CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Pengalaman Sex Pertamaku Dengan Tante Undah - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Aku akan membagikan cerita tentang pengalaman sex-ku yang pertama, kejadian ini berawal dari teman baik ibuku sendiri. Peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMA, ketika aku masih tinggal di Jakarta.

Teman Ibuku itu bernama, Ibu Undah aku sendiri memanggilnya Tante Un. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Tante Un, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri saat di rumahku atau dimana saja.

Tante Un memiliki wajah yang sangat cantik, wajahnya tampak jauh lebih muda dari Ibuku karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Tante Undah ketika itu sekitar 27-29 tahun gitu. Selain memiliki wajah yang cantik, Tante Undah memiliki tubuh yang langsing, ramping, namun padat dan seksi.

Kejadian ini bermula ketika saat liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke luar kota karena ada perayaan pernikahan saudara. Mengingat aku dan Tante Undah cukup dekat maka aku minta kepada ibuku untuk menginap saja di rumah Tante Undah yang letaknya tidak jauh dari rumahku selama 6 hari itu. Dan kebetulan suami Tante Undah juga sedang di berada di luar kota, karena memang suaminya sering sekali ditugaskan ke luar kota, sehingga Tante Undah sering sendirian di rumah.

Hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol santai sambil bercanda-ria atau shopping berdua dengan Tante Undah, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Tante Undah orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja dan sangat nyaman berada didekatnya. Ketika suatu hari, sehabis makan siang, tiba-tiba Tante Undah berkata kepadaku, “Mar.. ayok kita main dokter-dokteran yuk.. sekalian Marni Tante periksa beneran, mumpung gratis..” Memang kata Ibuku, dahulu Tante Undah pernah kuliah di fakultas kedokteran namun putus di tengah jalan karena memutuskan untuk menikah. “Ayoo..” sambutku dengan senang hati sambil penasaran.



Kemudian Tante Undah mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya saat kuliah dulu. “Nah Mar, kamu buka deh bajumu dulu, terus tiduran di ranjang,” bisik Tante Undah. “Baik Tante,” kataku nurut, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring. Namun Tante Undah bilang, “Lho.. BH-nya juga donk sekalian dibuka, biar Tante gampang meriksanya..” Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya tanpa ada perasaan curiga aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal yang tidak begitu besar. “Wah.. kamu memang benar-benar cantik Mar..” puji kata Tante Undah. Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.

Setelah terlentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Tante Undah mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin.., lalu Tante Undah menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Tante Undah mencopot stetoskopnya.

Kemudian Tante Undah melihatku dengan tersenyum kepadaku, sambil tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut, “Waah.. kulit kamu halus ya, Mar.. Kamu pasti rajin merawatnya,” katanya. Aku hanya diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Tante Undah. Kemudian usapan Tante Undah mulai bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Tante Undah merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Tante Undah membuatku benar- benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya itu, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya.

Lalu Tante Undah menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.. baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Tante Undah menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tante Undah bergerak ke arah kakiku. “Nah.. sekarang Tante periksa bagian bawah yah..” katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja mengikuti permainannya.

Saat itu aku masih mengenakan rok miniku masih belum sempat menggantinya, namun tiba-tiba Tante Undah menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati, ” Ih.. Tante, kok celana dalam Marni dibuka..?” kataku dengan suara gugup. “Lho.. khan mau diperiksa.. pokoknya kamu tenang aja..biar tante yang periksa” katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Tante Undah penuh dengan maksud tersembunyi dibalik senyumnya itu. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa alias pasrah dibuatnya.

Setelah celana dalamku dilucuti oleh Tante Undah, Tante Undah mulai duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Tante Undah tak berkedip menatap liang kewanitaanku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang baru tumbuh masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Tante Undah mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.. aku menjadi merinding rasanya. “Tante..” suaraku lirih. “Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu akan merasa enak..” katanya sambil tersenyum.


Tante Undah lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian, dengan jari telunjuknya yang lentik, Tante Undah menggesekkannya ke bibir kemaluanku dari bawah ke atas, “Aaahh.. Tantee..” jeritku lirih. “Ssstt..  enak kan.. Mar...?” katanya. Mana mampu aku menjawab, malahan Tante Undah mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin nggak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, mengeliat-ngeliat kesana-kemari. “Ssstthh.. aachh.. Tante.. ughh...” eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Liang kewanitaanku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar terangsang sekali dibuat oleh Tante Undah.

Setelah Tante Undah sudah merasa puas dengan permainan jarinya, Tante Undah menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah menikmati permainannya. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli-geli, lembut dan basah. Namun Tante Undah bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Rasanya jadi makin geli apalagi ketika lidah Tante Undah memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Tante Undah saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian dibuat oleh permainan bibirnya.

Kemudian Tante Undah mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah apa lagi yang dibuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah dibuatnya. Dan eh.. gila.. Tante Undah menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Tante. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Tante Undah mulai menjilati bibir kemaluanku. “Aaahhh.. Tantee..!” aku menjerit, walaupun lidah Tante Undah terasa lembut, namun jilatan Tante Undah itu terasa menyengat liang kewanitaanku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Tante Undah justru menjilati habis-habisan bibir kemaluanku, lalu lidahnya masuk ke dalam liang kewanitaanku dan menari-nari di dalam liang kewanitaanku. Lidah Tante Undah mengait-ngait kesana-kemari menjilat-jilat seluruh dinding kemaluanku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, menjerit-jerit tidak karuan dibuatnya, “Aaahh.. Tantee.. aahh..!” Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana-kemari merasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan yang amat sangat. Namun Tante Undah dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana-kemari, namun Tante Undah tetap mendapatkan yang diinginkannya.

Jilatan-jilatan Tante Undah benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, liang kewanitaanku sudah benar-benar banjir cairan basah dibuatnya, membuat Tante menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot liang kewanitaanku dengan rakusnya. Cairan lendir liang kewanitaanku bahkan disedot Tante Undah habis-habisan. Sedotan Tante Undah di liang kewanitaanku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan tak karuan.

Kemudian Tante Undah sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir kemaluanku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Tante Undah, rupanya Tante mengincar klitorisku. Tante Undah menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya klitorisku, “Aaahh..” tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Tante Undah malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati klitorisku sambil dihisap-hisapnya, “Aaa.. Uggghh... aahh..!” jeritku semakin menggila dibuatnya.

 

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang amat sangat, yang ingin keluar dari dalam liang kewanitaanku, seperti mau kencing, dan aku tak kuat menahannya, namun Tante Undah yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot klitorisku dengan kuatnya sehingga, “Tantee.. aaghh...!” tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Tante Undah dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan liang kewanitaanku, banyak sekali dan tampaknya Tante Undah tidak menyia- nyiakannya, disedotnya liang kewanitaanku, dihisapnya seluruh cairan yang keluar dari liang kewanitaanku. Tulang-tulangku terasa lolos, lalu tubuhku terasa lemas sekali setelah mengeluarkan cairan putih itu.

Kemudian Tante Undah kemudian memelukku, lalu mengecup bibirku. “Gimana Mar.. enak khan..?” Namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku tidak percaya bisa diperlakukan begini oleh Tante Undah, dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Tante Undah yang tampak begitu cantik dan anggun ternyata memiliki nafsu yang sangat binal. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Tante Undah.

Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa tidak biasa, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Tante Undah telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah hari demi hari, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, abisnya kalau diingat-ingat sebenarnya enak sih hi.hi.hi.. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Tante Undah, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya bisa berpura-pura ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya Tante Undah yang menawarkan lagi untuk main dokter-dokteran lagi seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Pengalaman Sex Pertamaku Dengan Tante Undah


KiosVideo - Aku akan membagikan cerita tentang pengalaman sex-ku yang pertama, kejadian ini berawal dari teman baik ibuku sendiri. Peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMA, ketika aku masih tinggal di Jakarta.

Teman Ibuku itu bernama, Ibu Undah aku sendiri memanggilnya Tante Un. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Tante Un, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri saat di rumahku atau dimana saja.

Tante Un memiliki wajah yang sangat cantik, wajahnya tampak jauh lebih muda dari Ibuku karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Tante Undah ketika itu sekitar 27-29 tahun gitu. Selain memiliki wajah yang cantik, Tante Undah memiliki tubuh yang langsing, ramping, namun padat dan seksi.

Kejadian ini bermula ketika saat liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke luar kota karena ada perayaan pernikahan saudara. Mengingat aku dan Tante Undah cukup dekat maka aku minta kepada ibuku untuk menginap saja di rumah Tante Undah yang letaknya tidak jauh dari rumahku selama 6 hari itu. Dan kebetulan suami Tante Undah juga sedang di berada di luar kota, karena memang suaminya sering sekali ditugaskan ke luar kota, sehingga Tante Undah sering sendirian di rumah.

Hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol santai sambil bercanda-ria atau shopping berdua dengan Tante Undah, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Tante Undah orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja dan sangat nyaman berada didekatnya. Ketika suatu hari, sehabis makan siang, tiba-tiba Tante Undah berkata kepadaku, “Mar.. ayok kita main dokter-dokteran yuk.. sekalian Marni Tante periksa beneran, mumpung gratis..” Memang kata Ibuku, dahulu Tante Undah pernah kuliah di fakultas kedokteran namun putus di tengah jalan karena memutuskan untuk menikah. “Ayoo..” sambutku dengan senang hati sambil penasaran.



Kemudian Tante Undah mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya saat kuliah dulu. “Nah Mar, kamu buka deh bajumu dulu, terus tiduran di ranjang,” bisik Tante Undah. “Baik Tante,” kataku nurut, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring. Namun Tante Undah bilang, “Lho.. BH-nya juga donk sekalian dibuka, biar Tante gampang meriksanya..” Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya tanpa ada perasaan curiga aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal yang tidak begitu besar. “Wah.. kamu memang benar-benar cantik Mar..” puji kata Tante Undah. Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.

Setelah terlentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Tante Undah mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin.., lalu Tante Undah menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Tante Undah mencopot stetoskopnya.

Kemudian Tante Undah melihatku dengan tersenyum kepadaku, sambil tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut, “Waah.. kulit kamu halus ya, Mar.. Kamu pasti rajin merawatnya,” katanya. Aku hanya diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Tante Undah. Kemudian usapan Tante Undah mulai bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Tante Undah merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Tante Undah membuatku benar- benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya itu, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya.

Lalu Tante Undah menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.. baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Tante Undah menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tante Undah bergerak ke arah kakiku. “Nah.. sekarang Tante periksa bagian bawah yah..” katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja mengikuti permainannya.

Saat itu aku masih mengenakan rok miniku masih belum sempat menggantinya, namun tiba-tiba Tante Undah menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati, ” Ih.. Tante, kok celana dalam Marni dibuka..?” kataku dengan suara gugup. “Lho.. khan mau diperiksa.. pokoknya kamu tenang aja..biar tante yang periksa” katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Tante Undah penuh dengan maksud tersembunyi dibalik senyumnya itu. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa alias pasrah dibuatnya.

Setelah celana dalamku dilucuti oleh Tante Undah, Tante Undah mulai duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Tante Undah tak berkedip menatap liang kewanitaanku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang baru tumbuh masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Tante Undah mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.. aku menjadi merinding rasanya. “Tante..” suaraku lirih. “Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu akan merasa enak..” katanya sambil tersenyum.


Tante Undah lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian, dengan jari telunjuknya yang lentik, Tante Undah menggesekkannya ke bibir kemaluanku dari bawah ke atas, “Aaahh.. Tantee..” jeritku lirih. “Ssstt..  enak kan.. Mar...?” katanya. Mana mampu aku menjawab, malahan Tante Undah mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin nggak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, mengeliat-ngeliat kesana-kemari. “Ssstthh.. aachh.. Tante.. ughh...” eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Liang kewanitaanku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar terangsang sekali dibuat oleh Tante Undah.

Setelah Tante Undah sudah merasa puas dengan permainan jarinya, Tante Undah menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah menikmati permainannya. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli-geli, lembut dan basah. Namun Tante Undah bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Rasanya jadi makin geli apalagi ketika lidah Tante Undah memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Tante Undah saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian dibuat oleh permainan bibirnya.

Kemudian Tante Undah mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah apa lagi yang dibuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah dibuatnya. Dan eh.. gila.. Tante Undah menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Tante. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Tante Undah mulai menjilati bibir kemaluanku. “Aaahhh.. Tantee..!” aku menjerit, walaupun lidah Tante Undah terasa lembut, namun jilatan Tante Undah itu terasa menyengat liang kewanitaanku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Tante Undah justru menjilati habis-habisan bibir kemaluanku, lalu lidahnya masuk ke dalam liang kewanitaanku dan menari-nari di dalam liang kewanitaanku. Lidah Tante Undah mengait-ngait kesana-kemari menjilat-jilat seluruh dinding kemaluanku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, menjerit-jerit tidak karuan dibuatnya, “Aaahh.. Tantee.. aahh..!” Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana-kemari merasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan yang amat sangat. Namun Tante Undah dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana-kemari, namun Tante Undah tetap mendapatkan yang diinginkannya.

Jilatan-jilatan Tante Undah benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, liang kewanitaanku sudah benar-benar banjir cairan basah dibuatnya, membuat Tante menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot liang kewanitaanku dengan rakusnya. Cairan lendir liang kewanitaanku bahkan disedot Tante Undah habis-habisan. Sedotan Tante Undah di liang kewanitaanku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan tak karuan.

Kemudian Tante Undah sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir kemaluanku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Tante Undah, rupanya Tante mengincar klitorisku. Tante Undah menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya klitorisku, “Aaahh..” tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Tante Undah malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati klitorisku sambil dihisap-hisapnya, “Aaa.. Uggghh... aahh..!” jeritku semakin menggila dibuatnya.

 

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang amat sangat, yang ingin keluar dari dalam liang kewanitaanku, seperti mau kencing, dan aku tak kuat menahannya, namun Tante Undah yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot klitorisku dengan kuatnya sehingga, “Tantee.. aaghh...!” tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Tante Undah dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan liang kewanitaanku, banyak sekali dan tampaknya Tante Undah tidak menyia- nyiakannya, disedotnya liang kewanitaanku, dihisapnya seluruh cairan yang keluar dari liang kewanitaanku. Tulang-tulangku terasa lolos, lalu tubuhku terasa lemas sekali setelah mengeluarkan cairan putih itu.

Kemudian Tante Undah kemudian memelukku, lalu mengecup bibirku. “Gimana Mar.. enak khan..?” Namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku tidak percaya bisa diperlakukan begini oleh Tante Undah, dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Tante Undah yang tampak begitu cantik dan anggun ternyata memiliki nafsu yang sangat binal. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Tante Undah.

Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa tidak biasa, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Tante Undah telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah hari demi hari, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, abisnya kalau diingat-ingat sebenarnya enak sih hi.hi.hi.. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Tante Undah, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya bisa berpura-pura ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya Tante Undah yang menawarkan lagi untuk main dokter-dokteran lagi seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.


Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment