CERITA SEX TERPANAS DAN VIDEO BOKEP TERBARU Bercumbu Dengan Mbak Tiara Yang Sexy - Kiosvideo

hi stats


KiosVideo - Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar enam belas tahun lalu itu saya sering tertawa sendiri. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya ngekos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya lakukan. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan dengan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang tak akan terlupakan.

Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Tiara, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh yang molek dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih sangat menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Tiara. Perempuan yang kalau sedang di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Tiara sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Bima yang kuliah di teknik sipil.
“Aku tahu. Suaminya katanya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Kris, anak teknik mesin dengan tangkas.
“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.
“Bego! Ya penisnya dong”, kata Kris.
“Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi.
“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Tiara sering membentak-bentak suaminya?” tutur Kris.
“Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Bima.
“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.
Bima tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung gitu. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita”
“Ah kamu saja yang Ke-GRan. Mungkin Mbak Tiara nggak bermaksud begitu”, sergah Benu yang sejak tadi diam.
“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti”

Diam-diam ucapan Bima itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Tiara? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk ke dalam perangkapnya?

Selama bertahun-tahun di kos diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang indah tanpa tersadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36b, pinggulnya yang besar sering membuatku sangat terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke bagian selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Tiara. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.
“Wah.. maaf, Mbak... Nggak sengaja..” kataku sambil tersipu malu.
“Sengaja juga nggak apa-apa kok...”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.
Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Bima mendekati kebenaran. Mbak Tiara memang berusaha memancing birahi kami, mungkin ia tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya yang letoy.


Makin lama aku semakin bertambah berani, beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh.. dia malah cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan menjadi yang lebi extreme, bukan hanya menyenggol lagi tetapi mencoba meremas. Sialan, reaksinya rupanya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak, seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome kepadaku. Cuma aku masih takut untuk menyetubuhinya. Siapa tahu dia punya kelainan jiwa, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya sudah tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya sambil mengesek-gesek bagian selangkangannya.

Suatu hari ketika saat rumah sedang sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Tiara dinas ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa-biasa saja. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet ke arah yang enga-engak.

“Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Tiara lo”, kataku.
“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.”
“Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?”
“Coba apa..”
“Itunya mbak...”
“Mana..?”
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.
“Ah.. kamu ini bisa saja...”

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mulai mendekat, mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Tiara hanya diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih, dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih pikirku. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah remasanku terus kulanjutkan.

“Mamet.. malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah malu.
“Kalau begitu bagaimana kalo kita ke kamar?”
“Kamu ini nakal yha....”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.
“Mbak..”
“Hmm..”
“Bolehkah mm.., bolehkah kalau saya..”
“Apa ahh..”
“Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu?”
“Hmm..” Dia mendesah ketika kujilat telinganya.
Tanpa menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu yang tanpa mengenakan BRA. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan kiri dan kanan.

“Met, tolong tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Tiara. Kini aku jongkok di depannya, menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya, Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Tiara mulai menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
“Mbak belum pernah dioral sex ya?”
“Ha...? Apa itu..?” tanya dia dengan polos
“Vagina Mbak akan kujilati.”
“Loh itu kan tempat yang kotor..”
“Siapa bilang...?” sambil mulai menjilat
“Ooo.. oh.. oh ..”, desis Mbak Tiara keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih hanya dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan, kini celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Tiara kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
“Aahh.. Kau pintar sekali mamet... Belajar dari mana hh..”
“mm.. darii.. film porno dan cerita porno kan banyak agh...” jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk... Wah berabe nih... Aksi liarku pun terhenti mendadak.
“Ss..ttt... ada tamu Mbak”, bisikku.
“Cepat kau sembunyi ke dalam...”, kata Mbak Tiara sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.
Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Tiara. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku yang sudah tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Tiara bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Tiara menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.


“Siapa Mbak..?”
“Tukang Listrik menagih rekening.”
“Wah mengganggu saja itu orang. Baru mau nikmat-nikmatnya...”
“Sudahlah...”, katanya sambil mendekati aku.
Tanpa sungkan-sungkan Mbak Tiara mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Tiara seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.
“Agh.... kamu sangat pengalaman sekali ya... Sama siapa kamu mempratekkannya? Pacarmu....?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.
Aku tak menjawab... Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

“Nggak adil... Kamu juga harus telanjang.” Mbak Tiara pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.
“Mbak mau saya oral lagi...?” tanyaku.
Mbak Tiara hanya tersenyum malu, lalu aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Tiara mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir sepuluh menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.
“Gantian dong, Mbak..”
“Apa muat segede itu penis kamu...?”
Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil itu. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Tiara agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Sorry ya Mbak...”
“Ah kau ini mainnya aneh-aneh saja...”
“Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya.
“Ah malu... Kami main konvensional saja kok.”
“Langsung tusuk begitu maksudnya..”
“Nakal kau ini...”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.
“Suami Mbak mainnya lama nggak?”
“Ah..” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.
“Pasti Mbak tak pernah puas ya?”
Mbak Tiara tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Tiara agak gemetar.
“Ohh..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot Mbak Tiara menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.
“Ooo.. ahh.. ugh... sshh.. ahhh...” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
“Enak gak Mbak?” tanyaku.
“Emmhh..”
“Apakah Mbak Puas?”
“Ahh..” desahnya.
“Sekarang Mbak berbalik. Menungging.”
Aku mengatur badannya dan Mbak Tiara menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Gaya apa lagi ini?” tanyanya.
“Ini gaya anjing.... Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah pakai gaya ini.”

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Tiara kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek...?” tanyaku.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.”
“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
“Kita lanjutkan nanti malam saja ya.”
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.




Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Tiara spontan tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Tiara kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.
“Oh Mbak.. aku mau keluar nih ahh..”
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Tiara kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

“Vaginamu sangat nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
“Penismu juga nikmat, Met.. gede dan tahan lama..”
“Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.”
“Ah Mbak... memang kalah pintar dibanding kamu.”
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

“Mbak kalau pingin bilang aja ya.”
“Kamu juga... Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst.. kalau pas aman saja lo.”
“Mbak mau nggak main ramai-ramai?”
“Maksudmu gimana?”
“Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga gimana? Dua lawan satu.. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.”
“Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah..”
“Tapi mau mencoba kan?”
Mbak Tiara tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali lagi. Sampai akhirnya kami capek dan tidur bersama.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

Bercumbu Dengan Mbak Tiara Yang Sexy


KiosVideo - Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar enam belas tahun lalu itu saya sering tertawa sendiri. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya ngekos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya lakukan. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan dengan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang tak akan terlupakan.

Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Tiara, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh yang molek dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih sangat menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Tiara. Perempuan yang kalau sedang di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Tiara sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Bima yang kuliah di teknik sipil.
“Aku tahu. Suaminya katanya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Kris, anak teknik mesin dengan tangkas.
“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.
“Bego! Ya penisnya dong”, kata Kris.
“Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi.
“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Tiara sering membentak-bentak suaminya?” tutur Kris.
“Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Bima.
“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.
Bima tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung gitu. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita”
“Ah kamu saja yang Ke-GRan. Mungkin Mbak Tiara nggak bermaksud begitu”, sergah Benu yang sejak tadi diam.
“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti”

Diam-diam ucapan Bima itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Tiara? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk ke dalam perangkapnya?

Selama bertahun-tahun di kos diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang indah tanpa tersadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36b, pinggulnya yang besar sering membuatku sangat terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke bagian selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Tiara. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.
“Wah.. maaf, Mbak... Nggak sengaja..” kataku sambil tersipu malu.
“Sengaja juga nggak apa-apa kok...”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.
Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Bima mendekati kebenaran. Mbak Tiara memang berusaha memancing birahi kami, mungkin ia tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya yang letoy.


Makin lama aku semakin bertambah berani, beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh.. dia malah cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan menjadi yang lebi extreme, bukan hanya menyenggol lagi tetapi mencoba meremas. Sialan, reaksinya rupanya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak, seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome kepadaku. Cuma aku masih takut untuk menyetubuhinya. Siapa tahu dia punya kelainan jiwa, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya sudah tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya sambil mengesek-gesek bagian selangkangannya.

Suatu hari ketika saat rumah sedang sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Tiara dinas ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa-biasa saja. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet ke arah yang enga-engak.

“Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Tiara lo”, kataku.
“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.”
“Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?”
“Coba apa..”
“Itunya mbak...”
“Mana..?”
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.
“Ah.. kamu ini bisa saja...”

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mulai mendekat, mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Tiara hanya diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih, dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih pikirku. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah remasanku terus kulanjutkan.

“Mamet.. malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah malu.
“Kalau begitu bagaimana kalo kita ke kamar?”
“Kamu ini nakal yha....”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.
“Mbak..”
“Hmm..”
“Bolehkah mm.., bolehkah kalau saya..”
“Apa ahh..”
“Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu?”
“Hmm..” Dia mendesah ketika kujilat telinganya.
Tanpa menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu yang tanpa mengenakan BRA. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan kiri dan kanan.

“Met, tolong tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Tiara. Kini aku jongkok di depannya, menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya, Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Tiara mulai menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
“Mbak belum pernah dioral sex ya?”
“Ha...? Apa itu..?” tanya dia dengan polos
“Vagina Mbak akan kujilati.”
“Loh itu kan tempat yang kotor..”
“Siapa bilang...?” sambil mulai menjilat
“Ooo.. oh.. oh ..”, desis Mbak Tiara keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih hanya dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan, kini celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Tiara kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
“Aahh.. Kau pintar sekali mamet... Belajar dari mana hh..”
“mm.. darii.. film porno dan cerita porno kan banyak agh...” jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk... Wah berabe nih... Aksi liarku pun terhenti mendadak.
“Ss..ttt... ada tamu Mbak”, bisikku.
“Cepat kau sembunyi ke dalam...”, kata Mbak Tiara sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.
Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Tiara. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku yang sudah tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Tiara bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Tiara menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.


“Siapa Mbak..?”
“Tukang Listrik menagih rekening.”
“Wah mengganggu saja itu orang. Baru mau nikmat-nikmatnya...”
“Sudahlah...”, katanya sambil mendekati aku.
Tanpa sungkan-sungkan Mbak Tiara mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Tiara seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.
“Agh.... kamu sangat pengalaman sekali ya... Sama siapa kamu mempratekkannya? Pacarmu....?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.
Aku tak menjawab... Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

“Nggak adil... Kamu juga harus telanjang.” Mbak Tiara pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.
“Mbak mau saya oral lagi...?” tanyaku.
Mbak Tiara hanya tersenyum malu, lalu aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Tiara mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir sepuluh menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.
“Gantian dong, Mbak..”
“Apa muat segede itu penis kamu...?”
Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil itu. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Tiara agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Sorry ya Mbak...”
“Ah kau ini mainnya aneh-aneh saja...”
“Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya.
“Ah malu... Kami main konvensional saja kok.”
“Langsung tusuk begitu maksudnya..”
“Nakal kau ini...”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.
“Suami Mbak mainnya lama nggak?”
“Ah..” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.
“Pasti Mbak tak pernah puas ya?”
Mbak Tiara tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Tiara agak gemetar.
“Ohh..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot Mbak Tiara menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.
“Ooo.. ahh.. ugh... sshh.. ahhh...” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
“Enak gak Mbak?” tanyaku.
“Emmhh..”
“Apakah Mbak Puas?”
“Ahh..” desahnya.
“Sekarang Mbak berbalik. Menungging.”
Aku mengatur badannya dan Mbak Tiara menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Gaya apa lagi ini?” tanyanya.
“Ini gaya anjing.... Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah pakai gaya ini.”

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Tiara kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek...?” tanyaku.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.”
“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
“Kita lanjutkan nanti malam saja ya.”
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.




Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Tiara spontan tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Tiara kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.
“Oh Mbak.. aku mau keluar nih ahh..”
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Tiara kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

“Vaginamu sangat nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
“Penismu juga nikmat, Met.. gede dan tahan lama..”
“Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.”
“Ah Mbak... memang kalah pintar dibanding kamu.”
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

“Mbak kalau pingin bilang aja ya.”
“Kamu juga... Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst.. kalau pas aman saja lo.”
“Mbak mau nggak main ramai-ramai?”
“Maksudmu gimana?”
“Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga gimana? Dua lawan satu.. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.”
“Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah..”
“Tapi mau mencoba kan?”
Mbak Tiara tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali lagi. Sampai akhirnya kami capek dan tidur bersama.

TAMAT

KiosCasino merupakan Agen Judi  Live Casino dan Judi Bola Terbesar, Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.



Nikmati Bonus Rollingan Casino TERTINGGI

* Bonus Cashback GG Gaming Slot 5%
* Bonus Rolling Live casino Asia855 1,25%
* Bonus Rollingan Live Casino online 1%
* Bonus Rollingan sportsbook  0,25%
* Bonus Cashback Poker & Domino 0,3% Diskon s.d. 66% Togel Online Asli4D

Dapatkan Bonus Referral

* Bonus Refferensi 2% Untuk Semua Permainan

Customer Service 24 Jam

No comments:

Post a Comment