CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Pelajaran Sexku Dengan Tante Yuni - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Tepat Di depan rumahku ada seorang ibu muda yang sebenarnya tidak begitu cantik tapi penampilannya sangat menarik, Dia juga sudah memiliki suami dan mempunyai 2 anak.

Umurnya kira-kira antara 36-45 tahunan tapi wajah dan bodinya kelihatan lebih muda 10 tahun dari umurnya. Sebut saja namanya tante Yuni aku biasa memanggilnya begitu. Tante Yuni ini bekerja di perusahan yang di mana ibuku juga bekerja di sana, jadi mereka juga merupakan teman sekantor.

Kisah sexku ini berawal seringnya aku disuruh oleh mamaku untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan kepada tante Yuni dirumahnya. Sehingga lama kelamaan aku pun menjadi akrab dengannya.

Pada suatu malam, seperti biasanya mama menyuruhku ke tempat rumah tante Yuni untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan tersebut, sekalian aku berpamitan keluar untuk bermain ke suatu tempat.
Kuketuk pintu rumahnya beberapa kali sampai capek ku menunggu di depan rumahnya sambil menunggunya.

Kok rumahnya kelihatan sepi, apa mereka pada bepergian? tapi mobilnya tante Yuni ada di garasi, gumamku dalam hati. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh wanita muda kira-kira umurnya 23 tahunan yang ternyata adalah pembantunya tante Yuni.
“Tante Yuni-nya ada mbak?”, tanyaku padanya.
“Oh ada dik Rama, masuk dulu tante Yuni masih mandi”, kata mbak sambil menyalakan lampu ruang tamu.
Aku duduk termenung sendirian dan untuk yang kesekian kalinya aku meminum sirup dingin yang tadi disuguhkan oleh mbak. Seitar 10 menit kemudian dari ruang tengah tampak tante Yuni yang keluar dari kamar mandinya dengan tubuh cuma ditutup oleh handuk.
“Wow.. padat juga tubuhnya ya,” kataku dalam hati.
“Eh nak Rama.., sudah lama ya nunggunya..” katanya.
Aku masih tetap diam terpaku melihat tubuhnya yang indah dan padat berisi yang tidak tertutup seluruhnya oleh handuk tersebut.
“Dik.., kamu lihat apaan sih kok cuman bengongsaja..?”
“Eh anu... tante lihat... susu.. eh lihat paha.. Duhh... eh nggak lihat apa-apa kok ‘te”, jawabku kebingungan dengan sedikit panik.
“Dik Rama ini ada-ada saja... Disuruh ibu kesini ya, di kamar tante saja ya nyerahin berkasnya, tante tunggu lho!”
Aku tambah kebingungan, kok tumben ngomong kayak gituan. Dengan polosnya aku ikuti kata-katanya tadi.


Sampai aku di depan pintu kamarnya ku ketuk pintu itu, dan dari dalam terdengar jawaban untuk menyuruhku masuk. Lalu ku buka pintu kamarnya dengan hati-hati dan pelan-pelan. Setelahku masuk di kamarnya, betapa kagetnya aku melihat tubuh mulus telanjang milik tante Yuni telah terlentang menantang di atas ranjang.
“Dik.. Ini kan yang selama ini kamu bayangkan dan inginkan dariku, ya kan?”

Aku pun tidak menjawabnya karena aku masih belum sadar dari kebingunganku atas apa yang kulihat barusan di depan mataku sekarang ini.
“Sini Rama, naik ke ranjang puasin tante ya, nggak perlu malu-malu, ini kan yang kamu penginin daritadi kan..?”
Aku menuruti kata-kata tante dengan naik ke ranjangnya, tiba-tiba tanganku dipegangnya lalu dibimbiingnya ke payudaranya yang kira-kira berukuran 33b. Diletakkannya tanganku dan kuremas-remas payudaranya yang sebelah kiri dan kepalaku menciumi dan mejilati payudaranya yang sebelah kanan dengan birahi yang sudah mulai meninggi.
“Oouugghh... ayoo....  sedot terus Ramaa... Ah... digigit juga dong....!!”, tante Yuni rupanya sudah terlelap dalam birahinya juga. Matanya merem melek menikmati payudaranya yang sedang kunikmati. Tiba-tiba tante Yuni melepaskan bajuku dan menyuruhku untuk cepat-cepat terlentang.

Ternyata tante melepaskan juga celanaku dan memlorotkannya dengan nafsu yang sudah bergelora. Seperti apa yang kuharapkan terjadi juga, penisku dilumat-lumatnya, disedotnya sampai gemetar tubuhku dibuatnya. Aku bergelinjangan menahan kenikmatan yang pertama kali aku rasakan dalam hidupku ini.
“Ram.., ayo.. cium dong memek tante!”
Tanpa berpikir panjang langsung kucium memeknya yang dihasi oleh bulu tipis dan berbau wangi, rupanya tante Yuni sangat merawat milik-nya dengan baik. Tante Yuni bergelinjangan, mendesah-desah karena kujilati memeknya. Kumain-mainkan dua bukit kecilnya dengan lidahku dan kadang-kadang kutusuk lobang memek-nya. Tubuhnya semakin kehilangan kendali, semakin kurasakan lembabnya memeknya karena tubuhnya dirangsang dengan hebat.
“Rama... tante sudah tidak kuat lagi nih..., Ayoo... Ahh... masukin dong penismu!”
Dengan sigap aku langsung mengarahkan penisku kearah memeknya.
Bleeepppsss..... bleeesss... kusodok-sodok dengan keras dan kencang memek milik tante, ternyata tante mengimbanginya dengan goyangan pinggul dan pantatnya sesuai irama.


“Tante, Rama sudah mau keluar... oohhh... uuuuggghhh....”
“Tahan dulu Ram.. yeaah... ooouuuh...”
Goyangan tante Yuni semakin liar yang membuat diriku semakin tidak tahan lagi, yang akhirnya.. crrooott... crrooottt...
Dan di dalam memeknya terasa hangat oleh cairan yang membanjir bersamaan dengan bergetarnya tubuh tante Yuni yang sudah diujung birahi.
“Oouuggh.... ooouuuhhh... yeaahh.. yesss.. Ahhh... aku sangat puas Ram, makasih ya...!”
Kuambil bajuku dan kupakaikan meskipun tubuhku penuh keringat yang bercucuran akibat permainan tadi. “Besok kamu temenin tante main lagi, ya!”, desah tante Yuni dengan tubuh lemas dan masih telanjang bulat.

Sesampaiku di rumah langsung disambut oleh mamaku, aku pun menjadi ketakutan kalau-kalau mamaku tahu apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja aku lakukan. “Darimana saja kamu, main-main saja jadi lupa belajar, sudah sana ke kamar belajar”. Aku pun lega ternyata mamaku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan dengan tante Yuni, aku pun berlari menuju kamarku sambil tersenyum karena aku telah menikmati apa yang belum aku rasakan sebelumnya dan ini menjadi pengalaman pertamaku yang sangat memuaskan.


Setelah kejadian itu, aku dan tante Yuni berbulan-bulan lamanya melakukan permainan yang semakin hot. Kami lakukan itu kadang-kadang di rumah tante Yuni, kadang di hotel, kadang pernah juga di rumahku kalau lagi kosong. Pokoknya di mana ada tempat untuk bercinta pasti tidak akan kami lewatkan sampai seterusnya.

Hingga suatu malam di rumah tante Yuni seperti biasanya aku datang ke rumahnya. Aku langsung disambut hangat oleh mbak, yang aku yakin dia sudah tahu tentang permainanku dengan nyonya-nya.
“Masuk aja mas,ibu sudah menuggu dari tadi”, sambutnya dengan ramah. Aku langsung masuk ke kamar tante dan kubuka langsung celana dan bajuku. Tante Yuni pun melakukan hal yang sama.
“Kok kamu lama sih Rama, tante kan udah kedinginan nih...!”, kata tante Yuni dengan nada manja dan menghampiriku untuk memeluk tubuhku dan menciumi bibirku, memasukkan lidahnya di mulutku sehingga lidahku pun saling ber-“silat lidah”. Sambil kucium ku buka tali BH-nya yang masih melekat di tubuhnya dan lalu kuciumi puting payudaranya yang sudah mengeras. Tante Yuni kubikin merem-melek.
Kudorong tubuhnya ke ranjang lalu kubuka celana dalamnya, langsung kuciumi memeknya yang sudah lembab oleh carianyanya itu. Kujilat-jilat naik turun dan kugigit kecil bukit kecilnlya itu, begitu seterusnya sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang masih kencang itu.
“Ouugghh.. uhhh... oouugghh.. Agh...hh.... terus Rama puasin tante suka seperti ini... oouuugghh... yeessss....”.
Dan kubalik arah tubuhku sehingga membentuk angka 69. Tante Yuni dengan rakus melumat-lumat penisku keluar masuk mulutnya dan memainkan lidahnya di ujung penisku. Juga sesekali dia memainkan lidahnya di buah zakarku dari pangkal sampai ujung. Aku pun semakin terangsang dibuatnya lalu dengan rakus juga aku menciumi memek-nya yang semakin membanjir oleh cairan putihnya itu.
“Ooh... ah...hh... Tante sudah tidak kuat lagi nih.. tante mau keluar...., Ram...”.
“Aku juga tante... aahhh.. aku keluarin di dalem mulut saja ya tantee.. uuuhhh.. aauuhhgg....”
Tubuhku kami semakin menghebat dan kurasakan air maniku keluar deras ke mulutnya. Begitu juga mulutku terasa kemasukan lendir yang warnanya seperti air susu itu didalam mulutku.

 


Kami pun rebahan saling berpelukan, dan 8 menit kemudian kami melakukan aktifitas senggama yang dari tadi belum kami lakukan. Langsung kumengkangkangkan kakinya sehingga memeknya terlihat jelas dan sangat tepat juga mudah untuk ditusuk oleh rudalku yang berukuran 16 cm saat keadaan menegang.
Bleess.. bleesss.. keluar masuk penisku di memeknya yang disertai desahan yang menderu deru tante Yuni “Ouggh.. eemmmmhhh... uuhhh... yeahh... Ayoo... tusuk yang keras dong Ram.. aahh.. uuhhh.. yeeahh..” Semakin kurasakan basah di batang penisku, membuatku lebih bernafsu dibuatnya.
Kami pun berganti posisi, aku yang dibawah dan tante Yuni yang berada di atas menduduki tubuhku. Goyangan pantat dan pinggulnya kulihat jelas mengocok-ngocok penisku. Merem-melek tante Yuni sambil mendongakkan kepalanya merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Kudorong-dorong pantatku ke atas untuk menyeimbangkan gerakannya yang semakin menggila.
“Oh... Mik.. Ouugh.. enakkk.. bangett..  yeaah.. Ayo...oo... terruuusss.. yeeaahh....”.
“Tante aku siudah mau keluar nih, udah nggak kuat.. uuuhhhh... mmmhhhh...”
“Tunggu dulu... Ram... mmhhh... yeeaahh... tahan dulu sebentar...!”, lirih tante Yuni yang sedang menahan kenikmatan yang hampir memuncak.
Goyangan kami pun semakin menggila, ke kanan-kiri, naik-turun dan tiba-tiba tubuh tante Yuni bergetar dan bergelinjang dengan hebat, kurasakan cairan yang hangat dari dalam memek tante Yuni.
“Oouugghh... uuuhh..  yeaaaahh... ouugghh yeaahhh... uuuhhh… mmmmmhhh.. yeeaahhh... tante sudah keluar Ram, sekarang giliran kamu, cayang..!”
Kulepas penisku dan langsung diraih oleh tangannya tante Yuni untuk dimasukkan ke mulutnya, dikocok-kocok oleh tangannya yang lembut lalu dimasukkan lagi ke mulutnya, dimain-mainkan oleh lidahnya. Tidak lama kemudian maniku pun keluar didalam mulutnya. Crooott... crooottt...kusiramkan ke wajah tante Yuni dan dia menjilatinya dengan nikmat seperti menjilati es krim yang sudah mencair. Kita berdua pun tergelepar dengan keringat yang masih bercucuran setelah sedikit bekerja keras untuk mendapatkan satu kenikmatan. Tubuh kami yang masih bertelanjang saling berpelukan dan saling menciumi bibir dengan mesra, sampai akhinrya kita sering melakukan aktivitas ini sampai saat ini.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Pelajaran Sexku Dengan Tante Yuni


KiosVideo - Tepat Di depan rumahku ada seorang ibu muda yang sebenarnya tidak begitu cantik tapi penampilannya sangat menarik, Dia juga sudah memiliki suami dan mempunyai 2 anak.

Umurnya kira-kira antara 36-45 tahunan tapi wajah dan bodinya kelihatan lebih muda 10 tahun dari umurnya. Sebut saja namanya tante Yuni aku biasa memanggilnya begitu. Tante Yuni ini bekerja di perusahan yang di mana ibuku juga bekerja di sana, jadi mereka juga merupakan teman sekantor.

Kisah sexku ini berawal seringnya aku disuruh oleh mamaku untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan kepada tante Yuni dirumahnya. Sehingga lama kelamaan aku pun menjadi akrab dengannya.

Pada suatu malam, seperti biasanya mama menyuruhku ke tempat rumah tante Yuni untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan tersebut, sekalian aku berpamitan keluar untuk bermain ke suatu tempat.
Kuketuk pintu rumahnya beberapa kali sampai capek ku menunggu di depan rumahnya sambil menunggunya.

Kok rumahnya kelihatan sepi, apa mereka pada bepergian? tapi mobilnya tante Yuni ada di garasi, gumamku dalam hati. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh wanita muda kira-kira umurnya 23 tahunan yang ternyata adalah pembantunya tante Yuni.
“Tante Yuni-nya ada mbak?”, tanyaku padanya.
“Oh ada dik Rama, masuk dulu tante Yuni masih mandi”, kata mbak sambil menyalakan lampu ruang tamu.
Aku duduk termenung sendirian dan untuk yang kesekian kalinya aku meminum sirup dingin yang tadi disuguhkan oleh mbak. Seitar 10 menit kemudian dari ruang tengah tampak tante Yuni yang keluar dari kamar mandinya dengan tubuh cuma ditutup oleh handuk.
“Wow.. padat juga tubuhnya ya,” kataku dalam hati.
“Eh nak Rama.., sudah lama ya nunggunya..” katanya.
Aku masih tetap diam terpaku melihat tubuhnya yang indah dan padat berisi yang tidak tertutup seluruhnya oleh handuk tersebut.
“Dik.., kamu lihat apaan sih kok cuman bengongsaja..?”
“Eh anu... tante lihat... susu.. eh lihat paha.. Duhh... eh nggak lihat apa-apa kok ‘te”, jawabku kebingungan dengan sedikit panik.
“Dik Rama ini ada-ada saja... Disuruh ibu kesini ya, di kamar tante saja ya nyerahin berkasnya, tante tunggu lho!”
Aku tambah kebingungan, kok tumben ngomong kayak gituan. Dengan polosnya aku ikuti kata-katanya tadi.


Sampai aku di depan pintu kamarnya ku ketuk pintu itu, dan dari dalam terdengar jawaban untuk menyuruhku masuk. Lalu ku buka pintu kamarnya dengan hati-hati dan pelan-pelan. Setelahku masuk di kamarnya, betapa kagetnya aku melihat tubuh mulus telanjang milik tante Yuni telah terlentang menantang di atas ranjang.
“Dik.. Ini kan yang selama ini kamu bayangkan dan inginkan dariku, ya kan?”

Aku pun tidak menjawabnya karena aku masih belum sadar dari kebingunganku atas apa yang kulihat barusan di depan mataku sekarang ini.
“Sini Rama, naik ke ranjang puasin tante ya, nggak perlu malu-malu, ini kan yang kamu penginin daritadi kan..?”
Aku menuruti kata-kata tante dengan naik ke ranjangnya, tiba-tiba tanganku dipegangnya lalu dibimbiingnya ke payudaranya yang kira-kira berukuran 33b. Diletakkannya tanganku dan kuremas-remas payudaranya yang sebelah kiri dan kepalaku menciumi dan mejilati payudaranya yang sebelah kanan dengan birahi yang sudah mulai meninggi.
“Oouugghh... ayoo....  sedot terus Ramaa... Ah... digigit juga dong....!!”, tante Yuni rupanya sudah terlelap dalam birahinya juga. Matanya merem melek menikmati payudaranya yang sedang kunikmati. Tiba-tiba tante Yuni melepaskan bajuku dan menyuruhku untuk cepat-cepat terlentang.

Ternyata tante melepaskan juga celanaku dan memlorotkannya dengan nafsu yang sudah bergelora. Seperti apa yang kuharapkan terjadi juga, penisku dilumat-lumatnya, disedotnya sampai gemetar tubuhku dibuatnya. Aku bergelinjangan menahan kenikmatan yang pertama kali aku rasakan dalam hidupku ini.
“Ram.., ayo.. cium dong memek tante!”
Tanpa berpikir panjang langsung kucium memeknya yang dihasi oleh bulu tipis dan berbau wangi, rupanya tante Yuni sangat merawat milik-nya dengan baik. Tante Yuni bergelinjangan, mendesah-desah karena kujilati memeknya. Kumain-mainkan dua bukit kecilnya dengan lidahku dan kadang-kadang kutusuk lobang memek-nya. Tubuhnya semakin kehilangan kendali, semakin kurasakan lembabnya memeknya karena tubuhnya dirangsang dengan hebat.
“Rama... tante sudah tidak kuat lagi nih..., Ayoo... Ahh... masukin dong penismu!”
Dengan sigap aku langsung mengarahkan penisku kearah memeknya.
Bleeepppsss..... bleeesss... kusodok-sodok dengan keras dan kencang memek milik tante, ternyata tante mengimbanginya dengan goyangan pinggul dan pantatnya sesuai irama.


“Tante, Rama sudah mau keluar... oohhh... uuuuggghhh....”
“Tahan dulu Ram.. yeaah... ooouuuh...”
Goyangan tante Yuni semakin liar yang membuat diriku semakin tidak tahan lagi, yang akhirnya.. crrooott... crrooottt...
Dan di dalam memeknya terasa hangat oleh cairan yang membanjir bersamaan dengan bergetarnya tubuh tante Yuni yang sudah diujung birahi.
“Oouuggh.... ooouuuhhh... yeaahh.. yesss.. Ahhh... aku sangat puas Ram, makasih ya...!”
Kuambil bajuku dan kupakaikan meskipun tubuhku penuh keringat yang bercucuran akibat permainan tadi. “Besok kamu temenin tante main lagi, ya!”, desah tante Yuni dengan tubuh lemas dan masih telanjang bulat.

Sesampaiku di rumah langsung disambut oleh mamaku, aku pun menjadi ketakutan kalau-kalau mamaku tahu apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja aku lakukan. “Darimana saja kamu, main-main saja jadi lupa belajar, sudah sana ke kamar belajar”. Aku pun lega ternyata mamaku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan dengan tante Yuni, aku pun berlari menuju kamarku sambil tersenyum karena aku telah menikmati apa yang belum aku rasakan sebelumnya dan ini menjadi pengalaman pertamaku yang sangat memuaskan.


Setelah kejadian itu, aku dan tante Yuni berbulan-bulan lamanya melakukan permainan yang semakin hot. Kami lakukan itu kadang-kadang di rumah tante Yuni, kadang di hotel, kadang pernah juga di rumahku kalau lagi kosong. Pokoknya di mana ada tempat untuk bercinta pasti tidak akan kami lewatkan sampai seterusnya.

Hingga suatu malam di rumah tante Yuni seperti biasanya aku datang ke rumahnya. Aku langsung disambut hangat oleh mbak, yang aku yakin dia sudah tahu tentang permainanku dengan nyonya-nya.
“Masuk aja mas,ibu sudah menuggu dari tadi”, sambutnya dengan ramah. Aku langsung masuk ke kamar tante dan kubuka langsung celana dan bajuku. Tante Yuni pun melakukan hal yang sama.
“Kok kamu lama sih Rama, tante kan udah kedinginan nih...!”, kata tante Yuni dengan nada manja dan menghampiriku untuk memeluk tubuhku dan menciumi bibirku, memasukkan lidahnya di mulutku sehingga lidahku pun saling ber-“silat lidah”. Sambil kucium ku buka tali BH-nya yang masih melekat di tubuhnya dan lalu kuciumi puting payudaranya yang sudah mengeras. Tante Yuni kubikin merem-melek.
Kudorong tubuhnya ke ranjang lalu kubuka celana dalamnya, langsung kuciumi memeknya yang sudah lembab oleh carianyanya itu. Kujilat-jilat naik turun dan kugigit kecil bukit kecilnlya itu, begitu seterusnya sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang masih kencang itu.
“Ouugghh.. uhhh... oouugghh.. Agh...hh.... terus Rama puasin tante suka seperti ini... oouuugghh... yeessss....”.
Dan kubalik arah tubuhku sehingga membentuk angka 69. Tante Yuni dengan rakus melumat-lumat penisku keluar masuk mulutnya dan memainkan lidahnya di ujung penisku. Juga sesekali dia memainkan lidahnya di buah zakarku dari pangkal sampai ujung. Aku pun semakin terangsang dibuatnya lalu dengan rakus juga aku menciumi memek-nya yang semakin membanjir oleh cairan putihnya itu.
“Ooh... ah...hh... Tante sudah tidak kuat lagi nih.. tante mau keluar...., Ram...”.
“Aku juga tante... aahhh.. aku keluarin di dalem mulut saja ya tantee.. uuuhhh.. aauuhhgg....”
Tubuhku kami semakin menghebat dan kurasakan air maniku keluar deras ke mulutnya. Begitu juga mulutku terasa kemasukan lendir yang warnanya seperti air susu itu didalam mulutku.

 


Kami pun rebahan saling berpelukan, dan 8 menit kemudian kami melakukan aktifitas senggama yang dari tadi belum kami lakukan. Langsung kumengkangkangkan kakinya sehingga memeknya terlihat jelas dan sangat tepat juga mudah untuk ditusuk oleh rudalku yang berukuran 16 cm saat keadaan menegang.
Bleess.. bleesss.. keluar masuk penisku di memeknya yang disertai desahan yang menderu deru tante Yuni “Ouggh.. eemmmmhhh... uuhhh... yeahh... Ayoo... tusuk yang keras dong Ram.. aahh.. uuhhh.. yeeahh..” Semakin kurasakan basah di batang penisku, membuatku lebih bernafsu dibuatnya.
Kami pun berganti posisi, aku yang dibawah dan tante Yuni yang berada di atas menduduki tubuhku. Goyangan pantat dan pinggulnya kulihat jelas mengocok-ngocok penisku. Merem-melek tante Yuni sambil mendongakkan kepalanya merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Kudorong-dorong pantatku ke atas untuk menyeimbangkan gerakannya yang semakin menggila.
“Oh... Mik.. Ouugh.. enakkk.. bangett..  yeaah.. Ayo...oo... terruuusss.. yeeaahh....”.
“Tante aku siudah mau keluar nih, udah nggak kuat.. uuuhhhh... mmmhhhh...”
“Tunggu dulu... Ram... mmhhh... yeeaahh... tahan dulu sebentar...!”, lirih tante Yuni yang sedang menahan kenikmatan yang hampir memuncak.
Goyangan kami pun semakin menggila, ke kanan-kiri, naik-turun dan tiba-tiba tubuh tante Yuni bergetar dan bergelinjang dengan hebat, kurasakan cairan yang hangat dari dalam memek tante Yuni.
“Oouugghh... uuuhh..  yeaaaahh... ouugghh yeaahhh... uuuhhh… mmmmmhhh.. yeeaahhh... tante sudah keluar Ram, sekarang giliran kamu, cayang..!”
Kulepas penisku dan langsung diraih oleh tangannya tante Yuni untuk dimasukkan ke mulutnya, dikocok-kocok oleh tangannya yang lembut lalu dimasukkan lagi ke mulutnya, dimain-mainkan oleh lidahnya. Tidak lama kemudian maniku pun keluar didalam mulutnya. Crooott... crooottt...kusiramkan ke wajah tante Yuni dan dia menjilatinya dengan nikmat seperti menjilati es krim yang sudah mencair. Kita berdua pun tergelepar dengan keringat yang masih bercucuran setelah sedikit bekerja keras untuk mendapatkan satu kenikmatan. Tubuh kami yang masih bertelanjang saling berpelukan dan saling menciumi bibir dengan mesra, sampai akhinrya kita sering melakukan aktivitas ini sampai saat ini.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment