CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Tetanggaku Tuti Memiliki Nafsu Sex Yang Besar - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Setelah puluhan tahun aku menjalani rumah tangga dan telah dikaruniai 3 anak, tentunya kadang timbul kejenuhan dalam rumah tangga, untunglah karena kehidupan kami yang terbuka, kami dapat mengatasi rasa jenuh itu, termasuk dalam urusan sex tentunya.

Awal dari cerita sexku dari istriku saat akan tidur, yang mengatakan bahwa Tuti tetangga depan rumahku ternyata mempunyai suami yang impoten, mendengarnya aku agak terkejut tidak menyangka sama sekali, karena dilihat dari postur suaminya yang tinggi tegap rasanya tidak mungkin, memang yg aku tau mereka telah berumah tangga sekitar 6 tahun tapi mereka belum dikaruniai seorang anakpun.

“bener pah, tadi Tuti cerita sendiri sama mama” kata istriku seolah menjawab keraguanku...,
“wah, kasian banget ya mah.., jadi dia gak bisa mencapai kepuasan dong mah...?” pancingku
“iya.. pa” sahut istriku singkat

Pikiran aku kembali menerawang ke sosok yg diceritakan istriku, tetangga depan rumahku yang menurutku sangat cantik dan seksi, aku suka melihatnya kala pagi dia sedang berolahraga di depan rumahku yang tentunya di depan rumahku jg, kebetulan tempat tinggal aku berada di kawasan yang cukup elite, sehingga tidak ada pagar disetiap rumah, dan jalanan bisa dijadikan tempat olahraga, aku perkirakan tingginya 169cm dan berat mungkin 56an, tinggi serta badan yang berisi, kadang saat dia olahraga pagi aku sering mencuri pandang pahanya yang putih dan mulus karena hanya mengenakan celana pendek, pinggulnya yg besar sungguh kontras dengan pinggangnya yang ramping, dan yang sering bikin aku pusing adalah dia selalu mengenakan kaos tanpa lengan, sehingga saat dia mengangkat tangan aku dapat melihat tonjolan buah dadanya yang keliatannya begitu padat bergoyang mengikuti gerakan tubuh yang indah itu.

Satu hal lagi yang membuat aku sangat betah memandangnya adalah bulu ketiaknya yang lebat, ya lebat sekali, aku sendiri tidak mengerti kenapa dia tidak mencukur bulu ketiaknya, tapi jujur aja aku justru paling bernafsu saat melihat bulu ketiaknya yang hitam, kontras dengan tonjoilan buah dadanya yg sangat putih mulus. tapi ya aku hanya bisa memandang dari kejahuan saja karna bagaimanapun juga dia adalah tetanggaku dan suaminya adalah teman aku. Namun cerita istriku yang mengatakan suaminya impoten jelas membuat aku menghayal gak karuan, dan entah ide gila dari mana, aku langsung bicara ke istriku yang keliatannya sudah mulai pulas.

“Mah.. maahh....” panggilku pelan
“hemmm....” istriku hanya menggunam saja
“gimana kalau kita kerjain tuti”
“hah..?” istriku terkejut dan membuka matanya
“maksudnya pa...?”
Aku agak ragu juga menyampaikannya, tapi karna udah terlanjur juga akhirnya aku ungkapkan juga ke istriku,
“ya, kita kerjain Tuti, sampai dia gak tahan menahan nafsunya”
“buat apa? dan gimana caranya?” tanyaistriku
Aku uraikan cara-cara memancing birahi Tuti, bisa dengan seolah-olah gak sengaja melihat, baik melihat senjata aku atau saat kita ML, istriku agak terkejut juga
apalagi setelah aku uraikan tujuan akhirnya aku menikmati tubuhnya, dia marah dan tersinggung..
“kamu sudah gila ya, mentang-mentang mama sudah gak menarik lagi dimata papa!” ngambek istriku...
Tapi untunglah setelah aku beri penjelasan bahwa aku hanya sekedar fun aja dan aku hanya mengungkapkan saja tanpa bermaksud memaksa mengiyakan rencanaku, istriku mulai melunak dan akhirnya kata-kata yang aku tunggu dari mulutnya terucap.
“oke deh pah.., kayanya sih seru, tapi inget jangan sampai kecantol loh.., dan jangan ngurangin jatah mama..” ancam istriku.
Aku seneng banget medengernya, aku langsung cium kening istriku. “so iya pasti dong mah, lagian selama ini kan mama sendiri yang gak mau tiap hari mainnya” sahutku.
“kan lumayan buat ngisi hari kosong saat mama gak mau main” kataku bercanda
istriku hanya terdiam cemberut manja.. mungkin juga membenarkan libidoku yang terlalu tinggi dan libidonya yang cenderung rendah dan tidak mau setiap hari mainnya.



keesokan paginya, kebetulan hari Sabtu , hari libur kerja, setelah kompromi dengan istriku, kami menjalankan rencana satu, sekitar pukul 6 pagi istriku keluar berolahraga dan tentunya bertemu dengan Tuti, aku mengintip mereka dari jendela atas rumah aku dengan deg-degan, setelah aku melihat mereka ngobrol serius, aku mulai menjalankan aksiku, aku yakin istriku sedang membicarakan bahwa aku bernafsu tinggi dan kadang tidak sanggup melayani, dan sesuai skenario aku harus berjalan di jendela sehingga mereka melihat aku dalam keadaan telanjang dengan senjata tegang, dan tidak sulit buatku karena sedari tadi melihat Tuti berolahraga saja senjataku sudah menegang kaku, aku buka celana pendekku hingga telanjang, senjataku berdiri menunjuk langit2, lalu aku berjalan melewati jendela sambil menyampirkan handuk di pundakku seolah2 mau mandi, aku yakin mereka melihat dengan jelas karena suasana pagi yang belum begitu terang kontras dengan keadaan kamarku yang terang benderang. tapi untuk memastikannya aku balik kembali berpura2 ada yang tertinggal dan lewat sekali lagi,
sesampai dikamar mandiku, aku segera menyiram kepalaku yang panas akibat birahiku yang naik, hemm segarnya, ternyata siraman air dingin dapat menetralkan otakku yg panas.

Setelah mandi aku duduk diteras berteman secangkir kopi dan koran, aku melihat mereka berdua masih mengobrol. Aku mengangguk ke Tuti yg kebetulan melihat aku sebagai pertanda menyapa, aku melihat roma merah diwajahnya, entah apa yg dibicarakan istriku saat itu.
Masih dengan peluh bercucuran istriku yg masih keliatan seksi juga memberikan jari jempolnya ke aku yang sedang asik baca koran, pasti pertanda bagus pikirku, aku segera menyusul istriku dan menanyakannya.
“gimana mah?” kejarku
istriku cuma mesem aja,
”kok jadi papa yg nafsu sih..” candanya
aku setengah malu juga, akhirnya istriku cerita juga, katanya wajah Tuti keliatan horny saat dengar bahwa nafsu aku berlebihan, apalagi pas melihat aku lewat dengan senjata tegang di jendela, roman mukanya berubah.
“sepertinya Tuti sudah sangat bernafsu pah” kata istriku.
“malah dia bilang mama beruntung punya suami kaya papa, tidak seperti dia yang cuma dipuaskan oleh jari-jari suaminya aja, itu pun cuma sebentar saja”
“oh..” aku cuma mengangguk setelah mendengarnya,
“trus mah..., selanjutnya gimana mah? ” pancing aku
“yah terserah papa aja, kan papa yg punya rencana”
aku terdiam dengan seribu khayalan indah,
“ok deh, kita mikir dulu ya mah”



Aku kembali melanjutkan membaca koran yg sempat tertunda, baru saja duduk aku melihat suami Tuti sudah berangkat kerja dengan mobilnya dan sempat menyapaku.
“pak, lagi santai nih, yuk berangkat pak” sapanya dengan santai
aku menjawab sapaannya dengan tersenyum dan lambaian tangan.
“pucuk dicinta ulam tiba” pikirku, ini adalah kesempatan besar, Tuti pasti di rumah sendiri, tapi gimana caranya? aku memutar otak, konsentrasiku tidak pada koran tapi mencari cara untuk memancing gairah Tuti dan segera menyetubuhinya, tapi gimana? gimana?

Sedang asiknya mikir, tau-tau orang yang aku khayalin sudah ada di depan mataku,
“wah, lagi nyantai nih pak, mbak lina ada pak?” sapanya sambil menyebut nama istriku
“eh mbak Tuti, ada kok di dalam mbak, masuk aja” jawabku setengah gugup
Tuti melangkah memasuki rumahku, aku cuma memperhatikan pantatnya yang bahenol bergoyang seolah memanggilku untuk meremasnya.

Aku kembali hanyut dengan pikiranku, tapi keberadaan Tuti di rumahku jelas membuat aku segera beranjak dari teras dan masuk ke rumah juga, aku ingin melihat mereka, ternyata mereka sedang asik ngobrol di ruang tamu, obrolan mereka mendadak terhenti setelah aku masuk.
“hayo, pagi-pagi sudah ngegosip...! pasti lagi ngobrolin yg seru2 nih” candaku
mereka berdua hanya tersenyum.
Aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku, aku menatap langit2 kamar, dan akhirnya mataku tertuju pada jendela kamar yang hordengnya terbuka, tentunya mereka bisa melihat aku pikirku, karena di kamar posisinya lebih terang dari diruang tamu, tentunya mereka bisa melihat aku, meskipun aku tidak bisa melihat mereka mengobrol?
reflek aku bangkit dari tempat tidur dan menggeser sofa kesudut yg aku perkirakan mereka dapat melihat, lalu aku lepas celana pendekku dan mulai mengocok senjataku, ehmm sungguh nikmat, aku bayangkan Tuti sedang melihatku ngocok dan sedang horny, senjataku langsung kaku.
Tapi tiba2 saja pintu kamarku terbuka, istriku masuk dan langsung menutup kembali pintu kamar.
“Pa..!!, apa2an sih pagi2 udah ngocok, dari ruang tamu kan kelihatan” semprot istriku
“hah...?, masa iya? tanyaku pura-pura bego.
“Tuti sampai malu dan pulang tuh” cerocosnya lagi, aku hanya terdiam,
mendengar Tuti pulang mendadak gairahku jadi drop, aku kenakan kembali celanaku.

Sampai siang aku sama sekali belum menemukan cara untuk memancingnya, sampai istriku pergi mau arisan aku cuma rebahan di kamar memikirkan cara untuk menikmati tubuh Tuti.
” pasti lagi mikirin Tuti nih, bengong terus, awas ya bertindak sendiri tanpa mama” ancam istriku “mama mau arisan dulu sebentar”
Aku cuma mengangguk aja..
10 menit setelah istriku pergi, aku terbangun karena di depan rumah terdengar suara gaduh, aku keluar dan melihat anakku yang laki bersama teman2nya ada di teras rumah Tuti dengan wajah ketakutan, aku segera menghampirinya, dan ternyata bola yang dimainkan anakku dan teman2nya mengenai lampu taman rumah Tuti hingga pecah, aku segera minta maaf ke Tuti dan berjanji akan menggantinya,
Anakku dan teman2nya kusuruh bermain di lapangan yg agak jauh dari rumah.
“mbak Tuti, aku pamit dulu ya, mau beli lampu buat gantiin” pamitku
“eh gak usah pak, biar aja, namanya juga anak2, lagian aku ada lampu bekasnya yg dari developer di gudang, kalau gak keberatan nanti tolong dipasang yang bekasnya aja”
Aku lihat memang lampu yang pecah sudah bukan standar dari developer, tapi otakku jd panas melihat cara bicaranya dengan senyumnya dan membuat aku horny sendiri.
“kalau gitu mbak tolong ambil lampunya, nanti aku pasang” kataku
“wah aku gak sampe pak, tolong diambilin didalam” senyumnya.
kesempatan datang tanpa direncanakan, aku mengangguk mengikuti langkahnya, lalu Tuti menunjukan gudang diatas kamar mandinya, ternyata dia memanfaatkan ruang kosong diatas kamar mandinya untuk gudang.




“Wah.. tinggi mbak, aku gak sampe, mbak ada tangga?” tanyaku
“gak ada pak, kalau pake bangku sampe gak ya..” tanyanya
“coba dulu aja” kataku
Tuti berjalan ke dapur mengambil bangku, lambaian pinggulnya yang bulat seolah memanggilku untuk segera menikmatinya, meskipun tertutup rapat, namun aku bisa membayangkan kenikmatan di dalam dasternya.
lamunanku terputus setelah Tuti menaruh bangku tepat didepanku, aku segera naik, tapi ternyata tanganku masih tak sampai meraih handle pintu gudang.
“gak sampe juga mba” kataku
Aku lihat Tuti agak kebingungan,
“Dulu naruhnya gimana mbak? ” tanyaku
“dulu kan ada tukang yang naruh, mereka punya tangga”
“kalau gitu aku pinjem tangga dulu ya mba sama tetangga”
Aku segera keluar mencari pinjaman tangga, tapi aku sudah merencanakan hal gila, setelah dapat pinjaman tangga aluminium, aku ke rumah dulu, aku lepaskan celana dalamku, hingga aku hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, aku kembali ke rumah Tuti dgn membawa tangga, akhirnya aku berhasil mengambil lampunya. dan langsung memasangnya, tapi ternyata dudukan lampunya berbeda, lampu yang lama lebih besar, aku kembali ke dalam rumah dan mencari dudukan lampu yg lamanya, tp sudah aku acak-acak semua tetapi tidak ketemu juga, aku turun dan memanggil Tuti, namun aku sama sekali tak melihatnya atau sahutannya saat kupanggil, “pasti ada dikamar pikirku “wah bisa gagal rencanaku memancingnya jika Tuti kalau dikamar terus”

Aku segera menuju kamarnya, namun sebelum mengetuknya niat isengku timbul, aku coba mengintip dari lubang kunci dan ternyata...
Aku dapat pemandangan bagus, aku lihat Tuti sedang telanjang bulat di atas tempat tidurnya, jari2nya meremas buah dadanya sendiri, sedangkan tangan yang satunya menggesek-ngesek klitorisnya, aku gemetar menahan nafsu, senjataku langsung membesar dan mengeras, andai saja tangan aku yang meremas buah dadanya... sedang asik2nya mengkhayal tiba-tiba Tuti berabjak dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaian kembali, mungkin dia inget ada tamu, aku segera lari dan pura2 mencari kegudang, senjataku yang masih tegang aku biarkan menonjol jelas di celana pendekku yang tanpa CD.


“Loh, nyari apalgi pak?” aku lihat muka Tuti yang memerah, ia pasti melihat tonjolan besar di balik celanaku.
“Anu.. ini mbak, dudukannya lain dengan lampu yang pecah” aku turun dari tangga dan menunjukan kepadanya, aku pura2 tidak tahu keadaan celanaku, Tuti tampak sedikit resah saat bicara.
“jadi gimana ya pak? mesti beli baru dong” suara Tuti terdengar serak, mungkin ia menahan nafsu melihat senjataku dibalik celana pendekku, apalagi dia tadi sedang masturbasi.
Aku pura2 berfikir, padahal dalam hati aku bersorak karena sudah 70% nafsu Tuti aku kuasai, tapi bener sih aku lagi mikir, tapi mikir gimana cara supaya masuk dalam kamarnya dan menikmati tubuhnya yang begitu sempurna??

“kayanya dulu ada pak... coba aku yang cari” suara Tuti mengagetkan lamunanku, lalu ia menaiki tangga, dan sepertinya Tuti juga sengaja memancingku, aku dibawah jelas melihat paha gempalnya yang putih mulus tak bercela, dan ternyata Tuti juga sama sekali tidak mengenakan celana dalam, tapi sepertinya Tuti tampaknya cuek aja, semakin lama diatas aku semakin tak tahan, senjataku sudah basah oleh pelumas pertanda siap melaksanakan tugasnya.

setelah beberapa menit mencari dan tidak ada juga, lalu Tuti turun dari tangga, tapi naas buat dia ( Atau malah sengaja ia tergelincir dari anak tangga pertama, tidak tinggi tapi lumayan membuatbya hilang keseimbangan, aku reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya dari belakang, hemmm sungguh nikmat sekali, meskipun masih terhalang celana dalam ku dan dasternya tapi senjataku dapat merasakan kenyalnya pantat Tuti, dan aku yakin Tuti pun merasakan denyutan hangat dipantatnya, “makasih pak” Tuti tersipu malu dan akupun berkata maaf berbarengan dgn ucapan makasihnya
“gak papa kok, tapi kok tadi seperti ada yg ngeganjel dipantatku ya”?” sepertinya Tuti mulai berani, akupun membalasnya dengan gurauan,

“oh itu pertanda senjata siap melaksanakan tugas”
“tugas apa nih?” Tuti semakin terpancing
aku pun sudah lupa janji dengan istriku yang ga boleh bertindak tanpa sepengetahuannya, aku sudah dikuasai nafsu bejadku
“tugas ini mbak...!” kataku langsung merangkulnya dalam pelukanku
aku langsung melumat bibirnya dengan nafsu ternyata ternyata Tutipun dengan buas melumat bibirku juga, mungkin iapun menunggu keberanianku, ciuman kami panas membara, lidah kami saling melilit seperti ular, tangan Tuti langsung meremas senjataku, mungkin baru ini dia melihat senjata yang tegang sehingga Tuti begitu liar meremasnya, aku balas meremas buah dadanya yang negitu kenyal, meskipun dari luar ali bisa pastiin bahwa Tuti tidak mengenakn bra, putingnya langsung mencuat, aku pilin pelan putingnya, tanganku yang satu meremas bongkahan pantatnya yang mulus, cumbuan kami semakin panas bergelora tapi tiba-tiba.
“sebentar mas!” Tuti berlari ke depan ternyata ia mengunci pintu depan, aku cuma melongo dipanggil dengan mas yang menunjukan keakraban/
“sini mas...!” ia memanggilku masuk kekamarnya

Aku tanpa berpikir panjang segera berlari kecil menuju kamarnya, Tuti langsung melepas dasternya, dia bugil tanpa sehelai benangpun di depan mataku. sungguh keindahan yang benar2 luar biasa, aku terpana sejenak melihat putih mulusnya badan Tuti. Bulu kemaluannya yang lebat menghitam kontras dengan kulitnya yg bersih. Lekuk pinggangnya sungguh indah.
Tapi hanya sekejab saja aku terpana, aku langsung melepas kaos dan celana pendekku, senjataku yang dari tadi mengeras menunjuk keatas, tapi ternyata aku kalah buas dengan Tuti. Dia langsung berjongkok di depanku yang masih berdiri dan melumat senjataku dengan rakusnya dihisapnya.

Lidahnya yang lembut serta lincah terasa hangat menggelitik penisku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, sungguh benar2 liar, mungkin karna Tuti selama ini tidak pernah melihat senjata yang kaku dan keras, kadang ia mengocoknya dengan cepat, aliran kenikmatan menjalari seluruh tubuhku, aku segera menariknya keatas, lalu mencium bibirnya, nafasnya yang terasa wangi memompa semangatku untuk terus melumat bibirnya, aku dorong tubuhnya yang aduhai ke ranjangnya, aku mulai mengeluarkan jurusku, lidahku kini mejalari lehernya yang jenjang dan putih, tanganku aktif meremas2 buah dadanya lembut, putingnya yang masih kecil dan agak memerah aku pillin2, kini dari mataku hanya berjarak sekian cm ke bulu ketiaknya yang begitu lebat, aku hirup aromanya yang khas, sungguh wangi. Lidahku mulai menjalar ke ketiak dan melingkari buah dadanya yang benar2 kenyal.

Disaat lidahku yang hangat melumat putingnya Tuti semakin mendesah tak karuan, rambutku habis dijambaknya, kepalaku terus ditekan ke buah dadanya. Aku semakin semangat, tidak ada sejengkal tubuh Tuti yang luput dari sapuan lidahku, bahkan pinggul pantat dan pahanya juga, apalagi saat lidahku sampai di kemaluannya yang berbulu lebat, setelah bersusah payah meminggirkan bulunya yang lebat, lidahku sampai juga ke klitorisnya, kemaluannya sudah basah, aku lumat klitnya dengan lembut, Tuti semakin hanyut dengan fantasinya, tangannya meremas sprey pertanda menahan nikmat yang aku berikan, lidahku kini masuk ke dalam lubang kemaluannya, aku semakin asik dengan aroma kewanitaan Tuti yang begitu wangi dan menambah birahiku.

Tapi ketika sedang asik2nya aku mencumbu vaginanya, Tuti tiba-tiba bangun dan langsung mendorongku terlentang, lalu dengan sekali sentakan pantatnya yang bulat dan mulus langsung berada diatas perutku, tangannya langsung menuntun senjataku, lalu perlahan pantatnya turun, kepala kemaluanku mulai menyeruak masuk kedalam kemaluannya yang basah, namun meskipun basah aku merasakan jepitan kemaluannya sangat ketat. mungkin karna selama ini hanya jari saja yang masuk kedalam vaginanya.

Centi demi centi senjataku memasuki vaginanya berbarengan dengan pantat Tuti yang turun, sampai akhirnya aku merasakan seluruh batang senjataku tertanam dalam vaginanya, sungguh pengalaman indah, aku merasakan nikmat yang luar biasa dengan ketatnya vaginanya meremas otot-otot senjataku, Tuti terdiam sejenak menikmati penuhnya senjataku dalam kemaluannya, tapi tak lama, pantatnya yang bahenol dan mulus nulaik bergoyang, kadang ke depan ke belakang, kadang keatas ke bawah, peluh sudah bercucuran di tubuh kami, tanganku tidak tinggal diam memberikan rangsangan pada dua buah dadanya yang besar, dan goyangan pinggul Tuti semakin lama semakin cepat dan tak beraturan, senjataku seperti diurut dengan lembut, aku mencoba menahan ejakulasiku sekuat mungkin, dan tak lama berselang, aku merasakan denyutan2 vagina Tuti di batang senjataku semakin menguat dan akhirnya Tuti berteriak keras melepas orgasmenya, giginya menancap keras dibahuku.
Ternyata Tuti orgasme, aku merasakan hangat di batang senjataku, akhirnya tubuhnya yang sintal terlungkup diatas tubuhku, senjataku masih terbenam didalam kemaluannya.

Aku biarkan dia sejenak menikmati sisa-sisa orgasmenya, setelah beberapa menit aku berbisik ditelinganya, “mba, langsung lanjut ya..? aku tanggung nih”
Tuti dengan tersenyum dan bangkit dari atas tubuhku, ia duduk dipinggir ranjang, “makasih ya mas, baru kali ini aku mengalami orgasme yang luar biasa” ia kembali melumat bibirku.aku yang masih terlentang menerima cumbuan Tuti yang semakin liar, benar2 liar, seluruh tubuhku dijilatin dengan rakusnya, bahkan lidahnya yang nakal menyedot dan menjilat putingku, sungguh nikmat, aliran daraku seperti mengalir dengan cepat, akhirnya aku ambil kendali, dengan gaya konvensional aku kemabli memasukkan senjataku dalam kemaluannya, sudah agak mudah tapi tetap masih ketat menjepit senjataku, pantatku bergerak turun naik, sambil lidahku mengisap buah dadanya bergantian, aku liat wajah Tuti yang cantik memerah pertanda birahinya kembali naik, aku atur tempo permainan, aku ingin sebisa mungkin memberikan kepuasan lebih kepadanya, entah sudah berapa gaya yang aku lakukan, dan entah sudah berapa kali Tuti orgasme, aku tidak menghitungnya, aku hanya inget terakhir aku pakai gaya doggy yang benar2 luar biasa, pantatnya yang besar memberikan sensasi tersendiri saat aku menggerakkan senjataku keluar masuk.

 



Dan memang aku benar-benar sudah tak sanggup lagi menahan spermaku saat doggy, aku pacu sekencang mungkin, pantat Tuti yang kenyal bergoyang seirama dengan hentakanku,
tapi aku masih ingat satu kesadaran “mbak diluar atau didalam..?” tanyaku parau terbawa nafsu sambil terus memompa senjataku didalam vaginanya.

Tuti pun menjawab dengan serak akibat nafsunya ” Didalam aja mas, aku lagi gak subur”
Dan tak perlu waktu lama, selang beberapa detik setelah Tuti menjawab aku hentakan keras senjataku dalam vaginanya, seluruh tubuhku meregang kaku, aliran kenikmatan menuju penisku dan memeuntahkan laharnya dalam vagina Tuti, ada sekitar sepuluh kedutan nikmat aku tumpahkan kedalam vaginanya, sementara Tuti aku lihat menggigit sprey dihadapannya, mungkin iapun mengalami orgasme yg kesekian kalinya. Sampai akhirnya kami beruda sama-sama lemas dan tertidur sebentar.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.




Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Tetanggaku Tuti Memiliki Nafsu Sex Yang Besar


KiosVideo - Setelah puluhan tahun aku menjalani rumah tangga dan telah dikaruniai 3 anak, tentunya kadang timbul kejenuhan dalam rumah tangga, untunglah karena kehidupan kami yang terbuka, kami dapat mengatasi rasa jenuh itu, termasuk dalam urusan sex tentunya.

Awal dari cerita sexku dari istriku saat akan tidur, yang mengatakan bahwa Tuti tetangga depan rumahku ternyata mempunyai suami yang impoten, mendengarnya aku agak terkejut tidak menyangka sama sekali, karena dilihat dari postur suaminya yang tinggi tegap rasanya tidak mungkin, memang yg aku tau mereka telah berumah tangga sekitar 6 tahun tapi mereka belum dikaruniai seorang anakpun.

“bener pah, tadi Tuti cerita sendiri sama mama” kata istriku seolah menjawab keraguanku...,
“wah, kasian banget ya mah.., jadi dia gak bisa mencapai kepuasan dong mah...?” pancingku
“iya.. pa” sahut istriku singkat

Pikiran aku kembali menerawang ke sosok yg diceritakan istriku, tetangga depan rumahku yang menurutku sangat cantik dan seksi, aku suka melihatnya kala pagi dia sedang berolahraga di depan rumahku yang tentunya di depan rumahku jg, kebetulan tempat tinggal aku berada di kawasan yang cukup elite, sehingga tidak ada pagar disetiap rumah, dan jalanan bisa dijadikan tempat olahraga, aku perkirakan tingginya 169cm dan berat mungkin 56an, tinggi serta badan yang berisi, kadang saat dia olahraga pagi aku sering mencuri pandang pahanya yang putih dan mulus karena hanya mengenakan celana pendek, pinggulnya yg besar sungguh kontras dengan pinggangnya yang ramping, dan yang sering bikin aku pusing adalah dia selalu mengenakan kaos tanpa lengan, sehingga saat dia mengangkat tangan aku dapat melihat tonjolan buah dadanya yang keliatannya begitu padat bergoyang mengikuti gerakan tubuh yang indah itu.

Satu hal lagi yang membuat aku sangat betah memandangnya adalah bulu ketiaknya yang lebat, ya lebat sekali, aku sendiri tidak mengerti kenapa dia tidak mencukur bulu ketiaknya, tapi jujur aja aku justru paling bernafsu saat melihat bulu ketiaknya yang hitam, kontras dengan tonjoilan buah dadanya yg sangat putih mulus. tapi ya aku hanya bisa memandang dari kejahuan saja karna bagaimanapun juga dia adalah tetanggaku dan suaminya adalah teman aku. Namun cerita istriku yang mengatakan suaminya impoten jelas membuat aku menghayal gak karuan, dan entah ide gila dari mana, aku langsung bicara ke istriku yang keliatannya sudah mulai pulas.

“Mah.. maahh....” panggilku pelan
“hemmm....” istriku hanya menggunam saja
“gimana kalau kita kerjain tuti”
“hah..?” istriku terkejut dan membuka matanya
“maksudnya pa...?”
Aku agak ragu juga menyampaikannya, tapi karna udah terlanjur juga akhirnya aku ungkapkan juga ke istriku,
“ya, kita kerjain Tuti, sampai dia gak tahan menahan nafsunya”
“buat apa? dan gimana caranya?” tanyaistriku
Aku uraikan cara-cara memancing birahi Tuti, bisa dengan seolah-olah gak sengaja melihat, baik melihat senjata aku atau saat kita ML, istriku agak terkejut juga
apalagi setelah aku uraikan tujuan akhirnya aku menikmati tubuhnya, dia marah dan tersinggung..
“kamu sudah gila ya, mentang-mentang mama sudah gak menarik lagi dimata papa!” ngambek istriku...
Tapi untunglah setelah aku beri penjelasan bahwa aku hanya sekedar fun aja dan aku hanya mengungkapkan saja tanpa bermaksud memaksa mengiyakan rencanaku, istriku mulai melunak dan akhirnya kata-kata yang aku tunggu dari mulutnya terucap.
“oke deh pah.., kayanya sih seru, tapi inget jangan sampai kecantol loh.., dan jangan ngurangin jatah mama..” ancam istriku.
Aku seneng banget medengernya, aku langsung cium kening istriku. “so iya pasti dong mah, lagian selama ini kan mama sendiri yang gak mau tiap hari mainnya” sahutku.
“kan lumayan buat ngisi hari kosong saat mama gak mau main” kataku bercanda
istriku hanya terdiam cemberut manja.. mungkin juga membenarkan libidoku yang terlalu tinggi dan libidonya yang cenderung rendah dan tidak mau setiap hari mainnya.



keesokan paginya, kebetulan hari Sabtu , hari libur kerja, setelah kompromi dengan istriku, kami menjalankan rencana satu, sekitar pukul 6 pagi istriku keluar berolahraga dan tentunya bertemu dengan Tuti, aku mengintip mereka dari jendela atas rumah aku dengan deg-degan, setelah aku melihat mereka ngobrol serius, aku mulai menjalankan aksiku, aku yakin istriku sedang membicarakan bahwa aku bernafsu tinggi dan kadang tidak sanggup melayani, dan sesuai skenario aku harus berjalan di jendela sehingga mereka melihat aku dalam keadaan telanjang dengan senjata tegang, dan tidak sulit buatku karena sedari tadi melihat Tuti berolahraga saja senjataku sudah menegang kaku, aku buka celana pendekku hingga telanjang, senjataku berdiri menunjuk langit2, lalu aku berjalan melewati jendela sambil menyampirkan handuk di pundakku seolah2 mau mandi, aku yakin mereka melihat dengan jelas karena suasana pagi yang belum begitu terang kontras dengan keadaan kamarku yang terang benderang. tapi untuk memastikannya aku balik kembali berpura2 ada yang tertinggal dan lewat sekali lagi,
sesampai dikamar mandiku, aku segera menyiram kepalaku yang panas akibat birahiku yang naik, hemm segarnya, ternyata siraman air dingin dapat menetralkan otakku yg panas.

Setelah mandi aku duduk diteras berteman secangkir kopi dan koran, aku melihat mereka berdua masih mengobrol. Aku mengangguk ke Tuti yg kebetulan melihat aku sebagai pertanda menyapa, aku melihat roma merah diwajahnya, entah apa yg dibicarakan istriku saat itu.
Masih dengan peluh bercucuran istriku yg masih keliatan seksi juga memberikan jari jempolnya ke aku yang sedang asik baca koran, pasti pertanda bagus pikirku, aku segera menyusul istriku dan menanyakannya.
“gimana mah?” kejarku
istriku cuma mesem aja,
”kok jadi papa yg nafsu sih..” candanya
aku setengah malu juga, akhirnya istriku cerita juga, katanya wajah Tuti keliatan horny saat dengar bahwa nafsu aku berlebihan, apalagi pas melihat aku lewat dengan senjata tegang di jendela, roman mukanya berubah.
“sepertinya Tuti sudah sangat bernafsu pah” kata istriku.
“malah dia bilang mama beruntung punya suami kaya papa, tidak seperti dia yang cuma dipuaskan oleh jari-jari suaminya aja, itu pun cuma sebentar saja”
“oh..” aku cuma mengangguk setelah mendengarnya,
“trus mah..., selanjutnya gimana mah? ” pancing aku
“yah terserah papa aja, kan papa yg punya rencana”
aku terdiam dengan seribu khayalan indah,
“ok deh, kita mikir dulu ya mah”



Aku kembali melanjutkan membaca koran yg sempat tertunda, baru saja duduk aku melihat suami Tuti sudah berangkat kerja dengan mobilnya dan sempat menyapaku.
“pak, lagi santai nih, yuk berangkat pak” sapanya dengan santai
aku menjawab sapaannya dengan tersenyum dan lambaian tangan.
“pucuk dicinta ulam tiba” pikirku, ini adalah kesempatan besar, Tuti pasti di rumah sendiri, tapi gimana caranya? aku memutar otak, konsentrasiku tidak pada koran tapi mencari cara untuk memancing gairah Tuti dan segera menyetubuhinya, tapi gimana? gimana?

Sedang asiknya mikir, tau-tau orang yang aku khayalin sudah ada di depan mataku,
“wah, lagi nyantai nih pak, mbak lina ada pak?” sapanya sambil menyebut nama istriku
“eh mbak Tuti, ada kok di dalam mbak, masuk aja” jawabku setengah gugup
Tuti melangkah memasuki rumahku, aku cuma memperhatikan pantatnya yang bahenol bergoyang seolah memanggilku untuk meremasnya.

Aku kembali hanyut dengan pikiranku, tapi keberadaan Tuti di rumahku jelas membuat aku segera beranjak dari teras dan masuk ke rumah juga, aku ingin melihat mereka, ternyata mereka sedang asik ngobrol di ruang tamu, obrolan mereka mendadak terhenti setelah aku masuk.
“hayo, pagi-pagi sudah ngegosip...! pasti lagi ngobrolin yg seru2 nih” candaku
mereka berdua hanya tersenyum.
Aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku, aku menatap langit2 kamar, dan akhirnya mataku tertuju pada jendela kamar yang hordengnya terbuka, tentunya mereka bisa melihat aku pikirku, karena di kamar posisinya lebih terang dari diruang tamu, tentunya mereka bisa melihat aku, meskipun aku tidak bisa melihat mereka mengobrol?
reflek aku bangkit dari tempat tidur dan menggeser sofa kesudut yg aku perkirakan mereka dapat melihat, lalu aku lepas celana pendekku dan mulai mengocok senjataku, ehmm sungguh nikmat, aku bayangkan Tuti sedang melihatku ngocok dan sedang horny, senjataku langsung kaku.
Tapi tiba2 saja pintu kamarku terbuka, istriku masuk dan langsung menutup kembali pintu kamar.
“Pa..!!, apa2an sih pagi2 udah ngocok, dari ruang tamu kan kelihatan” semprot istriku
“hah...?, masa iya? tanyaku pura-pura bego.
“Tuti sampai malu dan pulang tuh” cerocosnya lagi, aku hanya terdiam,
mendengar Tuti pulang mendadak gairahku jadi drop, aku kenakan kembali celanaku.

Sampai siang aku sama sekali belum menemukan cara untuk memancingnya, sampai istriku pergi mau arisan aku cuma rebahan di kamar memikirkan cara untuk menikmati tubuh Tuti.
” pasti lagi mikirin Tuti nih, bengong terus, awas ya bertindak sendiri tanpa mama” ancam istriku “mama mau arisan dulu sebentar”
Aku cuma mengangguk aja..
10 menit setelah istriku pergi, aku terbangun karena di depan rumah terdengar suara gaduh, aku keluar dan melihat anakku yang laki bersama teman2nya ada di teras rumah Tuti dengan wajah ketakutan, aku segera menghampirinya, dan ternyata bola yang dimainkan anakku dan teman2nya mengenai lampu taman rumah Tuti hingga pecah, aku segera minta maaf ke Tuti dan berjanji akan menggantinya,
Anakku dan teman2nya kusuruh bermain di lapangan yg agak jauh dari rumah.
“mbak Tuti, aku pamit dulu ya, mau beli lampu buat gantiin” pamitku
“eh gak usah pak, biar aja, namanya juga anak2, lagian aku ada lampu bekasnya yg dari developer di gudang, kalau gak keberatan nanti tolong dipasang yang bekasnya aja”
Aku lihat memang lampu yang pecah sudah bukan standar dari developer, tapi otakku jd panas melihat cara bicaranya dengan senyumnya dan membuat aku horny sendiri.
“kalau gitu mbak tolong ambil lampunya, nanti aku pasang” kataku
“wah aku gak sampe pak, tolong diambilin didalam” senyumnya.
kesempatan datang tanpa direncanakan, aku mengangguk mengikuti langkahnya, lalu Tuti menunjukan gudang diatas kamar mandinya, ternyata dia memanfaatkan ruang kosong diatas kamar mandinya untuk gudang.




“Wah.. tinggi mbak, aku gak sampe, mbak ada tangga?” tanyaku
“gak ada pak, kalau pake bangku sampe gak ya..” tanyanya
“coba dulu aja” kataku
Tuti berjalan ke dapur mengambil bangku, lambaian pinggulnya yang bulat seolah memanggilku untuk segera menikmatinya, meskipun tertutup rapat, namun aku bisa membayangkan kenikmatan di dalam dasternya.
lamunanku terputus setelah Tuti menaruh bangku tepat didepanku, aku segera naik, tapi ternyata tanganku masih tak sampai meraih handle pintu gudang.
“gak sampe juga mba” kataku
Aku lihat Tuti agak kebingungan,
“Dulu naruhnya gimana mbak? ” tanyaku
“dulu kan ada tukang yang naruh, mereka punya tangga”
“kalau gitu aku pinjem tangga dulu ya mba sama tetangga”
Aku segera keluar mencari pinjaman tangga, tapi aku sudah merencanakan hal gila, setelah dapat pinjaman tangga aluminium, aku ke rumah dulu, aku lepaskan celana dalamku, hingga aku hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, aku kembali ke rumah Tuti dgn membawa tangga, akhirnya aku berhasil mengambil lampunya. dan langsung memasangnya, tapi ternyata dudukan lampunya berbeda, lampu yang lama lebih besar, aku kembali ke dalam rumah dan mencari dudukan lampu yg lamanya, tp sudah aku acak-acak semua tetapi tidak ketemu juga, aku turun dan memanggil Tuti, namun aku sama sekali tak melihatnya atau sahutannya saat kupanggil, “pasti ada dikamar pikirku “wah bisa gagal rencanaku memancingnya jika Tuti kalau dikamar terus”

Aku segera menuju kamarnya, namun sebelum mengetuknya niat isengku timbul, aku coba mengintip dari lubang kunci dan ternyata...
Aku dapat pemandangan bagus, aku lihat Tuti sedang telanjang bulat di atas tempat tidurnya, jari2nya meremas buah dadanya sendiri, sedangkan tangan yang satunya menggesek-ngesek klitorisnya, aku gemetar menahan nafsu, senjataku langsung membesar dan mengeras, andai saja tangan aku yang meremas buah dadanya... sedang asik2nya mengkhayal tiba-tiba Tuti berabjak dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaian kembali, mungkin dia inget ada tamu, aku segera lari dan pura2 mencari kegudang, senjataku yang masih tegang aku biarkan menonjol jelas di celana pendekku yang tanpa CD.


“Loh, nyari apalgi pak?” aku lihat muka Tuti yang memerah, ia pasti melihat tonjolan besar di balik celanaku.
“Anu.. ini mbak, dudukannya lain dengan lampu yang pecah” aku turun dari tangga dan menunjukan kepadanya, aku pura2 tidak tahu keadaan celanaku, Tuti tampak sedikit resah saat bicara.
“jadi gimana ya pak? mesti beli baru dong” suara Tuti terdengar serak, mungkin ia menahan nafsu melihat senjataku dibalik celana pendekku, apalagi dia tadi sedang masturbasi.
Aku pura2 berfikir, padahal dalam hati aku bersorak karena sudah 70% nafsu Tuti aku kuasai, tapi bener sih aku lagi mikir, tapi mikir gimana cara supaya masuk dalam kamarnya dan menikmati tubuhnya yang begitu sempurna??

“kayanya dulu ada pak... coba aku yang cari” suara Tuti mengagetkan lamunanku, lalu ia menaiki tangga, dan sepertinya Tuti juga sengaja memancingku, aku dibawah jelas melihat paha gempalnya yang putih mulus tak bercela, dan ternyata Tuti juga sama sekali tidak mengenakan celana dalam, tapi sepertinya Tuti tampaknya cuek aja, semakin lama diatas aku semakin tak tahan, senjataku sudah basah oleh pelumas pertanda siap melaksanakan tugasnya.

setelah beberapa menit mencari dan tidak ada juga, lalu Tuti turun dari tangga, tapi naas buat dia ( Atau malah sengaja ia tergelincir dari anak tangga pertama, tidak tinggi tapi lumayan membuatbya hilang keseimbangan, aku reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya dari belakang, hemmm sungguh nikmat sekali, meskipun masih terhalang celana dalam ku dan dasternya tapi senjataku dapat merasakan kenyalnya pantat Tuti, dan aku yakin Tuti pun merasakan denyutan hangat dipantatnya, “makasih pak” Tuti tersipu malu dan akupun berkata maaf berbarengan dgn ucapan makasihnya
“gak papa kok, tapi kok tadi seperti ada yg ngeganjel dipantatku ya”?” sepertinya Tuti mulai berani, akupun membalasnya dengan gurauan,

“oh itu pertanda senjata siap melaksanakan tugas”
“tugas apa nih?” Tuti semakin terpancing
aku pun sudah lupa janji dengan istriku yang ga boleh bertindak tanpa sepengetahuannya, aku sudah dikuasai nafsu bejadku
“tugas ini mbak...!” kataku langsung merangkulnya dalam pelukanku
aku langsung melumat bibirnya dengan nafsu ternyata ternyata Tutipun dengan buas melumat bibirku juga, mungkin iapun menunggu keberanianku, ciuman kami panas membara, lidah kami saling melilit seperti ular, tangan Tuti langsung meremas senjataku, mungkin baru ini dia melihat senjata yang tegang sehingga Tuti begitu liar meremasnya, aku balas meremas buah dadanya yang negitu kenyal, meskipun dari luar ali bisa pastiin bahwa Tuti tidak mengenakn bra, putingnya langsung mencuat, aku pilin pelan putingnya, tanganku yang satu meremas bongkahan pantatnya yang mulus, cumbuan kami semakin panas bergelora tapi tiba-tiba.
“sebentar mas!” Tuti berlari ke depan ternyata ia mengunci pintu depan, aku cuma melongo dipanggil dengan mas yang menunjukan keakraban/
“sini mas...!” ia memanggilku masuk kekamarnya

Aku tanpa berpikir panjang segera berlari kecil menuju kamarnya, Tuti langsung melepas dasternya, dia bugil tanpa sehelai benangpun di depan mataku. sungguh keindahan yang benar2 luar biasa, aku terpana sejenak melihat putih mulusnya badan Tuti. Bulu kemaluannya yang lebat menghitam kontras dengan kulitnya yg bersih. Lekuk pinggangnya sungguh indah.
Tapi hanya sekejab saja aku terpana, aku langsung melepas kaos dan celana pendekku, senjataku yang dari tadi mengeras menunjuk keatas, tapi ternyata aku kalah buas dengan Tuti. Dia langsung berjongkok di depanku yang masih berdiri dan melumat senjataku dengan rakusnya dihisapnya.

Lidahnya yang lembut serta lincah terasa hangat menggelitik penisku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, sungguh benar2 liar, mungkin karna Tuti selama ini tidak pernah melihat senjata yang kaku dan keras, kadang ia mengocoknya dengan cepat, aliran kenikmatan menjalari seluruh tubuhku, aku segera menariknya keatas, lalu mencium bibirnya, nafasnya yang terasa wangi memompa semangatku untuk terus melumat bibirnya, aku dorong tubuhnya yang aduhai ke ranjangnya, aku mulai mengeluarkan jurusku, lidahku kini mejalari lehernya yang jenjang dan putih, tanganku aktif meremas2 buah dadanya lembut, putingnya yang masih kecil dan agak memerah aku pillin2, kini dari mataku hanya berjarak sekian cm ke bulu ketiaknya yang begitu lebat, aku hirup aromanya yang khas, sungguh wangi. Lidahku mulai menjalar ke ketiak dan melingkari buah dadanya yang benar2 kenyal.

Disaat lidahku yang hangat melumat putingnya Tuti semakin mendesah tak karuan, rambutku habis dijambaknya, kepalaku terus ditekan ke buah dadanya. Aku semakin semangat, tidak ada sejengkal tubuh Tuti yang luput dari sapuan lidahku, bahkan pinggul pantat dan pahanya juga, apalagi saat lidahku sampai di kemaluannya yang berbulu lebat, setelah bersusah payah meminggirkan bulunya yang lebat, lidahku sampai juga ke klitorisnya, kemaluannya sudah basah, aku lumat klitnya dengan lembut, Tuti semakin hanyut dengan fantasinya, tangannya meremas sprey pertanda menahan nikmat yang aku berikan, lidahku kini masuk ke dalam lubang kemaluannya, aku semakin asik dengan aroma kewanitaan Tuti yang begitu wangi dan menambah birahiku.

Tapi ketika sedang asik2nya aku mencumbu vaginanya, Tuti tiba-tiba bangun dan langsung mendorongku terlentang, lalu dengan sekali sentakan pantatnya yang bulat dan mulus langsung berada diatas perutku, tangannya langsung menuntun senjataku, lalu perlahan pantatnya turun, kepala kemaluanku mulai menyeruak masuk kedalam kemaluannya yang basah, namun meskipun basah aku merasakan jepitan kemaluannya sangat ketat. mungkin karna selama ini hanya jari saja yang masuk kedalam vaginanya.

Centi demi centi senjataku memasuki vaginanya berbarengan dengan pantat Tuti yang turun, sampai akhirnya aku merasakan seluruh batang senjataku tertanam dalam vaginanya, sungguh pengalaman indah, aku merasakan nikmat yang luar biasa dengan ketatnya vaginanya meremas otot-otot senjataku, Tuti terdiam sejenak menikmati penuhnya senjataku dalam kemaluannya, tapi tak lama, pantatnya yang bahenol dan mulus nulaik bergoyang, kadang ke depan ke belakang, kadang keatas ke bawah, peluh sudah bercucuran di tubuh kami, tanganku tidak tinggal diam memberikan rangsangan pada dua buah dadanya yang besar, dan goyangan pinggul Tuti semakin lama semakin cepat dan tak beraturan, senjataku seperti diurut dengan lembut, aku mencoba menahan ejakulasiku sekuat mungkin, dan tak lama berselang, aku merasakan denyutan2 vagina Tuti di batang senjataku semakin menguat dan akhirnya Tuti berteriak keras melepas orgasmenya, giginya menancap keras dibahuku.
Ternyata Tuti orgasme, aku merasakan hangat di batang senjataku, akhirnya tubuhnya yang sintal terlungkup diatas tubuhku, senjataku masih terbenam didalam kemaluannya.

Aku biarkan dia sejenak menikmati sisa-sisa orgasmenya, setelah beberapa menit aku berbisik ditelinganya, “mba, langsung lanjut ya..? aku tanggung nih”
Tuti dengan tersenyum dan bangkit dari atas tubuhku, ia duduk dipinggir ranjang, “makasih ya mas, baru kali ini aku mengalami orgasme yang luar biasa” ia kembali melumat bibirku.aku yang masih terlentang menerima cumbuan Tuti yang semakin liar, benar2 liar, seluruh tubuhku dijilatin dengan rakusnya, bahkan lidahnya yang nakal menyedot dan menjilat putingku, sungguh nikmat, aliran daraku seperti mengalir dengan cepat, akhirnya aku ambil kendali, dengan gaya konvensional aku kemabli memasukkan senjataku dalam kemaluannya, sudah agak mudah tapi tetap masih ketat menjepit senjataku, pantatku bergerak turun naik, sambil lidahku mengisap buah dadanya bergantian, aku liat wajah Tuti yang cantik memerah pertanda birahinya kembali naik, aku atur tempo permainan, aku ingin sebisa mungkin memberikan kepuasan lebih kepadanya, entah sudah berapa gaya yang aku lakukan, dan entah sudah berapa kali Tuti orgasme, aku tidak menghitungnya, aku hanya inget terakhir aku pakai gaya doggy yang benar2 luar biasa, pantatnya yang besar memberikan sensasi tersendiri saat aku menggerakkan senjataku keluar masuk.

 



Dan memang aku benar-benar sudah tak sanggup lagi menahan spermaku saat doggy, aku pacu sekencang mungkin, pantat Tuti yang kenyal bergoyang seirama dengan hentakanku,
tapi aku masih ingat satu kesadaran “mbak diluar atau didalam..?” tanyaku parau terbawa nafsu sambil terus memompa senjataku didalam vaginanya.

Tuti pun menjawab dengan serak akibat nafsunya ” Didalam aja mas, aku lagi gak subur”
Dan tak perlu waktu lama, selang beberapa detik setelah Tuti menjawab aku hentakan keras senjataku dalam vaginanya, seluruh tubuhku meregang kaku, aliran kenikmatan menuju penisku dan memeuntahkan laharnya dalam vagina Tuti, ada sekitar sepuluh kedutan nikmat aku tumpahkan kedalam vaginanya, sementara Tuti aku lihat menggigit sprey dihadapannya, mungkin iapun mengalami orgasme yg kesekian kalinya. Sampai akhirnya kami beruda sama-sama lemas dan tertidur sebentar.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.




Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment