CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Nikmatnya Bersetubuh Dengan Kiki - Kiosvideo

hi stats


KiosVideoMeskipun telah puluhan tahun sejak aku meninggalkan Surabaya keterikatanku kepada kota itu tidak begitu saja lepas seiring berjalannya waktu, terutama setelah kegagalan rumah tanggaku. Dalam setahun aku sempatkan 4-5 kali berkunjung ke Surabaya untuk bernostalgia bersama kawan-kawan yang tetap bertahan tinggal dan kerja disana.
Walaupun kesemrawutan kota Surabya agak mengurangi kenyamanan namun tetap tidak mengurangi keinginanku untuk berkunjung. Banyak perubahan terjadi, serta aku kangen dengan makanannya yang enak dan bervariasi dan juga wanitanya yang terkenal cantik. “Di Surabaya, beberapa kali kita melangkah akan selalu bertemu dengan wanita cantik” dan itu hampir sepenuhnya benar.

Maret 1999 dengan kereta yang kubawa pada siang itu, aku berangkat ke Surabaya, liburan “nostalgia” selalu aku lakukan saat weekday menghindari macet saat weekend. Setelah menaruh tas bawaanku, menghempaskan tubuh dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel kegemaranku. Belum lagi selesai membaca satu paragraph aku dikejutkan sapaan suara halus : “Maaf, apakah tidak keberatan kalau kita bertukar bangku?” aku menengadah, kaget dan terpana! begitu mengetahui si pemilik suara adalah suara wanita. ” Hmm..sure..ehh maaf..tidak, maksud saya tidak apa-apa” jawabku dengan gugup. 
Dia cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia lebih kurang 173an, putih, postur yang proporsional dengan rambut hitam lurus sebahu bak bintang iklan shampoo! Umurnya kira-kira sekitar akhir 22 tahun mengenakan baju biru muda ketat dan celana hitam yang juga ketat sehingga menonjolkan semua lekak-lekuk tubuhnya.. Saat aku berdiri bertukar bangku, semilir tercium aroma parfum yang sangat lembut, yang pasti pas sekali dengan penampilannya pada saat itu.


“Maaf mengganggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalam perjalanan, kalau dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala” Ia menjelaskan sambil meminta maaf.
“Ngga apa-apa kok” sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya gumamku dalam hati. Setelah selesai merapihkan bawaannya iapun langsung duduk dan membuka buku yang dibawanya. Kamipun tenggelam dengan bacaan masing-masing. Ingin rasanya aku menutup novelku dan memulai pembicaraan dengannya namun melihat Ia begitu asik dengan novelnya sendiri, niat itu pun aku urungkan. Kesempatan itu muncul saat pesanan makanan kami pesan tiba.

“Suka juga roti isi” tanyaku basa basi membuka pembicaraan
“Iya, entah kenapa aku suka sekali roti isi di kereta ini, padahal rasanya biasa-biasa aja” jawabnya
“Mungkin suasana kereta membuatnya enak” lanjutku sekenanya
“Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Kiki” sambil menjulurkan tangannya yang tampak halus itu
“Budi, ngga usa pake Mas” sahutku sambil menyambut tangannya
“Hihihi...” tawanya kecil “Kamu lucu juga, dalam rangka apa ke Surabaya nih?”
“Main-main aja kangen sama suasana Surabaya dan kawan-kawan” jawabku.
“Kiki sendiri ke Surabaya dalam rangka apa?” tanyaku kembali.
“Ada tugas dari kantor” jawabnya singkat tegas sepertinya enggan untuk menceritakan seperti apa pekerjaannya.

“Tinggal dimana Ki di Surabaya” Ia pun menyebutkan salah satu hotel.
“Lho kok sama denganku? aku juga di kamar 112” suatu kebetulan yg mengejutkan atau mungkin takdir yang mempertemukan kita
“Oh ya...?!! satu lantai pula kita” ujar Kiki yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selepas makan kami tidak lagi membuka bacaan masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dengan lancar diselingi dengan joke-joke nakal yang ternyata disukainya. Perbendaharaanku yang satu ini cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kami yang ada dikereta. Kiki bahkan tidak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit kecil lenganku ada joke yang “sangat” nakal. Tanpa terasa kami sudah tiba di stasiun Surabaya tepat jam 17.30, lalu kami naik mobil jemputan hotel sambil terus bercengkerama dengan lebih akrab lagi.

Di hotel kami pun berpisah, kamarku dikanan lift sementara Kiki dikiri. Dikamar aku langsung merebahkan diri membayangkan Kiki dan mengingat-ingat semua kejadian yang ada di kereta, di mobil dan di lift aku memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karenanya aku urungkan menghubungi kawan-kawanku, dan terlelap dengan senyum bahagia terukir di bibirku.

Jam 19.30 aku dikejutkan oleh dering telepon, belum lagi belum aku sampai ke 'alam mimpi' aku pun langsung mengangkat telepon
“Hallo” jawabku dengan suara ngantuk.
“Hi Bud sudah tidur ya? sorry ganggu nih” terdengar suara halus yang pernah aku dengar sebelumnya.
Kiki!! langsung aku bangkit dan tidak jadi mengantuk “Tak apa-apa, aku juga niatnya bangun jam segini kok tapi lupa pesan di front office tadi” jawabku. “Ada apa nih Ki?”
“Kamu jadi ngga ketemuan sama kawan-kawan kamu?”
“Hmm..aku belum sempat call mereka, aku tadi langsung ketiduran” padahal aku cuma alasan saja
“Gimana kalau malam ini datang sama aku, soalnya aku ngga jadi dinner meeting nih..”
“Sayangkan dandananku kalau harus dihapus begitu saja” lanjutnya dengan tawanya yang khasnya
Aku yang mendengarkan ajakan tersebut pun langsung shock sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa.
“Halloo.. Bud.. kamu masih disanaa..? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan.
“Ooohh maaf..kaget..soalnya surprise banget sih.. kaya ketiban bulan, diajak datang bidadari” jawabku. “Dasarr..kamu tuh..ketiban aku baru rasa, cepat mandi dong, tampil biasa aja ya” menutup pembicaraan.


Tidak usah disuruh pun aku langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ‘sudut’ tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat pintu terbuka aku hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yang ‘casual’, Kiki mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan. “Hii..kok kamu bengong lagi sih” tegur Kiki menyadarkan aku dari lamunanku dan kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap makanan kami, kami lanjutkan lagi menghabiskan malam disalah satu kafe, Kiki memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es sementara Kiki memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.
Waktu musik memainkan lagu yang disukainya Kiki langsung turun dari kursi, bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami ‘turun’ ditempat - lebih tepat disebut berpelukan dengan sedikit gerakan-buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada ‘turun’ yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan ”Ehh..” hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, setelah itu ia yang membalasnya dengan kecupan-kecupan kecil di bibirku..Malam ini merupakan malam yang indah. 

Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel kiki yang menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami perpandangan, bibirnya bergetar, Kiki memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spionnya. Lidah kamipun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak terasa taksi kami telah sampai di hotel.

Kamipun langsung bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan apa yang tadi sempat tertunda, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Buddii.. ah...hhh” desahnya. Keluar lift Kiki langsung menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Kiki langsung menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yang begitu kenyal. Kejantananku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Kiki sambil menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kami beradu-walaupun masih terbungkus-membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat kami menggesek-gesekannya. “Ahh..Budd..”desah Kiki kembali dan saat itu kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku melingkar-lingkar di leherku. “Eeehh..aahh..” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya.

Lidahnya semakin turun kedadaku sementara dengan jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan lidahnya berpindah keputing dadaku, berputar-putar, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil. “Terusin Ki.. desahku” suaraku bergetar meminta meneruskan kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Kiki semakin liar memainkan mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di pusar sambil tangannya membuka celanaku. Kiki meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus CD dan setelah itu Ia memasukan tangannya kedalam CD dan mengeluarkan milikku yang sudah membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang nikmat.. dan akhirnya..lidahnya berputar-putar disana.
“uhggghh..sshh..”desahku tak karuhan, lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan buah zakarku. “Enakk Ki.. aahh..kamu pintar sekalii.. hisap terruss.. cantiikk.. ” aku meracau tidak karuan memintanya melakukan lebih lagi.

Kiki yang mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala kejantananku dan dimasukannya.. hanya sebatas itu dan mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar serangan yang sangat luar biasa.. sunguh nikmatt sekali..!! Setelah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan semakin cepat Kiki menggerakan ritme kocokannya. “Nikmat Ki.. lagi.. lebih cepat.. ayoo.. oouuhh” pintaku diselah-selah erangan yang semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.

Kuangkat tubuhnya dan kupeluk dengan mesra. “Suka?”bisiknya bertanya. “Suka sekali.. kamu hebat banget..” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya. “Ooohh..” erang Kiki. Kubalas apa yang Ia lakukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan BHnya, dua bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya “Eeehh.. Budii..” lenguh Kiki dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya “Auuhh..ach...”erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. “Aaaghh.. Budd.. kamu sangat ganaas..”jeritnya.

Puas aku melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas roknya, tampaklah CD mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi CD-nya sehingga menyentuh dua bukit lembut basah.
“Budi..uugghh..”kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga dengan leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.



Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya. “Aaa..Buddii..” jerit Kiki tertahan sambil menjambak rambutku yang panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya. “Ssshh..eehh..” desah Kiki merasakan hisapanku yang kuat di lubang kenikmatannya. Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih dalam dalam lagi Kikipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga memudahkan aku “memakan” semua kewanitaannya.”Buddi.. stopp.. dulluu.. aku suddahh ngga tahann..”aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila “My godd..Budd..shhff..pleasee..stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya. 
Akupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan tubuhnya ditempat tidur dan kamipun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas bagian-bagian sensitif kami. “Sekarang Bud.. sekarang.. pleasee..”pintanya berbisiknya. Aku merayap naik ketubuhnya, Kiki membuka lebar kedua kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kejantananku memasuki mulut kewanitaannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar masuk dengan perlahan. “Ooohh yaa.. Budd.. enakk..” Kiki pun mulai mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku tidak henti-hentinya mengulum buah dadanya.”Aagghh..terusin Bud lebih dalamm.. aagghh..” pintanya, kutekan batang kemaluanku lebih dalam dan.. ”Ssshh..”desisku merasakan kenikmatan rongga kewanitaanya yang sempit meremas-remas sekujur batang kemaluanku. ”Aaaugghh..punya kamu enak Ki..” akupun semakin kencang memacu tubuhku membuat Kiki semakin mengebu-ngebu.

“Ahh.. oucchh.. nikmat Bud..”desahnya merasakan gesekan-gesekan batang kejantananku di dinding kemaluannya. Saat kami merasakan nikmatnya kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kami saling menghisap, memagut bahkan mengigit dengan liarnya.. dan “Ugghh.. Bud.. Come fuck me.. fuck me harder.. I’m comingg honey..” tubuh Kiki yang mengejang dan tangan serta kakinya memeluk tubuhku dengan kencang “Ouchh..oohh..aku keluar Budd.. aaghh..” Ia pun kejang sesaat kurasakan denyut-denyut di kewanitaannya dan tubuh Kiki pun lungai lemas.

“Maaf Bud aku duluan sudah ngga tahan, habis udah lama..” bisiknya, aku masih diatasnya dengan kemaluan yang masih terbenam didalam kewanitaannya. “Ngga apa-apa Ki cewekan multiple orgasm, masih ada yang kedua dan seterusnya kok..” jawabku menggoda. “Memangnya kuat..?” tantangnya. “Lihat aja nanti..”membalas tantangannya. “Ihh..itu sih doyan.. makanya kaut” seru Kiki dengan manja sambil mencubit pinggangku. Kubalas cubitannya dengan memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai berputar-putar perlahan.”..Mmhhff..”kupagut bibirnya, lidah kamipun saling bertaut, meliuk dengan panasnya. Birahi kamipun kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya dengan putaran pinggulnya membuatku melayang-layang. “Shhff.. agghh..” desahanpun tak tertahan keluar keluar dari mulutku. Dengan bahasa tubuh Kiki mengajak ganti posisi, Ia diatas memegang kendali.

Kiki menekan kewanitaanya dalam-dalam-sehingga kejantananku menyentuh ujung lorong kenikmatannya-dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju. Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aku menahan hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku.
“Ayo.. teruss Ki.. aahh.. yes... lagi Ki.. punya.. kamu enak..”rintihku. "Punya kamu juga Bud.. oucchh.. want me to fuck you more hardd..mmphh...” tidak perlu jawabanku, dengan di topang tangannya Kiki membungkuk tambah mempercepat ayunannya. Buah dadanya yang indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yang lainnya kulumat dengan rakus. “Ouchh.. Budd.. nikmatt.. lumat semua Budd” jerit Kiki sambil merendahkan tubuhnya memudahkan aku melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tidak terkendali, tidak berapa lama kemudian tubuhnya kembali mengejang, Kiki menekan dalam-dalam kewanitaannya menelan seluruh batang kenikmatanku. “Bud aku mauu keluarr lagi.. AAGGKKHH.. ” teriak Kiki, tubuhnya pun rubuh diatasku cairan kenikmatannya kurasakan membasahi kejantananku.

Kiki rebah diatasku tubuhnya dengan lemas, hanya desah napasnya menerpa dadaku. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian “Punya kamu masih keras Bud.. kamu belum keluar?”
“Aku tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir” bisikku sambil mengecup pipinya.
“Mmmhh..” Kiki bergumam “Aku juga..”bisiknya dengan mesara sambil mengigit leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa saat, gigitan dan kecupan mesra itu kembali menjadi pagutan birahi yang liar.

Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan kenikmatan dan desahan kenikmatan duniawi, kejantananku yang masih berada didalam kembali merasakan bagaimana nikmat yang diberikan oleh kewanitaannya. Aku bangun sambil mendorong tubuh Kiki sehingga kami berada dalam posisi duduk, satu tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah pantatnya yang bulat padat. Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rongga kenikmatannya seakan melumat seluruh batang kejantananku, “Agghh..sshh.. Bud..” rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dengan menggoyang-goyangkan pinggulku sambil kuhisap putingnya sekuat tenaga.”Budd.. aghh..” 

 


Kurasakan gerakan tubuh Kiki yang semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya semakin mengganas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku. Akupun tidak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan oleh Kiki, kurebahkan tubuhnya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di pinggulku dan kamipun kembali mendaki puncak kenikmatan. Batang kejantananku yang tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Kiki dengan liar, Ia tidak tinggal diam, diputar-putar pinggulnya seirama tikaman-tikamanku “Aghh.. uugghh.. Ki.. nikmat sekali.. gerakaann kamuu... putarr teruss” pintaku merintih-rintih kenikmatan. “Auugghh.. Ayoo budd.. tekan yang dalamm..” kami tenggelam dalam gelimang birahi yang memuncak.. dan sampai akhirnya ”Kiki.. akuu sudaah mau keluar..” kurasakan kejantanku bertambah besar. “Yess.. I’m coming too youu... kami berpelukan dengan kuatnya dan secara bersamaan mengejang. “AAKKGGHH.. punya kamu nikmatt sekalii Ki.” ucapku, kutekan dalam-dalam kejantananku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar membasahi relung-relung kewanitaannya, “Aauughh Budd punyaa kammuu.. nikmatt.. ssekallii.. AHHCCCHH..” Kami berdua pun terkapar lemas.

Setelah malam panjang yang indah itu kami tak henti-hentinya mengulangi lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua sudut dikamar hotel itu sudah kami jelajahi, bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi kami berdua. Surabaya kembali memberi coretan khusus dalam hidupku membuat keterikatanku semakin besar yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup dan kuakhiri ceritaku sampai disni.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam


Nikmatnya Bersetubuh Dengan Kiki


KiosVideoMeskipun telah puluhan tahun sejak aku meninggalkan Surabaya keterikatanku kepada kota itu tidak begitu saja lepas seiring berjalannya waktu, terutama setelah kegagalan rumah tanggaku. Dalam setahun aku sempatkan 4-5 kali berkunjung ke Surabaya untuk bernostalgia bersama kawan-kawan yang tetap bertahan tinggal dan kerja disana.
Walaupun kesemrawutan kota Surabya agak mengurangi kenyamanan namun tetap tidak mengurangi keinginanku untuk berkunjung. Banyak perubahan terjadi, serta aku kangen dengan makanannya yang enak dan bervariasi dan juga wanitanya yang terkenal cantik. “Di Surabaya, beberapa kali kita melangkah akan selalu bertemu dengan wanita cantik” dan itu hampir sepenuhnya benar.

Maret 1999 dengan kereta yang kubawa pada siang itu, aku berangkat ke Surabaya, liburan “nostalgia” selalu aku lakukan saat weekday menghindari macet saat weekend. Setelah menaruh tas bawaanku, menghempaskan tubuh dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel kegemaranku. Belum lagi selesai membaca satu paragraph aku dikejutkan sapaan suara halus : “Maaf, apakah tidak keberatan kalau kita bertukar bangku?” aku menengadah, kaget dan terpana! begitu mengetahui si pemilik suara adalah suara wanita. ” Hmm..sure..ehh maaf..tidak, maksud saya tidak apa-apa” jawabku dengan gugup. 
Dia cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia lebih kurang 173an, putih, postur yang proporsional dengan rambut hitam lurus sebahu bak bintang iklan shampoo! Umurnya kira-kira sekitar akhir 22 tahun mengenakan baju biru muda ketat dan celana hitam yang juga ketat sehingga menonjolkan semua lekak-lekuk tubuhnya.. Saat aku berdiri bertukar bangku, semilir tercium aroma parfum yang sangat lembut, yang pasti pas sekali dengan penampilannya pada saat itu.


“Maaf mengganggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalam perjalanan, kalau dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala” Ia menjelaskan sambil meminta maaf.
“Ngga apa-apa kok” sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya gumamku dalam hati. Setelah selesai merapihkan bawaannya iapun langsung duduk dan membuka buku yang dibawanya. Kamipun tenggelam dengan bacaan masing-masing. Ingin rasanya aku menutup novelku dan memulai pembicaraan dengannya namun melihat Ia begitu asik dengan novelnya sendiri, niat itu pun aku urungkan. Kesempatan itu muncul saat pesanan makanan kami pesan tiba.

“Suka juga roti isi” tanyaku basa basi membuka pembicaraan
“Iya, entah kenapa aku suka sekali roti isi di kereta ini, padahal rasanya biasa-biasa aja” jawabnya
“Mungkin suasana kereta membuatnya enak” lanjutku sekenanya
“Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Kiki” sambil menjulurkan tangannya yang tampak halus itu
“Budi, ngga usa pake Mas” sahutku sambil menyambut tangannya
“Hihihi...” tawanya kecil “Kamu lucu juga, dalam rangka apa ke Surabaya nih?”
“Main-main aja kangen sama suasana Surabaya dan kawan-kawan” jawabku.
“Kiki sendiri ke Surabaya dalam rangka apa?” tanyaku kembali.
“Ada tugas dari kantor” jawabnya singkat tegas sepertinya enggan untuk menceritakan seperti apa pekerjaannya.

“Tinggal dimana Ki di Surabaya” Ia pun menyebutkan salah satu hotel.
“Lho kok sama denganku? aku juga di kamar 112” suatu kebetulan yg mengejutkan atau mungkin takdir yang mempertemukan kita
“Oh ya...?!! satu lantai pula kita” ujar Kiki yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selepas makan kami tidak lagi membuka bacaan masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dengan lancar diselingi dengan joke-joke nakal yang ternyata disukainya. Perbendaharaanku yang satu ini cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kami yang ada dikereta. Kiki bahkan tidak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit kecil lenganku ada joke yang “sangat” nakal. Tanpa terasa kami sudah tiba di stasiun Surabaya tepat jam 17.30, lalu kami naik mobil jemputan hotel sambil terus bercengkerama dengan lebih akrab lagi.

Di hotel kami pun berpisah, kamarku dikanan lift sementara Kiki dikiri. Dikamar aku langsung merebahkan diri membayangkan Kiki dan mengingat-ingat semua kejadian yang ada di kereta, di mobil dan di lift aku memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karenanya aku urungkan menghubungi kawan-kawanku, dan terlelap dengan senyum bahagia terukir di bibirku.

Jam 19.30 aku dikejutkan oleh dering telepon, belum lagi belum aku sampai ke 'alam mimpi' aku pun langsung mengangkat telepon
“Hallo” jawabku dengan suara ngantuk.
“Hi Bud sudah tidur ya? sorry ganggu nih” terdengar suara halus yang pernah aku dengar sebelumnya.
Kiki!! langsung aku bangkit dan tidak jadi mengantuk “Tak apa-apa, aku juga niatnya bangun jam segini kok tapi lupa pesan di front office tadi” jawabku. “Ada apa nih Ki?”
“Kamu jadi ngga ketemuan sama kawan-kawan kamu?”
“Hmm..aku belum sempat call mereka, aku tadi langsung ketiduran” padahal aku cuma alasan saja
“Gimana kalau malam ini datang sama aku, soalnya aku ngga jadi dinner meeting nih..”
“Sayangkan dandananku kalau harus dihapus begitu saja” lanjutnya dengan tawanya yang khasnya
Aku yang mendengarkan ajakan tersebut pun langsung shock sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa.
“Halloo.. Bud.. kamu masih disanaa..? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan.
“Ooohh maaf..kaget..soalnya surprise banget sih.. kaya ketiban bulan, diajak datang bidadari” jawabku. “Dasarr..kamu tuh..ketiban aku baru rasa, cepat mandi dong, tampil biasa aja ya” menutup pembicaraan.


Tidak usah disuruh pun aku langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ‘sudut’ tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat pintu terbuka aku hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yang ‘casual’, Kiki mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan. “Hii..kok kamu bengong lagi sih” tegur Kiki menyadarkan aku dari lamunanku dan kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap makanan kami, kami lanjutkan lagi menghabiskan malam disalah satu kafe, Kiki memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es sementara Kiki memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.
Waktu musik memainkan lagu yang disukainya Kiki langsung turun dari kursi, bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami ‘turun’ ditempat - lebih tepat disebut berpelukan dengan sedikit gerakan-buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada ‘turun’ yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan ”Ehh..” hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, setelah itu ia yang membalasnya dengan kecupan-kecupan kecil di bibirku..Malam ini merupakan malam yang indah. 

Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel kiki yang menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami perpandangan, bibirnya bergetar, Kiki memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spionnya. Lidah kamipun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak terasa taksi kami telah sampai di hotel.

Kamipun langsung bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan apa yang tadi sempat tertunda, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Buddii.. ah...hhh” desahnya. Keluar lift Kiki langsung menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Kiki langsung menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yang begitu kenyal. Kejantananku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Kiki sambil menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kami beradu-walaupun masih terbungkus-membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat kami menggesek-gesekannya. “Ahh..Budd..”desah Kiki kembali dan saat itu kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku melingkar-lingkar di leherku. “Eeehh..aahh..” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya.

Lidahnya semakin turun kedadaku sementara dengan jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan lidahnya berpindah keputing dadaku, berputar-putar, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil. “Terusin Ki.. desahku” suaraku bergetar meminta meneruskan kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Kiki semakin liar memainkan mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di pusar sambil tangannya membuka celanaku. Kiki meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus CD dan setelah itu Ia memasukan tangannya kedalam CD dan mengeluarkan milikku yang sudah membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang nikmat.. dan akhirnya..lidahnya berputar-putar disana.
“uhggghh..sshh..”desahku tak karuhan, lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan buah zakarku. “Enakk Ki.. aahh..kamu pintar sekalii.. hisap terruss.. cantiikk.. ” aku meracau tidak karuan memintanya melakukan lebih lagi.

Kiki yang mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala kejantananku dan dimasukannya.. hanya sebatas itu dan mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar serangan yang sangat luar biasa.. sunguh nikmatt sekali..!! Setelah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan semakin cepat Kiki menggerakan ritme kocokannya. “Nikmat Ki.. lagi.. lebih cepat.. ayoo.. oouuhh” pintaku diselah-selah erangan yang semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.

Kuangkat tubuhnya dan kupeluk dengan mesra. “Suka?”bisiknya bertanya. “Suka sekali.. kamu hebat banget..” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya. “Ooohh..” erang Kiki. Kubalas apa yang Ia lakukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan BHnya, dua bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya “Eeehh.. Budii..” lenguh Kiki dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya “Auuhh..ach...”erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. “Aaaghh.. Budd.. kamu sangat ganaas..”jeritnya.

Puas aku melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas roknya, tampaklah CD mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi CD-nya sehingga menyentuh dua bukit lembut basah.
“Budi..uugghh..”kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga dengan leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.



Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya. “Aaa..Buddii..” jerit Kiki tertahan sambil menjambak rambutku yang panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya. “Ssshh..eehh..” desah Kiki merasakan hisapanku yang kuat di lubang kenikmatannya. Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih dalam dalam lagi Kikipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga memudahkan aku “memakan” semua kewanitaannya.”Buddi.. stopp.. dulluu.. aku suddahh ngga tahann..”aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila “My godd..Budd..shhff..pleasee..stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya. 
Akupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan tubuhnya ditempat tidur dan kamipun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas bagian-bagian sensitif kami. “Sekarang Bud.. sekarang.. pleasee..”pintanya berbisiknya. Aku merayap naik ketubuhnya, Kiki membuka lebar kedua kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kejantananku memasuki mulut kewanitaannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar masuk dengan perlahan. “Ooohh yaa.. Budd.. enakk..” Kiki pun mulai mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku tidak henti-hentinya mengulum buah dadanya.”Aagghh..terusin Bud lebih dalamm.. aagghh..” pintanya, kutekan batang kemaluanku lebih dalam dan.. ”Ssshh..”desisku merasakan kenikmatan rongga kewanitaanya yang sempit meremas-remas sekujur batang kemaluanku. ”Aaaugghh..punya kamu enak Ki..” akupun semakin kencang memacu tubuhku membuat Kiki semakin mengebu-ngebu.

“Ahh.. oucchh.. nikmat Bud..”desahnya merasakan gesekan-gesekan batang kejantananku di dinding kemaluannya. Saat kami merasakan nikmatnya kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kami saling menghisap, memagut bahkan mengigit dengan liarnya.. dan “Ugghh.. Bud.. Come fuck me.. fuck me harder.. I’m comingg honey..” tubuh Kiki yang mengejang dan tangan serta kakinya memeluk tubuhku dengan kencang “Ouchh..oohh..aku keluar Budd.. aaghh..” Ia pun kejang sesaat kurasakan denyut-denyut di kewanitaannya dan tubuh Kiki pun lungai lemas.

“Maaf Bud aku duluan sudah ngga tahan, habis udah lama..” bisiknya, aku masih diatasnya dengan kemaluan yang masih terbenam didalam kewanitaannya. “Ngga apa-apa Ki cewekan multiple orgasm, masih ada yang kedua dan seterusnya kok..” jawabku menggoda. “Memangnya kuat..?” tantangnya. “Lihat aja nanti..”membalas tantangannya. “Ihh..itu sih doyan.. makanya kaut” seru Kiki dengan manja sambil mencubit pinggangku. Kubalas cubitannya dengan memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai berputar-putar perlahan.”..Mmhhff..”kupagut bibirnya, lidah kamipun saling bertaut, meliuk dengan panasnya. Birahi kamipun kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya dengan putaran pinggulnya membuatku melayang-layang. “Shhff.. agghh..” desahanpun tak tertahan keluar keluar dari mulutku. Dengan bahasa tubuh Kiki mengajak ganti posisi, Ia diatas memegang kendali.

Kiki menekan kewanitaanya dalam-dalam-sehingga kejantananku menyentuh ujung lorong kenikmatannya-dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju. Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aku menahan hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku.
“Ayo.. teruss Ki.. aahh.. yes... lagi Ki.. punya.. kamu enak..”rintihku. "Punya kamu juga Bud.. oucchh.. want me to fuck you more hardd..mmphh...” tidak perlu jawabanku, dengan di topang tangannya Kiki membungkuk tambah mempercepat ayunannya. Buah dadanya yang indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yang lainnya kulumat dengan rakus. “Ouchh.. Budd.. nikmatt.. lumat semua Budd” jerit Kiki sambil merendahkan tubuhnya memudahkan aku melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tidak terkendali, tidak berapa lama kemudian tubuhnya kembali mengejang, Kiki menekan dalam-dalam kewanitaannya menelan seluruh batang kenikmatanku. “Bud aku mauu keluarr lagi.. AAGGKKHH.. ” teriak Kiki, tubuhnya pun rubuh diatasku cairan kenikmatannya kurasakan membasahi kejantananku.

Kiki rebah diatasku tubuhnya dengan lemas, hanya desah napasnya menerpa dadaku. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian “Punya kamu masih keras Bud.. kamu belum keluar?”
“Aku tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir” bisikku sambil mengecup pipinya.
“Mmmhh..” Kiki bergumam “Aku juga..”bisiknya dengan mesara sambil mengigit leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa saat, gigitan dan kecupan mesra itu kembali menjadi pagutan birahi yang liar.

Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan kenikmatan dan desahan kenikmatan duniawi, kejantananku yang masih berada didalam kembali merasakan bagaimana nikmat yang diberikan oleh kewanitaannya. Aku bangun sambil mendorong tubuh Kiki sehingga kami berada dalam posisi duduk, satu tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah pantatnya yang bulat padat. Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rongga kenikmatannya seakan melumat seluruh batang kejantananku, “Agghh..sshh.. Bud..” rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dengan menggoyang-goyangkan pinggulku sambil kuhisap putingnya sekuat tenaga.”Budd.. aghh..” 

 


Kurasakan gerakan tubuh Kiki yang semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya semakin mengganas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku. Akupun tidak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan oleh Kiki, kurebahkan tubuhnya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di pinggulku dan kamipun kembali mendaki puncak kenikmatan. Batang kejantananku yang tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Kiki dengan liar, Ia tidak tinggal diam, diputar-putar pinggulnya seirama tikaman-tikamanku “Aghh.. uugghh.. Ki.. nikmat sekali.. gerakaann kamuu... putarr teruss” pintaku merintih-rintih kenikmatan. “Auugghh.. Ayoo budd.. tekan yang dalamm..” kami tenggelam dalam gelimang birahi yang memuncak.. dan sampai akhirnya ”Kiki.. akuu sudaah mau keluar..” kurasakan kejantanku bertambah besar. “Yess.. I’m coming too youu... kami berpelukan dengan kuatnya dan secara bersamaan mengejang. “AAKKGGHH.. punya kamu nikmatt sekalii Ki.” ucapku, kutekan dalam-dalam kejantananku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar membasahi relung-relung kewanitaannya, “Aauughh Budd punyaa kammuu.. nikmatt.. ssekallii.. AHHCCCHH..” Kami berdua pun terkapar lemas.

Setelah malam panjang yang indah itu kami tak henti-hentinya mengulangi lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua sudut dikamar hotel itu sudah kami jelajahi, bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi kami berdua. Surabaya kembali memberi coretan khusus dalam hidupku membuat keterikatanku semakin besar yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup dan kuakhiri ceritaku sampai disni.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam


No comments:

Post a Comment