malam, saya susah untuk bangun. Biar anak menangis keras-keras saya sangat sulit untuk terbangunnya.

Siang itu, sepulang dari kantor, seperti biasa saya cuci muka dan tangan lalu rebahan di kamar. Badan saya agak meriang, mungkin saya akan terkena radang tenggorokan atau hanya kurang air saja. Kerongkongan saya agak sakit buat menelan ludah atau sesuatu.
Ketika ibu hendak menaruh anak saya untuk tidur (kalau siang anak saya biasa tidur dua-tiga kali), dengan terbata-bata saya bilang, “Bu, boleh Nita tidur sama Ibu kali ini?”
Nita anak saya terlanjur ditaruh di sebelah saya.
“Ya boleh kok.. Memangnya kenapa?” tanya ibu melepas selendang gendongan.
“Badan saya agak meriang, saya ingin istirahat,” kata saya.
“Indah dan lainnya sudah pulang Bu?”
Ibu tidak menjawab. Punggung tangannya ditempelkan ke dahi saya.
“Wah.., badan kamu panas banget. Ya sudah Nita biar tidur di kamar Ibu. Kamu istirahat saja dulu sekarang. Ayuk.. cucu eyangg..., sini bobo sama eyang ya?”
Ibu pelan-pela mengangkat Nita lega rasanya saya. Saya benar-benar ingin istirahat tanpa diganggu tangisan anak atau diganggu oleh siapapun.

Setelah Ibu keluar dari kamarnya, saya segera tidur mendekap guling. Benar-benar sakit semua badan saya, kepala juga mulai terasa sangat berat. Saya mencoba mengurangi rasa sakit dengan memijit-mijit dahi dan kening sendiri.
“Nak Mali sudah minum obat?” tanya Ibu di ambang pintu.
“Belum, Bu. Nggak usah. Nanti saja jika saya bangun masih terasa sakit maka saya akan meminumnya.”
Dengan badan seperti ini rasanya saya pengin dikerik. Dulu waktu masih bujang saya sealu minta kerik ibu saya, jika sudah dikerik badan terasa ringan dan bugar. Tapi mau minta kerik sama ibu mertua juga rasanya sangat sungkan. Dulu memang pernah sih dikerik ibu mertua, tapi itu karena setelah ibu melihat saya dan istri saya bersitegang soal kerik-mengerik. Istri saya tidak mau mengerik saya tetapi bukan apa-apa, dia tidak suka cara itu. Katanya itu berakibat buruk bagi tubuh. Istri saya memang seorang doctor minded, maklum dia seorang dealer obat-obatan, dia lebih mempercayai dokter dan obat daripada cara-cara penyembuhan tradisional yang sudah diwariskan.

Melihat kami bersitegang ayah mertua saya membela saya, dan menyuruh ibu mengerik saya.
Kini saya sebenarnya sangat ingin dikerik. Seolah tahu pikiran saya, ibu menawarinya.
“Mau ibu kerik Nak Mali?”
“Hmm terserah ibu saja,” kata saya.
Dalam hati saya bersorak riang karena akhirnya ada yang mau kerikin saya. Ibu mengambil minyak bayi (baby oil) dan ulang logam. Sejurus kemudian Mak datang dengan persiapan yang lengkap.
“Kamu lagi ngapain?” tanya mertua saya.
“Sedan setrika baju buat besok, Bu”
“Ya sudah..” Ibu duduk di tepi ranjang.
“Lepaskan bajunya,” kata ibu.

 



Saya melepas baju dan celana panjang saya, saya bungkus bagian bawah tubuh saya dengan sarung, lalu segera tengkurap. Ibu mulai mengerik bagian punggung. Ughh... Nikmat rasanya, kadang-kadang saja terasa sakit mungkin itu karena di daerah situ ada penyumbatan aliran darah yang tersumbat atau entahlah yang penting kerikannya sangat tersasa nikmat.
“Merah semua nih Nak Mali,” komentar ibu mertua. Saya hanya bergumam keenakan.
Ibu mertua aku memang pandai mengerik. Bahkan lebih pandai dibanding ibu saya, secara keseluruhan tidak menimbulkan rasa pedih. Bahkan seperti dipijat utur. Saya benar-benar rileks dibuatnya saat itu, Terlebih lagi kalau ngerik ibu ini sangat sabar, hampir tiap jengkal badan saya dikerik. Ibu menarik kain sarung, dan sedikit menurunkan CD saya, lalu mengerik bagian pantat. Sudah itu bagian paha, selesai paha aku diminta membalikkan badan. Dikeriknya dada saya, yang ini agak berat saya banyak gelinya sat didepan. Alalagi kalau arah kerikan menuju bagian ketiak. Ughh.. rasanya seperti digelitik. Saya berkali-kali merapatkan tangan saya menahan geli. Ibu tersenyum melihat gerakanku, setelah beberapa saat badan saya mulai beradaptasi. Rasa gelinya pun mulai berkurang, saya mulai membuka mata yang tadi ikut terpicing menahan geli, saya liat wajah ibu mertua saya.


Mungkin kalau tua nanti istri saya akan seperti ini ya, umur ibu mertuaku sekitar 51 tahun. Masih ada sisa-sisa kecantikan yang tertingal diwajahnya. Bagian wajahnya masih terlihat kencang, hanya saja bagian leher dan lengan yang tampak memperlihatkan usianya yang sudah tidak muda. Kasihan sebenarnya, usia segitu sudah ditinggal suami.

Tiba-tiba badan saya tergelinjang, secara refleks saya mencengkeram lengan ibu. Rupanya ibu mulai mengerik bagian perut, Ini yang membuat saya sangat geli. Bulu kuduk saya ikut berdiri dibuatnya, Ibu terus mengerik perut saya dan saya terus mencengkeram lengan ibu. Sesekali saya mengangkat bagian perut dan pinggul saya hingga menyentuh tubuh ibu. Gesekan-gesekan itu ternyata mnimbulkan rangsangan pada penis saya. Sedikit demi sedikit penis saya mengembang dan menjadi sangat tegang. Nafsu saya juga muncul perlahan-lahan, saya bahkan dengan sengaja menempelkan bagian penis saya ke pinggang ibu. Sedikit menekannya dengan berpura-pura geli oleh kerikannya. Padahal tidak, saya sudah mulai beradaptasi lagi tangan saya masih mencengkeram lengan ibu.

Jantung saya mulai berdebar-debar ketika ibu menurunkan sarungku. Di hadapannya tubuh bawah saya terbungkus CD dengan isi yang menegang dengan sempurna. Maksimal, sesekali saya lihat ibu melirik ke arah penis saya. Diturunkannya bagian atas CD saya sisa hanya sedikit. Ahh... padahal saya berharap seluruhnya ditanggalkan terbuka bebas. Saya rasakan ujung penis saya tersembul keluar, mustahil ibu tak meihatnya. Saya tatap wajahnya, wajahnya tak menampakkan reaksi apa-apa. Mungkinkah perempuan ini sudah tawar terhadap kegiatan sex? Ataukah dia menganggap saya tak lebih dari anaknya sendiri,,? Apakah dia pernah melihat penis lain selain milik suaminya? pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenakku.

Kerikan di bagian bawah perut menimbulkan sensasi yang luar biasa. Sesekali secara tak sengaja tangan ibu menyentuh ujung penis saya, rasanya seperti dikocok seara halus. Saya telah benar-benar terangsang dibuatnya. Birahi saya membakar kepala saya, saya mencoba untuk beranikan diri mengelus lengan ibu.
“Ibu makasih sudah mau mengerik badan saya,” kata saya gemetar.
Ibu cuma tersenyum. Saya tak tahu artinya. Tetapi ia terus mengerik, saya memberanikan diri menurunkan sedikit lagi CD saya, sehingga separuh penis saya keluar.
“Bagian sini juga kan Bu..?” kata saya menunjuk selangkangan.
“Iya,” suara ibu bergetar.
Sentuhan tangannya ke arah penis saya makin sering dan semakin nikmat rasanya. Saya makin tak tahan, saya turunkan sedikit lagi CD saya, dan kini terbukalah seluruhnya penisku. Saya rasakan kerikan ibu sudah mulai kacau, Ssya tahu ibu mulai terpengaruh oleh pemandangan di depannya. Ya, mustahil kalau tidak bagaimana pun dia perempauan biasa.

Saya pegang tangan ibu, saya bimbing dengan pelan dan cemas menuju penis saya. Saya taruh tangan itu di sana, melihat tak ada reaksi. Tangan itu hanya diam saja. Saya berusaha menggerak-gerakan penis saya sesekali waktu saya sentakkan ketangannya.
“Bu..” saya mendesis dan menggerak-gerakkan pinggul saya.
Ibu sudah tak konsentrasi lagi di kerikan, Gerakannya pun sudah bukan lagi gerakan mengerik, tapi lebih menyerupai garukan. Saya usap punggung ibu, saya telusuri seluruh lekuk badannya. Dia mengenakan daster, saya rasakan tali BH di punggungnya. Saya jadi penasaran seperti apa rupa payudara perempuan 51 tahun. Ibu mulai meremas-remas penis saya, mengocoknya perlahan. Saya buka resluiting dasternya, saya segera membuka kancing BH-nya. Saya remas kulit punggungnya. Memang tidak sekenyal istri saya atau punya Indah. Tapi putihnya tetap membuat saya makin terangsang. Saya rebahkan tubuh ibu, saya cium pipinya, telinga, leher dan bibirnya. Kami berciuman penuh nafsu. Saya segera lepaskan dasternya di bagian atas. Hmm..., payudara yang kendur, Tapi apa peduliku. Aku telah dikuasai oleh nafsuku yang sudah membara. Saya segera ciumi payudara itu, saya hisap, saya remas. Ibu menggeliat-geliat dan mengocok penis saya semakin kecnang. Saya segera turukan CD-nya. Ahh.... seperti apakah rupa memek perempuan 51 tahun? Seperti apakah rasanya? aku semakin penasaran.

 

Memek itu dibalut rambut yang amat lebat.. Sepintas tak ada bedanya dengan milik istri saya. Sama-sama kenyalnya, perbedaan baru saya ketahu setelah penis saya menyentuh lubang vaginanya. Terasa kendurnya,, tetapi gerakan-gerakan yang dilakukan ibu memberikan efek yang fantastis bagi saya. Saya belum pernah merasakan yang seperti itu. Tampaknya sex adalah bagian dari kewajiban rumah tangga, sehingga persetubuhan kami pun lebih mirip formalitas daripada menikmatinya. Orgasme yang dia dapatkan tampakya tak pernah mengubah sikapnya terhadap sex.

Kini di bawah saya, ibu mertua seperti mengajarkan kepada saya, bagaimana seorang perempuan sejati di atas ranjang. Penis saya seperti diputar-putar, diremas-remas oleh memeknya yang kendur itu. Rasanya sangat luar biasa. Saya lebih banyak diam, hanya bibir dan tangan saya yang bergerak ke sana-kemari, sedangkan bagian pinggul hanya diam menerima semua perlakukan ibu yang sudah tidak terkendalikan.
Ibu yang merintih-rintih, mengerang, lalu mendekap saya. Gerakannya makin hebat, membuat saya tak tahan lagi. Saya menggenjot pinggul sekuat tenaga, dengan kecepatan penuh. Kedua kaki ibu menekan betis saya, bibirnya mencium dan mengisap leher saya. Lalu diciumnya bibir saya dengan rakusnya, hampir digigitnya. Sampai akhirnya Croott... Crooottt... Croottt.... sperma saya memancar di dalam vaginanya. Saya tahu ini akan aman bagi rahim ibu karena diusianya sudah tidak memungkinan lagi untuk hamil. Senyap di dalam kamar, tubuh saya terasa sangat lemas, tapi pikiran jadi jernih. Ibu segera bergegas membetulkan letak dasternya, mengenakan CD, dan menghilang dari hadapan saya. Saya tertidur dan Malas mau ke kamar mandi.

Peristiwa itu membuat hubungan saya dengan ibu menjadi terasa sangat canggung. Ibu berusaha menghindari berdua dengan saya, beliau juga hanya bicara seperlunya. Tampaknya beliau amat terpukul atau malu mengingat kejadian pada saat itu. Saya sendiri berusaha bersikap sewajarnya, Apa yang telah terjadi antara saya dengan yang lainnya yang telah mengajarkan saya bagaimana bersikap wajar setelah terjadinya skandal.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Ngentod Dengan Mertua



KiosVideo Menjelang kelahiran anak pertama saya, secara mendadak ayah mertua meninggal, Keluarga besar istri saya sangat terpukul mendengar kabar tersebut. Terutama ibu mertua dan Indah. Kedua perempuan ini memang yang paling dekat dengan almarhum. Rumah ini terasa sangat murung selama berhari-hari lamanya. Tetapi segalanya berangsur pulih setelah selamatan dilaksanakan. Semua angota keluarga kami sudah bisa menerima kenyataan, bahwa semua pada akhirnya harus kembali. Apalagi semenjak anak saya lahir, empat bulan setelah kematian almarhum ayah mertua saya.

Pada akhirnya rumah ini menemukan kembali kehangatannya. Seisi rumah dipersatukan kembali kedalam kegembiraan. Bayi yang lucu menjadi pusat pelampiaskan kasih sayang. Hari demi hari saya juga semakin mencintai istri saya. Tapi dalam urusan tempat tidur tidak ada yang berubah sama sekali. Seringkali saya tergoda untuk mencari pelampiasan nafsu bejadku dengan wanita PSK terutama jika sedang bersama teman-teman sekantor mengajak. Namun saya tak pernah bisa melakukannya, pernah sekali waktu saya diajak kawan ke sebuah salon esek-esek. Saya pikir tidak ada salahnya untuk sekedar tahu bagaimana rasanya. Salon itu terletak di sebuah kompleks pasar yang sangat sulit dicari jika kita tidak pernah mampir kemari. Kapsternya sekitar 12 orang. Mereka masih muda-muda, cantik, dan seksi dengan celana pendek dan tank top mini di tubuhnya. Para pengunjung seluruhnya pasti laki-laki hidung belang, walaupun di papan nama tertulis salon untuk melayani pria dan wanita.

Di salon itu para pria minta layanan lulur, dan konon, di dalam ruang lulur itulah percintaan dilakukan. Sungguh aneh tapi nyata, saya tidak birahi. Benak saya dipenuhi pikiran bahwa perempuan-perempuan itu telah dimasukan oleh puluhan penis laki-laki. Mungkin ketika seorang pria menyetubuhinya, saat itu masih ada sisa-sisa bekas sperma milik pria-pria lain yang masih tertinggal. Inilah yang membuat saya jijik dan tak pernah bisa menerima diri saya bersetubuh dengan perempuan PSK. Jadi bukan alasan moral, saya lebih memilih untuk onani sendiri sambil membayangkan perempuan-perempuan lain.

Ketika anak saya beranjak menuju empat bulan, istri saya sudah mulai masuk kerja dan memulai kegiatan luar kotanya tetap dijalankan seperti biasa. Dia sudah dipromosikan dalam jabatan supervisor diperusahaannya. Istri saya tampak senang dengan jabatan barunya, dan makin giat bekerja.

Setiap kali istriku ke luar kota, anak saya diasuh oleh tante-tantenya. Tante Indah atau Tante Mulan atau kadang-kadang Mak Opi. Hanya jika makan (bubur bayi) saja tante-tantenya tidak sabaran. Karena mereka tak sanggup menyuapi bayi. Saya sendiri geli melihat bayi makan. Bubur itu sepertinya tidak pernah mau masuk ke dalam perut mereka. Hanya keluar masuk dari bibirnya. Ibu mertua saya yang paling telaten, kadang-kadang satu mangkuk kecil masih ingin nambah jika ibu yang menyuapi anakku.
Jika siang saya biasa sering tidur dengan anak saya. Saya senang sekali menatap wajah mungilnya yang imut, Saya juga mulai pintar mengganti popok dan memberinya susu. Hanya kalau malam anak saya tidur dengan ibu mertua. Soalnya kalau tidur malam, saya susah untuk bangun. Biar anak menangis keras-keras saya sangat sulit untuk terbangunnya.

Siang itu, sepulang dari kantor, seperti biasa saya cuci muka dan tangan lalu rebahan di kamar. Badan saya agak meriang, mungkin saya akan terkena radang tenggorokan atau hanya kurang air saja. Kerongkongan saya agak sakit buat menelan ludah atau sesuatu.
Ketika ibu hendak menaruh anak saya untuk tidur (kalau siang anak saya biasa tidur dua-tiga kali), dengan terbata-bata saya bilang, “Bu, boleh Nita tidur sama Ibu kali ini?”
Nita anak saya terlanjur ditaruh di sebelah saya.
“Ya boleh kok.. Memangnya kenapa?” tanya ibu melepas selendang gendongan.
“Badan saya agak meriang, saya ingin istirahat,” kata saya.
“Indah dan lainnya sudah pulang Bu?”
Ibu tidak menjawab. Punggung tangannya ditempelkan ke dahi saya.
“Wah.., badan kamu panas banget. Ya sudah Nita biar tidur di kamar Ibu. Kamu istirahat saja dulu sekarang. Ayuk.. cucu eyangg..., sini bobo sama eyang ya?”
Ibu pelan-pela mengangkat Nita lega rasanya saya. Saya benar-benar ingin istirahat tanpa diganggu tangisan anak atau diganggu oleh siapapun.

Setelah Ibu keluar dari kamarnya, saya segera tidur mendekap guling. Benar-benar sakit semua badan saya, kepala juga mulai terasa sangat berat. Saya mencoba mengurangi rasa sakit dengan memijit-mijit dahi dan kening sendiri.
“Nak Mali sudah minum obat?” tanya Ibu di ambang pintu.
“Belum, Bu. Nggak usah. Nanti saja jika saya bangun masih terasa sakit maka saya akan meminumnya.”
Dengan badan seperti ini rasanya saya pengin dikerik. Dulu waktu masih bujang saya sealu minta kerik ibu saya, jika sudah dikerik badan terasa ringan dan bugar. Tapi mau minta kerik sama ibu mertua juga rasanya sangat sungkan. Dulu memang pernah sih dikerik ibu mertua, tapi itu karena setelah ibu melihat saya dan istri saya bersitegang soal kerik-mengerik. Istri saya tidak mau mengerik saya tetapi bukan apa-apa, dia tidak suka cara itu. Katanya itu berakibat buruk bagi tubuh. Istri saya memang seorang doctor minded, maklum dia seorang dealer obat-obatan, dia lebih mempercayai dokter dan obat daripada cara-cara penyembuhan tradisional yang sudah diwariskan.

Melihat kami bersitegang ayah mertua saya membela saya, dan menyuruh ibu mengerik saya.
Kini saya sebenarnya sangat ingin dikerik. Seolah tahu pikiran saya, ibu menawarinya.
“Mau ibu kerik Nak Mali?”
“Hmm terserah ibu saja,” kata saya.
Dalam hati saya bersorak riang karena akhirnya ada yang mau kerikin saya. Ibu mengambil minyak bayi (baby oil) dan ulang logam. Sejurus kemudian Mak datang dengan persiapan yang lengkap.
“Kamu lagi ngapain?” tanya mertua saya.
“Sedan setrika baju buat besok, Bu”
“Ya sudah..” Ibu duduk di tepi ranjang.
“Lepaskan bajunya,” kata ibu.

 



Saya melepas baju dan celana panjang saya, saya bungkus bagian bawah tubuh saya dengan sarung, lalu segera tengkurap. Ibu mulai mengerik bagian punggung. Ughh... Nikmat rasanya, kadang-kadang saja terasa sakit mungkin itu karena di daerah situ ada penyumbatan aliran darah yang tersumbat atau entahlah yang penting kerikannya sangat tersasa nikmat.
“Merah semua nih Nak Mali,” komentar ibu mertua. Saya hanya bergumam keenakan.
Ibu mertua aku memang pandai mengerik. Bahkan lebih pandai dibanding ibu saya, secara keseluruhan tidak menimbulkan rasa pedih. Bahkan seperti dipijat utur. Saya benar-benar rileks dibuatnya saat itu, Terlebih lagi kalau ngerik ibu ini sangat sabar, hampir tiap jengkal badan saya dikerik. Ibu menarik kain sarung, dan sedikit menurunkan CD saya, lalu mengerik bagian pantat. Sudah itu bagian paha, selesai paha aku diminta membalikkan badan. Dikeriknya dada saya, yang ini agak berat saya banyak gelinya sat didepan. Alalagi kalau arah kerikan menuju bagian ketiak. Ughh.. rasanya seperti digelitik. Saya berkali-kali merapatkan tangan saya menahan geli. Ibu tersenyum melihat gerakanku, setelah beberapa saat badan saya mulai beradaptasi. Rasa gelinya pun mulai berkurang, saya mulai membuka mata yang tadi ikut terpicing menahan geli, saya liat wajah ibu mertua saya.


Mungkin kalau tua nanti istri saya akan seperti ini ya, umur ibu mertuaku sekitar 51 tahun. Masih ada sisa-sisa kecantikan yang tertingal diwajahnya. Bagian wajahnya masih terlihat kencang, hanya saja bagian leher dan lengan yang tampak memperlihatkan usianya yang sudah tidak muda. Kasihan sebenarnya, usia segitu sudah ditinggal suami.

Tiba-tiba badan saya tergelinjang, secara refleks saya mencengkeram lengan ibu. Rupanya ibu mulai mengerik bagian perut, Ini yang membuat saya sangat geli. Bulu kuduk saya ikut berdiri dibuatnya, Ibu terus mengerik perut saya dan saya terus mencengkeram lengan ibu. Sesekali saya mengangkat bagian perut dan pinggul saya hingga menyentuh tubuh ibu. Gesekan-gesekan itu ternyata mnimbulkan rangsangan pada penis saya. Sedikit demi sedikit penis saya mengembang dan menjadi sangat tegang. Nafsu saya juga muncul perlahan-lahan, saya bahkan dengan sengaja menempelkan bagian penis saya ke pinggang ibu. Sedikit menekannya dengan berpura-pura geli oleh kerikannya. Padahal tidak, saya sudah mulai beradaptasi lagi tangan saya masih mencengkeram lengan ibu.

Jantung saya mulai berdebar-debar ketika ibu menurunkan sarungku. Di hadapannya tubuh bawah saya terbungkus CD dengan isi yang menegang dengan sempurna. Maksimal, sesekali saya lihat ibu melirik ke arah penis saya. Diturunkannya bagian atas CD saya sisa hanya sedikit. Ahh... padahal saya berharap seluruhnya ditanggalkan terbuka bebas. Saya rasakan ujung penis saya tersembul keluar, mustahil ibu tak meihatnya. Saya tatap wajahnya, wajahnya tak menampakkan reaksi apa-apa. Mungkinkah perempuan ini sudah tawar terhadap kegiatan sex? Ataukah dia menganggap saya tak lebih dari anaknya sendiri,,? Apakah dia pernah melihat penis lain selain milik suaminya? pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenakku.

Kerikan di bagian bawah perut menimbulkan sensasi yang luar biasa. Sesekali secara tak sengaja tangan ibu menyentuh ujung penis saya, rasanya seperti dikocok seara halus. Saya telah benar-benar terangsang dibuatnya. Birahi saya membakar kepala saya, saya mencoba untuk beranikan diri mengelus lengan ibu.
“Ibu makasih sudah mau mengerik badan saya,” kata saya gemetar.
Ibu cuma tersenyum. Saya tak tahu artinya. Tetapi ia terus mengerik, saya memberanikan diri menurunkan sedikit lagi CD saya, sehingga separuh penis saya keluar.
“Bagian sini juga kan Bu..?” kata saya menunjuk selangkangan.
“Iya,” suara ibu bergetar.
Sentuhan tangannya ke arah penis saya makin sering dan semakin nikmat rasanya. Saya makin tak tahan, saya turunkan sedikit lagi CD saya, dan kini terbukalah seluruhnya penisku. Saya rasakan kerikan ibu sudah mulai kacau, Ssya tahu ibu mulai terpengaruh oleh pemandangan di depannya. Ya, mustahil kalau tidak bagaimana pun dia perempauan biasa.

Saya pegang tangan ibu, saya bimbing dengan pelan dan cemas menuju penis saya. Saya taruh tangan itu di sana, melihat tak ada reaksi. Tangan itu hanya diam saja. Saya berusaha menggerak-gerakan penis saya sesekali waktu saya sentakkan ketangannya.
“Bu..” saya mendesis dan menggerak-gerakkan pinggul saya.
Ibu sudah tak konsentrasi lagi di kerikan, Gerakannya pun sudah bukan lagi gerakan mengerik, tapi lebih menyerupai garukan. Saya usap punggung ibu, saya telusuri seluruh lekuk badannya. Dia mengenakan daster, saya rasakan tali BH di punggungnya. Saya jadi penasaran seperti apa rupa payudara perempuan 51 tahun. Ibu mulai meremas-remas penis saya, mengocoknya perlahan. Saya buka resluiting dasternya, saya segera membuka kancing BH-nya. Saya remas kulit punggungnya. Memang tidak sekenyal istri saya atau punya Indah. Tapi putihnya tetap membuat saya makin terangsang. Saya rebahkan tubuh ibu, saya cium pipinya, telinga, leher dan bibirnya. Kami berciuman penuh nafsu. Saya segera lepaskan dasternya di bagian atas. Hmm..., payudara yang kendur, Tapi apa peduliku. Aku telah dikuasai oleh nafsuku yang sudah membara. Saya segera ciumi payudara itu, saya hisap, saya remas. Ibu menggeliat-geliat dan mengocok penis saya semakin kecnang. Saya segera turukan CD-nya. Ahh.... seperti apakah rupa memek perempuan 51 tahun? Seperti apakah rasanya? aku semakin penasaran.

 

Memek itu dibalut rambut yang amat lebat.. Sepintas tak ada bedanya dengan milik istri saya. Sama-sama kenyalnya, perbedaan baru saya ketahu setelah penis saya menyentuh lubang vaginanya. Terasa kendurnya,, tetapi gerakan-gerakan yang dilakukan ibu memberikan efek yang fantastis bagi saya. Saya belum pernah merasakan yang seperti itu. Tampaknya sex adalah bagian dari kewajiban rumah tangga, sehingga persetubuhan kami pun lebih mirip formalitas daripada menikmatinya. Orgasme yang dia dapatkan tampakya tak pernah mengubah sikapnya terhadap sex.

Kini di bawah saya, ibu mertua seperti mengajarkan kepada saya, bagaimana seorang perempuan sejati di atas ranjang. Penis saya seperti diputar-putar, diremas-remas oleh memeknya yang kendur itu. Rasanya sangat luar biasa. Saya lebih banyak diam, hanya bibir dan tangan saya yang bergerak ke sana-kemari, sedangkan bagian pinggul hanya diam menerima semua perlakukan ibu yang sudah tidak terkendalikan.
Ibu yang merintih-rintih, mengerang, lalu mendekap saya. Gerakannya makin hebat, membuat saya tak tahan lagi. Saya menggenjot pinggul sekuat tenaga, dengan kecepatan penuh. Kedua kaki ibu menekan betis saya, bibirnya mencium dan mengisap leher saya. Lalu diciumnya bibir saya dengan rakusnya, hampir digigitnya. Sampai akhirnya Croott... Crooottt... Croottt.... sperma saya memancar di dalam vaginanya. Saya tahu ini akan aman bagi rahim ibu karena diusianya sudah tidak memungkinan lagi untuk hamil. Senyap di dalam kamar, tubuh saya terasa sangat lemas, tapi pikiran jadi jernih. Ibu segera bergegas membetulkan letak dasternya, mengenakan CD, dan menghilang dari hadapan saya. Saya tertidur dan Malas mau ke kamar mandi.

Peristiwa itu membuat hubungan saya dengan ibu menjadi terasa sangat canggung. Ibu berusaha menghindari berdua dengan saya, beliau juga hanya bicara seperlunya. Tampaknya beliau amat terpukul atau malu mengingat kejadian pada saat itu. Saya sendiri berusaha bersikap sewajarnya, Apa yang telah terjadi antara saya dengan yang lainnya yang telah mengajarkan saya bagaimana bersikap wajar setelah terjadinya skandal.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment